YENA

YENA
Penguntit



Pagi itu Yena membuka matanya, selang infusan yang masih terhubung ke tangannya membuat ia tak bisa leluasa untuk melakukan apapun, termasuk hanya untuk sekedar bangun saja sulit.


Ia melirik kan matanya ke samping, pria yang tak asing baginya tertidur di sampingnya.


Yena berfikir mungkin dia sengaja atau bisa saja tak sengaja tidur di sampingnya.


"Hei.. hei.. bangun.." Yena mendorong-dorong tubuh pria itu agar segera bangun ia, Yena sangat kesusahan tuk bangun karena selimut yang menutupi tubuhnya di jepit oleh tubuh pria itu.


"Bob.. bangunlah.." Ujar Yena


"Hmm.. iya.. iya.. ada apa?" Bobby mengucek matanya yang belum sepenuhnya sadar.


"bangun ayok cepetan..?!!" Ucap Yena kesal


"Iya ini juga udah bangun.. kenapa?" Tanya Bobby dengan posisi duduk.


"Aku mau bangun.. susah.." Ucap yenA menarik-narik ujung selimut yang di duduki Bobby


"Oh.. iya maaf." Jawabnya langsung berdiri.


Bobby bangun membantu Yena untuk berdiri


"Gak usah di bantuin.. aku masih bisa jalan kok.." Ucap Yena ketus


"Pagi-pagi udah manyun.." Bobby tersenyum memegang kedua sisi bibir Yena dengan satu tangan, hingga bibir gadis itu terlihat seperti bebek yang maju ke depan.


"Ikhh.. apaan sih.." Ucap Yena melepaskan tangan Bobby


"Bentar.." Bobby memeriksa suhu tubuh Yena dengan menempelkan punggung tangannya di atas kening Yena.


"Kenapa?" tanya Yena


"Syukurlah kamu sudah sembuh.." Bobby tersenyum


"Benarkah? berarti besok aku sudah bisa bekerja?!!" Ucap Yena kegirangan


"Kata siapa?" tanya Bobby dengan muka masam,


Melihat ekspresi Bobby yang berubah membuat Yena kecewa dan hanya bisa memanyunkan bibirnya.


"Kalau begini aku gimana mau mandi coba?" tanya Yena melirik botol infusan yang menggantung di besi dorong


"Nanti Dokter juga kembali memeriksa ke sini, apalagi botol itu isinya hampir habis" Ucap Bobby


"Terus gak bisa masak dong?" tanya Yena


"beli aja lah.." Jawab Bobby


"Makan di luar ajalah sekalian.." Yena tersenyum memperlihatkan seluruh gigi bagian depannya


"Bawa infusan gini?" tanya Bobby


"Ya enggak nanti kalo dokter udah lepasin.." Jawab Yena


"Yakin di lepasin? kali aja malah di tambah cairan infusnya" Bobby terkekeh


"Di minum aja biar cepet.." Jawab Yena


"Sembarangan.. di kiranya air putih apa di minum.." Ucap Bobby terkejut


"Ya terus gimana dong?" Yena terlihat murung


"Ya sabarlah.." Jawab Bobby


"Kalo hari ini infusannya di lepas kita makan di luar ya.." Ucap Yena ceria kembali


"Iya.. iya.." Jawab Bobby


Yena melangkahkan kakinya, di bantu oleh Bobby. dia berjalan ke sofa dan duduk di sana, ia mengambil remote Tv untuk di nyalakan dan menonton film kartun di sebuah channel TV.


"Udah gede nontonnya kaya gini.." Ucap Bobby duduk di samping Yena


"Emang kartun bukan tontonan?" tanya Yena


"Ya tontonan tapi yang lain kek, nonton apa kek.." Ujar Bobby


"Udah sih, terserah aku.." Ucap Yena


"Ya udah terserah.." Bobby mengalah.


