YENA

YENA
Tebak..



"Daniel.. tolong ambilin minum dong.." pinta Irene


"Ambil aja sendiri punya tangan kan..?" Ujar Daniel


"Ya, gak enaklah masa iya kakak yang ngambil.. kamu kan adeknya yang punya rumah.." Ucap Irene


"Gantian ada yang di mau aja.. ngomong nya 'kakak'.. padahal barusan ngmngnya 'Gue.. Lu..' Dasar cewek..." Ketus Daniel


"Ngomong apa..?" Tanya Irene


"Eh, gak.. aku ngambil Air dulu ya.. yang dingin kan??" tanya Daniel


"Ya, iya yang dingin" Jawab Irene


Daniel pun melangkah pergi ke dapur, meninggalkan mereka.


Irene duduk di hadapan Dimas, tangannya menggenggam tangan Kekasihnya.


"Kamu itu kenapa sih..?" Tanya Irene dengan nada rendah


"Kenapa..? orang aku gak kenapa-napa" Jawab Dimas


"Ih, aku suka gak seneng kamu kaya gini tuh Lho... kalo ada apa-apa tuh, ngomong ke akulah kita bicarain baik-baik.." Ujar Irene


"Ya emang gak ada apa-apa, gak ada yang perlu di omongin.." Jawab Dimas


"Terus kenapa kamu nyuekin aku..?, Kamu pikir deh Sayang kamu mau sampai kapan bersikap kaya gini terus, kalo aku ada salah tuh omongin, bukan diemin. aku mana tau salah aku dimana, aku bukan malaikat yang bisa tahu isi hati kamu yank.." Ujar Irene


"Ya udah aku ngomong, maksud kamu apa ngkhawatirin Bobby kamu masih naro harapan sama dia..?" tanya Dimas dengan tatapan mata menunjukkan keseriusnya.


"Kapan aku khawatirin Bobby..?" tanya Irene


"Tuh, gantian aku ngomong kamu gak ngaku.." Jawab Dimas melepaskan tangannya


"Ih, apa sih Sayang gak jelas banget deh..." Jawab Irene melihat sikap Dimas.


"Ya udahlah, gak usah di bahas.." Jawab Dimas kembali melihat handphonenya.


"Maksudnya yang mana sih..??, Heii.. dengerin dong orang ngomong.." Ucap Irene merasa sikap Dimas kembali dingin.


"Kamu mau kaya gini terus..?" tanya Irene


Namun, tak menemukan sepatah katapun dari mulut Dimas


"Sayang..."


"Sayang..."


Irene mendorong-dorong badan Dimas Namun, pria itu masih di sibukkan dengan mengotak-atik handphonenya.


"Buat apa coba kemarin itu kamu nyamperin orang tua aku kalo kamu bersikap keras kaya gini..??, aku sampai sini udah ngerasa kamu yang terbaik.. aku kenal kamu bukan sehari-dua hari, kita pernah pacaran kan sebelumnya?? tapi, kenapa kamu masih kaya gini sih yankk..??" tanya Irene


"Dimas..." Irene merampas handphone Dimas karena merasa terus di acuhkan.


"Apa sih Rin.." Ucap Dimas mencoba mengambil Handphonenya kembali.


Terlihat Irene mencoba menahan genangan air matanya, hingga terlihat matanya berkaca-kaca.


"Sinilah handphonenya.." Ucap Dimas berkontak mata langsung dengannya Irene, tatapan mata Irene yang tajam dan berkaca-kaca membuat ia merasa bersalah.


"Gak mau.." Jawab Irene, kotak mata dengan Dimas hanya membuat wanita itu lemah. ia tak bisa menahan lagi rasa sakitnya.


Hingga air matanya turun tanpa bisa ia kendalikan.


"Heii.. kok nangis sih, udahlah.." Ucap Dimas menarik tubuh Irene ke depan, memeluknya lalu mengelus-elus rambutnya.


