
Jam 01.00
Malam itu Yena menelpon Bobby beberapa kali namun, teleponnya tak kunjung di angkat, tak biasanya dia belum pulang jam segini.
tentu saja itu membuat Yena khawatir, sampai ia terjaga, matanya masih cerah terbuka sambil duduk di sofa memegangi ponselnya.
biasanya Bobby akan memberikan kabar dan langsung mengangkat telepon darinya.
tapi, tidak untuk kali ini.
Yena merasa takut, khawatir dan cemas, rasa itu menjadi satu.
karena tak bisa ia pungkiri baginya Bobby sudah seperti Keluarga satu-satunya yang dia miliki.
Beberapa saat kemudian, sebuah taksi menurunkan pelanggannya di pinggir jalan.
pria itu keluar dari sebuah taksi, setelah melakukan pembayaran taksi itu pergi.
Yena melihat dari jendela kaca, pria yang turun dari taksi itu mendekati rumah yang ia tempati.
Pria itu berjalan sempoyongan dalam kegelapan, wajahnya tak terlihat jelas karena lampu di halaman mati.
Ia berjalan ke arah rumah, perlahan wajahnya yang terkena cahaya lampu mulai terlihat, dia adalah sosok yang tak asing baginya, pria yang membuat nya menunggu hingga larut seperti ini.
ia heran kenapa Bobby baru pulang dan dalam keadaan mabuk? untuk pertama kalinya Yena melihat Bobby sekacau ini.
ia membukakan pintu, tepat saja pria itu ambruk di tubuh Yena yang kecil.
pria itu sudah mabuk berat sampai tak bisa menyeimbangkan langkah kakinya.
"Ya ampun kenapa kamu bisa seperti ini sih.." Yena mencoba membantu langkah Bobby yang setengah sadar.
Wajahnya merah, matanya seperti orang kelelahan yang hanya sesekali mengerjap, badannya di kelilingi bau alkohol.
Bobby bukan tipikal orang yang mabuk ketika memiliki masalah.
Badannya yang lebih besar dari Yena, membuat Yena cukup kesusahan membawa pria berumur 28 tahun ini ke kamarnya.
"Kenapa badanmu berat sekali hah.." Yena melepaskan rangkulannya, tubuh pria itu langsung terjatuh di kasur.
ia seperti tak punya tenaga untuk berjalan sendiri ke kasurnya.
"Bagaimana bisa kamu seperti ini? apa kamu baru saja putus cinta hah?, apa kamu tak tau aku sangat kesusahan membawa mu kesini, lain kali berjalanlah sendiri, kamu memiliki kaki kan?!!" Yena mengomel membuat pria di depannya kesal lalu mengacak-acak rambutnya
"Berhenti mengomel.. berisik.." Pria itu berteriak membuat Yena terkejut
"Aku pun bekerja, jam segini aku belum tidur karena khawatir padamu.. aku menunggumu pulang sampai selarut ini tapi, kamu malah pulang dalam keadaan mabuk seperti ini. bagaimana aku tak kesal?!!!" Ucap Yena balik membentak.
"Diamlah.. kamu terus-terusan mengomel.." ucap Bobby yang setengah sadar.
Yena melepaskan sepatu yang masih di kenakan oleh Bobby, membukanya dengan kaus kaki yang di pakai Pria itu.
Bobby mengamati setiap gerakan gadis di depannya, matanya seperti tak berfungsi dengan benar.
Pria itu terbangun dan duduk mengamati wajah gadis di depannya, ia heran kenapa wajah gadis ini memiliki bayangan..
terkadang wajahnya seperti Yena yang menjengkelkan tapi, terkadang wajahnya berubah menjadi sosok Irene yang sangat cantik.
"Ada apa?.. kenapa?.." tanya Yena melihat sikap Bobby yang begitu aneh melihatnya.
"Kamu siapa??" tanya Bobby
Yena berdecak kesal, sekarang Bobby menjadi hilang ingatan hanya karena mabuk.
"Kamu itu tak pandai minum, makannya jangan minum.. sekarang bahkan kamu tak mengenaliku." Yena tersenyum masam
Semua kata-kata yang di lontarkan Yena bergema di telinganya, namun menjadi susunan kata yang berubah dan berbeda dari apa yang di ucapkan gadis itu.
"Coba kamu katakan sekali lagi, kamu bilang apa aku tak mendengar begitu jelas" Ucap Bobby dengan suara yang keras seperti sedang berbicara dengan orang yang tuli.
"Biasa aja.. aku gak budeg.. mungkin setiap orang mabuk mempunyai efek yang berbeda-beda" Yena mendengus kesal
Kini wajah gadis itu, terlihat sangat cantik..
Bobby menarik tangan gadis di depannya hingga ia jatuh terduduk di sampingnya.
"Hei.. apa yang kamu lakukan?" Yena mulai curiga
pria itu menyondongkan wajahnya hingga tiada jarak sesenti antara ia dan gadis di depannya.
Bau alkohol dari mulutnya tercium sangat menyengat.
gadis itu beberapa kali mendorong tubuh pria di hadapannya namun, tenaga pria itu lebih besar ketimbang dirinya.
gadis itu berontak dan berkali-kali ia berharap terlepas dari cengkeraman pria di depannya.
"tak mungkin, ini tak boleh terjadi.. tak boleh terjadi.. dia memiliki kekasih yang di cintainya.. aku pun menyukai orang lain" Batin Yena seolah ia telah memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya
"Hei.. sadarlah.. aku Yena.." Ucap Yena mengatakan hal itu beberapa kali namun, tak membuat pria di hadapannya melepaskannya begitu saja.
Pria itu mencium paksa gadis di hadapannya, mendorong hingga gadis itu jatuh ke kasur.
Pria itu seperti serigala beringasan, ia melepaskan semua pakaian gadis itu hingga tak ada sehelai kainpun yang menutupi tubuh gadis itu.
Ia memeloroti pakainya sendiri, gadis itu beberapa kali meminta ampun agar di lepaskan namun pria itu tak menggubris perkataan gadis di depannya.
Rintihan tangisan terdengar malam itu, darah segar mengalir mengotori seprei yang di gunakan keduanya.
Cakaran, gigitan gadis itu membekas di tubuh pria di hadapannya.
terdengar raungan di dalam kamar itu, raungan yang di keluarkan pria itu terdengar seperti raungan serigala di gelapnya malam.
sepanjang malam terdengar suara rintihan tangisan dari dalam kamar itu, suara itu perlahan menghilang saat subuh mulai datang.