YENA

YENA
Ibu...??



Setelah menempuh perjalanan yang di bumbui pertengkaran sampailah mereka ke pesisir pantai "Minna Beach"



"Kita pulang saja ya.. hari sudah mau gelap.." Bujuk Bobby


"Gak.. aku mau disini.. kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri.. aku tidak pernah menyuruh mu untuk menunggu ku.." Ujar Yena keluar dari mobil.


"Kenapa dia sangat pemarah sekali..." Gumam Bobby


"Aku masih bisa mendengar mu..." Sindir Yena


"Maaf..." Sahut Bobby


Bobby keluar dari mobilnya.


"Jangan berjalan sendirian.. bersama dengan ku..." Ujar Bobby mengejar langkah Yena


"Bukannya kamu mau pulang..? sana pulang..." Ujar Yena


"Kamu pikir aku tega meninggalkan mu sendirian disini..?!!" Ucap Bobby


Yena hanya diam menatap ke arah matahari yang yang mulai terbenam, pemandangan yang sangat indah sore itu.


Deburan ombak menghantam tebing dan bebatuan pantai Minna yang sedang besar menghantam gugusan karang dan batu disekelilingnya.


"Bukankah ini terlalu dingin..? kamu pakai jaket ya.." Ucap Bobby


"Tidak usah.." Jawab Yena ketus


"Kamu pasti kedinginan kan..?" tanya Bobby memegang tangan Yena untuk memastikan


"Aku tidak kedinginan..." Jawab Yena menangkis tangan Bobby


Bobby menghela nafas panjang melihat tingkah Yena yang seperti itu.


Mereka melanjutkan berjalan menyusuri pinggiran pantai.


Pasir pantai berwarna putih bercampur kerikil kecil. Rindangnya pepohonan hijau dengan warna air lautnya yang hijau pirus menambah kesan menenangkan.


Terparkir banyak perahu nelayan di bibir pantai menjadi pemandangan yang lumrah. Disana juga terdapat warung-warung milik penduduk sekitar,


Angin sepoi-sepoi mengajak pepohonan menari-nari mengiringi detik-detik pergantian dari sore ke malam hari. Pemandangan Jingga memanjakan mata siapapun yang memandang. Matahari dengan malu malu menenggelamkan dirinya di ujung cakrawala.


Serasa menyampaikan selamat atas kerja keras dan perjuangan yang sudah dilewati hari ini.


Yena menatap Sunset dengan perasaan hati yang luas, seolah ia menitipkan separuh beban hidup dan rindunya pada kedua orangtuanya pada matahari yang tenggelam.


Langit mulai gelap, lampu di sekitaran pantai dan dari rumah rumah warga mulai menyala. Menandai bahwa malam telah tiba.


"Kamu mau sampai kapan seperti ini...??!! ini sudah malam...!!" Ucap Bobby


"Aku sudah bilang untuk tidak menunggu ku kan..?!!" Jawab Yena


"Yena ini sudah malam.. kita pulang ya.." Ajak Bobby menarik tangannya Yena.


"Aku sudah bilang aku tidak mau..." Ujar Yena melepaskan tangannya


"Jangan mencari masalah.. ayokk pulang kamu mau sakit terus-terusan seperti ini...??!!" Ujar Bobby


"Itu bukan urusan mu..." Ucap Yena


"Ya sudah kita makan dulu ya.. kamu belum makan apapun sedari siang.." Ucap Bobby menggandeng tangan Yena


"Aku bisa berjalan sendiri...!!" Ucap Yena ketus


"Dasar Keras kepala.." Gumam Bobby


Mereka berhenti di sebuah tempat makan dan memesan beberapa makanan di sana.


"Makannya pelan-pelan.." Ucap Bobby melihat cara makan Yena yang terkesan terburu-buru.


Bobby menyelipkan helaian rambut yang terlihat menganggu saat Yena makan.


"Harusnya tadi kamu iket rambutnya..." Ujar Bobby


"Uhukk.. Uhukk.."