"Kamunya nyebelin.." Ujar Dimas


"Iya.. iya.. aku nyebelin.. maafin aku ya.." Ujar Dimas menarik tubuh kekasihnya hingga duduk di atas pangkuannya


"Udah jangan nangis lagi ya.." Ucap Dimas menghapus air mata Irene, wanita yang biasanya marah-marah itu kini terlihat rapuh.


"Aku gak bakal kasih handphonenya lagi.." Ujar Irene sesegukan


"Lho.. kenapa? nanti kalo ada telepon penting gimana?" Tanya Dimas menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi kekasihnya itu.


"Lebih penting mana aku sama?, dari tadi handphone kamu pegang terus nyuekin aku.." Ujar Irene


"Kamu cemburu sama Hp..?" Ledek Dimas


"Ya gak papa, dari pada kamu yang gak pernah ngomong.." Ujar Irene


"Kamu pengen tahu kenapa tadi aku cuek sama kamu?" tanya Dimas


"Iya kenapa..??" tanya Irene penasaran menatap mata Kekasihnya.


"Kamu gak usahlah khawatirin Bobby, sekarang cuma aku yang perlu kamu khawatirin gak ada cowok lain..!!" Jawab Dimas


"Kapan aku bilang khawatir sama Bobby..?" tanya Irene


"Sebelumnya sama Daniel..?" Jawab Dimas mencoba mengingatkan


"Itu kan cuma becanda doang.. harusnya kamu bisa bedain mana becanda mana serius.." Ujar Irene


"kalo emang becanda kenapa harus khawatirin mantan kamu itu..?!!" tanya Dimas


"Siapa yang khawatirin sih yank.. aku gak pernah khawatirin Bobby kok, itu kan yang ledekin Daniel bukan aku.." Jawab Irene


"Ya aku gak suka, bukan cewek doang yang punya hati.. cowok juga sama.. hargailah, usaha aku ke kamu udah nyampe kaya gimana.." Ujar Dimas


"Ya, aku juga ngehargain sayang.. kapan aku bilang gak hargain kamu.." Ujar Irene dengan situasi mulai memanas kembali


"Ya, terus apa maksudnya ngomong kaya gitu sama Daniel..?? pake senyum-senyum segala, kagak tau sakit hati gua..!!!" Ucap Dimas


"Ya udah sih yank.. kamu gak usah ngebentak gitu.." Ujar Irene


"Siapa yang bentak kamu..?? ini karena kamu deket aja kesannya aku kaya bentak.." Ujar Dimas


"Ya udah si.. aku minta maaf.." Ujar Irene


"Minta maafnya gak ikhlas banget..." Ujar Dimas


"Ya udah sini deh.." Ucap Irene


"Cupp...........!!"


Irene mengecup bibir Dimas tanpa aba-aba.


"hihi..." Senyum Irene


"Ceritanya, ngerayu nih.. hmm??" tanya Dimas mengecup pipi wanita yang berada di pangkuannya itu.


"Siapa aku..??" tanya Irene


"Bukan.. tikus.." Ujar Dimas mengecup kembali bibir Irene singkat


"Berarti kamu kucing ya.." Ujar Irene


"Kok.. kucing sih..?" tanya Dimas


"Ya kan kucing, suka makan tikus.." Ujar Irene dengan cekikikan.


"Emang kamu mau aku makan..?!" tanya Dimas


"Lagi...?" tanya Irene


"Hah..?? maksudnya gimana..??" tanya Dimas di buat bingung dengan jawaban dari mulut Irene


"Gak.." Jawab Irene malu-malu, ia merasa salah mengartikan kata-kata Dimas ke hal yang lebih berbeda.


"Aihhh..... aku terlalu lambat menyimpulkan.." Senyum Dimas menimang kekasihnya seolah bayi yang baru lahir.


