YENA

YENA
Daniel



"Akh.. gak mungkin." Ucap Yena


"Gak mungkin gimana? Aku memang adekknya bang Bobby" Ucap pria itu


"Siapa namamu?" tanya Yena


"Namaku Daniel.." Pria yang baru di ketahui bernama Daniel itu mengulurkan tangannya


"Setauku adiknya Bobby itu Yuki.." Ucap Yena, tak menyambut uluran tangan Daniel untuk berjabat tangan dengannya


"Ya sudah, kalau tidak percaya.. biar nanti kamu dengar dari Abang sendiri. Eh, ngomong-ngomong kok gua sopan banget ya, Lu kan yang udah bikin gua benjol kaya gini.." Ucap Daniel


"Hehehe... maaf ya, maaf.." Ucap Yena


"Semudah itukah?, Lu harus ngelakuin sesuatu kalo mau gua maafin.." Ucap Daniel


"Ya gak papa juga sih.. kalo gak mau maafin." Ucap Yena cuek, sambil tumpang kaki dan melihat ke arah lain.


"Busseetttt dah, ini bocah sombong bangett. eh, ngomong-ngomong lu siapanya Abang gua? ngapain lu di depan rumah Abang gua?" tanya Daniel membuat Yena terkejut, dengan pertanyaan Daniel dan bingung untuk menjawabnya.


kalo aku ngomong sodaranya dia percaya gak ya tapi, kalo dia bener adeknya Bobby gimana?. batin Yeni


Yena menggaruk sisi rambutnya, ia bingung harus menjawab apa.


"Aku.. aku.. " Yena bingung harus menjawab apa..


"Lu pasti sembunyiin sesuatu dari gua, Ayokk lu ngaku.. Lu siapa? kenal bang Bobby dari mana??" Cecar Daniel


"Aku temennya.." Ucap Yena


"Temennya? yakin Lu?, Sejak kapan bang Bobby berteman sama anak kecil kaya Lu..?!!" Ucap Daniel memperhatikan Yena dari atas ke bawah.


"Aku gak suka ya, ada orang natap aku kaya gitu.. kamu manggil aku anak kecil? terus umur kamu berapa?" tanya Yena merasa di remehkan


"Gua..?? 19 tahun.. " Daniel mengangkat dagunya dengan sombongnya


"Beda setahun aja, sok.." Ujar Yena.


"Oh, jadi Lu 18 tahun.. Songong juga ya lu.." Ucap Daniel menatap Yena dengan tatapan tidak suka


"Apa Lu..???!!" Yena penuh keberanian dengan mata melotot


"Lu yang apaan..???" Daniel tak mau kalah balik memelototi Yena, mereka saling membenci satu sama lain.


"Eh... ada apa sih, baru di tinggal udah perang..!!" Ujar Bobby memisahkan keduanya dengan duduk di tengah-tengah mereka.


"Ih.. apaan sih, tau ada orang maen duduk aja..!!" Ucap Yena risih.


"Lagian suruh siapa ribut..!!" Jawab Bobby


"Bukan gua bang, tuh.. dia tuh, udah mah mukul kepala orang gak minta maaf, songong lagi.. sekarang malah ngajak ribut?!" Ucap Daniel, menatap sinis Yena.


Yena yang tak gentar memelototi Daniel.


"Tuh.. tuh.. bang, liat songong kan dia? Lu dapet cewek kaya gini di mana coba.." Ucap Daniel.


"Udah akh.. udah.. Sini gua obatin dulu..!!" Ucap Bobby


Bobby membuka kotak p3k, mengambil tiisue basah anti septik di bersihkannya bekas darah yang mengalir di dahi Daniel.