"Sana mandi..!!" Kata Yena


"Lah, lu aja belum mandi.. ya kamu dulu lah, kalo aku gak kaya gini aku udah mandi dari tadi" Ucap Yena


"Ya, udah aku mandi dulu ya." Ucap Bobby


"Ya udah sana.." Jawab Yena


Yena bersandar di sofa sambil menonton film kartun kegemarannya, sedangkan Bobby pergi ke kamar mandi tuk membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian Bobby yang telah mandi kembali, dengan memakai kaos putih polos dan celana jeans berwarna biru cerah.


rambut yang telah di sisir rapih, dengan wangi parfum Cherry di tubuhnya, ia tak pernah mengganti parfumnya hingga wangi Cherry menjadi 'khas dirinya'.


"Bukannya kamu lembur ya?" tanya Yena


"Kata siapa?" Bobby balik bertanya


"Lho, semalam yang ku denger kamu lembur kan?" tanya Yena


"Gak.. makanya jangan suka nguping pembicaraan orang..!!" Ujar Bobby


"Siapa yang nguping?? suruh siapa kamu telponan deket telinga aku banget.." Jawab Yena


"Berisik Lu.." Jawab Bobby


Ding Dong..


Ding Dong..


Ding Dong..


Suara bel depan rumah berbunyi,


"Siapa liat tuh..?!" Ujar Yena


"Enak banget nyuruh-nyuruh gua" Ucap Bobby


"Aku kan lagi sakit.." Yena tersenyum


Bobby melangkah mendekati pintu depan, lalu membukanya.


"Eh, pak dokter.." Ucap Bobby


"Gua kira lu belum bangun.." Kata Dokter Bobby yang tak lain adalah Reno


"Udahlah.. ayokk masuk-masuk.." Ajak Bobby mempersilahkan masuk


"Mau teh atau kopi?" Bobby menawarkan minum


"Gak usahlah, gua cuma mampir bentar doang" Ucap Reno


"Oh, gimana kalo minuman isotonik aja. gua ada yang kalengan itu. Lu bawa aja ya.." Ucap Bobby


"Wih, boleh tuh. ada berapa?" tanya Reno


"5 Lu mau semuanya?" tanya Bobby


"Boleh.. boleh.." Jawab Reno dengan senyuman.


"Oke, gua masukin ke kantong plastik ya. pulangnya lu bawa aja." Ucap Bobby


"Oke siap.. eh, gimana cewek yang semalam? baikan?" tanya Reno


"Baikan kok.." Jawab Bobby


"Syukurlah.." Ucap Reno


Di kamar, Yena kembali di periksa Dokter Reno.


"Gimana dok?, saya udah ngerasa Sehat banget kok." ucap Yena


"Tekanan darah normal, suhu tubuh normal, ada mual di perut?" tanya dokter Reno


"Tidak dok, saya merasa sudah sehat kembali" Jawab Yena dengan penuh keyakinan


"Cairan infusan nya di tambah lagi gak, pak dokter?" tanya Bobby


"Eumm, pak dokter.. mentang-mentang gua bentar lagi jadi seorang bapak" Ucap dokter Reno


"Title Lu kan dapet mahal-mahal masa gua panggilan bro..haha" Bobby tertawa


"Ya, disini kan cuma ada lu Ama gua gak papa. nyantai aja kali.." jawab Reno


"Ya udah, ini gimana dokter Reno?" tanya Bobby


"Mbak, istirahat yang cukup, makan sama minum obat yang teratur ya" Ucap dokter


"Cairan infusan ini gimana dok?" tanya Yena


"Infusannya saya lepas, semoga lekas sembuh ya mbak.." Ucap Reno


"Mbak dari mana.. dia sama lu aja tuaan lu.." Ucap Bobby


"Lah, gua gak tau. menghargai aja.." Ucap Reno mulai melepaskan jarum yang ada di tangan Yena.


