
Siang itu Daniel telah berpakaian rapih, ia berjanji akan pergi bersama Jessica untuk menonton pertunjukan air mancur di sungai Han.
Ia duduk di halte bus, sambil melihat jam tangannya, sudah setengah jam lebih Daniel menunggu gadis itu.
"Apa dia tersesat lagi... yang benar saja." Gumam Daniel
"Maaf aku terlambat..." Ucap Seseorang yang mengagetkan Daniel.
Daniel tersenyum, ia terpana melihat penampilan Jessica secantik itu, rambut yang di biarkan terurai, bibirnya yang di beri olesan lipstik berwarna merah padam terlihat sangat sexy dan lapisan make up lainnya yang membuat ia tampil lebih cantik dari biasanya.
Daniel menepuk pipinya sendiri, mencoba menyadarkan diri seolah habis terhipnotis oleh penampilan Jessica yang berbeda dari biasanya.
"Kamu kemana saja? aku menunggu mu hampir satu jam.. kamu tersesat lagi..?!! kamu tidak lihat berapa kali aku menghubungimu..?!! kemana saja kamu sampai tidak mengangkat telepon dari ku..?!!" Ucap Daniel bernada Seperti orang yang sedang membentak.
"Kenapa kamu membentak ku seperti itu.. aku kan sudah minta maaf barusan.." Ucap Jessica melemparkan tas kecil ke arah Daniel dan langsung masuk bus, tepat ketika bus berhenti.
Daniel memungut tas Jessica dan menyusulnya masuk ke dalam bus, beruntung saja bus belum pergi.
Dengan segera Ia duduk di sebelah Jessica yang sengaja menatap ke luar jendela bis, tatkala bis mulai melaju.
"Gua gak maksud bentak lu Jess, Lu mau permen.." Daniel membuka tangannya yang mengepal, di telapak tangannya ada satu batang permen lollipop yang masih terbungkus.
"Kamu kira aku anak kecil.. yang bisa kembali ceria hanya di beri permen?!!" Ucap Jessica, mulutnya berkata 'tidak' Namun, tangannya langsung mengambil permen tersebut dari tangan Daniel, di buka dari bungkusnya dan langsung di masukan ke mulutnya.
Daniel hanya tersenyum menahan tawa melihat tingkah wanita di sampingnya itu.
"Lihat apa..?! Apa yang sedang kamu tertawakan?!" Ucap Jessica dengan mata melotot.
Daniel membungkam mulutnya dengan tangannya.
"Tidak aku tidak sedang tertawa.." Ucap Daniel
"Baguslah.." Jessica kembali menatap ke luar jendela, bibirnya tersenyum di belakang Daniel.
"Bagaimana dia bisa se konyol itu.." Batin Daniel
"Mau berfoto denganku..?" Ajak Daniel
"Untuk apa..?" Tanya Jessica
"Sudahlah.. jangan banyak bicara.." Daniel mengeluarkan handphone nya, dan langsung berpose dengan Jessica
"Bukankah aku belum bilang bersedia?, Kenapa kamu langsung foto saja?" tanya Jessica saat melihat hasil fotonya.
"Bukankah kita cukup dekat untuk berfoto bersama?" tanya Daniel seolah membalikan perkataan Jessica semalam
"Kamu sedang menyindir ku?" tanya Jessica
"Kata siapa? tidak... Lihat, di foto ini kamu tidak jelek, kamu malah terlihat imut kan?" ucap Daniel mengalihkan pembicaraan.
"Aku memang seperti itu kan..?, di foto terlihat imut dan sangat cantik ketika bertemu langsung...?!!" Ucap Jessica dengan percaya diri yang tinggi.
Daniel mengusap mukanya, ia memaksakan bibirnya tersenyum saat mendengar Jessica memuji kecantikan dirinya sendiri.
"Apa semua wanita punya tingkat kepercayaan diri seperti mu..?!!" Gumam Daniel memalingkan wajahnya
"Tentu saja.. bagiku sejelek apapun wanita jika dia tetap percaya diri dan murah senyum, tingkat kecantikannya akan bertambah" Ungkap Jessica
"Tapi kamu wanita pertama yang memuji dirimu sendiri di depanku Seperti ku..?!" Ucap Daniel
"Kamu juga wanita pertama yang membuat ku berlama-lama berkaca di cermin hingga beberapa jam, hanya untuk memastikan bahwa hari ini aku berpenampilan maksimal untuk bisa berjalan-jalan denganmu" Batin Daniel
"Apa aku juga wanita pertama yang membuat jantung mu berdebar..???!!" Ucap Jessica tertawa kencang
"Sudah... Sudah... Lupakan..?!!" Ucap Daniel dengan wajah cemberut merasa menjadi bahan tertawaan Karena, Jessica terus menganggapnya seperti anak kecil dan tak pernah menganggapnya sebagai seorang pria. padahal meski usia wanita di sebelahnya itu lebih tua darinya tetap saja tak memungkiri kenyataan bahwa Daniel juga seorang pria yang bisa menyimpan perasaan tanpa melihat perbedaan umur.
