
Malam itu bel berbunyi, pada hari sudah benar-benar malam bukan waktu untuk bertamu di rumah orang.
"Yena... bukain pintunya.. siapa yang Dateng.." Ucap Bobby
Dengan cepat Yena mengambil ikat rambutnya, lalu menalikan rambut panjangnya sambil berlari kecil menuju pintu
"Ia siapa...." Ucap Yena berbarengan dengan terbukanya pintu
Yena kaget mendapati Seorang wanita tua dan pemuda berdiri di depan pintu.
Senyuman wanita tua itu hilang ketika melihat Yena di dalamnya, mungkin ia lebih berharap sang pemilik rumah yang kan membukakan pintunya.
Wanita tua itu memandangi Yena dengan tatapan tidak suka saat Yena membukakan pintunya, menatapnya dari atas ke bawah.
Yena sadar bahwa tak seharusnya ia yang membukakan pintu, hanya dengan tatapan mata ia sadar bahwa saat ini ia sedang di pandang rendah oleh dua orang yang bertamu itu.
Perlahan Yena berjalan mundur sebelum harga dirinya lebih tersakiti lagi.
"Hei... ada apa..?" Bobby mengagetkan dari belakang Yena sambil memegang kedua bahunya.
"Seharusnya aku tidak membuka pintu...." Gumam Yena
Bobby menatap ke depannya, dua orang yang tak asing baginya.
"Sudahlah.. kamu tak salah apapun.." Ucap Bobby berjalan maju, menyembunyikan Yena di balik punggungnya.
"Oh, ada tamu... Silakan masuk..." Ucap Bobby dengan ramahnya
mereka berdua masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu.
Yena membuat kan minum untuk kedua tamu itu, dan menyajikan minumannya di depan meja.
"Aku masuk dulu...." Bisik Yena hendak melangkah pergi
"Mau kemana? sudah duduk di sini di samping ku...." Ucap Bobby menarik tangan Yena, hingga duduk di sampingnya.
"Dia siapa Bobby...?" tanya wanita tua itu
"Sepertinya Bu Jia sudah hapal dengan gadis ini tapi, biar saya perjelas.. dia calon istri saya..." Ucap Bobby dengan tegas
"Istri...." Ucap Bu Jia dan pemuda itu secara bersamaan.
"Bu.. bukankah dia...." bisik pemuda itu pada ibunya
"Ia.. Ibu tahu.. bersikap ramahlah padanya.." bisik Bu Jia pada anaknya
"Ada apa kok malah jadi acara bisik-bisikan..." Ucap Bobby
"Eh.. tidak kok Bob..." Gumam pemuda itu
"Ouh iya jadi ada apa Rendi sama Bu Jia kemari...??" tanpa bertele-tele, Bobby langsung menanyakan tujuannya.
"Ini tentang Perusahaan Gold Three Bob.. bisakah kamu membantu ku?" tanya Rendi
"Oh.. Gold Three, ada apa dengan perusahaan yang kamu kelola itu...?" tanya Bobby
"Tentunya, kamu sudah dengar kan sebelumnya dari Ayah...? maka itu kami kemari, kami butuh bantuanmu Bob.." Ucap Rendi
"Bantuan...?? bukankah orang sepintar kamu tak butuh bantuan orang lain...??!" Sindir Bobby
"Untuk kejadian yang sudah berlalu bisa kah kamu melupakannya nak..?? kami menyesal... kamu sekarang sudah dewasa, semua sudah berubah nak.. kami pun sudah berubah..." Ujar Bu Jia berharap Bobby luluh dan bisa membantunya dengan segera
Rasanya berat bagi Bobby memaafkan orang-orang yang pernah berbuat jahat padanya di masa lalu
"Bagaimana pun orang-orang mengetahui bahwa Waybi dan Gold Three adalah perusahaan yang bersaudara.. maka itu Bobby maaf kan lah perbuatan kami di masa lalu padamu.. kami akan melakukan apapun asalkan kamu bisa membantu kami..." Ujar Rendi
"Sejak kapan kita bersaudara...?? kamu bahkan tidak pernah ingin mempunyai saudara tiri kan..??" Sindir Bobby masih mengingat perkataan Rendi saat kecil padanya.
