
Setelah selesai di periksa dan di beri beberapa vitamin penguat kandungan, Bobby dan Yena keluar dari ruangan Dokter Erza.
"Kamu dengar apa kata dokter kan..? makanya jangan ngeyel kalau di bilangin.." Ujar Bobby
"Siapa yang ngeyel.." Ucap Yena
"Udah salah gak ngaku lagi.." Ucap Bobby
"Bobby.." Seorang pria di depannya menyapa
"Reno..." Ucap Bobby
"Lagi ngapain Lu di sini..?" tanya Reno bersama istrinya perutnya terlihat besar
"Gua.. gua ngan... ngater.." Bobby kelihatan kebingungan saat menjawabnya.
Yena melihat raut wajah Bobby, yang terlihat gugup dan gelagapan.
Yena sangat kesal ketika melihat tingkah Bobby yang seolah sedang menyembunyikan dirinya dan menutupi statusnya, selama ini Bobby yang ingin memperjuangkan dirinya dan anak yang di kandungnya.
Namun, Sampai sekarang Bobby belum juga memberikan keputusan kapan ia akan menjadikan Yena sebagai nyonya di rumahnya bukan menjadi orang asing yang menumpang di rumahnya.
"Bobby bilang ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya namun sampai saat ini Kami belum tercatat sebagai pasangan suami-istri di negara atau pun agama, lalu apa yang di bilang 'ingin melakukan yang terbaik..?' sampai bayinya lahir pun jika Kami belum menikah tetap saja anak itu akan tercatat 'tak memiliki seorang ayah'..." Batin Yena menggerutu ia berfikir Bobby keterlaluan.
"Wih.. Karin.. sebentar lagi jadi ibu nih..." Ucap Bobby
"Dia merubah topik...?!!!" Batin Yena
"Ia bentar lagi juga brojol.." Ucap Reno tertawa sambil mencuri pandang pada gadis di samping Bobby,
Ia penasaran siapa gadis itu sebenarnya? karena beberapa kali Bobby memanggilnya ke rumah untuk memeriksa keadaan gadis itu ketika sakit, dan sekarang mereka bertemu di tempat dokter kandungan. ia terus berfikir tentang hubungan ke duanya, hingga Reno menyimpulkan sendiri bahwa mereka berdua bukan sekedar teman.
"Lu kapan Bob...??" Tanya Karin
"Kapan apa..?" tanya Bobby
"Kapan Lu Nikah... masa kapan ngelahirin.." Ucap Karin tertawa
"Nanti lah.. bisa aja Lu Rin..." Ucap Bobby
"Ya kali mau ngelahirin dulu baru nikah..." Ucap Karin
Yena merasa tersinggung dengan ucapan teman Bobby itu, meski ia sedang bercanda namun situasi Yena kini terlihat sama dengan ucapan Karin sehingga membuatnya tersindir.
Karena faktanya hingga kini ia masih orang asing bagi seluruh orang di kehidupan Bobby
"hahaha... enggaklah.." Ucap Bobby tertawa
"Enggaklah...??? maksudnya gimana sih..? dia mau gimana..?? Punya otak gak sih.. kok bisa-bisanya ngomongin kaya gitu sambil ketawa bahagia..?" Yena mulai menggelar dengan amarah dan kesedihan yang bercampur aduk yang ia pendam di dadanya.
Yena memutuskan melangkah pergi meninggalkan Bobby yang bercakap-cakap dengan temannya tanpa memikirkan perasaannya.
"Bukankah dari awal aku tak ingin memaksakan jika ia tak ingin anak ini..?? dia sendiri yang bilang ingin memperjuangkan anaknya sendiri Namun, kenapa untuk mengakuinya saja dia enggan?? Lalu kemana ucapan yang selama ini di janjikan? bahwa ia akan bertanggungjawab atas aku dan anakku..?!!" Batin Yena
Yena berjalan dengan terburu-buru, dengan air mata yang tak bisa tertahan olehnya.
Yena hanya tak percaya Bobby tertawa ketika menjawab pernikahan pada teman-temannya.
