
Tinggal menghitung hari pernikahan Bobby dan Irene akan berlangsung.
Pria yang akan berbahagia itu tengah tertidur lelap malam itu, dengan suara gemericik air hujan yang terdengar dari dalam rumahnya, menambah nyenyak tidur pria itu.
Entah kenapa hujan tak juga reda dari pagi hingga malam, suara petir menyambar tak membuat pria itu terbangun, angin yang berhembus kencang membuatnya seolah terkena obat tidur yang tak terganggu sedikit pun.
Entah kenapa langit tak henti-hentinya menangis, membasahi bumi yang lama tak tersirami, bau debu dari tanah tandus yang baru terkena air tercium saat pagi hari dan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan muncul ketika malam.
Seorang gadis dengan memakai sweater hitam dan celana panjang keluar dari tempat tinggalnya.
Ia hanya menggunakan Hoodie menutupi kepalanya.
Tanpa menggunakan payung atau jas hujan, gadis itu berjalan menyusuri jalanan, kakinya telanjang tanpa sandal ataupun sepatu.
Suara gemuruh tak mengurungkan niatnya untuk meneruskan perjalanannya, ia terus berjalan tanpa berteduh sekalipun.
padahal itu adalah malam ketika semua orang tengah tertidur lelap.
Seluruh pakaiannya basah terguyur hujan, kilatan cahaya langit tak membuat ia takut ataupun ingin kembali ke tempat tinggalnya.
Jalanan terlihat sangat sepi, hanya beberapa kendaraan pribadi melewati jalanan raya itu. Kendaraan umum sudah tidak ada di malam selarut itu.
Butuh waktu hampir satu jam untuk gadis itu sampai di tempat tujuannya, jika saja ia menggunakan kendaraan ia takan sampai selama itu.
Gadis itu berhenti di rumah seorang pria, ia mengetuk pintunya beberapa kali dengan keras seperti orang yang hendak mendobrak rumah.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Gadis itu menggedor pintu rumah dengan kencang.
Sang pemilik rumah yang tengah bermimpi indah terganggu dan langsung terbangun karena suara pintu yang di ketuk begitu keras.
Pria itu melihat ke arah jam dinding yang menempel di tembok ruang tengahnya, Jarum jam yang menunjukkan pukul 03.00.
"Jam tiga begini.. hanya orang gila yang bertamu ke rumah orang.." Gumam Pria yang merasa tidurnya terganggu itu.
Ia terus memaki di hatinya, di pikirannya Jika ia benar-benar menemukan orang gila yang berada di depan pintu rumahnya ia akan memukul orang gila itu hingga tak berani lagi menapakkan kaki di rumahnya.
Dengan rasa kesal karena terganggu tidurnya pria itu membukan pintu.
Ia berhenti menggerutu saat pintu terbuka, ia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan sebelah tangan.
Matanya membulat saking terkejutnya, mendapati seorang gadis yang di kenalnya tengah berdiri dengan pakaian basah kuyup di depan pintu.
"Boleh aku masuk...?" tanya si gadis.
gadis itu membuka Hoodie yang menutupi kepalanya, ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu ijin dari pemilik rumah.
Gadis itu berjalan mendahului pria pemilik rumah, tetesan air bercucuran dari pakaian basahnya, jejak telapak kakinya membekas di lantai mengotori rumah itu. ia duduk di sofa dengan sweater hitam yang telah basah.
bibirnya berwarna biru gelap karena terlalu lama di guyur hujan, ia mengigil saking dinginnya udara malam di tambah air yang menghujani tubuhnya, Kakinya yang terlihat pucat di penuhi banyak goresan dan luka.
Pria itu menelan ludah bulat-bulat, ia terheran-heran dengan apa yang di lakukan gadis di hadapannya.
"Bukankah aku pernah bilang, telepon aku jika takut.. aku pasti akan menjemput mu.." Ujar pria itu.
Namun, gadis itu hanya terdiam dengan kepala di tekuk.
"Kamu masih mengenalku kan..?" Pria itu jongkok di hadapan si gadis, dengan mendorong-dorong badan gadis itu berharap gadis itu masih mengingat namanya.
"Lepaskan...." Ucap gadis itu dengan suara lirih, ia mendorong pria itu agar menjauh darinya, rasa sesak di dada membuatnya meneteskan air mata sepanjang perjalanan namun pria itu tak menyadarinya karena wajahnya basah bercampur air hujan.
"Sebentar.. biar aku bawakan selimut ya.." Ujar pria itu, dengan bergegas ia mengambil selimut dari kamarnya dan kembali menghampiri gadis itu.
Dengan rasa khawatir yang tinggi, pria itu memandang si gadis yang masih berdiam diri.
"Ganti dulu lah pakaian mu basah kuyup.. pakai baju dan celana ku saja sana.." Ucap si Pria
Namun, si gadis tetap diam menyembunyikan wajahnya. Ucapan pria itu seolah tak di dengar olehnya.