"Kamu bilang perusahaan saudara...?? sejak kapan kita bersaudara..??" Ucap Bobby kesal
"Tolonglah Bob, ayah sudah sangat kecewa padaku... jika aku bangkrut aku tak tahu apa yang harus aku lakukan ke depannya.. aku mohon Bob.. aku dan ibuku benar-benar minta maaf, bisakah kamu memaafkan perbuatan kami..?? aku akan sangat berterimakasih pada kamu.. kami akan melakukan apapun yang kamu minta, asal kamu membantu kami..." Ucap Rendi sudah merasa putus asa
"Benarkah apapun...?? Jika aku minta kamu untuk turun jabatan apa kamu mau...??" Ujar Bobby sontak membuat semua orang kaget dengan mata yang melotot.
"Apa harus aku bilang pada ayah seperti itu..?" tanya Rendi menundukkan kepalanya, ia sudah tak punya harapan tinggi biarpun Gold Three selamat dari kebangkrutan Namun, ia tak bisa memimpin perusahaan itu kembali meski obsesinya sangat besar pada perusahaan itu.
"Kami permisi dulu...." Ujar Yena menarik tangan Bobby menjauh dari mereka.
"Apa tidak apa-apa jika kamu memegang kendali penuh atas Gold Three Nak...?" tanya Bu Jia dengan perasaan berat, ia dapat merasakan kesedihan dan kehancuran hati anak sulungnya itu.
"Ibu mengerti kan... aku sekarang tidak merasa baik..?" tanya Rendi menundukkan kepalanya sambil memegangi kepalanya
Yena membawa Bobby ke kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat.
"Bob... kamu mau jadi orang jahat?" tanya Yena
"Orang jahat bagaimana sih maksud kamu sayang...??" tanya Bobby
"Kamu bilang seperti itu pada keluarga mu sendiri.. mereka butuh bantuan dari kamu Bob tapi kamu malah memberikan ancaman.." Ujar Yena
"Ancaman...?? maksud kamu ancaman seperti apa..? aku membantu mereka juga kan? dimana yang kamu sebut ancaman..??" tanya Bobby dengan mata yang merah
"Sayang.. Jangan balas orang pernah berbuat jahat padamu dengan kejahatan lagi.. aku mohon.." Ucap Yena berlutut
"Kenapa kamu membela mereka..? mereka bukan keluarga ku Yena.. sudahlah, aku sudah memikirkan ini sedari lama seberapa banyak kamu memohon kamu tidak berhak mengatur atau merubah keputusan yang telah aku buat..." Ucap Bobby melangkah hendak meninggalkan kamar.
"Kalau kamu bersikeras dengan keputusan kamu.. lebih baik kita batalkan pernikahan kita, aku tidak ingin menikah Dan tinggal bersama pria yang penuh dendam.." Ucap Yena menghentikan langkah Bobby
Bobby kembali mendekati Yena kembali,
"Yena... jaga ucapan kamu.. tidak ada untungnya bagi mu membela orang-orang yang jahat seperti mereka.." Ucap Bobby
Yena kembali berdiri di hadapan Bobby
"Lalu apa bedanya dengan kamu..? kamu tahu rumahku yang mereka tempati di jual oleh bibiku yang entah kemana sekarang..? kamu tau perasaan aku..? aku juga hancur tapi, aku pasrah biar hukum alam yang akan menghakimi mereka.. jika aku bertemu lagi dengan bibiku dengan keadaan lebih susah dariku, aku rasa aku Takan tega.. aku pasti membantu mereka..." Ujar Yena
"Kamu tidak tau.. Mereka Takan pernah berubah, meskipun di bantu mereka Takan pernah punya rasa bersyukur.. biarkan mereka merasakan apa yang aku rasakan dulu.." Ucap Bobby
"Aku tidak akan menikah dengan mu Bobby kalau kamu seperti ini terus.. biar aku pergi dari sini saja..." Ucap Yena berjalan menuju lemarinya mengambil pakaian-pakaiannya.
