
Sepulang dari taman Yena langsung masuk ke rumah, ia merajuk karena kesal Bobby tak mengijinkannya untuk bekerja di restoran milik Dimas itu.
"Kan kamu tau.. Dimas orang seperti apa bagiku. kalau saja Hendi yang menawarkannya aku pasti mengijikan mu untuk bekerja di sana.." Ucap Bobby yang tak lama kemudian menyusul ke dalam rumah
"Aku kan berjanji padamu, aku akan pulang tepat waktu, aku takan membuat rumah ini berantakan, aku akan sempatkan membuat sarapan untukmu, aku akan usahakan setiap hari membuat makan malam untuk mu, aku akan selalu bersih-bersih disini. karena, aku sadar aku hanya numpang disini.." Ucap Yena
"Bukan itu maksudku.. aku tak mempermasalahkan persoalan kamu tinggal di sini. aku hanya minta kamu menolak tawaran Dimas bisa kan? aku kan carikan kerjaan lain untuk mu.. aku janji" ucap Bobby
"Sudah lah Bob, bukankah Dimas orang baik?. dia musuh mu bukan musuhku.. dia menawarkan ku pekerjaan baik bukan pekerjaan buruk kenapa harus aku tolak?. aku tidak mau terus-terusan mengandalkan mu.. terlalu tergantung padamu.." Ucap Yena
"Dia memang musuh ku lalu kamu mau apa? tetap bekerja dengannya? kenapa kamu sangat keras kepala Yena..." Ucap Bobby kesal karena Yena tak menurut
"Aku bukan anak kecil Bob, lagian kamu kerja bisa bertemu dengan orang-orang di luar sana sedangkan aku? aku hanya di rumah dengan rasa bosan, setiap harinya aku hanya menunggu kamu pulang. aku tak punya teman sama sekali.. tolong ijinkan aku.." Yena memohon dengan kedua tangannya
"Kamu memang keras kepala ya.. apa susahnya hanya menolak tawaran Dimas?!" Ucap Bobby
"Kamu yang hanya memikirkan dirimu sendiri, coba pikirkan bagaimana aku, posisiku" Ucap Yena
"Arrgghhh.. terserah.." Bobby membuang nafas sembarang
"Pelan-pelan.. aku lupa dengan Irene, apa dia masih disini?" tanya Yena
"Dia sudah pulang.. dia mengirimkan ku pesan saat hendak pulang." Ucap Bobby
"Kenapa kamu tidak bilang padaku?, Apa Irene marah karena kita pergi berdua?" tanya Yena
"Apa urusanmu sehingga aku harus bilang semua padamu.." Bobby membuang muka lalu mengambil handuk yang tergantung.
"Kamu mau kemana?" tanya Yena
"Mandi.. pusing gua denger lu ngomong..!!" Ucap Bobby memasuki kamar mandi
"Kamu marah?" tanya Yena
"pikir sendiri.." Ucap Bobby
Matahari mulai tenggelam, langit yang cerah perlahan redup dan di gantikan oleh gelapnya malam, aing yang berhembus cukup dingin apalagi kini hujan membasahi kota itu.
Suara kodok yang saling bersahutan seperti nyanyian, saat hujan mulai berhenti.
Makan malam yang di buat Yena pun telah tersaji di meja makan, Bobby dan Yena menyantap makanan itu tanpa berbicara sepatah katapun.
mereka hanya fokus pada makanannya masing-masing, hingga menyisakan beberapa piring kotor.
"Biar aku yang mencuci piring" Ucap Bobby
"Sudah biar aku saja.. biasanya juga aku" Ucap Yena
"Terserah.." Bobby meninggalkan Yena di dapur, lalu duduk di sofa sambil menyala televisi.
Selesai cuci piring Yena langsung pergi ke kamarnya, mengunci pintunya.
Ia jelas tau Bobby marah padanya sekarang.
dering handphonenya berbunyi namun, bukan dalam kamar.
ia lupa meninggalkan hp nya di dekat Tv.
Bobby dengan segera mengambil hp milik Yena.
Di lihatnya handphonenya itu,
"bahkan, Dimas berani menelpon Yena" Batinya
Panggilan teleponnya pun di reject.
Ia membaca beberapa percakapan Yena dan Dimas, yang isinya Yena menyetujui untuk bekerja di sana.
Yena keluar dari kamarnya, dengan segera mengambil handphone di tangan Bobby.
