YENA

YENA
Membuka Privasi lagi



dengan mengendarai mobil hitam milik Bobby. Yena dan Bobby pun pergi ke taman berdua.


meninggalkan Irene yang masih tertidur lelap di rumah sendirian.


Sesampainya di sana Bobby menggelar tikar dan mengeluarkan beberapa cemilan dan minuman dingin yang ia beli saat di perjalanan.


Bobby berbaring di atas tikar itu, sedangkan Yena duduk di sampingnya.


"Kamu yakin Irene takan tambah marah?" tanya Yena


"Apa barusan kamu khawatir? atau hanya jebakan untuk mengejek ku kembali?" tanya Bobby dengan alis naik sebelah.


"Jangan berburuk sangka lah padaku.. aku tak setega yang kamu pikirkan.." ucap Yena


"Benarkah? hampir saja aku percaya.." Bobby tertawa keras.


"Dih.. aneh, malah ketawa. apa kamu bertengkar kembali?" tanya Yena membuat Bobby spontan berhenti tertawa.


"Apa kamu peramal? atau kamu indigo yang bisa melihat masa depan?" tanya Bobby melirik ke sampingnya tempat Yena terduduk.


"Apa yang ku katakan benar?" tanya Yena


"Sebentar.. aku ingin memastikan bahwa kamu sesuatu. apakah kamu pernah ciuman?" tanya Bobby


"Ada apa denganmu? kenapa begitu penasaran? jika aku katakan belum apa kamu akan menciumiku? yang benar saja.." Ucap Yena berdecih kesal.


"aku tak bilang begitu.. oke aku anggap kamu bukan anak kecil sekarang. yang kamu katakan tak sepenuhnya benar hanya saja.. aku kesal, Irene masih berhubungan dengan Dimas. selagi dia tidur ponselnya berdering, ketika ku lihat hp nya itu hanya Panggilan dari nomor tak di kenal namun, setelah ku lihat percakapan nomor itu dan Irene sungguh membuatku marah" ucap Bobby


"Percakapan? telpon?" tanya Yena


"tentu saja percakapan pesan bodoh..!!. ternyata nomor itu adalah Dimas, bahkan aku melihat percakapan di pesan WhatsApp di ponsel Irene


"apa Irene kembali berselingkuh?" tanya Yena


"Aku hanya berfikir Irene kembali padaku hanya karena Dimas tak bisa menerimanya kembali.." ucap Bobby


"maksudnya gimana? kok Dimas yang gak bisa menerimanya kembali? bukankah Irene pacarmu?" tanya Yena


"Aku merasa dia tak lagi menyukaiku.. dia lebih mencintai Dimas." ucap Bobby


"kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?, bukankah dia ke rumahmu untuk kembali berbaikan bersamamu?" tanya Yena


"Aku membaca semua pesan WhatsApp nya dengan Dimas, Dimas memutuskan untuk tidak menjalani kasih lagi dengan Irene karena dia merasa bersalah padaku. Sedangkan, Irene tak menjawab apapun. entah kenapa aku sangat yakin bahwa dia kecewa di campakkan oleh Dimas. aku tau Irene seperti apa, bila suatu saat Dimas mencintainya kembali dan dia masih menyukai Dimas, meski dia menjalin kasih denganku.. dia takan ragu meninggalkan ku lagi" Ucap Bobby


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Yena


"Aku berusaha agar Irene tetap bersamaku, aku tak ingin menjauhinya dan membuat kami renggang lagi.. tapi, munafik jika aku tak marah saat ku tau dia masih berhubungan dengan Dimas. aku marah tapi, aku tak ingin terlihat marah di depannya hanya itu.." Ucap Bobby


"Wah.. aku tak percaya kehidupanmu sungguh menyedihkan" Ucap Yena tersenyum


"Apa kamu mengejekku kembali?" tanya Bobby Bagun dan duduk berhadapan dengan Yena


"Kapan aku mengejek mu?" tanya Yena


"barusan kamu tertawa meledek ku?!" ucap Bobby


"Aku hanya tersenyum bukan tertawa bodoh. !!" ucap Yena


"sama saja..!! tapi, kenapa kamu tak pernah sopan pada orang-orang?. maksudku kamu menyebutku dengan sebutan nama padahal aku lebih tua 10 tahun dari mu, kamu menyebut teman-teman ku dengan nama juga.. apa kamu lupa etika?" tanya Bobby


"teman-teman.. maksudmu Dimas?" tanya Yena


"tidak.. bukan dia.. Hendi maksudku." Bobby memalingkan wajahnya.


