
Matahari telah menjulang tinggi, menyinari bumi dengan cahayanya.
terlihat sepasang anak manusia yang masih tertidur nyenyak terbuai mimpi.
Mereka tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
seorang pria terbangun, ia merasa kegerahan karena biasanya ia tak bangun sesiang itu.
perlahapn ia membuka matanya
"Uaaahh..." Pria itu menguap.
Pria itu masih mencoba mengumpulkan kesadaran, ia hendak bangun namun rasanya ada yang mengganjal sehingga ia sulit terbangun bahkan hanya sekedar ingin duduk di kasurnya, ia kesulitan.
Pria itu melirikan matanya ke samping, matanya membulat, betapa terkejutnya ia saat melihat seorang gadis tertidur di sampingnya.
ia mencoba mengumpulkan ingatannya kembali.
"Uaaahh..." gadis di sampingnya terbangun.
tanpa sengaja kedua pasang mata itu saling bertemu, beradu pandang.
membuat keduanya gugup, padahal sebelum kejadian malam itu mereka sering tertawa dan ngobrol bersama.
Namun, saat ini keduanya bahkan ragu untuk memulai percakapan, keduanya terdiam beberapa saat.
Pria itu makin terkejut saat melihat dirinya telanjang dada, ia mengangkat selimut yang menutupi badannya dan melihat ke bawahnya yang menambah ke kagetan dalam dirinya.
"Apa yang telah terjadi??" Tanya pria itu dengan mata membulat.
"Kamu tidak ingat semalam apa yang kamu lakukan padaku?" tanya gadis itu dengan mata yang sembab bekas semalaman menangis.
"Apa aku........." Pria itu coba mengingat kejadian semalam, kejadian yang membuat gadis di sampingnya membungkus diri dengan selimut.
"Bob, ini gila.. sangat gila.. ini gara-gara kamu Bobby...!!! jangan pernah minum lagi, Lu jadi orang gak bener kalo minum..!!" Gadis itu mencerca.
"Gua bingung harus ngomong apa dan harus kaya gimana sekarang.. berarti ini..???" Bobby melihat di dadanya yang merah bekas darah yang mengering, lalu menatap ke arah gadis di sampingnya yang tak lain adalah Yena .
"Apa Lu..??? jangan berfikir itu darah gua, gak mungkinlah punya gua di bawah sampe ke dada lu..!! Lu gak inget semalem setelah kita khilaf Gua ngapain Lu??" tanya Yena
Bobby mencoba mengingat kembali, ia mengusap mukanya dengan telapak tangannya.
"Aww.." rasa perih ketika hidungnya tersentuh, ia meraba-raba sesuatu yang lembab sekitaran hidungnya, di lihatnya di jemari yang baru saja mengecek hidungnya itu, terlihat bekas darah yang telah mengering.
Bobby mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam.
"Lu yakin, sama sekali gak inget semalem gua nonjok Lu?" tanya Yena
"Iya.. gua inget. Gua juga gak tau bakal gini, gua minta maaf banget.. kata maaf memang bukan kata yang tepat saat ini, tapi... gimana.. gua bingung harus ngomong kaya gimana, pokoknya apapun yang terjadi gua bakal tanggungjawab" Ucap Bobby mengacak-acak rambutnya, lalu menatap Yena dengan sungguh-sungguh.
"Gak tau.. gak tau.. bodo, gua gak mau denger apapun lagi sekarang lu keluar.." Ucap Yena menggeleng-gelengkan kepalanya dunianya kini hancur karena kejadian semalam
"Pokoknya apapun yang terjadi ke depannya gua bakal tanggungjawab" Ucap Bobby
"Gua bilang keluar...!! ya keluar..!!" bentak Yena seolah tak ingin mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Bobby.
"Tapi, bukannya ini kamar gua?" tanya Bobby
Yena terdiam beberapa detik..
sambil menatap ke sekelilingnya..
"ya ini kamar Bobby.." Batinnya
Ia baru sadar bahwa ia tidur di kamar Bobby
"Gua gak pakaian apapun sekarang Bobby..!!! lu gila?? mau nyuruh gua keluar telanjang bulat??" tanya Yena
"Terus gua harus gimana?" tanya Bobby
"Lu lah yang keluar..!!" ucap Yena
"Gua juga gak pake apa-apa, lu mau liat lagi tubuh gua?" tanya Bobby
"Stress ya Lu..!!" Yena berdecih kesal.
"Ya Lu yang keluar sana.. ini kan kamar gua dan gua mau pakai baju. tapi kalau lu mau liatin ya ayok.." Ucap Bobby
"Serius, lu nyebelin banget.. terus aku harus keluar pake apa??" tanya Yena.
Bobby mengambil jubah mandi di laci dekat kasurnya, melemparnya ke arah Yena.
"Yang sopan dong bro.." Ucap Yena dengan tatapan sinis.
"kapan lu sopan ke gua?" tanya Bobby
"Ngapain gua harus sopan sama cowok brengsek kaya lu..??!!" Ucap Yena membuat Bobby terdiam.