"Akh.. hentikan.." Ujar Irene


"Percaya diri sekali kamu ini..." Ujar Dimas mengecup pipi kekasihnya


"Ada hal yang membuat aku percaya diri saat ini..." ucap Irene


"Apa..?" tanya Dimas


"Tebak dong.." Jawab Irene


"Apa sih..? coba kasih bocoran.." Pinta Dimas


"Kelebihan aku.." Jawabnya


"Cerewet.. pemarah.. Cemburuan.." Jawab Dimas


"Kamu ngungkit kekurangan aku..??!" tanya Irene


"Hehe.. gak kok.. itu juga kelebihan kok.." Jawab Dimas


"Liat deh yank.. yang buat kamu tertarik sama aku.. tentang apa gitu.." Irene memberikan spoiler


"Mata yang cantik..?, hmm.. atau bibir yang tipis..?!" Jawab Dimas


"Sedikit lagi... sesuatu yang gemuk dan pendek" Ujar Irene


"Gemuk..?? pendek..??" Dimas menatap ke bawah.


"Kamu ini mikirin apa..??" Irene memukul kepala Dimas


"Aku kira Punya mu.. pendek dan gemuk..hihi" Dimas terkekeh


"Bukan..." Irene ikut tertawa karena jawaban Dimas.


"Salah..?, Akh aku nyerah.." Ucap Dimas


"Oke.. Jawabnya Lidah.." Ucap Irene


"Hah..? Lidah..? bagaimana bisa membuat kamu percaya diri dengan lidah?" tanya Dimas


"Kamu Lihat.." Irene menjulurkan lidahnya yang gemuk dan pendek


"Hahaha.. aku kira organ dalam mu.. bukankah milikmu gemuk..?? bahkan tembem..?!!" Ucap Dimas


Irene memukul kepala Dimas kembali, sambil tertawa.


"Bagaimana kamu bisa memikirkan hal seperti itu sekarang??" tanya Irene terkekeh


"Hanya itu yang aku pikirkan, lagian kamu yang duluan mancing-mancing.." Ujar Dimas.


"Dih.. kapan..?" tanya Irene dengan senyuman di bibirnya


"Eh, tapi apa untungnya punya lidah gemuk dan pendek..?" tanya Dimas


"Menurut mu apa?" tanya Irene dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


"Oah.. aku suka itu.." Ucap Dimas tersenyum menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, ia mengartikan sendiri dari senyuman dan tatapan mata Kekasihnya.


"Aku belum bilang apapun, kenapa kamu langsung bilang suka??" tanya Irene tertawa


"Pokonya aku suka aja, aku udah bisa tau jawabannya dari senyuman kamu.." Jawab Dimas memeluk tubuh kekasihnya itu


"Idih.." Ujar Irene menghindari Tubuh Dimas yang begitu lekat padanya


"Sini aku periksa.." Ujar Dimas menyondongkan wajahnya lebih dekat pada Irene..


"Hadeuh.. gak tahan gua liatnya. gak liat apa disini ada orang..." Ujar Rendi ketus, lalu menghentikan langkah kaki Daniel yang hendak mengantarkan minum.


"Keluar yuk.. gerah gua.." Ujar Rendi


"Tapi ini minumannya kak Ire........" Daniel belum menyelesaikan pembicaraan sudah di potong


"Udeh.. taro aja mereka juga gak bakal ngeuh lu Dateng..!!" Ujar Rendi


Daniel pun meletakkan minumannya di meja dan keluar dari ruangan itu bersama kakaknya.


Meski mendengar Dimas maupun Irene sama-sama cuek, mereka tak menghiraukan sama sekali ucapan Rendi dan tak menyadari kedatangan Daniel, Seolah mereka berdua tak terlihat oleh sepasang muda-mudi itu.


Sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu malah asik bermesraan.


Bahkan, Irene yang sempat menangis telah lupa kapan ia berhenti merengek.


Begitu pun Dimas, ia telah lupa sejak kapan handphonenya yang di jadikan bahan pertengkaran itu tergeletak begitu saja, ia malah asik bermain-main dengan Irene sekarang.