"Apa menurutnya hidup ku ini sebuah permainan..?!!!!" Batin Yena
Bobby yang tersadar Yena pergi segera menyusul.
"Eh, gua pulang dulu ya.. nanti kalau udah lahiran bilang-bilang jangan sampai enggak.." Ucap Bobby
"Siap.. nanti gua kasih tau.." Jawab Reno
Bobby berlari menyusul gadis yang menjauh darinya itu.
"Yena.. tunggu..." Ucap Bobby menghentikan langkah Yena dengan nafas tersengal-sengal
Namun, Yena terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun
"Yena.. tunggu.. jalannya jangan cepet-cepet nanti kalau kamu kepeleset gimana coba..?!!" Ucap Bobby
Namun, Yena masih mengabaikan ucap pria di belakangnya dan terus berjalan.
"Hei.. dengerin orang ngomong tuh..." Bobby menarik tangan Yena menghentikan langkahnya yang telah sampai di luar gedung Rumah Sakit.
"Apa sih.. lepas..." Ucap Yena mencoba melepaskan tangan Bobby
"Lho.. kok kamu nangis..??!! kamu nangis kenapa? ada yang buat kamu sedih?" tanya Bobby kebingungan
"Gak tau akh.. Ngaca sana..!!" Ucap Yena menyingkirkan tangan Bobby dan kembali berjalan.
"Lho, kok kamu marah sama aku emangnya aku salah apa..??" tanya Bobby menghentikan langkah Yena kembali
"Kamu gak sadar kamu ngomong apa tadi sama temen kamu..??" tanya Yena menangis tersedu-sedu
"Aku..?? aku emang ngomong apa..?? aku minta maaf kalau ada omongan aku yang salah ya.." Ucap Bobby sambil memegang kedua pipi Yena
"Aku gak butuh maaf kamu...!!" Ucap Yena
"Lho.. kok gitu..?? aku cuma nyapa temen aku doang emang ada yang salah..? kamu ini kenapa jadi begini sih..?? kita obrolin dulu ya.. gak enak di sini banyak orang.." Ucap Bobby
"Bodo amat...!!!" Ucap Yena melepaskan tangan Bobby
"Jangan gitu.. Malu kita jadi tontonan orang-orang. kita ngobrol di taman dulu ya.. atau ke mobil. kita omongin di mobil ya.." Ucap Bobby
"Gak mau.. aku mau ke laut aja.." Ucap Yena
"Mau ngapain ke laut.. gak baik.. nanti kamu masuk angin.." Ujar Bobby
"Ya udah kalau kamu gak mau aku bakal jalan kaki sampai sana..." Ucap Yena
"Ya ampun.. ya udah.. iya.. iya..." Ucap Bobby
Mereka berjalan terpisah, Yena lebih dulu dan Bobby di belakangnya.
Sampai di parkiran mereka masuk mobil, Yena semakin keras menangis.
"Suuttt.. kamu ini kenapa sih..?? aku gak ngerti lho, kamu tiba-tiba nangis terus ngambek gini dan sekarang malah bilang pengen ke laut...??" Ucap Bobby
"Udah Jalan aja...!!" Yena menangis tersedu-sedu.
Bobby pun melajukan mobilnya, seperti yang di minta Yena.
Selama perjalanan Yena terus menangis tak henti-henti..
"Kenapa ke dokter...?" tanya Yena terseguk-seguk
"Aku takut aja.. dari tadi kamu nangis gak berhenti-henti.." Ucap Bobby
"Kamu ini emang gak punya perasaan ya..!!!" Yena melempar yang satu kotak tisu wajah Bobby
"Yena..!!!!" Bobby membentak membuat Yena tersentak.
"Jangan seperti anak kecil, kamu lihat kan aku lagi nyetir nanti kalau kita kecelakaan gimana coba...!!!" Ucap Bobby dengan nada tinggi selama ini Bobby belajar tuk bersabar dengan tingkah Yena namun kali ini ia merasa Yena terlalu kekanak-kanakan.