"Yena.. kamu sadar apa yang kamu lakukan sekarang..??!!" Bobby menghentikan Yena, menahan kedua tangannya.
"Aku sadar Bob.. sadar sekali bahwa kamu sekarang berubah menjadi orang jahat..." Ucap Yena melepaskan kedua tangan Bobby
"Kenapa aku yang jahat..?? Aku tidak melakukan kriminal apapun.." Ujar Bobby
"Pembunuhan karakter.. kamu memberi harapan dan memberikan ancaman... Lalu untuk apa kamu memberikan bantuan tapi kamu mematahkan karier seseorang" Ujar Yena
"Jadilah orang baik Bobby.. meski di sekeliling mu banyak orang jahat, tetap jadilah orang baik... di mataku kamu adalah pria terbaik dari dulu hingga saat ini, aku takan pernah bisa hidup jika kamu tidak berbaik hati menyelamatkan ku saat itu, aku takan pernah berlindung padamu jika kamu bukan orang baik, aku mengenal mu sebagai orang baik, maka itu tetaplah jadi orang yang baik untukku.. bukankah kita sudah berjanji akan menjadi Orang dewasa dan tua yang baik?? kamu tidak lupakan?? saat ini aku benar-benar hanya mencintai mu... aku tidak ingin kamu berubah menjadi orang yang tak aku kenal" Ucap Yena dengan mata yang berkaca-kaca.
Bobby sadar betapa berharganya, wanita yang kini di hadapannya sekarang. dia dapat menyadarkan Bobby ketika salah, ia dapat meluluhkan hati Bobby yang keras, melunturkan ego Bobby yang sangat tinggi.
"Iya aku ingat sayang.. aku juga hanya mencintai mu Sekarang.. aku minta maaf ya.." Bobby memeluk tubuh Yena.
Mereka kembali ke ruang tamu duduk berhadapan kembali dengan Bu Jia dan Rendi. Raut wajah Rendi maupun Bu Jia terlihat sangat kacau saat itu.
"Baik sudah kalian putus kan apa yang akan kalian lakukan??" tanya Bobby
"Sudahlah.. tetaplah bantu kami.. aku rela jika kehilangan posisiku.." Ujar Rendi
"Kamu tak perlu kehilangan tapi, kamu hanya perlu melakukan satu syarat dari ku.." Ucap Bobby
Yena menatap wajah Bobby kembali, ia takut Bobby akan mempersulit mereka lagi.
"Bobb...." Ucap Yena pelan
"Minta maaflah pada Yena.. karena kalian pernah memperlakukannya dengan tidak baik..." Ujar Bobby sebari memengang erat tangan Yena
"Benarkah.. hanya itu..?" tanya Rendi dengan perasaan lega dan bahagia karena tidak jadi kehilangan posisinya
"Tidak mau..?? Ya sudah lupakan yang aku katakan...." Ujar Bobby
"Ya.. kami mau.." Ujar Rendi
"Sebelumnya kami tidak tahu bahwa kamu adalah kekasih saudara ku sendiri.. aku dan ibu ku, dari lubuk hati kami yang paling dalam.. sangat menyesal memperlakukan kamu secara tidak baik tempo hari.. maafkan kami ya.." Ujar Rendi dengan senyuman yang lebar
"Ibu juga merasa bersalah.. ibu juga minta maaf sebelumnya..." Ucap Bu Jia
"Tidak apa-apa Bu.. saya sudah memaafkan itu semua..." Jawab Yena membalas senyuman