"Yena kamu ini Kenapa....???!!!" Pria itu duduk di samping gadis yang bernama Yena itu.
Di pegangnya kedua belah pipi yang kini
dingin dan sangat pucat itu.
"Lepaskan aku Bobby..." Yena menolak bersentuhan dengan pria yang kini duduk sampingnya itu.
"Kamu ini kenapa..?!!!. Jangan membuat ku terus khawatir..." Ucap Bobby
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku, yang perlu kamu khawatirkan hanya ini......." Yena mengeluarkan bungkusan plastik kecil berwarna hitam dari saku jaketnya.
Di lemparkan benda itu ke arah Bobby
"Aku membungkusnya dengan plastik hitam.. agar tak terkena air hujan" Ujar Yena
"Apa ini...?!!" tanya Bobby yang mulai membuka bungkusan itu.
Kardus kecil segi panjang berwarna biru bertuliskan 'Sensitif' dan satu gagang berwarna putih dan biru, dengan bentuk menyerupai gagang sikat gigi.
"Ini maksudnya apa?" Tanya Bobby masih tidak mengerti.
"Kamu tidak lihat, apa yang ada di benda itu..?!!" Ucap Yena menunjuk benda yang di sangka Bobby adalah gagang sikat gigi.
Ia membaca kardus kecil itu dan baru mengerti bahwa benda itu adalah test pack.
Matanya melotot ketika melihat dua garis merah tertera pada benda yang sedang ia pegang.
"Jadi maksudnya............." Bobby tak bisa berkata-kata
"Aku hamil anak kamu Bobby.....?!!!!" Tutur Yena yang langsung berjongkok sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Bobby bingung harus berekspresi Seperti apa, mengingat acara pernikahannya dengan Irene tinggal sebentar lagi.
"Kamu yakin ini adalah anak ku?" tanya Bobby seolah ragu
"Kamu tidak melakukannya dengan Dimas kan?" tanya Bobby
"Aku berani bersumpah.. aku tak pernah melakukan apapun dengan Dimas.." Jawab Yena
"Tapi bisa saja kan? kamu kan tidak tinggal bersama ku lagi..." Ucap Bobby
"Kamu pikir aku berani?? setelah seluruh penghuni kos-kosan mengira bahwa kamu suami ku..??!! Kamu lupa Orang-orang yakin itu karena kamu sering menginap di kos-kosan ku?!! kamu pikir aku tidak tau, setiap aku bersama Dimas, kamu selalu menyuruh Daniel memata-mataiku?!!!" Ungkap Yena dengan tegas
"Dulu setelah kejadian aku mengajak mu menikah kamu malah tidak mau..?!!!" Ujar Bobby
"Mana aku tau kalo aku akan hamil Bobby...!!!!" Ujar Yena kesal
"Aku beberapa kali bicara.. tapi, kamu hanya menganggap semua Takan mungkin kan?!" Ujar Bobby
"Aku hanya berpikir semua itu hanya One Night Stand.. Bagaimana aku bisa tau sedangkan bibiku saja yang menikah lama belum memiliki keturunan, rasanya tidak mungkin aku akan memiliki keturunan hanya karena sebuah kecelakaan yang terjadi dalam satu malam" Ucap Yena
"Dasar bodoh... kesuburan seseorang itu berbeda-beda... kenapa kamu tidak langsung menggunakan test pack saat kita telah melakukan itu" Ujar Bobby
"Kamu yang bodoh.. kamu pikir setelah kita berhubungan hasilnya langsung bisa di lihat??!! Butuh waktu sebulan untuk melihat hasilnya.." Ucap Yena
"Kenapa kamu berkata tidak keberatan, saat aku bertanya tentang pernikahan ku dengan Irene?" tanya Bobby
"Mana aku tahu bahwa aku akan hamil.. selama ini aku tidak merasakan mual sekalipun...!!!" Jawab Yena
"Lalu kenapa kamu baru bilang sekarang Yena... ini sudah lebih dari sebulan sejak kita melakukan hubungan badan itu..." Ujar Bobby
"Aku tidak tahu Bobby.....!!! Aku kira aku hanya terlambat datang bulan seperti biasa tapi, setelah aku menghitung di kalender, ini lebih dari 15 hari dari hari seharusnya aku haid.. aku langsung membeli test pack, bukan hanya kamu yang terkejut.. aku juga kaget melihatnya Bobby.. Kamu tidak tau aku tak bisa tidur semalam karena memikirkan ini semua..." Ujar Yena menangis kencang
Bobby menatap Yena dengan penuh rasa bimbang.