"Bang masa dia gak percaya kalo gua adek Lu bang..?!" Ucap Daniel


"Kan, kamu bilangnya adek kamu cewek kan?" tanya Yena


"Tuh, bang.. Songong kan, Lu gak marahin tuh bocah, gua yang 19 tahun manggil lu Abang.. dia 'kamu'?? gak sopan banget kan bang.." Ucap Daniel


"Udah.. diem dulu, jangan banyak ngomong.." Bobby meneteskan Betadine pada luka Daniel membuatnya berteriak kesakitan


"Aaa.. Aaawww.. perih bang" teriak Daniel


"Makanya diem, berisik sih lu.." Ucap Bobby menutup luka benjolan Daniel dengan kain kasa yang di beri Betadine dan merekatkannya dengan hansaplast


"Bang lu gak nganggap gua adek Lu bang..?!!" tanya Daniel


Bobby terdiam, jauh di lubuk hatinya dia hanya menganggap adiknya hanya satu, dia adalah adik perempuan bernama Yuki.


Namun, kecerobohan, keusilan dan kebodohan Daniel sangat mirip dengannya saat kecil. Mungkin karena mereka memiliki darah dari ayah yang sama.


"Yena.. dia adek ku, Daniel. Daniel ini Yena.." Ucap Bobby memperkenalkan mereka, yang sebenarnya mengalihkan pertanyaan dari Daniel.


"Nah, lu percaya kan sekarang gua siapa.." Ujar Daniel menatap Yena


"Lu ngapain ke sini?" tanya Bobby mengalihkan pertanyaan


"Lah masa gua gak boleh bang.." Ucap Daniel


"Lu bolos kuliah lagi?" tanya Bobby


Daniel menepuk jidatnya.


"Ini weekend bang.. Libur lah," Ucap Daniel


"Kemarin maksud gua.." Ucap Bobby


"Hehehe.. jangan bilang ayah ya bang," Ucap Daniel.


"Lu tuh ya, mau jadi apa coba kuliah gak bener kaya gitu terus.. mau gak lulus-lulus Lu?!!" Ucap Bobby


"Tenang aja bang, gua gak bakal di D.O kok selama Universitas itu masih ada campur tangan Ayah, mereka gak bakal berani..!!" Daniel tersenyum kecil,


"Euh..!!" Bobby mengangkat tangannya siap untuk mengampar Adiknya itu, namun ia urungkan


"Pengen banget rasanya gua nabok Lu," Ujar Bobby kesal dengan tingkah Daniel yang masih nakal.


"Jangan lah bang, gua udah benjol masa mau di gampar juga.." Ucap Daniel agak menjauh karena takut dengan sang kakak.


"Lu kapan gedenya.. udah gede masih kaya anak kecil, perasaan gua seumuran lu udah bisa mandiri deh." Ucap Bobby


"Ya, mungkin ini kutukan Tuhan ke papah sama mamah kali bang. Karena, mamah gua ngerusak rumah tangga orang dan jadilah gua, sebagai hukuman Tuhan gini dah sikap gua gak bisa di atur..!!" Ucap Daniel seolah ia tau hadirnya dirinya adalah awal dari kesalahan yang menghancurkan kebahagiaan keluarga orang.


"Berisik Lu.. Mending lu pergi sana, pulang makan di rumah.." Ujar Bobby tak ingin mengungkit.


"Hehehehe.." Daniel tertawa kecil, Bobby sadar dengan tingkah adiknya itu. jika sudah begitu, pasti ada sesuatu yang ia inginkan.


"apa? ada apa? Lu mau apa?" tanya Bobby


"Bagi duit lah bang.." Ucap Daniel


"gak ada duit gua.." Jawab Bobby


"Gak mungkin lah, CEO Hwangfood gak punya duit.." Ucap Daniel


"Jadi kamu bener, CEO Hwangfood??" Tanya Yena dengan mata membulat, terkejut mendengar itu dari Daniel, ia menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan sebelah tangan.


"Oh.. aku kira beneran.." Ucap Yena langsung percaya dengan omongan Bobby bahwa ia adalah OB.