"Gak sopan, baca pesan orang" Ucap Yena
"Kata siapa itu hp orang? itu kan yang beliin gua.." Jawab Bobby
"tapi kan udah jadi punya ku.." ucap Yena
"Ya kalo punya lu emang kenapa?? gak boleh??" Tanya Bobby meninggikan dagunya
"Tau akh.." Jawab Yena kesal, ia gerah meladeni Bobby yang tak mau kalah darinya.
"Eh, Lu beneran mau kerja disana?" tanya Bobby
"Binal ya Lu.. berapa kali gua bilang gua gak setuju dan gak ijinin lu buat kerja di sana" Ucap Bobby sambil menunjuk nunjuk dengan jari telunjuknya.
"Binal apa sih Bob?, aku kan cuma kerja di sana.. apa salahnya sih?, kaya aku kerja gak bener aja di larang-larang. lagian aku juga gak bakal terus tinggal disini dan ngerepotin kamu" Ucap Yena
"Gua gak pernah bilang lu ngerepotin..!!" Ucap Bobby
"Iya cuma aku cuma takut jadi ungkitan.." jawab Yena
"Siapa yang ngungkit??, gua gak pernah ngungkit.." Jawab Bobby
"barusan aja kamu marah, kamu ungkit ini hp yang beliin kamu.." Ucap Yena
"Siapa yang marah?" tanya Bobby dengan nada tinggi
"Mending kamu ngaca sendiri aja deh, yang kaya gini marah atau enggak.." Ucap Yena masuk ke kamar dan mengurangi, meninggalkan Bobby yang masih terbakar emosi.
"Gua belum selesai ngomong bocah.." Teriak Bobby
"Pokonya aku tetep mau kerja disana.." Jawab Yena dari dalam kamar.
"Terserah Lu..!!" Bobby kelewat kesal.
Malam itu adalah terakhir mereka berinteraksi.
Keesokan harinya seharian mereka tidak mengobrol sama sekali.
keduanya tak ada yang mau mengalah, mereka tetap bersikukuh dengan pendiriannya masing-masing.
Saat makan malam pun meski makan di meja makan yang sama tak ada yang membuka topik obrolan, keduanya sama-sama diam dan asik dengan makanan mereka.
Seharian itu mereka tak berbincang sama sekali.
Suatu pagi Yena yang baru selesai memasak mendapat telepon dari Dimas, Bobby yang duduk di meja makan diam-diam mendengar kan percakapan mereka.
1 hari sudah mereka tak berbicara satu sama lain.
"Iya kak.." Yena melirik Bobby saat mendapat panggilan telepon dari Dimas, di lihatnya Bobby tengah asik dengan makanannya.
"Kamu jadi kan kerja di restoran ku?" tanya Dimas
"Jadi kak.." Jawab Yena
"Restoran ku namanya GoggiJjang alamat yang aku kirim udah kamu liat?" tanya Dimas
"Alamat yang mana ya kan? maaf kak aku baru aja bangun belum liat hp.." Yena berbohong
"Takutnya kamu gak tau tempatnya dimana, gimana kalo aku jemput aja.." Ucap Dimas
"Gak ngerepotin apa?" tanya Yena
"Ya, gak sih.. kapan lagi coba bos jemput karyawannya? haha" Dimas tertawa
"Haha.. iya gak ada dari sananya ya kak. ya udah nanti siang aku tunggu di halte bus depan aja ya kak." Ucap Yena
"Lah, kok halte bus? kamu mau naik bus atau aku jemput?" tanya Yena
"terserah kakak. tapi, aku tunggunya di halte bus aja. soalnya aku belum terlalu hapal jalanan sini,baku penduduk baru kak" Ucap Yena
"Oh, ya udah. kamu satu blok sama Bobby kan?" tanya Dimas
"Ia kak.. kita tetanggaan malah" Jawab Yena
"Oke nanti aku telepon lagi" Ucap Dimas menutup sambungan telepon.
Yena mengantongi hp nya, ia duduk di meja makan berhadapan dengan Bobby.
"Bob, hari ini aku mulai kerja.." Ucap Yena
"Ngapain lu bilang sama gua?" tanya Bobby tanpa menatap Yena sedikit pun.
"Aku cuma mau bilang ke kamu.." Jawab Yena
"Ngapain juga bilang.. toh, gua bilang gak boleh juga lu tetep nekat kan. udahlah.. gua mau berangkat kerja dulu.." Bobby meninggalkan meja makan padahal makanannya belum habis.
Dia tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
"Makanan kamu belum habis.." Kata Yena saat melihat Bobby bergegas pergi.
Namun, Bobby tak menggubris omongan Yena, ia pergi begitu saja.