YENA

YENA
Melarikan diri



Seorang wanita tengah berbaring di tempat tidurnya, matanya tak mau terpejam karena suasana rumahnya yang berisik dan ramai orang-orang.


Tak jarang ia mendengar suara ke gaduhan, maupun suara orang-orang yang saling bersahutan dengan suara yang cukup keras.


Ia masih tak menyangka bahwa kenyataannya esok hari ia akan menyandang status baru sebagai Nyonya Hwang.


Ia tak melakukan apapun selain memegangi ponsel di tangannya seolah sedang menunggu seseorang menghubunginya.


Raut wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan dari seorang calon pengantin wanita yang menanti pernikahan, ia malah terlihat risau dan gelisah. perasaan ragu menghantui pikirannya akhir-akhir ini Namun, apa mau dikata nasi telah menjadi bubur.


tak ada yang bisa ia lakukan selain hanya menerima kenyataan karena, keputusan ini berawal dari mulutnya sendiri.


Kedekatannya dengan kekasih yang telah di pacari selama 3 tahun itu tiba-tiba di buat goyah, hanya karena pria lain yang telah merebut seluruh hati dan pikirannya dalam kurun waktu kurang dari setahun bahkan kurang dari setengah tahun.


Wanita itu mencoba menjernihkan pikirannya, bagaimana pun ia harus menerima kenyataan dan melupakan masa lalunya dengan pria yang tak seharusnya ia pikirkan lagi itu. ia harus segera melupakan pria itu karena sebentar lagi ia akan menikah dengan kekasihnya.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


Suara seseorang mengetuk pintu kamar wanita yang memakai kaos pendek berwarna kuning dan celana Levis pendek sepaha itu.


"Siapa..." Ujar si wanita sambil berjalan mendekati pintu, di bukanya pintu kamarnya itu.


Matanya membulat ketika melihat seseorang yang di kenalnya, tengah berdiri di depan kamarnya.


Pria itu berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajahnya dan sebuah topi berwarna hitam yang menutupi kepalanya.


"Dimas......." Ucap calon pengantin wanita terkejut


"Iya,ini Aku Irene...." Dimas membuka topi dan masker yang menempel di wajahnya, ia menyerobot masuk ke dalam kamar.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Irene keheranan


"Menurut mu untuk apa aku kemari..??" tanya Dimas duduk di tepi ranjang


Dengan segera Irene mengunci pintu kamarnya, ia takut seseorang mungkin mengetahui bahwa yang masuk ke dalam kamarnya adalah pria lain, dan bukan calon pengantin pria nya.


"Kamu gila ya... Sebentar lagi aku akan menikah dengan Bobby, Dimas...kamu mengerti tidak...?!!!" Ucap Irene


"Bukankah aku pernah bilang padamu agar tidak menyebutkan pria lain di depanku..." Ucap Dimas tersenyum


"Dimas bercanda mu keterlaluan...?!!" Ucap Irene mengerutkan keningnya


"Kamu kasih ingat saat kita berbaikan di Moonlight Rainbow Fountain..?? aku bilang padamu untuk 'serahkan semuanya padaku..?' kan..??" Ucap Dimas


"Maksud mu apa Dimas..??" Tanya Irene


"Aku tak ingin menjadi pecundang lagi Irene... kamu bilang masih menyukai ku kan..? Aku juga masih menyukai mu.." Ucap Dimas


"Kamu ini apa-apaan Dimas...?!!" Ucap Irene


"Rin.. Waktu kita tidak banyak..." Dimas mengeluarkan pakaian dari tasnya.


"Baju siapa ini...?" Tanya Irene masih kebingungan dengan perintah Dimas


"Kamu mau menikah dengan ku Dan menggagalkan pernikahan mu dengan Bobby, Atau kamu akan bersikeras menikahi pria yang tidak kamu cintai Dan meninggalkan aku pria yang kamu cintai dan mencintai mu..??" tanya Dimas menatap dalam ke mata Irene, membuat gadis itu terkesima karena kata-kata yang keluar dari mulut Dimas


"Jangan bengong... kita gak ada waktu untuk melamun..." Ucap Dimas


"Apa aku salah dengar..? kamu benar-benar mencintai ku?" tanya Irene dengan mata berbinar-binar


"Sangat Irene.. Maka itu aku kemari.. pakailah innnnn.........."


Cup..


Irene memberi kecupan singkat di bibir Dimas, membuat pria itu berhenti berkata-kata.


