YENA

YENA
Kenapa harus datang kembali, di saat aku berniat melupakan mu?



Seorang wanita cantik tengah berjalan mengamati pakaian-pakaian yang terpajang di butiknya dengan sebuah buku di tangannya, ia berharap dapat membuat inovasi terbaru dalam gaya berbusana.


"Irene..." Seseorang memanggil namanya dari belakang


Irene menoleh ketika namanya di sebut, ia terdiam seolah tak percaya dengan apa yang di lihat matanya.


"Untuk apa kamu kemari?, bukankah semuanya telah jelas?" tanya Irene, dadanya tiba-tiba terasa sesak sejak orang yang berdiri dengan jarak satu meter darinya itu muncul di hadapannya.


"Jelas apa..? apa yang jelas menurut mu..?" tanya sesosok pria yang yang membuat Irene merasa tak nyaman itu.


"Aku akan menikah Dimas.. berhentilah untuk terus membuat ku ragu.." Ucap Irene menatap pria yang ternyata mantan kekasihnya Dimas


"Ragu..? Jika kamu ragu, kenapa kamu harus menikah?" tanya Dimas


"Cukup Dimas.. kenapa kamu tidak pergi saja.." Ucap Irene lelah berkata-kata


"Kenapa aku harus pergi Rin? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu.." Ucap Dimas


"Apalagi yang mau kamu bicarakan?, sudah jelas kamu memiliki kekasih dan aku juga mencoba melupakan kamu dan kenangan kita lalu kenapa kamu harus kembali ke hidupku, Setelah aku memutuskan untuk segera menikah dengan pria lain?!!" Ucap Irene, rasa sakit di hatinya terus menjalar tak terhentikan. Perlahan air matanya mengalir membasahi pipinya.


Dimas menelan ludah bulat-bulat, melihat mantan kekasihnya itu menangis karena dirinya. Dimas melangkahkan kaki, hendak mendekati Irene..


"Cukup Dimas.. berhenti disana.. aku tak mau terlalu dekat dengan mu.." Ujar Irene membuat langkah Dimas terhenti dan mengurungkan niatnya untuk menghapus air mata wanita itu.


"Rin.. aku sadar, aku salah, aku minta maaf, Jika kamu tidak pernah bilang padaku kesalahan ku, mana bisa aku tau Rin?. Sedangkan di pikiran ku kamu akan bahagia walau bukan bersama ku. Irene.. aku juga manusia Rin.. aku bukan malaikat yang tak perlu bicara aku harus tau apa yang ada di hatimu.." Ucap Dimas.


"Sudahlah Dimas.. kamu tidak berhak bicara lagi tentang hati denganku.. sedangkan hati kamu saja sudah bukan milikku.." Ucap Irene


"Aku berhak Rin.. aku yakin aku masih berhak.. Apa ini alasan kamu terus menghindari ku? kamu mengganti nomor mu, kamu memblokir akunku, aku bahkan belum menjawab pertanyaan kamu tempo hari.. aku tau kamu masih menyukaiku Rin.." Ujar Dimas


Sebuah mobil hitam berhenti di depan butik milik Irene, dengan segera Irene menyeka air matanya mendengar klakson mobil yang di bunyikan mobil itu.


Langkahnya terhenti, ketika sebuah tangan menghentikan langkahnya.


"Kenapa tidak biarkan saja dia melihat kita? bukankah kita memang pernah main di belakangnya dia sebelumnya?" Ucap Dimas menggenggam tangan Irene


"Maksud kamu apa Dimas?" Irene berontak melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dimas


"kamu sungguh kurang ajar?!!" Irene melayangkan sebuah tamparan di pipi Dimas


PLLAKKK...!!!


Tamparan mendarat di pipi kiri Dimas.


"Jangan pernah memandang ku rendah hanya karena aku pernah berselingkuh di belakang Bobby, kamu pikir aku sejahat itu harus mengulanginya kembali?!!. Aku gak nyangka kamu akan menganggap aku sebagai wanita yang tidak baik..." Ungkap Irene tersenyum masam dan pergi meninggalkan Dimas.


"Irene.. aku tidak bermaksud mengatakan itu.." Ucap Dimas


Irene menghampiri pria yang baru saja keluar dari mobil, memeluk pria itu dengan mesranya, senyuman dia torehkan d hadapan pria itu.


Dimas mengamatinya dari kaca jendela, Entah kenapa hatinya terasa terbakar melihat Irene begitu mesra dengan kekasihnya itu.


Dimas mengepalkan tangannya, ia merasa marah kenapa Irene hanya bisa menangis di hadapannya, sedangkan wanita itu terus tersenyum di depan kekasihnya.


Jelas-jelas Dimas tau bahwa Irene hanya menggunakan senyum palsu untuk membuat ia menyesal dengan perbuatannya, Ia juga masih meyakini hati Irene sepenuh masih bertuliskan namanya seorang.


Ia masih mengingat kata-kata Irene saat memutuskan untuk memilihnya ketimbang Bobby yang telah di pacarinya selama 3 tahun itu.


"Irene.. aku masih ingat saat kamu bilang, jatuh cinta itu bukan seberapa lama saling mengenal tapi seberapa lama perasaan itu bertahan, berkembang dan tak pernah berubah, dan aku yakin kamu Takan semudah itu berubah Rin..." Gumam Dimas