YENA

YENA
Yang paling penting dalam suatu hubungan adalah perasaan aku dan kamu..



Dimas mengejar lrene di tariknya tangan Irene, sehingga wanita itu menghadap ke arahnya.


"Irene.. berhenti.. kenapa kamu harus bersikap seperti itu?" tanya Dimas


"Apa yang kamu maksud bersikap seperti itu..? aku hanya mengatakan kenyataan.." Jawab Irene melepaskan tangan Dimas


"Aku memutuskan mu karena merasa tidak enak dengan Bobby.. kamu tau itu kan..." Ujar Dimas


"Apanya yang tidak enak? kamu memikirkan perasaan teman mu tapi kamu tidak memikirkan perasaan ku? begitu kah maksudmu? kamu pikir dengan kamu memutuskan ku semua masalah akan selesai?" Ucap Irene


"aku juga selalu cemas padamu.. apa yang akan orang tua mu bilang, jika kamu putus dengan Bobby.. mereka hanya tau kamu berpacaran dengannya selama ini" Ucap Dimas


"Orang tua ku selalu mendukung apa yang aku lakukan.. mereka tak pernah melarangku untuk berhubungan dengan siapapun.. lalu kenapa kamu mencemaskan hal yang tak berguna?!! hidupku cukup kesulitan karena kamu.. lalu kenapa kamu datang dan berpura-pura baik padaku?!" Ucap Irene terisak tangis


"Irene kamu tau kan.. kamu dan aku sempat di benci oleh Bobby kamu sempat putus dengannya karena aku"


"Ya, aku sempat putus dengannya karena aku fikir aku akan lebih bahagia bersamamu.. tapi, kamu malah mementingkan kebahagiaan orang lain. kamu tau aku tak apa-apa ketika Bobby membenciku, aku lebih sakit hati saat kamu meninggalkan ku dengan alasan konyol itu.. kamu pikir aku percaya??!!" Ucap Irene menyeka air matanya


"Irene aku minta maaf.. aku sangat merasa bersalah saat itu.." Ucap Dimas


"Minta maaf..??? untuk apa? bahkan kamu dengan mudahnya melupakan ku dan menjadikan gadis lain sebagai kekasihmu.. kamu bilang kamu merasa bersalah saat itu.. kamu merasa bersalah pada Bobby... tapi tidak pernah merasa bersalah padaku..?!!! padahal kita telah berjanji untuk selalu bersama saat itu, jika kamu memikirkan perasaanku kamu Takan tega meninggalkan ku.. kamu fikir aku bodoh..?!! Dimas kamu tidak tahu..?? yang paling penting dalam suatu hubungan adalah perasaan ku dan perasaanmu.. bukan perasaan dia.." Kata Jessica dengan linangan air mata, ia mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam selama ini, Hatinya begitu sakit dan hancur.


Dimas hanya diam mematung dengan menekuk kepalanya, ia mencerna semua yang di katakan Irene memang ada benarnya.


Dimas baru menyadari setelah Irene mengatakan semua itu, Dimas baru sadar bahwa ia tak pernah memikirkan perasaan mantan kekasihnya itu, ia hanya terus mengkhawatirkan persahabatannya dengan Bobby yang hancur karena seorang gadis.


Entah kenapa hatinya juga terasa sakit.


harusnya ia tak seperti itu mengingat statusnya sekarang sebagai kekasih orang lain.


Irene melangkahkan kakinya namun, Dimas menarik tangannya.


"Dimas.. lepasin..." Ucap Irene mencoba melepaskan tangannya


"Ini sudah malam.. biar aku mengantarmu pulang.." Ucap Dimas


"Aku bisa di jemput supir.." Lugas Irene, menyingkirkan tangan Dimas


"Jangan keras kepala Irene.. ini sudah malam, kamu akan menunggu supir sendirian?!! kamu tidak takut orang jahat mendekati mu..?!!!" Ucap Dimas


"Bukankah kamu termasuk orang jahat itu..." Ujar Irene


"Sudahlah Irene.. kamu bisa marah kembali padaku esok hari.. sekarang aku akan mengantarkan mu pulang.." Dimas menarik paksa tangan Irene membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


Baik Dimas maupun Irene hanya berdiam diri di dalam mobil, tanpa ada yang memulai percakapan lebih dulu.


Irene hanya menggenggam pergelangan tangannya yang terasa sakit karena Dimas menariknya sangat kencang, membuat tanda biru yang melingkar di tangannya.


Air mata gadis itu tak henti-hentinya mengalir, meski hati dan logikanya menyuruhnya agar ia tidak menangis di depan Dimas.


Dimas yang mengemudikan mobilnya hanya diam fokus pada jalanan tanpa rasa simpati pada wanita di sampingnya, jangankan untuk menyeka air mata wanita itu.. menoleh saja tidak.


Sampailah mobil yang di kemudikan Dimas di depan gerbang rumah Irene..


Dimas keluar dari mobilnya, ia berniat untuk membukakan pintu untuk Irene.


Namun, Irene keluar dan membuka pintu itu sendiri seolah menolak perhatian Dimas.


"Sampai jumpa.." Ucap Dimas


"Dimas..." Irene menghentikan langkah Dimas yang hendak kembali ke dalam mobilnya


"Aku masih menyukaimu..." Ucap Irene menyembunyikan tanda biru di lengannya.


Dimas menundukkan kepalanya, ia bingung apa yang harus ia katakan.


"Irene saat berpacaran denganmu aku merasa nyaman dan bahagia di dekat mu..........."


"Cukup..." Irene memotong pembicaraan Dimas, seolah tau apa yang selanjutnya akan ia katakan.


Irene berlari ke dalam rumahnya mengunci pagar rumahnya.


"Irene.. kamu mau kemana... aku belum selesai bicara... Irene..."


Irene tak menghiraukan Dimas yang memanggil-manggil namanya, ia berjalan lurus masuk rumah dengan mata basah.


Catatan penulis :


Hai.. aku Kayra im menyapa kalian lagi yang membaca novel ku.


Aku sedang belajar bahasa di suatu lembaga dan liburku hanya hari Jumat dan Minggu..


aku mungkin Takan semaksimal hari liburku, tapi aku akan usahakan untuk up setidaknya satu episode perhari.


jangan lupa untuk like dan meninggalkan komentar ya, agar aku bisa mengkoreksi lagi novelku.