"Berhenti menangis, ini sudah malam. kamu hanya akan membuat tetangga bangun karena terganggu dengan suara tangismu. Ya sudah.. ganti pakaian dulu sana.. nanti kita bicarakan lagi setelah kamu berganti pakaian.." Ujar Bobby
Yena menurut dengan perintah pria itu, ia masuk ke kamar Bobby di tutup rapatnya pintu kamar itu.
Selang beberapa lama kemudian, Yena kembali dengan menggunakan pakaian Bobby, Sweater abu dan celana kain panjang di kenakan gadis itu.
Ia kembali duduk di sofa, menutupi badannya dengan sebuah selimut.
"Lalu kita harus bagaimana..?!" tanya Yena dengan rambut yang panjang yang masih basah.
"Aku juga bingung Yena.." Jawab Bobby
"Aku tidak bermaksud mengganggu pernikahan mu.. Kamu cukup mengantarkan ku ke tempat untuk menggugurkan kandungan ini.." Ucap Yena
Ucapan Yena sontak membuat pria yang duduk di hadapannya melotot ke arahnya.
"Kamu gila...??? Kamu ingin membunuh anakmu sendiri...?!!!" Ucap Bobby
"Lalu aku harus bagaimana...??!! lebih baik dia tidak hidup dari pada harus hidup tanpa memiliki seorang ayah dan sengsara seperti ku....!!!" Ujar Yena
"Bagaimana kamu berkata begitu mudahnya untuk menggugurkan bayimu..?!! Kamu lupa.. dia juga anakku?, aku juga ayahnya, dia berhak hidup selama aku masih bisa hidup. Aku takan membiarkan anakku menderita seperti mu ataupun seperti ku.." Ucap Bobby dengan tegasnya
"Lalu apa yang akan kamu lakukan??, Bukankah kamu yang bilang sendiri kamu akan menikah??" Tanya Yena
"Biar itu menjadi urusan ku.. kamu tak perlu banyak memikirkan hal yang tak perlu kamu pikirkan.." Ucap Bobby sambil menatap kaki Yena yang penuh goresan dan luka.
Bobby pergi mengambil kotak p3k lalu kembali ke ruang tengah.
Ia jongkok mendekati kaki Yena.
"Apa yang mau kamu lakukan..?" tanya Yena menghindari Bobby
"Kamu pikir aku akan melakukan apa? kaki mu penuh luka.. bahkan kamu tak berpikir untuk menggunakan sandal atau sepatu saat kemari.. kamu tidak takut orang-orang jahat yang berkeliaran di pinggiran jalan?" tanya Bobby membuka kotak p3k dan mulai mengobati kaki Yena dengan Betadine.
"Orang jahat takan berkeliaran di jalanan ketika hujan.. mereka pasti akan berteduh dan tidur di sana.." Jawab Yena
Dengan terampil Bobby membungkus kaki Yena dengan kain perban berwarna putih dan di beri hansaplast sebagai perekat.
"Apa yang di lakukan bayi itu di dalam perutmu?" tanya Bobby mulai mendekatkan kepalanya pada perut Yena
"Kamu sedang apa?" tanya Yena
"Mendengarkan suara anakku.." Ujar Bobby
"Dia belum bisa bersuara.." Ujar Yena menghela nafas
"Apa kamu sangat menyukainya?" tanya Yena yang di maksud adalah anak dalam kandungannya.
"Kenapa tidak, aku adalah Ayahnya... aku yang bertanggung jawab pada anak ku" Ujar Bobby
"Yang kamu maksud bertanggung jawab itu, Apa setelah anak ini lahir kamu akan mengambilnya dariku? dan membuang ku? begitu kah maksudmu?" tanya Yena
Bobby tertawa mendengar perkataan ibu dari anaknya itu.
"Pertanyaan konyol apa ini...?!! kamu jangan terlalu banyak menonton sinetron.." Ujar Bobby
"Bisa saja kamu menikah dengan Irene dan hanya ingin anakku dan membuang ku.. benarkan?" tanya Yena
"Akan ku pastikan itu semua takan terjadi.." Ujar Bobby tersenyum lebar memandangi wajah Yena yang semakin pucat, di tempelkannya telapak tangannya pada dahi Yena.
"Badanmu sangat panas.. kamu tidur ya.. jangan pikirkan apapun.. aku akan menghubungi dokter" Ucap Bobby panik Suhu badan Yena sangat tinggi.
Dengan segera Bobby menggotong badan Yena yang kecil, membaringkannya di ranjang miliknya. lalu menghubungi dokter Reno untuk bergegas ke rumahnya, memeriksa keadaan Yena yang demam tinggi.
Catatan penulis:
Hai readers.. Aku Im Kayra, sebenarnya aku sudah up dari tanggal 5 tepatnya kemarin tapi, entah kenapa naskahnya masih diriview terus..
jangan hanya membaca novel ku ini ya..
berikan like di seluruh episodenya dan berikan komentar untukku.
Terimakasih 😘