YENA

YENA
ID Manis



Irene melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.


"Sakit Dimas..." Ucap Irene sambil memegangi pergelangan tangan yang membiru.


"Kalo kamu gak ningkah aku juga gak bakal kaya gini Rin.." Ucap Dimas


"Ningkah apa sih yank.. aku kan udah bilang beberapa kali ke kamu tapi kamu gak mau denger penjelasan aku.. ya sama aja bohong aku jelasin juga kalo kamu gak boleh bisa menerima penjelasan orang lain.." kata Irene


"Kamu mau bilang apa lagi Rin..?? kamu bilang yang jujur sama aku sekarang.. kamu masih suka sama Bobby..?? Demi apapun aku gak bakal biarin ninggalin aku.." Ucap Dimas dengan kedua tangan di bahu Irene


"Gak Dimas.. enggak.. aku sayang sama kamu gimana bisa aku ninggalin kamu.." Ucap Irene memegang wajah Dimas dengan kedua tangannya


Dimas mencium bibir tipis Irene dengan rakus, ia menghisap dan menggigit dengan kasar hingga Irene memukul tubuh kekasihnya itu karena kehabisan oksigen dan rasa sakit yang di perbuat Dimas.


Dimas melepaskan Irene dengan bibir yang berdarah, Ia meneteskan air mata karena rasa perih di bibirnya.


"Itu pelajaran karena kamu nakal di belakang aku.." ucap Dimas dengan mata merah.


Dimas yang lembut, baik dan selalu memikirkan perasaan orang lain, kini berubah menjadi Dimas yang kasar dan sangat agresif karena terbakar api cemburu.


"Aku harus berapa kali ngomong sih sama kamu.. aku gak ada maksud apapun chat Bobby.." Ujar Irene merintih kesakitan, ia merasa Dimas sangat marah saat ini hingga ia tak berani menatap matanya


"Jujur Rin.. aku kecewa banget sama kamu.. kamu tahu hubungan kita udah sampai mana.. kamu masih ingat apa yang telah kita lalui kemarin-kemarin.. aku rela di pukulin anak buah Ayah kamu.. Tapi, rasa sakit itu gak ada apa-apanya ketimbang rasa sakit aku saat ini Rin.." Ucap Dimas


Tangis Irene makin pecah, ia ingat kembali apa yang telah di lakukan oleh ayahnya terhadap Dimas. bukan karena tidak di restui Namun, Dimas di kira sebagai penculik yang mengacam keselamatan Irene dan membawa kabur Irene saat pesta pernikahan yang gagal dengan Bobby dulu.


Sampai saat ini pun pihak keluarga dari Irene kurang setuju, dengan hubungan mereka.


mereka heran karena Irene melepaskan Bobby demi lelaki yang hanya pemilik restoran itu.


"Aku minta maaf aku salah..." Ucap Irene memegang jemari tangan Dimas dengan kedua tangannya.


Dimas terlihat terpukul.. ia mengalihkan pandangannya, ia merasa sakit melihat kekasihnya menangis karena dia.


"Rin.. coba liat aku.. aku udah punya niatan tulus sama kamu.. sampai kapan kamu mau mainin hati orang terus...." Ucap Dimas dengan mata merah menatap Irene yang terus tertunduk sambil menangis kencang.


"Gak mau.. aku takut.." Ucap Irene


Dimas mengangkat dagu Irene, hingga mata mereka saling bertemu.


kedua pipi pasangan itu sama-sama basah, bekas air mata.


Melihat Dimas ikut menangis, Irene segera mengusap air matanya


"Kamu kenapa nangis aku yang salah.. kamu gak salah.. aku minta maaf.. aku janji gak bakal ulangin lagi..." Ucap Irene memeluk tubuh kekasihnya.


"Aku juga minta maaf.. udah bikin kamu kaya gini.. aku sayang sama kamu Rin.." Ucap Dimas mengecup kening Irene, ia merasa bersalah telah menyiksa Irene hingga tangannya bengkak dan bibirnya sobek.


