
Dengan keringat bercucuran hingga membuat rambut pria itu basah.
pria itu terus menggowes sepeda nya, sedangkan gadis yang membonceng di depannya terus mengoceh tanpa henti, hingga sampailah mereka di depan kediaman pria berjaket putih itu.
"Gila.. lu makan apa sih?, berat banget?!!" Ucap pria itu
Pria itu turun dari sepeda nya, di ikuti Yena yang juga turun dari sepeda.
"Kamunya aja yang badannya kecil," Ucap Yena
"Badan gua gede ya, lu mau liat?!!. lagian lu sama gua juga tuaan juga gua, gak sopan banget dari tadi lu.." Ucap pria tersebut
"Kapan aku gak sopan?" tanya Yena
"Lu berisik..!!! di sepeda aja lu ngomong terus, gak ada berhentinya..!! untung aja kuping gua yang masih sehat ini gak budek" Ucap pria itu.
"Yeh, cuma gitu juga.. Kalo boleh tau, emang usia kamu berapa?" tanya Yena
"28 tahun.." Pria itu menjawab
"Sudah ku duga.." Ucap Yena
"Duga apaan lu?" tanya pria itu
"gak apa-apa.." Ucap Yena tersenyum
Bobby pun menstandarkan sepedanya, yang ia taruh di depan rumahnya.
Bobby pun melangkah masuk ke rumah, di ikuti langkah Yena mengikutinya dari belakang.
"Ngomong-ngomong nama gua Bobby. kalo lu?" tanya Pria yang baru di ketahui namanya Bobby.
"Aku Yena.." Ucap Yena tersenyum.
"Oke.. Yena.. ini rumah gua, di depan mobil gua belum di cuci, di dapur ada kucing gua namanya Kitty belum di kasih makan, lu disini hanya perlu bersih-bersih, apa yang harus di bersihkan lu bersihin. kalo lu bisa masak lu boleh masak, oh ya jangan nunggu gua pulang karena gua orang sibuk." Ujar Bobby
"jadi aku disini jadi pembantu.." gumam Yena dengan suara pelan
"terus menurut lu?, jadi istri gua?, jangan mimpi deh lu..!!" kata Bobby
"Idiiiihhh pede banget..!!, apa kamu punya makanan?, bisakah kita makan?, perutku lapar sekali dari pagi aku belum memakan apapun.." Ucap Yena memegang perutnya dengan kedua tangannya.
"Ya sudah, lu tunggu bentar.." Ucap Bobby mulai mengutak-atik hp nya.
Tanpa di persilahkan oleh pemilik rumah, Yena pun duduk di kursi ruang tamu.
"Lu gak punya hp?" tanya Bobby
"Hp ku hilang di bandara.." Ucap Yena
"Ouh..." Bobby menjawab singkat
Beberapa lama kemudian, seorang jasa pengantar makanan atau lebih sering di sebut Go-food datang, dengan jaket hijau khas kurir Go-food yang menggunakan sepeda motor, ia berhenti di depan rumah Bobby.
ia membawa bungkusan besar di tangannya.
Bobby pun yang mengetahui itu, langsung menghampiri, mengambil bungkusan yang Kuring itu bawa dan melakukan pembayaran kepada kurir tersebut.
Kurir yang telah menjalankan tugasnya itu pun pergi dengan sepeda motornya, setelah ia mendapatkan upah dari konsumennya.
Bobby menghampiri Yena, dengan bungkusan yang di pegangnya.
"Itu apa?" tanya Yena?
"Bangke kucing.." Ucap Bobby
"Jorok iihh.." Yena menutup hidungnya
"Ya makanan lah, katanya lu laper.." Ucap Bobby sambil tersenyum, seolah meledek Yena yang gampang percaya dan gampang di bohongi.
"Senyumnya jangan ngeremehin gitulah..!!" Ucap Yena
"Ya lu, gampang percaya.. gampang banget di boongin. udah ayok makan..!!" Ucap Bobby.
Yena hanya terdiam, lalu mengikuti langkah Bobby ke sebuah dapur di rumahnya.
Yena duduk di kursi tempat makan dan langsung membuka bungkusan yang di letakan oleh Bobby di atas meja.
Sedangkan Bobby sendiri mengambil beberapa sendok, garpu, piring dan mangkok.
Betapa terkejutnya Bobby, saat ia kembali dengan beberapa alat makan yang ada di tangannya, yang hendak di gunakan untuk makan bersama Yena, Yena malah tengah asyik melahap Ayam goreng crispy di kedua tangannya, pipinya membulat dengan mulutnya penuh makanan.