"Aku ingin minum.. berikan aku satu yang kuning itu.." Yena menunjuk minuman botol rasa jeruk.


Bobby mengambil dan membukakan tutup botolnya, lalu di berikan pada gadis di sebelahnya itu.


"Terimakasih.." Yena langsung meminumnya hingga menyisakan setengahnya.


Sinar matahari yang yang menjulang tinggi itu perlahan turun, dengan hembusan angin yang menerpa.


Bobby berbaring kembali, dengan ke dua tangan yang di tindih kepalanya, menatap ke atas langit sore yang mulai meneduh.


Di sekelilingnya banyak keluarga-keluarga yang menggelar tikar, anak-anak yang berlarian ke sana ke mari, beberapa suara tawa tak henti terdengar di telinganya, membuatnya begitu nyaman dan menikmati suasana lalu menutup matanya.


"Aku kira kamu memang berjodoh dengannya baru di bicarakan, orang itu sudah nampak" ucap Yena


"Siapa maksudmu?" tanya Bobby masih memejamkan matanya


"Siapa lagi? Dimas dan Hendi maksudku.." ucap Yena


"Benarkah? mana?" Bobby langsung bangun terduduk.


Bobby melihat dengan kedua matanya, dua orang dari kejauhan yang tak asing baginya.


keduanya tersenyum lebar dan samar-samar terdengar namanya terdengar di panggil-panggil, lambaian tangan mereka lakukan seiring langkah menghampiri Bobby.


"Mimpi apa aku semalam.." Bobby menepuk jidatnya dengan sebelah tangan.


"Nikmati saja.." Yena tersenyum membuat Bobby menatap sinis ke arahnya, senyuman Yena membuatnya seolah mengeluarkan taring saking kesalnya.


"Heii... bro kebetulan banget ya kita ketemu disini.. bagi minumnya dong.." tanpa menunggu ijin dari pemilik ia mengambil dan meminum begitu saja satu kaleng minuman dingin rasa lemon.


"Wah.. benar-benar sopan" gumam Yena dengan suara pelan.


"teman-temannya bahkan lebih tak sopan dariku..!!" batin Yena


"Kebetulan kita abis main raket di sekitar sini.. ayo Dim, duduk.." Dengan percaya dirinya Hendi mempersilahkan Dimas duduk padahal tempat itu bahkan bukan miliknya.


"Emang ini punya siapa?!!" Bobby berkata dengan mengertakkan gigi dan meninggikan dagunya.


Tanpa sungkan Hendi mengambil beberapa cemilan dan memakannya, meski mereka duduk berdekatan dan saling berhadapan satu sama lain namun, suaranya begitu hening.


tak ada suara lain, selain suara berisik yang di keluarkan Hendi saat memakan keripik.


Semua hening dalam beberapa menit.


"Kenapa kalian hanya diam?. jadi berasa YouTuber yang lagi Mukbang gua hahaha.." Hendi tertawa namun, tak ada reaksi dari Bobby, Yena maupun Dimas, mereka hanya menatap Hendi dengan ekspresi datar membuat Hendi malu dan langsung berhenti tertawa.


"kayanya cuma lu yang rame sendiri.." Ucap Bobby


"Udah lah bro.. kalian udah pada dewasa jangan maen marah-marahan.. malu sama bocah kaya Yena.." Ucap Hendi


"Lu tau dari mana namanya Yena?" tanya Bobby


"Kan waktu lu ke butik ada gua?, Lupa apa mulai amnesia lu?" Ucap Hendi


"Masa sih? Ouh.. iya.. ya?" Bobby mengingat kembali


"Udah tua sih lu.. bentar lagi juga ubanan haha" Hendi mengejek Bobby


"Kaya yang ngomong muda aja.." Jawab Bobby


"Umur boleh tua.. tapi, tampang gua masih baby face.. haha" Hendi tertawa kembali


"baby face apaan.. pantat monyet lu mah.." Ucap Bobby melempar gulungan tisu ke wajah Hendi.