"Tunggu.. apa kamu sering memuji dirimu sendiri di depan pria lain?!!. Aku hanya menyarankan padamu jangan melakukan hal seperti itu di depan pria, kamu tau.. itu sangat memalukan.. pantas saja kamu tak memiliki kekasih..." Daniel gantian meledek Jessica
"Benarkah..? aku tak pernah memikirkan hal sekecil ini sebelumnya.." Ucap Jessica sambil merenungi ucapan Daniel.
"Oh.. iya aku lupa membawa tripod.." Ucap Daniel
"Apa kita akan membutuhkan tripod di saat seperti ini?" tanya Jessica
"Tentu saja bodoh.. kita harus abadikan moment-moment penting seperti ini.. kita ke rumah ku dulu ya.." Ajak Daniel
"Untung apa ke rumah mu?" tanya Jessica
"Ambil tripod lah.. saat peragaan air mancur nya mulai kita bisa memotretnya sebagai kenang-kenangan.." ucap Daniel tersenyum
"Nanti kita malah telat dan gak kebagian tempat lagi.." Protes Jessica.
"Tidak akan.. percayalah padaku.." Ucap Daniel meletakan tangannya di dada.
"Awas saja kalau telat.." Ucap Jessica menatap tajam.
"Tidak akan.." Jawab Daniel tersenyum.
Beberapa lama kemudian sampailah mereka di Start City, tempat tinggal Daniel yang sekarang.
Mata Jessica terus melihat ke sekeliling, ia tak menyangka Daniel yang di kenal sebagai pria yang ke kanak-kanakan dan berpenampilan berantakan adalah keturunan dari orang berada.
Di ajak masuklah Jessica ke dalam rumah yang kebetulan tak di kunci.
"Duduklah disini.. aku akan ke dalam mengambil tripod.." Ucap Daniel
Jessica pun duduk sesuai perintah Daniel.
Tak beberapa lama kemudian, Daniel datang dengan tripod di tangannya.
Namun, seorang wanita tua dengan muka sangar mengehentikan langkah Daniel.
"Kamu mau kemana?" tanya wanita tua yang ternyata ibunda dari Daniel Bu Jia
"Mau keluar.." Jawab Daniel singkat
"Daniel, mamah kan sudah bilang padamu beberapa kali.. jangan bergaul dengan sembarang wanita.. semua wanita hanya mengejar harta mu.. lihatlah kakak mu, dia selalu berusaha bekerja dengan baik tidak seperti mu yang terus membuat onar..!!" Ucap Bu Jia melirik ke arah Jessica dengan tatapan tidak suka.
"Mamah terus membanding-bandingkan aku dengan Kak Rendi.. apa-apa Kak Rendi.. mamah selalu menjelek-jelekkan aku, di mata mamah aku tak pernah ada baiknya. mamah bahkan membenciku karena wajahku lebih mirip bang Bobby di banding Kak Rendi. Ingat mah, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.. Jika aku bisa liar seperti ini, bukankah aku lebih mirip mamah...?!!" Ungkap Daniel
Kemarahan Bu Jia menjalar ke seluruh tubuh, kepalanya serasa mendidih mendengar kata-kata yang keluar dari anak bungsunya sendiri. Tangannya pun terbangun ingin memberikan sebuah pelajaran pada anaknya yang di anggap membangkang itu, Sebuah tamparan yang di harapkan membuat anaknya lebih menjaga sopan santun pada dirinya.
Namun, sebuah tangan menghentikan Bu Jia yang hendak menampar anaknya sendiri.
"Sudahlah mah.. bagaimana pun Daniel masih belum dewasa.. anggap saja dia sedang mabuk.." Ucap Rendi menahan tangan Bu Jia Agar tak menampar anak bungsunya itu.
"Itu wanita yang kamu bawa...?!! Biarkan dia untuk kali ini saja mah.." Sekilas mata Rendi tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di sofa, melihat perdebatan mereka.
Hanya ucapan Rendi yang dapat meluluhkan hati Bu Jia.
"Daniel.. coba bilang lah pada Bobby untuk membantuku, beberapa hari lalu aku tertipu oleh klienku sendiri, dia menggambil uangku dan hilang begitu saja. sekarang aku kekurangan dana untuk menjalankan proyek terbaruku, jika Ayah tau aku pasti akan habis olehnya.. maka itu bicaralah pada Bobby, aku yakin dia akan memberikan bantuan jika kamu yang memintanya.." Ucap Rendi
Daniel tersenyum masam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kakaknya itu.
"Eum.. aku mengerti, kakak membelaku bukan bersimpati padaku.. kakak baik padaku karena menuntut ku untuk melakukan sesuatu...?! Kakak dan mamah tidak malu dengan apa yang kalian lakukan dulu pada bang Bobby,..?!! aku malu kak.. Jika harus meminta pada bang Bobby. Aku baru menyadari sekarang, kalian tidak pernah menganggap ku sebagai keluarga kan?!, kalian hanya mempergunakan aku sebagai alat yang bisa menguntungkan kalian.. kakak pikir jika aku tidak meminta pada Ayah kakak akan bisa bekerja dengan posisi tinggi seperti sekarang..?!!" Ucap Daniel
Rendi berdecih kesal melihat kelakuan adiknya yang seperti itu.