"Lihat apa Lu?? sana ngebelakangin.. ngadep sana.." Ucap Yena mendorong tubuh Bobby agar menghadap lawan arah.
Dengan sigap Yena memakai jubah mandi berwarna putih itu, mengikat kencang tali di bagian perutnya.
"Udah?" tanya Bobby sambil menengok.
"Ih.. sialan Lu ya.." Ucap Yena kesal.
Rasa perih ia rasakan saat kakinya mencoba di gerakan, seperti ada yang robek dan iritasi di bawah sana.
Wajar saja ini adalah kejadian pertama bagi gadis bernama Yena itu.
Perlahan kedua kakinya mencoba menyentuh lantai.
"Aww.." Teriaknya hingga badannya terduduk kembali ke lantai.
Di hati Yena Ingin sekali rasanya cepat-cepat keluar dari kamar itu dan lepas dari pandangan pria di sampingnya.
ia sangat ingin berlari saat itu namun, rasa nyeri di kemaluannya membuat ia kesusahan, jangankan untuk berlari.. berdiri saja ia merasa sangat sakit.
"Ada apa..??" Bobby mendekatkan tubuhnya.
"Jangan dekat-dekat.. ini semua gara-gara kamu" Ucap Yena dengan sinis, matanya terlihat berkaca-kaca, ingin rasanya ia menangis kencang saat itu juga namun, ia menahan air matanya agar tak mengalir.
Bobby mengambil jubah mandi di lacinya, di pakaikannya jubah itu ke badannya, hingga menutupi tubuh polosnya.
Ia berjalan memutari tempat tidur, mendekati Yena yang terlihat begitu risau dan kacau.
"Biar aku bantu berdiri.." ucap Bobby, ia merasa bersalah dengan apa yang ia perbuat.
ia berfikir tak seharusnya ia melakukan hal seperti semalam dengan gadis kecil seperti Yena, bila saja hal semalam terjadi padanya dan Irene mungkin ia takan pernah merasa bersalahnya dan malah akan merasa kebalikannya yaitu senang dan bahagia.
Bobby menarik selimut ke ujung tempat tidur, di lihatnya sprei telah berantakan ada ternoda bercak darah di atasnya.
Yena yang melihat Bobby menatap sprei itu langsung menutupinya dengan bantal.
"Na.. na.. nanti akan ku cuci, taruh saja di tempat cucian" Ucap Yena gelagapan, ada perasaan malu hinggap di dirinya saat melihat Bobby melihat darah itu.
Bobby menghela nafas, ia tak percaya bahwa semalam ia telah menodai gadis perawan bernama 'Yena', gadis yang selalu ia anggap sebagai adiknya.
tapi tidak untuk kali ini, bagaimana bisa ia berbuat seperti itu pada Yena??.
Tapi jika di pikir kembali, bagaimana pun ia dan Yena tak memiliki ikatan persaudaraan apapun.
Maka sebagai seorang lelaki sejati ia akan bertanggungjawab sepenuhnya atas tindakan kecerobohan yang telah di lakukannya semalam.
"Apa harus aku ceritakan detailnya?!!" Ucap Yena
"Kamu ingin ke mana?" tanya Bobby
"Tadinya aku ingin mandi tapi...." Yena terdiam
"Tapi kenapa..?" tanya Bobby
"Semua terasa sulit.." Ucap Yena menundukkan kepalanya, kantung matanya tak dapat membendung lagi, hingga air matanya mengalir begitu saja di pelupuk matanya.
dengan segera ia mengusap air matanya, sebelum di ketahui Bobby.
matanya yang yang sembab sudah cukup lelah untuk terus menerus menangisi kejadian semalam.
"Kamu menangis?" tanya Bobby
"Tidak.." Yena masih menundukan kepalanya
"Kenapa Kamu tidak menangis?" tanya Bobby
"Semalaman aku menangis saja kamu tak perduli, sekarang untuk apa bertanya seperti itu?, makanya aku memukul wajahmu hingga hidungmu berdarah, agar kita merasakan sakit yang sama.." Ujar Yena menatap Bobby dengan tatapan penuh kebencian.
"Iya, aku minta maaf. sekarang mau kemana?" tanya Bobby
"Kamar.. aku mau tidur lagi, mungkin saja setelah istirahat rasanya tak sesakit ini lagi.." Ucap Yena
tanpa aba-aba Bobby mengangkat tubuh Yena membuat gadis itu terkejut,
"Hei apa yang kau lakukan?" tanya Yena kaget saat tubuhnya di bopong.
"Mengantarkan mu..." Jawab Bobby,
Bobby melangkah kan kakinya menuju kamar Yena.
Dengan perlahan ia membaringkan tubuh gadis itu di atas kasur.
"Makasih.." Yena membuang muka
tak lama kemudian, handphone Yena berdering.
gadis itu mengambil handphone yang berada di atas kasur.