"Gini nih, orang-orang sirik.. eh, kalian lagi ngapain disini? gua kira lu udah baikan sama Irene tapi kayanya belom ya.." Ucap Hendi


"Kata siapa? gua udah baikan kok. Ya, buat sekarang sih gua aman, gak tau kedepannya. asalkan gak ada Cepu aja.." Ucap Bobby memincingkan matanya ke arah Dimas, Hendi tau yang dengan situasi seperti ini dengan segera ia berbicara hal yang lain agar tak terlalu memanas.


niatnya agar Dimas dan Bobby akur namun, sepertinya dia mengeluarkan pertanyaan yang salah.


"Lah lu budek ya.. gua kan nanya lu sama Yena lagi apa disini?!" Ucap Hendi


"Lagi berak.." Jawab Bobby simple


"Dih.. orang gila.." Ucap Hendi


"Ya lu liatnya gua lagi ngapain? Lu gak buta kan?" Ucap Bobby


"Stres emang..!!. Eh, Yena tinggal dimana kok bisa bareng-barengan terus sama Bobby?" tanya Hendi


Deg..


Yena kebingungan harus jawab apa, dia takan mungkin bilang serumah dengan Bobby.


"Aku tetanggaan sama Bobby kak.." Ucap Yena tersenyum lebar hingga terlihat seluruh gigi depannya.


"Sejak kapan lu deket sama tetangga?" tanya Hendi melirik Bobby


"Gu.. gua..???" Bobby gelagapan, menunjukan dirinya sendiri.


"Ouh.. ia gua tau. Lu kan biasanya menyendiri kan nyampe tetangga lu pikir rumah lu gak ada orangnya tuh.. terus lu liat Yena terus tertarik sama dia gitu kan?" tanya Hendi cengar-cengir


"Muke lu yang ketarik.." Bobby menjitak kepala Hendi


"Emang sialan ya lu.." Ucap Hendi


"Eh, kayanya cuma gua doang sama Bobby yang bersuara. ayok dong pada ngobrol.. kaya patung aja pada diem" tambah Hendi


"Eh.. Yena kamu belum kerja?" Dimas baru membuka suaranya dan langsung bertanya pada Yena


"belum kak.." jawab Yena tersenyum


"Eh.. atau kamu kuliah?" tanya Dimas


"Gak kak.. aku gak kuliah.." jawab Yena


"Kenapa gak kuliah sayang banget lho.." Ucap Dimas


"Gak semua orang punya otak cerdas kaya lu.." Bobby menjawab seperti seseorang yang memberikan sindiran.


Dimas menoleh lalu ia kembali berfokus pada Yena


"Gak maksud aku bukan gitu. aku buka restoran baru, masih beberapa pelayan buat restoran. sebelumnya aku minta maaf banget, aku gak niat gimana-gimana sama kamu. kalau kamu mau dan bisa, kamu kerja aja di tempat ku." ucap Dimas


Perlahan bola mata Yena melirik Bobby, yang juga menatapnya.


Ia bingung apa yang harus ia jawab.


karena sebulan lebih ini, ia di hidupi oleh pria yang bernama 'Bobby'.


Jadi, rasanya tak nyaman jika ia harus mengambil keputusan sebelah pihak. apalagi yang menawarkan pekerjaan itu adalah teman yang menjadi musuhnya.


"Iya aku ngerti.. kak Dimas boleh minta nomor teleponnya? nanti aku hubungi kak Dimas" Ucap Yena


"Ya, itu tergantung kamu mau atau enggaknya" Ucap Dimas


"Iya.. tapi, aku harus bilang sama orang tua ku dulu" jawab Yena


Di lihatnya Bobby mengerutkan dahinya, ia tau ini sebuah ancaman atau semacam kode, harusnya Yena tak berhubungan dengan orang yang bernama 'Dimas' yang kini duduk di sampingnya, karena Dimas adalah orang yang di benci oleh Bobby.


"Sini handphone mu.." Dimas mengetikkan nomor hp nya di ponsel milik Yena, lalu Miss call pada nomornya sendiri hingga ia mengetahui nomor Yena.


"Oke nanti aku hubungi kakak ya.." Ucap Yena


"Siap.." Dimas tersenyum mengembalikan hp milik Yena.