"Aku juga sayang kamu Dimas, aku gak pernah ada main di belakang kamu.. kamu harus percaya itu.." Ucap Irene


"Iya.. aku percaya sama kamu Irene sayank.. kamu mau apa?? Es..?? Oh, iya kamu belum makan.. kita makan dulu saja ya.." Ajak Dimas


"Enggak obatin dulu muka kamu..." Ucap Irene sambil menyentuh sudut bibir Dimas yang sobek bekas perkelahiannya dengan Bobby.


"Udah nanti aja abis ngobatin nya.. kamu pasti udah laper banget. kita cari makan dulu ya.." Ajak Dimas


"Gak mau.. obatin dulu.." Ucap Irene


"Rin nanti magh kamu kambuh lho.. Udah deh jangan ngeyel.." Ucap Dimas


Irene memeluk tubuh Dimas, lalu menadahkan kepalanya ke atas, menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan Dimas.


Dimas tersenyum melihat tingkah manja kekasihnya itu.


"Ya udah.. kita obatin dulu ya, tangan kamu juga.." Ucap Dimas dengan senyuman di bibirnya.


Irene dan Dimas pun masuk ke mobil, Dimas menancapkan gas lalu memengemudikan mobilnya.


Setelah membeli beberapa obat dan makanan, mobilnya berhenti di depan restoran.


Tak ada tempat lain yang terlintas di benak Dimas selain Restorannya yang sudah tutup selama beberapa hari itu.


Ia mengeluarkan kunci dari saku celananya, membuka rolling door, lalu masuk ke dalamnya bersama Irene, kemudian menutupnya kembali.


Dimas mengajak Irene ke ruangannya, ruangan kecil tempat ia istirahat di restoran.


ruangan kecil yang hanya ada satu tempat tidur dan tak ada apa-apa lagi.


Dengan Perlahan Irene mengoleskan betadin ke luka di wajah Dimas dengan cotton bud, lalu menempel plaster di lukanya.


"Sini biar aku gantian ngobatin kamu.." Ujar Dimas mengubah posisinya, Ia menempel perban elastis di pergelangan tangan Irene.


"Ini bisa mengurangi sakit dan menyembuhkan memar.." Ujar Dimas


Tiba-tiba suara handphone Irene berbunyi, dengan segera ia mengangkat telepon.


"Iya mah.." Jawabnya


"Iya.. Irene baik-baik aja kok.." Orang tua Irene sekarang menjadi lebih aktif menanyakan Irene semenjak kasus hilangnya Irene itu.


Meski Irene bilang bahwa dia mundur di pesta pernikahan karena tidak menyukai Bobby lagi, lalu memperkenalkan Dimas sebagai kekasihnya, Orang tuanya masih belum bisa mempercayakan anaknya pada Dimas dan masih mencurigai Dimas bahwa Dimaslah yang mengganggu Irene selama ini.


"Mamah, tenang aja.. Irene sama Dimas kok" Jawabnya


"Iya.. iya.. bentar lagi juga pulang.. ya, udah ya. Irene tutup. Bye.. mah.." Ucap Irene menutup sambungan telepon


"Mamah aku.. biasa nanyain di mana sama siapa.." Ucap Irene


"Bukan gak setuju.. mereka belum kenal baik aja sama kamu, jangan ngomong gitu akh.." Ucap Irene


"Emm... Terus kamu sekarang mau gimana?? mau langsung pulang..??" tanya Dimas


"Kok pulang sih.." Jawab Irene


"Ya, orang tua kamu barusan nyuruh pulang gimana..??" tanya Dimas


"Iya, nanti aku pulang.. kamu udah beli makan kan..?? sayanglah kalau gak di makan" Ucap Irene


Dimas menatap mata Irene yang sembab, lalu pandangannya turun ke bawah ia meraih tangan yang di perban.