Padahal, Bobby bicara seperti itu karena kesal. Yena tak pernah percaya bahwa dirinya CEO Hwangfood dan sekarang ia malah lebih percaya bahwa Bobby adalah seorang OB.


"Ya, udah terserah lu.." Ucap Bobby


"Abang... gua ngomong kenapa nggak di jawab?!!!" Teriak Daniel


"berisik.. kampret..!!" Bobby memukul kepala Daniel.


"Ah.. Lu mah, ayokk lah bang.." Rengek Daniel seperti anak kecil meminta jajan


"Mamah lu kemana?, Abang lu yang satu lagi kemana?, mereka gak ngasih lu duit?!" tanya Bobby


"Gua baru abis di pukulin Ayah tadi malem," Ucap Daniel tertawa kecil


"Kenapa lagi Lu.. yang bener kelakuan itu.." Ucap Bobby menatap Daniel


"Gua ngambil duit mamah buat clubbing.." Daniel tertawa


"Anjjirrrr.. bahagia banget lu jadi copet..?!!" Ucap Bobby


"Ayokk lah bang, Gua gak punya duit sama sekali.." Ucap Daniel


"Enggak.. enggak.. nanti Lu pake minum lagi.. mending lu pulang belajar yang bener" Ucap Bobby menolak


"Ya udah, kalo gitu kasih gua makan. abis itu gua nurut sama lu..!!" Ucap Daniel


Bobby menarik nafas panjang lalu ia hembuskan sekaligus.


Daniel yang melihat Bobby seperti itu tertawa kencang.


"Kenapa Lu Ketawa?" tanya Bobby


"Gua tau di rumah ini gak pernah ada makanan, makanya kasih gua duit.." Ucap Daniel


"Kata siapa? sana ke dapur.. makan sana.." Bobby menendang kasar kaki Daniel


"Yakin lu?, gua gak yakin.. coba gua liat. kalo lu bohong, lu harus kasih duit double ke gua ya bang..?!!" Ucap Daniel


"Di otak lu tuh.. duit.. duit.. terus.." Ucap Bobby jengkel.


Dengan segera Daniel ke ruang makan, yang di ikuti langkah Bobby dan Yena.


Daniel terkejut dengan apa yang di lihatnya. Bobby abangnya, yang dia kenal tak pernah punya makanan di rumahnya, tiba-tiba tersaji berbagai makanan rumahan di atas mejanya.


"Yakin ini Lu bang?.. Siapa yang masakin bang? gak mungkin lu kan bang?" Cecar Daniel yang duduk terpanah dengan makanan di atas meja.


Yena melirik Bobby, ia mengerjapkan matanya. ia takut ketahuan.


"Banyak tanya lu.. udah makan yang banyak, abis itu pulang. jangan mau di manfaatin orang Karna lu banyak uang..!!" Ujar Bobby tersenyum ke arah Yena.


"Kebetulan banget gua laper banget bang, dari semalem gua di kurung di kamar gak di kasih makan.. laper banget gua." Ucap Daniel


"Ya udah makan dulu.." Ucap Bobby


Daniel langsung mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk.


ia makan begitu lahap tanpa berbicara, ia fokus pada makanan di depannya.


Menghabiskan makanannya tanpa sisa.


Setelah kenyang makan, Daniel pun pamit pulang.


"Eh, bang lu dapet cewek songong kaya gini dari mana?" tanya Daniel menunjuk Yena dengan tatapan tak suka


"Bukan urusan Lu..!!" Ucap Bobby


"Gua heran Lho, lu kok bisa punya temen seusia gua kaya dia.." ucap Daniel tersenyum dengan sebelah bibir.


"Yang bener Lu kuliahnya, balik dari sini pulang.. jangan mau di manfaatin orang.." Ujar Bobby


"Ya udah.. Gua pulang dulu. makasih ya bang, Lu yakin gak mau kasih gua duit" Senyum Danie


"Enggak.. sana pulang..!!" Ujar Bobby menendang ringan kaki Daniel


"Eh, ia ampun.. ampun.. gua pulang deh. makasih buat makanannya ya bang." Ucap Daniel lalu melangkah pergi.