"Bob, gua pamit dulu ya. thanks buat minumannya" Ujar Reno.


"Oke.. sama-sama" Ucap Bobby mengantar Reno hingga ke depan rumah.


Reno melajukan kendaraannya, pergi meninggalkan kediaman Bobby.


"Ayok.." tiba-tiba Yena menghampiri nya.


"Ayok.. kemana??" tanya Bobby heran dengan perilaku Yena yang tiba-tiba datang dengan senyuman lebar di bibirnya


"Katanya mau makan di luar.." Ucap Yena


"Kapan gua ngomong gitu?" tanya Bobby


"Dih, kamu kan janji sama aku tadi pagi." ucap Yena dengan bibir manyun


"Janji apaan?" tanya Bobby


"Jangan so lupa deh.." Ucap Yena kesal


"Iya.. iya.. ayokk." Bobby terkekeh melihat tingkah laku Yena saat marah, ia terlihat sangat menggemaskan.


"Bob, mana hp ku?" tanya Yena


"Ada.." Jawab Bobby simple


Entah kenapa satu kali saja nama 'Dimas' di sebut, mood nya Bobby langsung jelek, bawaannya menjadi kesal saja .


"Gua kasih lu Hp lagi.. tapi dengan syarat" Ucap Bobby membuat Yena penasaran


"Syarat..?" Yena bertanya-tanya


"Hari ini lu boleh bawa hp ini tapi, dalam keadaan mati" Ucap Bobby


"Maksudnya aku bawa handphone tapi, gak boleh di aktifin gitu?" tanya Yena


"Yes, tapi.. terserah lu. kalo lu gak mau, kita gak usah makan di luar." Ucap Bobby


"Ya, udah sekalian aja pegang tuh hp kalo gak boleh di nyalain.." Ucap Yena dengan ketus


"Jadi gimana nih?" tanya Bobby


"Ya, udah iya.. iya.." Jawab Yena


"Satu lagi.." kata Bobby


"Apalagi sih.. Bob," Ucap Yena jengkel.


"Lu jangan sebut Dimas.. Dimas.. lagi depan gua. panas kuping gua tau..." Ucap Bobby


"Iya.. iya.. dasar nyebelin.." Ucap Yena memalingkan wajahnya.


Mereka berdua pergi ke sebuah restoran dengan menggunakan mobil berwarna hitam milik Bobby, berkat peraturan yang di buat Bobby sepanjang jalan dia hanya mendengarkan ocehan Yena.


Dulu saat Yena mengoceh tanpa henti, ia hanya diam dan menutup kupingnya rasanya ingin sekali menutup bibir gadis itu dengan perban. tapi, berbeda dengan sekarang ia hanya tersenyum saat melihat Yena yang begitu aktif dan ceria mengoceh tiada henti.


"Ada apa?, apa ada yang salah dengan ku?" tanya Yena


"tidak.." jawab Bobby


"Lalu kenapa kamu tersenyum sendiri seperti itu?" tanya Yena


"Aku..?? kapan aku tersenyum-senyum sendiri?" tanya Bobby yang masih tak sadar bahwa ia membuat sebuah senyuman di bibirnya.


"itu.. itu.. kamu tersenyum" jawab Yena menunjuk bibir Bobby


"Benarkah?" tanya Bobby tak melepaskan senyuman di bibirnya


"Hari ini kamu aneh sekali.." Yena kembali bersandar di kursi mobil.


"Biasanya kamu, tertawa hanya dengan ponselmu.. sekarang melihat kamu mengoceh lagi, kamu seperti kembali ke dirimu lagi.." Jawab Bobby


"Memang aku sebelumnya kamu melihat aku bukan seperti diriku?? aneh sekali.." Gumam Yena


"Kita akan pergi kemana?" tanya Yena


"katanya laper.. mau makan di luar kan? ya kita cari tempat makan lah.." jawaban Bobby berhasil membuat Yena bungkam.