"Hallo.. ia kak.." Yena menangkat telepon
"Kamu gak papa? kok gak masuk kerja? sakit?" Tanya Dimas pria yang meneleponnya
"Eh, enggak papa kok kak.. aku cuma lagi Haid aja, jadi gak bisa berangkat kerja" Ucap Yena, ia melirik Bobby yang masih berdiri di hadapannya diam tanpa berbicara sepatah katapun.
"Oh, gak papa kok kak. kak udah dulu ya, aku mau istirahat dulu.." ucap Yena
"Oh, ya udah.. cepet sembuh ya" Ucap Dimas
"Iya makasih kak..." jawab Yena menutup telepon
"Siapa?? Dimas??" tanya Bobby
"Bukan urusanmu.. sana keluar.." Ucap Yena.
Bobby menurut keluar dengan wajah masam.
Seharian Yena tak keluar kamar, hingga untuk makan saja, Yena di antar makanan ke kamarnya oleh Bobby.
Ia tak melakukan pekerjaan rumah, ia hanya tidur dan makan hari itu.
Keesokan harinya..
Yena bertindak seperti biasa seolah tak terjadi apapun padanya.
"Kamu yakin kamu sudah bisa bergerak? kalau masih sakit tidur lah, pakai waktumu untuk istirahat" ucap Bobby yang duduk di sofa.
"Aku tidak papa.." Jawab Yena tanpa melihat ke arah Bobby, pura-pura sibuk dengan handphonenya padahal tak ada pesan satu pun yang masuk ke hp nya.
"Kemarin aku berfikir seharian sampai tak bisa tidur, Yena.. bagaimana kalau kita menikah saja?" Ajak Bobby membuat Yena terkejut.
"Menikah..?? kamu gila..???" Ucap Yena dengan mata membulat
"Kenapa kamu bereaksi seperti itu? aku hanya ingin bertanggung jawab dengan apa yang
telah aku lakukan.." Ucap Bobby
"tidak.. tidak.." Yena menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kenapa tidak ? kalau ternyata kamu hamil bagaimana?" tanya Bobby
"sudahlah Bob, semua hanya one night stand.. aku gak mau berfikir berlebihan" ucap Yena
"Tapi semalam aku tak memakai pengaman apapun.. bagaimana kalau nanti kamu hamil gara-gara aku?" tanya Bobby
"Tidak mungkin, itu gak boleh terjadi.. kamu pikirlah Bob, bagaimana dengan Irene?" tanya Yena
"Aku akan mengakhiri hubungan ku dengannya" Jawab Bobby
"Aku tak mungkin akan hamil anakmu.. aku tak mencintaimu Bobby.. gak pokoknya aku gak hamil.. gak akan hamil.." Ucap Yena
"Jangan bilang kamu mau gugurin kandungan nya?" tanya Bobby
Yena tersenyum masam mendengar kata-kata yang di ucapkan Bobby
"Gugurin? kecelakaan nya saja semalam mana bisa aku menggugurkan hari ini..?!! hamil itu tidak langsung berbuat dan langsung bisa di pastikan hamil..?!! sudahlah berhenti mengoceh tentang malam itu.. aku pusing..!!" Ujar Yena kesal karena Bobby terus saja mengoceh tentang malam itu.
Yena tak bisa membayangkan jika nanti ia harus menikah dengan Bobby, pria yang tak ia cintai sama sekali.
memikirkannya saja sudah membuat ia pusing.
"Pastikan kamu memberi tahu ku, kamu haid atau tidak bulan depan.." Ujar Bobby
"Aku akan pindah dari sini.." tiba-tiba Yena mengalihkan pembicaraan
"Pindah?? tidak boleh..." jawab Bobby dengan lantang
"Kenapa tidak boleh? aku sudah memiliki gaji dari pekerjaan ku, aku bisa menghidupi diriku sendiri.." Ucap Yena menjelaskan
"Yena.. Hanya aku yang tau kamu seperti apa, berhentilah bertindak kekanakan-kanakan hanya karena aku terus menyinggung malam itu" Kata Bobby
"Aku ingin hidup sendiri bukan karena hal itu.. bukankah dari awal aku sudah bilang aku akan pindah dan tinggal di kost-kostan?!!" Jawab Yena
"Tapi bagaimana jika........" Bobby mengingat kondisi Yena saat di atas Jembatan Sungai Han
"Tapi kenapa?" tanya Yena
"Aku bilang tidak boleh.. ya tidak boleh.." ucap Bobby dengan suara tinggi
"Hari ini gaji ku yang ke 4 turun.. aku sangat berterimakasih kamu mau menampung ku selama 5 bulan lebih di rumahmu.. tapi, bukan berarti kamu bisa mengatur ku seenaknya saja.." Ujar Yena
"Sudah.. tetaplah tinggal di sini.." Ucap Bobby
"Kamu keras kepala sekali.." Ucap Yena kehabisan kata-kata untuk melunakkan hati Bobby agar ia mengijinkannya Yena keluar dari rumahnya.
"Sudahlah.. sebenarnya aku tak perlu minta ijin padamu.. besok aku akan mulai berbenah.." Yena yang sangat kesal, meninggalkan Bobby lalu pergi ke kamarnya.