Yena dan Bobby menatap kepergian Daniel, hingga bisa di pastikan Daniel benar-benar telah pergi.


Mereka pun masuk rumah, duduk di ruang tengah sambil menyalakan Tv.


"Bukannya adik kamu tuh, Almarhum Yuki ya?" tanya Yena


"Kamu penasaran sama hidup aku?" tanya Bobby tersenyum


"Ya enggak.. cuma aneh aja, ada yang ngaku-ngaku jadi adik kamu." Jawab Yena


"Daniel itu gak ngaku-ngaku kok.. Daniel ngomong kenyataan, kita emang Adek sama Abang.. tapi beda ibu.." Ucap Bobby


"kamu bilang kan waktu itu, Yuki adalah adik kandung kamu.. berarti.." Ucap Yena


"Jadi, Ibu aku sama Ayah aku pisah karena, ibu aku tau ayah selingkuh dan punya anak lain dari hasil hubungannya. Dan anak itu sekarang bernama 'Daniel'.." Ucap Bobby


Yena terkejut menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Kamu gak benci sama Daniel?" tanya Yena


"Bencilah.. benci banget, setelah aku di usir dari rumah dan tinggal disini sama perawatan. Daniel sering pergi ke sini, tanpa sepengetahuan ayah dan ibu tiri ku itu. aku mengusirnya, membentaknya, menyebutnya bahwa kelahiran dia adalah malapetaka, menyebutkan bahwa dia ibunya dan kakaknya adalah iblis yang telah mengambil kebahagiaan ku, hingga aku kehilangan seluruh keluarga ku. kehilangan ayah, kehilangan Yuki dan kehilangan ibu" Ucap Bobby


"Kakaknya? apa kamu memiliki saudara selain Daniel?" tanya Yena


"Bukan.. Aku dan Daniel masih satu darah dari ayah. sedangkan kakaknya.. aku tak tau ia berasal dari mana tapi, ia bukan anak dari Ayah ku." Ucap Bobby


"Lalu.. kenapa kamu bisa akur dengan Daniel sekarang?" tanya Yena


"Dia mirip sekali dengan diriku saat kecil. dulu dia anak baik, manis dan penurut. Namun, sepertinya ucapanku masih di kenang di ingatan nya, aku sadar dia tak memiliki kesalahan apapun padaku, yang salah hanyalah ibunya yang mengambil kebahagiaan keluarga ku Namun, karena aku benci ibunya aku juga membenci anaknya. Tingkahnya dan ucapan yang keluar dari mulutnya yang sekarang membuat ku miris, kasian dan khawatir, dia seperti ingin menebus kesalahannya dan ibunya dengan menghukum dirinya sendiri seperti ini. dia berteman dengan orang-orang yang hanya memanfaatkan uangnya, kadang dia di pukuli sampai babak belur oleh teman-temannya yang sebenarnya musuhnya sendiri, di pukuli oleh ayah dan sering kabur kesini. Awalnya aku kasian.. tapi, lama-lama hati ku luluh. entahlah.. aku udah gak mau bahas itu lagi, Daniel adik ku kok.." Ucap Bobby mengingat kejadian dulu yang pernah ia alami, membuat matanya memerah dan berkaca-kaca.


"Aku minta maaf.." Ucap Yena melihat Bobby untuk pertama kalinya lemah seperti ini.


"Kenapa? gak papa kali.." Bobby tersenyum


"Gak.. cuman.." Gumam Yena


"Gua mau mandi dulu.. Lu terserah mau ngapain.." Ucap Bobby tak ingin terlihat lemah di depan seorang wanita.


"Ya udah.. aku nanti aja deh.." Ucap Yena


Bobby pun pergi meninggalkan Yena yang duduk di ruang tengah.