YENA

YENA
Lamaran



Sesampainya di rumah Bobby langsung mengambil jas, berganti pakaian lalu pergi ke perusahaan.


"Aku pergi dulu yah..." Pamit Bobby


Cup..


Kecupan mendarat di dahi Yena, sesuatu yang baru di lakukan oleh Bobby.


"Iya..." Jawab Yena kikuk


Entah kenapa kecupan kening dari Bobby seolah menghangatkan hatinya juga, ia tersipu malu dengan pipinya yang merah merona.


"Jangan lupa makan..." Ucap Bobby yang sudah duduk di kursi mobilnya.


"Iya..." Jawab Yena


Bobby mengemudikan mobilnya, melajukan ke jalanan hingga tak terlihat lagi.


Jam 12.00.


siang jam makan siang, Bobby tak pernah absen untuk menelpon Yena memastikan apa gadis itu telah makan dan minum susunya atau belum..


"Hallo... udah kok udah...." Yena mengangkat telepon dari Bobby


"Apa.. aku belum ngomong apa-apa udah di jawab udah.. udah.." jawab Bobby terkekeh


"kamu mau nanya kan apa aku udah makan? apa udah mandi.. udah kok.. udah..." Jawab Yena sudah hapal apa yang akan di tanyakan Bobby


"Duh, Pinter ya sekarang... kalo minum susunya..??" tanya Bobby


"Iya ini mau kok..." Jawab Yena menghindari, karena dia tidak terlalu suka pada susu.


"Mau..?? berarti belum?? kalo belum aku pulang sekarang juga ya..??" Ucap Bobby


"Ya.. iya.. aku minum sekarang.." Ucap Yena terdesak, karena ketika Bobby bilang dia akan pulang dia benar-benar pulang hanya untuk memastikan apa gadis itu benar-benar meminumnya atau tidak.


"Video call sekarang..." Ujar Bobby


"Kamu gak percaya..?? serius aku minum..." Ujar Yena


"Ya udah kalo mode video call nya gak kamu terima, aku pulang sekarang ya...." ujar Bobby


"Eh... kok... iya.. iya..." Yena mengubah ke mode video call


terlihat Yena menuang beberapa sendok susu bubuk untuk wanita hamil ke dalam gelas kosong, lalu memberinya air hangat dan mengaduknya dengan sendok. dengan muka masam tak lama kemudian ia meneguk susu tersebut hingga habis.


"Nah, gitu dong sayang.. itu kan buat kebaikan kamu sama dedeknya juga.." Ucap Bobby


"Puas sekarang..??" tanya Yena


"Gak boleh kaya gitu.. gak baik..." Ujar Bobby


"Iya.. iya... maaf..." Jawab Yena


"Ya udah aku tutup ya... jangan berkeliaran ke mana.." Ujar Bobby


"Iyah... iya..." Jawab Yena


tak lama telepon di tutup.


Akhir-akhir ini Yena tak memiliki teman, tiada Daniel atau Jessica, ia tak bisa keluar rumah seenaknya karena perutnya yang makin hari makin terlihat dan terus-terusan mengurung diri di rumah seperti seekor burung yang terkurung di sangkarnya.


Ia hanya menunggu Bobby setiap harinya, ia hanya bertemu Bobby setiap harinya Namun, Bobby juga manusia biasa meski dia selalu baik tak jarang Bobby juga mengesalkan. sekalinya Bobby berucap atau bertingkah yang menyakiti hatinya ia tak tahu lagi harus berlari pada siapa dan hanya bisa merasakannya sendiri, menanggung beban itu sendiri tanpa bisa bercerita pada orang lain.


Ia merasa sangat kesepian namun, setelah bertemu Bu Yume perasaannya lebih membaik dari sebelumnya.


Jam 22.00


Bobby baru sampai dari rumah.


"Lembur? biasanya pulang jam 4 paling telat jam 8 malem.. tapi ini udah jam 10 malem baru pulang.." Ucap Yena


"Iya..." Jawab Bobby


Jawaban singkat yang membuat Yena dongkol namun, ia mencoba menyabarkan hatinya.


"Udah makan?" tanya Bobby


"Belum..." jawab Yena


"Ya udah kita makan dulu..." Jawab Bobby lemah sepertinya ia sangat kelelahan dari rutinitasnya.


Mereka makan di meja makan dengan beberapa lauk yang tersaji di meja.


"Kamu sakit...?" tanya Yena yang melihat Bobby seperti tidak ada nafsu untuk makan.