"Hehe..." Yena tersenyum
Sepertinya gadis itu sangat lapar, hingga ia tak menunggu aba-aba lagi untuk siap melahap makanan di depannya.
Bobby yang melihat tingkah gadis yang 10 tahun lebih muda darinya, hanya geleng-geleng kepala.
"Jorok banget sih lu.. cuci tangan dulu sana..!!" Ucap Bobby sambil meletakkan alat makan di atas meja.
"Tangan aku bersih kok..!!" Jawab Yena memperlihatkan kedua tangannya ke hadapan Bobby.
"Gak.. sana cuci dulu, Jorok tau gak...?!!"
Bobby menarik kedua tangan Yena menuntunnya ke wastafel untuk mencuci tangannya yang telah kotor oleh minyak dan saus dari Ayam yang ia makan.
Yena hanya menurut, ia memonyongkan bibirnya ketika Bobby lengah.
"Gua liat ya.." Sindir Bobby
"Hehehehe.." Yena cengengesan
Gadis itu sangat imut dengan seribu tingkahnya.
"Udah kan..?" tanya Yena memperlihatkan kedua tangannya
"Okey..!!" Jawab Bobby Singkat
Mereka pun duduk di meja makan dan menaruh beberapa ayam ke piring kosong hingga terisi penuh, membuka Sup Daging dari bungkusnya ke dalam mangkuk, tak lupa membuka Saus Tomat dan Saus Pedas yang di buka lalu di ruang ke piring kecil.
Yena pun mengambil beberapa centong nasi mengisi piringnya, Bobby yang melihatnya hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Lu kalau bertamu di rumah orang kaya gini?" tanya Bobby dengan senyuman di bibirnya
"Gak juga, cuma urat malu ku sepertinya sudah pensiun sedari niatku untuk bunuh diri tadi.." Ucap Yena tanpa menatap Bobby dan sibuk dengan makanan di depannya.
"Ouh.. oke gua ngerti.. makan yang banyak, biar besok urat malu lu kembali bekerja ke tempatnya.." Ucap Bobby menaruh sepotong ayam goreng di piring Yena.
Yena yang melihat perlakuan Bobby terdiam menghentikan makannya.
Entah mengapa, hatinya tersentuh, ia merasa Tuhan masih menyayanginya dengan mengirimkan pria yang baik hati yang menyelamatkan hidupnya dan menunjukkan bahwa di dunia ini masih ada orang baik sepertinya, memberikan ketulusan meski mereka baru pertama kali bertemu.
ucapan Bobby dan perlakuannya, yang menaruh ayam goreng di piringnya, membuat hati gadis polos itu terenyuh.
Air matanya seketika menetes.
Bobby yang sedang menyiapkan untuk makanannya sendiri terheran-heran.
"Heii.. kenapa lu malah nangis?" tanya Bobby
"Benarkah? Ah.. entahlah," Yena tersenyum menyeka air matanya.
Gadis itu tak menyadari, bahwa ia telah meneteskan air mata yang membasahi pipinya.
"Jangan buat gua merasa bersalah lah.." Ucap Bobby menghentikan makannya.
"Tidak.. tidak.. aku minta maaf, silahkan lanjutkan makannya. akupun akan kembali makan, bukankah ini enak sekali?" Yena kembali melahap nasi di depannya dan tersenyum.
Bobby yang melihat tingkah Yena, kembali melahap makanannya.
"Apa kamu tinggal disini sendiri?" tanya Yena
"Yappss.." Jawab Bobby fokus pada makanan di hadapannya.
"Kedua orang tua mu kemana?" tanya Yena
"Ibu gua pergi.. setelah tau Ayah gua nikah lagi.." Ucap Bobby dengan santai sambil mengunyah makanannya, tiada beban di raut wajahnya untuk menceritakannya, ia sungguh santai.
"Oh, sorry.. sorry.." Ucap Yena merasa tak enak hati
"gak apa-apa biasa aja kali.." Ucap Bobby dengan Senyumannya.
Yena terdiam melihat Bobby yang terlihat begitu baik-baik saja, apalagi dengan senyuman di bibirnya, seolah ia tak mempermasalahkan semua yang pernah ia alami di keluarganya..
"Ayo makan.. habiskan.." Ucap Bobby, membuat Yena tersadar dari pikiran di benaknya.