YENA

YENA
Restu Mr. Hasan Hwang



Hari makin larut, selepas Bu Jia dan Rendi meninggalkan rumah, ia langsung tertidur pulas di ranjang.


"Mungkin Bobby terlalu lelah bekerja" Batin Yena


Tak butuh waktu lama Yena menyusul kedalam mimpi..


Keesokan harinya, Yena terbangun tanpa melihat Bobby di sampingnya.


Ia melihat ke arah jam, menunjukkan pukul 06.00 pagi masih terlalu pagi untuk Bobby pergi meninggalkannya bekerja.


"Mungkin dia mandi..." Batin Yena


Yena turun dari ranjang tak biasanya Bobby menghilang sepagi ini.


Yena berjalan mencarinya hingga sudut rumah Namun, Yena tak melihat batang hidungnya sekalipun.


Ia membuka tirai yang menutupi jendela, dari kaca ia tak lagi melihat mobil hitam milik pria itu.


"Apa dia benar-benar pergi bekerja sepagi ini..??" batin Yena


Jam 17.00


Bobby pulang dengan wajah yang kusut, raut wajahnya menunjukkan betapa kelelahannya pria itu Namun, ia masih mempertahankan senyuman di bibirnya ketika pulang ke rumah.


"Apa mau makan sekarang..?? atau mandi dulu..?" tanya Yena


"Mandi saja... kita makan di luar saja.." Ujar Bobby


"Di luar di mana?" tanya Yena penasaran


"Pokonya ikut saja.. Nanti juga kamu akan tahu.." Ucap Bobby


"Istirahatlah dulu.. kamu terlihat sangat lelah.." Ucap Yena


"Tidak.. aku takut tertidur.. sudah ya, aku mandi dulu.." Ujar Bobby


"Kamu tadi pagi berangkat bekerja..? biasanya kamu gak berangkat sepagi itu.." tanya Yena


"Ya, kerjalah.. kamu kira aku kemana dulu..?? Mulai curiga ya sekarang..." Ucap Bobby terkekeh


"Ih.. siapa yang curiga.. gak kok.. ya gak biasanya aja.." Ucap Yena


"Aku mandi dulu ya sayang..." Ujar mengecup pipi Yena


Selesai mandi dan memakai pakaian rapih Bobby dan Yena pergi mengendarai mobil, menuju ke sebuah restoran.


"Kita mau makan dimana?" tanya Yena


"Restoran Vierra sayang.." Jawab Bobby


"Kenapa gak ke tempat yang lebih dekat aja si yang..?? disini juga kan banyak restoran yang dekat, kenapa jauh-jauh buat makan doang??" tanya Yena


"Kita makan malam sekaligus ketemu ayah sayang..." Ujar Bobby


"Ayah...?? ayah kamu?" tanya Yena


"Iya.. Kenapa? kok kaget gitu?" tanya Bobby


"Kenapa harus di restoran kenapa gak di rumah aja sih?" tanya Yena


"Rumah ku maksudnya atau rumah ayah??, Kamu harus faham sayang.. Kalau kita nyuruh Ayah ke rumah itu gak sopan namanya..." Ujar Bobby


"Iya aku ngerti itu.. Maksudnya, kenapa harus makan malam sama ayah kamu? ada acara apa sih..?? kenapa gak di rumah ayah kamu aja..? kenapa musti di restoran..??" tanya Yena


"Aku punya sesuatu yang sangat penting yang harus aku bahas sama Ayah.. Kalau aku makan di rumah Ayah.. kamu tau sendiri itu bekas rumah siapa..?? Nanti kamu kepikiran lagi liat rumah itu lagi.. belum lagi aku khawatir kalo makan di rumah itu sayang.. kamu tau kenapa aku benci sama Rendi dan Bu Jia, mereka itu licik sayang.. kalau ternyata nanti mereka masukin sesuatu ke dalam makananya gimana?? ya mending-mending aku yang nelen, kalau kamu yang nelen.. gimana coba..?? bukan cuma kamu yang bahaya tapi juga anak kita, iya kan..?" tanya Bobby


"Kok kamu bisa berpikiran seperti itu sih Bob..??" tanya Yena


"Apa..?? aku gak jahat.. aku hanya menghindari kejahatan, apa itu salah...?? gak kan???" Ucap Bobby


"Ya udah terserah kamu aja.. kamu yang lebih faham sama situasinya.." Ucap Yena


**


Sesampainya di Restoran Vierra.


Mereka berjalan mendekati kursi no.5, Di sana duduk seseorang telah menunggu kedatangan mereka.


Wajah yang tak asing lagi bagi keduanya.


Dari belakang Pria yang telah berumur itu berbadan gemuk, biarpun Yena belum pernah bercakap-cakap langsung dengan Ayahnya Bobby Namun, wajah tuan Hasan tak lagi aneh baginya karena sebelumnya Yena pernah melihat wajah itu. ketika Tuan Hasan Hwang berkunjung ke rumah Bobby dan Yena hanya bisa bersembunyi.