"Gak..." Jawab Bobby


"Terus kenapa makanannya cuma di aduk-aduk gitu doang?" tanya Yena


"gak kok.. aku makan.. ini.." Bobby memperlihatkan suapan nya pada Yena


"Ada masalah di perusahaan..?" tanya Yena


"Enggak..." Jawab Bobby mengaduk-aduk kembali makanannya


Yena menghela nafas melihat tingkah Bobby, di tambah sedari tadi Bobby hanya merespon dengan jawaban-jawaban pendek, rasanya hatinya teriris karena merasa di abaikan.


Entah kenapa Yena sangat sensitif semenjak hamil, hatinya gampang sekali rapuh tak sekuat sebelumnya.


"Kamu gak mau cerita sama aku..?" tanya Yena


"Cerita apa..?" Bobby balik bertanya


Mata keduanya saling bertemu, membuat Yena tak bisa menahan lagi amarahnya.


air matanya mengalir begitu saja, yang langsung ia seka.


"Ya udah makan aja sendiri.. aku mau langsung tidur..." Ujar Yena beranjak dari kursinya


"Hei.. kamu ini kenapa sih..?? kok jadi marah-marah gitu..?" tanya Bobby menarik tangan Yena


"Kamu yang kenapa.. kalau ada masalah itu ngomong.. kamu malah kaya gini.. kamu kira cuma kamu doang yang punya masalah di dunia ini?? kamu kira cuma kamu yang capek..?? aku juga capek, kamu masih mending ketemu banyak orang bisa ketawa-ketawa sedangkan aku...?? aku cuma ketemu kamu doang tiap hari dan tiba-tiba kamu kasih muka kecut dan bersikap cuek gitu sama aku. kamu pikir aku perasaan aku gimana??" Ucap Yena melepaskan tangannya dari Bobby dan pergi ke kamarnya


"Makanan kamu belum abis Yena....." Ucap Bobby


Gubbbraakkk.....


Yena membanting pintu kamar.


Terlihat Yena berbaring dengan menutup seluruh badannya dengan selimut.


Bobby duduk di sampingnya


"Hei.. udah dong jangan nangis terus. ini liat si Kuma bawa apa...??" Ucap Bobby sambil memegang kucing putih milik Yena yang di beri nama Kuma.


Miiaaaawww.....


Kucing putih itu terlihat lebih gemuk dari biasanya.


Kucing putih itu lompat ke atas selimut, menyakar-nyakar bagian ujung selimut seolah penasaran dengan isi di dalamnya.


Miiaaaawww.....


"Bangun Yena... nanti takut kamu ke cakar..." Ucap Bobby


Kucing itu melompat-lompat sambil terus menyakar ujung selimut.


"Apa sih pus.." Yena bangun dengan kedua mata yang masih basah, di pegangnya kucing putih itu.


ada hal yang berbeda dari kucing itu terdapat tali hitam yang melingkari lehernya kucing itu, sebuah kertas putih yang mengalunginya tulis tangan "Yena.. Will you marry me?" di tambah sebuah cincin di tengah-tengahnya.


Yena terdiam untuk beberapa saat, ia mencerna maksud dari isi tulisan dan sebuah cincin yang bersamanya itu


"Ini... kamu apa apaan...?" tanya Yena melirik Bobby ragu-ragu


Bobby membuka tali hitam yang melingkar di leher Kuma lalu mengambil cincinnya dan memakainya di jari manis Yena.



"Kita mulai semuanya dari awal ya...? menikah lah dengan ku...?" Ucap Bobby


Yena hanya terdiam dan tersenyum haru sambil memanggutkan kepalanya.


Bobby memeluk tubuh gadis itu.


"Udah jangan nangis terus.. maafin aku ya.. aku gak sempet beli bunga atau yang lainnya karena harus lembur.. makannya itu dari tadi aku diem bukan punya masalah atau apapun tapi, karena aku kesel gak bisa kasih hal yang romantis.." Ucap Bobby mengusap pipi Yena yang basah bekas terguyur air mata.


"Aku kira kamu punya masalah dan aku yang kecipratannya.." Ucap Yena


"Enggak kok... enggak.." Ucap Bobby menyicum pipi Yena membuat Yena tersengak.


"Mulai sekarang kita saling mengisi ya.. sampai kita menikah dan anaknya lahir.. kita belajar sama-sama menjadi orang tua dan orang dewasa yang baik..." ucap Bobby tersenyum


Saat ini di mata Yena dia begitu tampan dan kata-katanya begitu manis.