Mobil yang di kemudikan Bobby berhenti di sebuah tempat makan lesehan.


tak ada kursi di sana, hanya ada meja pendek di sana.


semua pengunjung yang datang akan duduk di lantai yang beralaskan tikar.


Bobby dan Yena pun duduk di sana..


meja mereka masih terlihat kosong, lalu seorang pelayan datang dengan selembaran kertas menawarkan menu makanan yang di jajabkan di sana.


"Kamu ingin makan apa?" tanya Bobby


"Aku penasaran makan 1 ayam utuh.." Ucap Yena


"Mbak.. ayam bekakak nya satu, nasinya dua. minumnya air mineral aja" kata Bobby


Pelayanan itu pergi dengan buku catatan kecil di tangannya


Ayam Bekakak adalah ayam yang telah di sembelih dan di bersihkan, di belah bagian perutnya dan di keluarkan isinya, lalu ayam itu di tusuk bagian dekat ke dua sayapnya dengan bambu lalu di panggang di atas bara api.


Ayam bekakak di sajikan dengan kecap yang terdapat irisan bawang merah, cabai rawit dan cabe merah di dalamnya. ada juga makanan pendamping yang akan menemaninya seperti tempe dan tahu goreng, lalapan dan sambal.


Tempat makan itu cukup ramai pengunjung.


"Aku gak tau, kamu tau tempat kaya gini" Ucap Yena


"Gimana mau tau, selama ini kan lu so sibuk.." Ucap Bobby.


"Nyindir.. nyindir.." Ucap Yena


"Tau akh.. eh, gua ke toilet dulu. Lu jangan ke mana-mana ya.." Ucap Bobby


"Iya.." Jawab Yena.


Bobby melangkah pergi ke toilet.


Untuk beberapa saat Yena merasa ada yang mengawasinya dari samping, sejak Bobby melangkah pergi ia merasa ada sepasang mata yang memperhatikannya.


ia menengok ke samping, pria dengan jaket kupluk hitam. pria itu tak terlihat jelas wajahnya, karena kupluk yang menutupi kepala dan kacamata hitam yang membuat wajahnya tak terlihat begitu jelas.


tak lama pria itu pergi untuk membayar meninggalkan sebuah kertas di atas meja yang Yena tempati.


Yena tak mengerti apa yang di lakukan pria itu, ia membuka lipatan kertas itu.


Kertas itu bertuliskan :


"Kemana saja kau?"


Deg..


Jantung Yena berdegup kencang, ia yakin pria itu adalah pria yang sering memberikannya uang secara diam-diam.


Apa dia tau Yena tak lagi tinggal di Start City?, apa dia tau Yena sekarang tinggal berdua dengan seorang pria bernama 'Bobby'?, Apa ia tak tau sekarang Yena tinggal di Light City?, Kenapa dia ada di sini?, Apa dia mengikuti Yena setiap hari?, atau kebetulan saja bertemu?.


Banyak sekali pertanyaan di benak Yena yang belum terjawab, ia ingin sekali bertanya pada pria itu kenapa ia selalu memberikan uang setiap bulan saat Yena tinggal di Start City?, Kenapa ia menutupi identitasnya?, apa alasan pria itu memberikannya uang dan menguntitnya?.


Yena bangun dari tempat ia duduk, ia keluar mencari pria misterius itu.


setelah pria itu membayar makananya, ia menghilang begitu saja seperti kilat.


Yena menengok ke kiri dan kanannya, tak ada pria dengan pakaian seperti tadi.


Banyak orang berlalu lalang tapi, tak ada yang menggunakan pakaian seperti yang di pakai Pria misterius itu.


Yena menyesal kenapa ia tak dari awal menengok ke samping nya, kalau saja ia menengok, setidaknya Yena tau seperti apa wajah pria misterius itu.


dia selalu memakai jaket hitam dan kaca mata hitam, Yena tak begitu mengamati seperti apa bentuk wajahnya.