"Kamu pikir aku memintamu untuk pergi ke laut untuk apa..????!!!! Aku ingin mati disana..!!!!" Jawab Yena dengan nada tinggi
Teg...
Bobby langsung mengijak rem mobil secaratiba-tiba.
suara klakson dari beberapa mobil di belakang nya terdengar kencang.
"Woy... Kampret Lu ya.. kalau gak bisa pake mobil jangan latihan di di sini.. Lu kira ini jalanan milik nenek moyang lu.." Seseorang dari balik kaca mobilnya memaki Bobby
"Maaf bang.. maaf.." Ucap Bobby
Ia mulai mengemudikan mobilnya kembali, dan memutar kemudinya lalu berhenti di lembah kecil dan memutar kunci mobilnya hingga mobil mati.
"Kamu kalau ngomong itu di jaga..!!" Ucap Bobby kesal
"Kamu pikir kamu udah ngejaga omongan?!!!" Ucap Yena ikut kesal Karena Bobby seperti pura-pura tidak tahu
"Kamu itu dari tadi ngomong emosi terus kenapa sih?? Jangan kaya anak kecil Yena.. kamu itu udah dewasa..." Ucap Bobby
"Jangan pura-pura gak tau lah.. kamu gak nyadar apa yang kamu omongin sama temen-temen kamu tadi..???" tanya Yena
"Aku ngomongin apa? aku cuma nyapa Karin.. kenapa kamu cemburu..??" Tanya Bobby masih belum mengetahui inti penyebab Yena marah.
"Aku lagi gak ngomongin cemburu atau enggak.. Bob..!!" Jawab Yena
"Ya terus apa..? kalau kamu gak ngomong aku gimana bisa tau..?!!" Ucap Bobby
"Aku tanya sama kamu sekarang.. maksud kamu buat mempertahankan aku tuh apa?" tanya Yena
"Aku udah ngomong ke kamu beberapa kali.. ratusan kali bahkan.. aku cuma ingin mempertangung jawabkan perbuatanku.." Ucap Bobby
"Cuman..?? Okey.. aku udah ngambil keputusan. Ayokk.. kita lanjutin perjalanan ke laut.." Ucap Yena
Bobby menggeleng-gelengkan kepalanya, ia bingung harus berkata seperti apa pada gadis di depannya kini.
"Aku harus bilang seperti apa sih.. supaya kamu luluh hemm..??" tanya Bobby meredam emosinya, ia mengelus rambut Yena.
"Udah lah lepasin.." Ucap Yena menyeka air matanya dan menolak di sentuh oleh Bobby
"Aku kan selalu bilang ke kamu, aku mau kita ngerawat bayinya bareng-bareng.. aku gak mau anak aku menderita kaya kamu atau pun aku.. aku ingin dia memiliki orang tua yang utuh.." Ucap Bobby mengelus perut Yena
Yena menghela nafas dalam-dalam, sambil melihat ke luar jendela mobil.
Rasa sakit hati dari ucapan Bobby dan temannya masih membekas di hatinya.
"Terus kenapa kamu gelagapan, saat teman kamu menanyakan apa yang kamu lakukan di rumah sakit tadi..?? dan kamu bilang nganter..?? seolah-olah kamu menyembunyikan hubungan kita.. kamu bilang mau tanggung jawab tapi sekedar mengakui saja kamu gak bisa terus apa yang kamu sebut tanggung jawab...??" Tanya Yena
"Kok kamu mikirnya ke sana sih.. aku cuma kaget aja kenapa Reno dan Karin ada di sana.. bukan aku gak mau mengakui... selama ini aku tanggung jawab sama kamu dan bayi kita kenapa di mata kamu, aku terus gak ada apa-apanya sih?? aku selama ini jagain kamu.. tapi, kamu gak pernah liat pengorbanan aku..." Ujar Bobby
"Harusnya setiap hari aku berterimakasih sama kamu udah kasih aku tempat tinggal, kasih aku makan dan perhatian.. Karena kamu bertanggung jawab begitu kan..??!!"