Entah apa yang merasuki Bobby malam itu, tanpa aba-aba ia menyerang bibir Yena menerobos ke dalamnya, menyusuri setiap rongga di dalamnya, ia begitu serakah dan rakus seperti serigala beringasan yang tak sabar lagi melahap santapannya.


Yena mendorong tubuh pria itu memberikan jarak agar ia bisa bernafas.


"Aku bisa mati kehabisan oksigen.." Ucap Yena


"Aku tak sabar lagi..." Ucap Bobby mendorong Yena hingga terbaring di tempat tidurnya.


lalu mengecup leher dengan sikatan.


"Bobb..." Yena mencoba mendorong tubuh laki-laki itu agar memberikan jeda pada dirinya.


"Ada apa..???" tanya Bobby yang begitu lekat dengan wajah Yena


matanya tertutup oleh kabut gairah yang membara yang selama ini selalu ia tahan, namun malam ini rasanya ia tak bisa membendung rasa itu terlalu lama..


Rasa inginnya telah meluap tak dapat tertahankan.


"Kamu tidak lupa kata dokter kan?" tanya Yena


"Aku akan memperlakukan kamu dengan baik Yena..." Jawab Bobby yang Kembali menyerang bibir seksi Yena, membungkam mulut gadis itu dengan lumatan dan decak suara bibir yang beradu, membuatnya tak bisa berkutik dan terbawa nuansana nan romantis.


mereka bersembunyi di balik selimut mengeluarkan suara-suara kecil, satu persatu pakaian di lemparkan ke lantai, membuat kamar itu terlihat berantakan, suara denyit tempat tidur menandakan sesuatu hal terjadi di sana.


"Akh.... Bobby.... pelan-pelan..." Ujar Yena


Suara rintihan manja dan suara nafas yang saling beradu padu membuat malam yang dingin itu menjadi sebuah kehangatan bagi mereka, keringat yang bercucuran seolah tak membuat mereka kelelahan dan terus melakukan aktivitasnya.


Terdengar suara desahan dan keluh dari mulut keduanya.


"bibir ku bisa sobek Kamu terus mengigit ku..." Ucap Yena


"Tidak akan... bawel.." Jawab Bobby


Hingga Bobby merasa sudah berada di ujung titik kepuasannya, ia mengeluarkan suara bak aungan seringala bersamaan dengan pelepasannya.


untuk pertama kalinya bagi Yena maupun Bobby melakukan hal tersebut dengan rasa sama-sama suka bukan karena paksaan.


Keduanya terbaring sambil kembali mengatur nafasnya.


"Kamu sangat beringasan..." Ucap Yena tersenyum


"Tidak apa-apa asalkan padamu.. bukan pada orang lain.. akh, aku bahagia sekali.. terimakasih sayang..." Bobby mengecup bibir Yena


Bobby memeluk tubuh polos gadis itu,


"Jika aku ingin lagi bagaimana..?" tanya Bobby


Yena menjauhkan tubuh pria itu dari tubuhnya,


"Sudahlah.. ini sudah malam.. belum ada 5 menit kita melakukannya.." Jawab Yena menolak


"Sebentar saja... aku janji..." Ucap Bobby


"Ini sudah lewat tengah malam Bobby.. tidurlah, besok kamu harus bekerja.." Ucap Yena


"tidak apa-apa.. aku kuat.. sebentar saja ya..." Bobby terlihat memohon-mohon


"Besok saja..." Jawab Yena menutup wajahnya dengan selimut


"Ayolah sebentar saja.." Bobby menarik tubuh Yena lebih lekat pada tubuhnya yang sama-sama polos.


"Ih.. Bobby... besok saja..." Ucap Yena


"Adik ku bangkit lagi.." Bobby menggesekan adiknya pada tubuh Yena


"Bobby..!!! kamu apa-apaan sih..." Ucap Yena kaget


"Ayolah.. sebentar saja aku janji..." Ucap Bobby


tanpa menunggu Jawaban dari Yena pria itu langsung menjalankan aksinya kembali, membiarkan adiknya bermain sesuka hati di dalamnya, tangannya tak bisa diam meraba ke sana ke mari, bibirnya tak henti-hentinya mengecup tubuh gadis itu, membuat Yena kembali terbawa alur yang di inginkan prianya. membuat suara syahdu di malam yang dingin itu.