
Hari ini hari yang membosankan bagi Yena.
pagi-pagi sekali sebelum Bobby berangkat bekerja, ia menyiapkan bubur ayam yang masih hangat, yang ia antarkan ke kamar Yena.
Yena benar-benar di perlakukan seperti orang sakit, makan di suapin, minum obat teratur, handphonenya di sita, bahkan dia tak di perbolehkan mengerjakan pekerjaannya rumah apapun.
kemanapun langkah Daniel selalu mengikuti dan mengawasi Yena.
ia sungguh merasa sangat jengkel di buatnya.
"Berhenti mengikuti ku..!!" teriak Yena
"Aku hanya mengikuti perintah Abang.." Jawab Daniel
"Aku bosan Daniel.." Rengek Yena
"Aku juga.." jawab Daniel
"Oh, ya aku ingin bertanya. apa kak Dimas tau aku tidak masuk karena sakit?" tanya Yena penasaran
"Aku tidak tau soal itu.. aku hanya di perintahkan untuk menemani dan mengawasi mu itu saja.." Jawab Daniel
"Tapi.. sebentar, kamu bodoh? kamu sedang sakit seperti ini malah mengkhawatirkan Dimas? apa kalian pacaran?" Ucap Daniel penasaran
"tidak juga hehe.." Yena tersenyum hingga terlihat seluruh gigi bagian depannya
"Coba saja aku punya mobil.." Gumam Daniel
"Memang kalau kamu punya mobil, kamu mau apa?" tanya Yena.
"Aku ingin pulang ke rumah.." Ucap Daniel tersenyum
"Dasar bodoh..!! kamu tak perlu mobil untuk pulang ke rumah. biasanya juga pakai bis.." Ucap Yena
"Benar juga, kamu bilang kamu bosan kan? bagaimana kalau kita ke rumah ku?" tanya Daniel dengan mata mengedip-ngedip seperti anak kecil
"Apa yang istimewa dengan rumahmu? apa di dalam rumah mu ada kebun bintang?" tanya Yena
"tidak.." Jawab Daniel singkat
"Lalu?" tanya Yena
"Hanya menikmati saat naik bus nya saja" Senyum Daniel
"Dasar bodoh...!!!" Yena memukul kepala Daniel
Namun, pada akhirnya Yena malah ikut Daniel untuk berkunjung ke rumahnya.
"Ternyata lebih membosankan di rumah ya.." ucap Yena yang duduk di bangku bus
"Kata ku juga apa, ya meski perjalanan dari rumah ke rumah lagi.. tapi, setidaknya kita bisa menghirup udara luar. dari pada di dalam rumah terus, sumpek..?!!" Ucap Daniel yang duduk di sebelah Yena
"Jadi rumahmu dimana?" tanya Yena
"Start City.." Jawab Daniel
"Berapa jam perjalanan?" tanya Yena
"Kalau lancar 1 setengah jam. kalau macet sampai 2 jam" Jawab Daniel.
"Pantes aja dulu gua hampir mati ke hausan, pake bus aja 1 setengah jam. berarti dulu gua jalan jauh juga sampai nyampe sini.." Batin Yena.
"Kenapa kok ngelamun?" tanya Daniel
"Eh, gak papa kok." jawab Yena
mereka turun di tempat pemberhentian bus.
Yena memhebuskan nafas, rasanya hatinya tak sanggup mengenang kejadian saat mengetahui rumahnya di jual.
Dadanya perlahan terasa sakit dan sesak seiring ia berjalan mendekati kompleks tempatnya dulu tinggal, hingga ia dan Daniel berhenti di sebuah rumah.
Rumah bercat putih, dengan halaman rumah yang tertata rapih.
"Bentar.. Daniel.. ini perasaanku doang apa beneran ya?" tanya Yena
"Emangnya ada?" tanya Daniel
"Eh, gak deh.. kaya nya cuma ilusi doang.." Ucap Yena tersenyum mengurungkan niatnya untuk bilang yang sesungguhnya, bahwa ia merasa rumah yang kini ia dekati adalah rumahnya.
"Ding.. Dong.." Bel pintu berbunyi
"Daniel kok ini kaya rumah......."
"Ia ada aaap........" pria itu berhenti bicara saat melihat sosok Yena di depannya.
Yena pun terkejut hingga ia tak bisa berkata-kata, melihat pria yang sama di rumah yang sama, ketika ia baru pulang dari Jepang. ia menutup kedua tangannya.