Bobby mengusap wajahnya, ia mencoba meredam emosinya yang sempat terpacu kembali.
"Udahlah.. marah-marah itu gak baik buat kandungan kamu Yena..." Ucap Bobby
"Kamu cuma khawatir sama anak kamu aja.. kamu gak ngehargain perasaan aku sama sekali.. kalau kamu emang suka anak kecil, adopsi aja di panti asuhan gampang kan???" ucap Yena
"Gak ngehargain perasaan kamu kaya gimana sih Yena..." Ucap Bobby
"Saat Karin tanya tentang pernikahan kamu bilang 'nantilah...' dengan santainya. dan ketika Karin bilang 'melahirkan dulu baru menikah..' kamu malah tertawa dan bilang itu gak mungkin...???. Kamu gak mikir perasaan aku di sana kan..??, Saat ini aku cuma orang asing yang berbadan dua yang gak pernah kamu akui, aku gak pernah maksa kamu buat tanggung jawab.. tapi kamu yang maksa buat mempertahankan anak ini dan sekarang mana yang kamu sebut tanggung jawab?, apa hanya sampai memberi tempat tinggal dan makan saja tanggung jawab mu itu??, bahkan kamu tak memikirkan badanku sudah mulai melebar.. kamu bilang ingin menjadi orang tua, setelah anak ini lahir pun jika kamu tetap seperti ini kamu tetap orang asing baginya nanti..!!" Ucap Yena
"Aku hanya bergurau dengan Karin.. ketika aku bilang 'nantilah', bukan berarti aku tidak memikirkan kamu.. ketika Karin bilang 'melahirkan dulu baru menikah' aku gak benar-benar menyikapinya dengan serius karena dia juga hanya bercanda.. maka akupun menyikapinya dengan tertawa dan berkata bahwa itu tidak mungkin.. semua hanya gurauan kamu tak usah tersinggung.." Ucap Bobby
"Omong kosong... kamu pikir hidupku permainan yang bisa di jadikan bahan tertawaan?? Kamu tidak berfikir aku akan sangat sakit hati karena ucapan mu kan??" Ucap Yena
"Aku harus bilang apa lagi padamu...." Ucap Bobby
"Cukup...!! aku sudah mengerti...." Ucap Yena
"Apa yang kamu mengerti..??!! aku tidak mengerti..??!!" tanya Bobby
"Lanjutkan perjalanan..." Ucap Yena
"Perjalanan kemana??!!" tanya Bobby
"Ke laut.." Jawab Yena dengan nada datar
"Kamu gila..?? kamu benar-benar ingin mati..??!!" tanya Bobby
"Kalau kamu gak mau mengantarkan aku kesana aku bisa jalan kaki.." Ucap Yena
"Oke.. oke.. Apapun kamu mau kita lakukan, kamu ingin menikah kan?? jika kamu mau kita bisa menikah besok.." Ucap Bobby
"Untuk apa..?? bahkan kamu malu untuk mengakui ku apalagi mengakui anakku nanti..!!??" Ucap Yena
"Kamu ini sangat sensitif Yena.. dia anakku juga Yena..." Ucap Bobby penuh penekanan.
Yena menutup kupingnya
"Akh.. aku sangat benci mendengar kata-kata itu sekarang.." Ucap Yena
"Kamu ini mau nya apa...???!!! aku sudah mengalah dari tadi.. tapi, kamu masih saja keras kepala..." Ucap Bobby
"Aku bilang ingin pergi ke laut.. kamu tuli...?!!" Ucap Yena
"Ibu hamil itu gak boleh berkata kasar...!!" Gumam Bobby
"Ayokk cepet...!!" Ujar Yena
"Kamu beneran mau mati...?? Jangan gila Yena... ini cuma hal sepele, kamu langsung mau mengakhiri hidup mu..?!!" Ucap Bobby
"Aku hanya ingin Menjernihkan pikiran.....!!" Ucap Yena
"Oh, begitu.. Baiklah.. Jangan berteriak-teriak terus gak baik buat ibu hamil...." Ucap Bobby memutar kunci mobilnya.