Wajah yang tak asing lagi bagi keduanya.


Keduanya mencium tangan pria yang berusia lebih dari setengah abad itu sebagai tanda hormatnya.


"Duduklah.. duduk.." Ujar Hasan Hwang mempersilahkan untuk duduk.


Tuan Hasan Hwang, memperhatikan wajah gadis yang di bawa anaknya itu dengan senyuman, wajah yang baru pertama kali ia lihat. membuat Yena merasa malu karena terus menerus di perhatikan.


Seorang pelayan datang menghampiri, menuliskan beberapa pesanan yang telah mereka pesan, lalu pergi.


Selang beberapa lama kemudian pelayan itu datang kembali mengantar makanan yang telah di pesan, lalu di sajikan di atas meja dan telah siap untuk di santap.


Sambil makan merekapun mulai mengobrol.


"Rendi bilang kamu telah mengulurkan bantuan padanya? hingga Gold Three dapat terselamatkan?" tanya Tuan Hasan


"Terpaksa yah..." Ujar Bobby


Mendengar ucapan Bobby, Yena langsung melirik ke arah Bobby


"Terpaksa...?? Siapa yang memaksa mu..?" tanya Tuan Hasan


"Wanita ini.. Dia mengomeli ku agar aku mau membantu orang lain.." Ucap Bobby sambil meneguk minumannya


Tuan Hasan melirik ke Arah Yena, Lalu bergelak tawa.


"Bobby.. Bobby.. Ayah hampir tak percaya kamu bisa di kendalikan oleh seorang gadis.. ahahahaha..." Ujar Tuan Hasan


"Ouh iya siapa nama mu..?" tanya Tuan Hasan pada Yena


"Saya Yena om.." Jawab Yena malu-malu


"Ouh.. jadi ini kekasihmu..?" tanya Tuan Hasan


"Sebenarnya ada hal yang mau Bobby bicarakan yah..." Ucap Bobby dengan tatapan serius


"Ada apa..? sepertinya sangat penting sampai kamu ingin bertemu dengan ku?" tanya Tuan Hasan


"Bobby ingin menikah Minggu ini juga yah.. Tolong Ayah restui kami" Ucap Bobby


"Benarkah...??? tentu saja Ayah akan merestuinya, kamu sudah cukup umur nak.. tidak ada alasan untuk Ayah tidak memberikan restu untuk kalian. Tapi, kenapa harus Minggu ini mendadak sekali..?" tanya Tuan Hasan


"Bobby tidak ingin berlama-lama yah.." Ujar Bobby


"Kamu sudah tidak sabar rupanya... Hahaha" Tuan Hasan kembali tertawa


"Lalu bagaimana dengan pesta, dekorasi, gedung dan lainnya apa kamu sudah menyiapkannya?" tanya Tuan Hasan


"Kami tidak akan menggelar pernikahan dengan meriah yah.. Bobby tidak punya cukup waktu sedangkan Minggu depan Bobby harus pergi ke luar negeri..." Ucap Bobby


"Keluar negeri...???" Yena tersentak mendengar kata-kata dari mulut Bobby


"Kenapa kamu gak bilang sama aku Sebelumnya?" tanya Yena


"Aku bilang sekarang.." Jawab Bobby


"Berapa lama?" tanya Yena


"tidak akan lama hanya beberapa hari..." Jawab Bobby


"Kenapa tidak bilang dari awal..?? Kamu kesana untuk apa?" tanya Yena


"Aku bekerja di sana bukan liburan sayang..." Jawab Bobby


"Cukup.. cukup.. bertengkarnya nanti saja. Ayah mau tanya, kenapa tidak menikah setelah pulang dari luar negeri saja..?? kenapa harus semendadak ini..??" tanya Tuan Hasan


"Biar aku beritahukan pada Ayah kenapa aku ingin segera menikah.." Ucap Bobby


"Kenapa..?? karena jiwa laki-laki mu sudah mulai liar?" tanya Tuan Hasan


"Yena telah hamil yah... usia kandungan telah menginjak 3 bulan lebih..." Ucap Bobby


Yena menundukkan kepalanya, saat Bobby mengatakan kenyataan pada Ayahnya


"Hamil...???" Tuan Hasan menghabiskan minuman di depannya


"Ya sudah kalau seperti ini.. memang lebih cepat lebih baik.." Ujar Tuan Hasan


"Yena.. Jaga cucu pertama ku dengan baik ya.." Ucap Tuan Hasan pada Yena


Yena hanya tersenyum lalu memangutkan kepalanya


"Akh.. rasanya baru kemarin aku memukul anak nakal yang bernama Bobby, Sekarang dia sudah mau menjadi seorang Ayah dan Aku akan segera menjadi seorang Kakek. Hidup ini cepat sekali berlalu yah.."