"Aku bilang apa.. pelan-pelan makannya.." Ujar Bobby membantu Yena untuk minum.


Beberapa teguk air putih di minumnya, hingga ia merasa mulai baikan.


rasa perih di hidung dan dadanya membuat Yena menitihkan air matanya.


"Kamu.. ngomong terus sih..." Ujar Yena menyalahkan Bobby


"Kok aku sih...???" Ucap Bobby


"Ya terus siapa lagi.. kamu cerewet dari tadi ngomong terus.." Ucap Yena


"Ya udah maaf.. aku yang salah.." Ucap Bobby mengalah


"abis makan kita pulang ya..?" Ujar Bobby


"Gak mau.." Jawab Yena


"Yena ini udah malem kamu mau tidur dimana...???!!" Ucap Bobby


"Ya udah kalo kamu mau pulang, pulang aja sana..." Jawab Yena


"Ya udah kita cari penginapan aja ya..." Ucap Bobby


"Aku gak mau tidur sama kamu.. kamu ngerti gak sih.." Ujar Yena


"Terus kamu mau tidur sama siapa?? sendiri..?? gak.. gak boleh.. kalo malem-malem kamu malah ke laut gimana coba?!!" Ucap Bobby


"So ngatur..." Ketus Yena


"Ya jelas aku ngatur buat kebaikan kamu.. kita tidur di mobil mau..?" ajak Bobby


"Gak.." Jawab Yena


"Terus kamu mau tidur dimana?" tanya Bobby


"Nek, aku boleh menginap semalam saja di sini..??" Tanya Yena pada seorang nenek yang mengantarkan makanan ke meja makannya


"Kami tidak mempunyai cukup ruang tapi jika kamu mau, kamu bisa tidur dengan anak ku.." Ucap nenek itu


"Baiklah aku mau Nek," Jawab Yena tersenyum


"Kamu gila..?? bagaimana aku bisa mempercayai mu pada orang lain??!! bagaimana jika dia pria..??!!! tidak.. tidak.. boleh.." Ucap Bobby


"Yume...." Nenek itu berteriak memanggil anaknya.


Bobby menahan tangan Yena agar tidak pergi.


"Kamu jangan aneh-anehlah.." Ucap Bobby


"Hanya semalam saja.." Ucap Yena mencoba lepas dari genggaman tangan Bobby


"Ada apa Bu..." Seorang wanita paruh bawa keluar dengan celemek yang menggantung di Banda nya.


Yena berhasil lepas dari Bobby dan langsung menubruk badan ibu-ibu yang baru keluar dari dapurnya itu.


"Bolehkah aku menginap di sini..?? sehari saja.." Ucap Yena tersenyum pada ibu bernama Yume itu.


"Yena.. kamu.............." Bobby yang hendak menarik Yena kembali, terhenti ketika melihat wajah seorang ibu-ibu yang di datangi oleh Yena ternyata wajah yang tak asing baginya


"ibu..........." Gumam Bobby pelan


Ia sangat terkejut melihat Ibu kandungnya yang meninggalkannya sedari kecil kini berdiri di depannya, wajahnya tak secantik dulu banyak keriputan yang bermunculan di wajahnya, penampilan sangat sederhana meski begitu Bobby masih dapat mengenali ibu kandungnya sendiri.


Yena bersembunyi di balik punggung Bu Yume, ia enggan untuk pulang.


"Biarkan dia tidur disini.. ibu yang akan menjaganya.." Ucap Bu Yume masih menyadarkan diri bahwa ia telah melihat putranya kembali.


"Baiklah.. nanti pagi aku akan menjemputnya kembali" Jawab Bobby meninggalkan tempat itu.


Rasa kekecewaan pada ibunya muncul, ia mengingat kembali saat ibunya meninggalkan ia sendirian di rumah.


Ada rasa rindu dan haru yang ia pendam jauh di lubuk hatinya Namun, rasa kecewanya membentengi semua itu membuat ia tak sanggup walau hanya sekedar menatap ibunya.