"Gimana mereka mau percaya sama aku, kalau kamu pulang dalam keadaan kaya gini.." Ujar Dimas


Irene menarik tangan.


"Udahlah.. jangan terlalu di pikirin.." Ucap Irene memegang kedua pipi Dimas dengan tangannya agar menatapnya


"Gimana gak aku pikirin.. ini semua gara-gara aku Rin.. Orang tua kamu pasti makin gak suka sama aku kalo kamu pulang kaya gini" Ujar Dimas


"Atau aku gak usah pulang aja kali ya.. aku disini aja sama kamu.." Ucap Irene mengusulkan ide


Tekk...


Dimas menyentil dahi Irene sambil tertawa


"Heii.. kamu mulai punya pikiran nakal lagi.." Ucap Dimas


"Aaaa... sakit.." Irene merenggut sambil memegang dahinya.


"Abis makan kita pulang.." Ucap Dimas tersenyum


"Tidur disini juga gak apa-apa kok.." Ucap Irene bergelayut di tubuh Dimas.


"Hahahaha.. enggak abis makan pulang, kamu mau aku masuk penjara karena 2x bawa kabur anak orang.." Ucap Dimas dengan raut wajah yang seketika berubah.


"Ya udah.. iya.. iya.." Ucap Irene menegakan tubuhnya dengan wajah cemberut.


"Udah jangan cemberut.. nanti juga ada waktunya kita bareng terus.. hari ini aja kita bareng terus masih kurang..??" tanya Dimas


"Iyalah.." jawab Irene


"Aku tau pikiran kamu lebih liar dari aku.. aku cuma mau jadi yang terbaik buat kamu.." Ucap Dimas mengelus rambut Irene


"Aku laper.." Ucap Irene


"Ya udah.. ayok kita makan dulu.." Ajak Dimas


"terus jadi pulang..??" tanya Irene


"Ya, jadilah.. kamu mau tidur di tempat sesempit ini sendiri.." Ucap Dimas


"Ya, gak papa.. tapi, asal sama kamu.." Ujar Irene


"Ayok makan.. keburu dingin makanannya.." Ujar Dimas melangkah meninggalkan Irene


"Tuh.. kan di cuekin.." Ucap Irene kesal lalu mengikuti Dimas dari belakang


**


Mereka duduk di tempat makan, membuka makanan yang telah di belinya.


"Makan yang banyak.." Ucap Dimas melihat Irene makan dengan lahap


"Yank.. bukain.." Irene mengasongkan minuman botol yang masih tersegel rapat.


"Ini.. minum pelan-pelan" Ucap Dimas memberikan minum botol yang telah di bukakan tutupnya


"Aaakhhhh...." Irene berhenti meminumnya


Baru sana minum itu masuk ke mulutnya, Irene baru terasa perih di bibirnya yang terluka karena kena air, dan semua itu ia dapat dari perlakuan Dimas.


"Kenapa...?? minumannya gak enak..?" tanya Dimas


"Gak.. manis kok.." Jawab Irene menutupi bibirnya dengan sebelah tangan, menyembunyikan kebenaran.


"Lepasin tangan kamu.." Ucap Dimas dengan tatapan serius


"Gak papa.. aku gak papa kok.." Irene menolak


"Aku bilang buka.." Tegasnya.


Perlahan Irene menurunkan tangannya, terlihat bibir Irene yang tipis kini terlihat lebih gemuk karena sobekan di bibirnya.


"Apa masih perih??" tanya Dimas mendekatkan wajahnya.


"Gak.." Jawab Irene menarik bibirnya kedalam mulutnya.


"Aku minta maaf ya.." Ucap Dimas kembali merasa bersalah


"Udahlah.. aku gak papa kok.." Jawab Irene


"Aku kebawa emosi.. kamu mau maafin aku..?" tanya Dimas


"Iya.. udah akh jangan bahas ini lagi.. ayokk lanjut makan.." Ujar Irene