Irene tersipu malu sembari menggaruk kepalanya


"Aku harus memakai ini kan...??!" Ucap Irene mengambil pakaian di tangan Dimas,


Irene melangkah kan kaki hendak pergi ke kamar mandi yang masih terletak di kamarnya.


Dimas menahan badan Irene agar tak terjatuh, membuat Irene kini berposisi duduk di atas pangkuan Dimas.


Keduanya saling beradu pandangan. beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu di selipkan ke belakang telinganya.


Dimas menatap jauh ke dalam mata gadis yang kini di pangkuannya itu, jantung keduanya berdebar kencang, wajah keduanya semakin dekat dan semakin melekat, membuat keduanya tak kuasa untuk membuka mata dan lebih memilih untuk memejamkan matanya.


Perlahan bibir mereka saling bersentuhan, bertaut dan saling membalas. bibir tipis Irene perlahan terbuka saat lidah Dimas mencoba menerobos masuk, menyusuri seluruh rongga di dalamnya, mereka saling mengisi dan mengecap satu sama lain.


"Irene... Ada Bobby di bawah, turun nak....?!!!" Suara Bu Risma Ibu dari Irene memanggil dari balik pintu kamar yang terkunci.


Suara Bu Risma sontak membuat Dimas dan Irene terkejut dan langsung menghentikan aktivitas mereka.


"I.. iya... mah.. Bentar lagi Irene turun..." Jawab Irene


"Jangan lama-lama....." ucap Bu Risma


"Iya mah...." Jawab Irene


Beberapa detik mereka terdiam, sambil memastikan apa Bu Risma telah pergi atau belum.


"Ibu kamu sudah pergi..?" tanya Dimas


"Mungkin...." Jawab Irene


"Untuk apa Bobby kemari malam-malam..?" tanya Dimas


"Mana ku tau... lalu aku harus bagaimana?" Tanya Irene cemas


"Kamu akan terus bertanya padaku dengan bergelayut di badanku seperti ini...?" tanya Dimas melihat posisi tubuh Irene masih bertumpu padanya.


Irene pun langsung mengerjap dan berdiri.


"Ti... tidak..." Jawab Irene gugup


"Jangan berani Nakal pada lelaki mana pun ya..." Ucap Dimas menyentil dahi Irene


"Aww.. Sakit... bodoh...." Ucap Irene kesal sambil memegangi keningnya


"Sudah ganti pakaian mu sekarang..." Kata Dimas memberi perintah


"Apa aku benar-benar harus memakai celana ini...?" tanya Irene sambil membeberkan celana cargo panjang berwarna abu-abu.


"Itu jalan satu-satunya... sudah pakai saja.." Ucap Dimas


"Ini sangat besar.. aku tidak tau apa akan muat untuk ku... biarkan aku memakai celana yang ku pakai sekarang saja ya..." Irene menggenggam jemari Dimas berharap ia mengijinkannya untuk memakai celana Levis yang ia kenakan sekarang.


"Kamu mau kabur bersama ku atau mau menggoda pria lain...." Dimas melepaskan tangannya dari Irene


"Lihatlah.. celana mu ini terlalu pendek dan terlihat sangat sexy.. kamu mau semua pria datang menggoda mu...?!! Kamu tidak berniat untuk hidup bersama ku..?!!" Ucap Dimas memegang ujung celana Irene dan tak henti menolak permohonan Irene.


"Kamu ini sangat sensitif.." Ujar Irene melangkahkan kakinya dengan bibir manyun.


Dimas hanya tersenyum melihat tingkah Irene yang begitu lucu baginya.


Selang beberapa menit kemudian, Irene kembali dengan pakaian yang di berikan Dimas.


Dengan atasan memakai jaket bomber berwarna hitam dan celana cargo berukuran besar Irene tampak seperti seorang pria berumur yang memiliki postur badan yang gemuk.


Ia menggulung rambutnya dan di tutupi oleh topi hitam.


"Aku pasti sangat jelek sekarang..." Ujar Irene


"Tidak.. kamu mau memakai pakaian apapun bagiku kamu tetap cantik.." Ucap Dimas


"Kamu merayu ku?" tanya Irene


"Tidak.. aku sedang mengajakmu kabur..." Ucap Dimas langsung menarik tangan Irene.


Dengan hati-hati mereka keluar dari kamar dan berhasil melarikan diri.