"Harusnya aku tak membelamu di depan mamah, biarkan saja mamah memukul anak kurang ajar Seperti mu.." Ucap Rendi
"Daniel.. minta maaf lah pada kakak mu.." Perintah Bu Jia
"Aku minta maaf mah tapi, aku tak bisa memungkiri kenyataan bahwa mamah tak pernah peduli padaku, mamah tak pernah memberikan perhatian yang sama seperti yang mamah lakukan pada Kak Rendi.." Ucap Daniel
"Kamu ingin tahu kenapa mamah tidak pernah perhatian padamu..??!! karena kamu hanya anak yang tak berguna.. kamu tak pernah mendapatkan nilai bagus sejak sekolah, kamu selalu bolos kuliah, bahkan kamu selalu menghabiskan uangmu untuk clubing.." Ucap Rendi dengan penuh penekanan
Daniel menundukkan kepalanya, apa yang di sebutkan kakaknya memang tak ada yang salah semuanya benar.
Namun, kata-kata 'Anak tak berguna' rasanya tak pantas di katakan oleh seorang kakak yang seharusnya memberikan dukungan ketika adiknya salah.
Ia juga berfikir semua bukan tanpa alasan..
"Kamu dengar itu dari kakakmu..??, Jadilah orang yang lebih baik Daniel. sekarang yang harus kamu lakukan hanya menurut pada kata-kata kakakmu, lakukan apa yang dia perintahkan.. Kamu ini sudah dewasa, jangan berfikir seperti anak kecil terus.." Ucap Bu Jia yang terus menghakimi anaknya bungsunya tersebut.
Bu Jia terus memojokkan Daniel untuk meminta bantuan pada Bobby karena hanya Daniel satu-satunya orang yang dekat dengan Bobby, rasanya tak mungkin jika Rendi yang datang meminta bantuan pada Bobby.
selain mereka tak akrab dan Bobby pernah di perlakukan kasar oleh keluarganya, Ia juga merasa gengsi harus meminta bantuan pada orang yang menurutnya lebih rendah darinya.
Keangkuhan dan kesombongan Rendi terlalu kokoh dan kuat hingga Takan mungkin ia yang datang memohon bantuan pada Bobby.
"Maaf Bu saya lancang.. Tapi, memaksakan ke hendak anak juga tidak baik Bu. Jika kakaknya yang membutuhkan kenapa adiknya yang harus berusaha..?!!" Ucap Jessica menghampiri dan masuk dalam percakapan mereka
"Kamu pikir kamu siapa masuk ke dalam pembicaraan keluarga kami.." Ucap Bu Jia penuh emosi
"Akh, rasanya tenggorokan ku gatal. keluarga mu tak sebaik keluarga ku.. Daniel kamu masih tahan berdiri disini..?!!" Ucap Jessica menatap ke arah Daniel yang matanya mulai memerah.
Tanpa menunggu aba-aba Jessica menarik tangan Daniel.
Mereka berlari keluar rumah meninggalkan Bu Jia dan Rendi tanpa pamit.
Daniel tidak pernah bisa berkutik saat kedua orang di rumahnya itu terus menjadikannya alat pesuruh Namun, ia sangat terkejut saat Jessica membuatnya bisa lolos dari ibu dan kakaknya itu
Daniel menatap Jessica sepanjang jalan, ia berpikir kenapa Jessica bisa bersikap sekeren itu.
Daniel melihat Jessica Seperti duplikat dirinya sendiri, ia merasa Jessica adalah versi perempuan dirinya.
Mereka terus berlari sambil berpegangan tangan hingga jalan raya, hingga Daniel tersadar akan sesuatu hal.
"Sebentar..." Daniel berhenti, dengan tangan yang masih saling berpegangan dengan Jessica dan hampir membuat wanita itu jatuh karena Daniel mendadak berhenti berlari.
"Ada apa...??!!! Uhuk.. Uhuk.." Jessica batuk-batuk kelelahan berlari, ia masih mengaturnya yang nafasnya ngos-ngosan.
"Kamu mau kemana membawa ku kemari?" tanya Daniel menjernihkan pikirannya
"Tentu saja Ke sungai Han melihat Air mancur.." Jawab Jessica
"Tapi Pemberhentian bus untuk ke sungai Han itu jalannya ke kiri bukan ke kanan..." Ucap Daniel
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi...." Jessica mengertakkan giginya.
"Wah, aku bahkan lupa bahwa kamu buta arah.. tadi kita dari kiri jalan, kenapa kamu malah belok ke kanan Jessica..." Daniel tersenyum karena mereka berlari sudah lumayan jauh dan mereka harus berbalik karena salah jalan.
Jessica menarik tangan Daniel untuk berbalik arah, Daniel heran kenapa sedari tadi ia tak menyadari bahwa mereka salah jalan, Daniel hanya terus terpokuskan melihat wajah Jessica sepanjang jalan.
Ia hanya tersenyum menahan tawa, menertawakan tingkahnya sendiri.