"Heii.. sedang apa kamu disini? bukankah aku menyuruh mu menunggu di dalam? kenapa keluar sendirian??!!!" Ucap Bobby yang tiba-tiba muncul dari belakang menganggetkan Yena, dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Bobby.. hampir saja aku jantungan" Jawab Yena kesal


"Kamu sedang apa disini?" tanya Bobby


"Aku mencari seseorang.." Ujar Yena yang masih celingak-celinguk


Bobby mengerutkan keningnya, ia mengingat kejadian malam itu, saat Yena tak mengenali dirinya. ia berfikir Yena membuat ilusinya sendiri kali ini.


"Tak ada siapapun disini.." Ucap Bobby


"Ada Bob," Yena bersih keras


"Siapa Yena?? kamu jangan ngarang deh.. ini pasti efek obat" Ucap Bobby


"Aku gak ngarang Bob, ini bukan efek obat. tadi ada cowok yang pake pakean item naruh tulisan ini di mejaku.." Ucap Yena menyerahkan secarik kertas kecil di tangannya


Bobby memperhatikan tulisan itu, ia tak percaya Yena begitu saja.


di fikirannya bisa saja Yena mengarang cerita dan menulis kertas ini sendiri.


"Seperti apa pakaiannya?" tanya Bobby


"Dia pake pakaian hitam dengan kupluk menutup kepala dan pake kaca mata hitam.." Ucap Yena


"Ya, sudah kita kedalam dulu. nanti aku tanyakan sama mbak-mbak kasirnya ya.." bujuk Bobby


"Tapi Bob......."


"Tapi apa?? kamu belum makan dan minum obat, ayok makan dulu? kamu mau sakit lagi?" tanya Bobby tegas.


Yena menuruti perintah Bobby.


Bobby memegang tangan Yena, berharap agar ia tak terlalu mencemaskan kejadian ini.


mereka kembali duduk di meja makan itu lagi, seorang pelayan mengantarkan makanan yang mereka pesan.


Satu persatu hidangan di sajikan di atas meja, membuat siapa saja terpana melihatnya


"Silahkan di makan." Kata pelayan itu meninggalkan meja


"terimakasih.." Jawab Yena


"Eh, sebentar dulu ya" Kata Bobby


"Kamu mau kemana?" tanya Yena


"Aku ke depan bentar.. kamu langsung makan aja" Bobby berbohong


"Ya udah jangan lama.." Kata Yena


"Iya.."


tanpa sepengetahuan Yena, Bobby bertanya pada seorang kasir wanita.


ia bertanya tentang seorang pria yang di ceritakan Yena.


"Mbak.. sebelumnya memang ada seorang pria yang duduk di meja samping gadis itu?" tanya Bobby


"Oh, pria yang belum lama bayar itu bukan mas? yang memakai jaket hitam?" tanya kasir itu


mata Bobby membulat, ia terkejut dengan kesaksian kasir itu. kini ia dapat percaya bahwa Yena tidak sedang berhalusinasi.


"Jadi pria itu benar ada mbak?" tanya Bobby


"Benar pak.. pria itu memakai kacamata bening sebelumnya. namun saat hendak pergi pria itu memakai kacamata hitam.." Ucap kasir wanita itu


"Oh, begitu. kalo begitu terimakasih ya mbak.. maaf mengganggu" ucap Bobby dengan senyuman di bibirnya


"Iya sama-sama pak.." Jawab kasir wanita itu


Bobby kembali duduk di mejanya, melihat Yena yang begitu lahap mengunyah makanan.


"Makan yang banyak.." Ujar Bobby seolah tak ada yang ia sembunyikan


"Ini enak banget.. ayok makan bareng" Ucap Yena


Bobby makan bersama dengan Yena, seolah tak pernah terjadi apapun.