"Mbak ini kan......." pria itu bergumam
"Abang ini kenalin Yena, temanku..!?!" Ucap Daniel
"Apa??? Abang???" Ucap Yena terkejut
"Ia dia Abang gua.." Jawab Daniel
"Daniel jadi kamu berteman dengan wanita malang ini? bukankah dia pemilik rumah ini sebelumnya?!" ucap pria itu.
"Dia menyebutkan ku 'Wanita Malang', tak ada yang salah dengan kata-katanya karena aku memang wanita yang sangat memilukan. tapi, tetap saja hatiku sakit.." Batin Yena
"Apa?? Ini rumah Yena sebelumnya?? maksudnya gimana bang?, jadi Yena.. kamu kenal Abang ku? atau gimana?" Daniel ikut kebingungan
"Dia Rendi kan? iya sebelumnya ini rumahku.." Ucap Yena
seorang wanita keluar dan membuka pintu lebar-lebar.
"Mamah kira ada apa di luar ribut-ribut. Ya ampun kita ketemu lagi ya.. sekarang tinggal dimana? dulu itu saya khawatir sekali, saya kira kamu akan mati gantung diri" Wanita tua itu tersenyum licik
sungguh kata-kata yang di keluarkan wanita tua itu sangat menyakiti hati Yena.
tapi, itulah manusia ketika di bangun oleh harta maka Kesombongannya pun bangun dan berkembang.
Wanita tua itu menatapnya dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. seolah Yena seperti seonggok sampah, yang pernah ada harganya.
Di tatap seperti itu saja Yena mengerti bahwa orang-orang di depannya bukanlah orang baik.
"Kamu tidak sedang merayu putra ku untuk mendapatkan rumah ini kembali kan?" Tanya wanita tua secara terang-terangan
Dada Yena terasa makin sesak dan sakit.
Ia kembali melihat rumah ini lagi, merasakan kesakitan yang dulu di dapatkan dari penghianatan bibi dan pamannya.
Ditambah cibiran orang yang kini menjadi penghuni rumahnya.
"Miiaaaawww..."
Seekor kucing berlari ke arah Yena, kucing itu langsung loncat dan berpegangan di baju Yena dengan cakarnya.
Seperti nya kucing itu sangat merindukan majikan aslinya.
Yena langsung mendekap kucing berbulu lebat berwarna putih.
tak terasa air matanya bercucuran, ia pun merindukan kucingnya itu.
"Saya hanya mau menggambil kucing saya Bu Jia, terimakasih telah merawat dia" Ucap Yena mengusap air matanya
"Bu Jia? bagaimana kamu tau nama ibu ku?" Ucap Daniel yang masih kebingungan
"Oh, iya.. saya cuma mau bilang. saya punya rumah sendiri sekarang dan saya tak pernah merayu putra ibu untuk mengambil rumah ini lagi. saya sudah ikhlas kan Bu.." Ucap Yena yang langsung mengangkatkan kakinya dari rumah itu.
"Yena tunggu.." Daniel mencoba menyusul namun, Bu Jia dan Rendi memegang tangan Daniel kuat.
"Kamu ini bodoh atau apa? hah? jangan mau di perdaya wanita seperti dia.." Ucap Bu Jia
"Siapa yang di perdaya? aku hanya berteman dengannya. kalian ini sungguh keterlaluan ya.. jika dari dulu aku tau ini rumah Yena, pasti akan ku kembalikan rumah ini pada dia.." Ucap Daniel
"Dasar bodoh.." Rendi memukul kepala Daniel, ia di seredet masuk oleh kakaknya itu.
Daniel adalah satu-satunya anak yang selalu kontra dengan keluarganya sendiri.
Ia di Kunci kan di ruang bawah tanah, sehingga ia tak bisa kabur kemanapun.
ingin rasanya Daniel mengejar Yena tapi, kini ia tak bisa melakukan apapun untuk Yena.
gadis itu berjalan dengan seekor kucing putih di gendongannya, air matanya bercucuran deras. ia menaiki bus lalu berhenti di sebuah jalan dekat sungai Han, kucing itu turun dan berjalan mengikuti langkah kaki majikannya.
Ia menghirup menikmati angin kencang yang menyapu menabrak pipinya.
Angin yang bertiup kencang membuat rambutnya ikut terbang tertiup angin.
Langkahnya berhenti di pinggiran jembatan ia berdiri menatap ke bawah, dalamnya sungai Han itu.
ia duduk di pinggiran di temani kucing putih kesayangannya.
"Kalau saja aku tahu, bahwa aku kan di bawa ke rumah ku sendiri.. aku pasti sudah menolak". batin Yena