YENA

YENA
Membujuk Yena



Dengan pelan-pelan Bobby menekan handle pintu, ia mendorong pintu hingga terbuka dengan hati-hati.


Ia melihat seseorang yang tertidur badan yang tertutup selimut penuh.


Dengan pelan-pelan ia melangkahkan kaki takut menimbulkan suara, takut membuat wanita yang menutup dirinya dengan selimut itu terbangun karena suara kakinya.


Beberapa langkah ia masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya.


Ia berjalan ke meja di samping tempat tidur, menaruh gelas berisi susu.


Tekk.......


Suara gelas yang mendarat di meja.


"Bu Yena udah bilang gak minum susu....." Ucap Yena membuka selimutnya dan mendapati suaminya kini berdiri di depannya yang ia kira sebagai mertuanya.


Matanya membulat, lalu ia kembali menutup diri dengan selimutnya menyisakan lubang sedikit lorong di selimutnya



"Kok gak mau minum susu sih..." Ucap Bobby duduk di samping Yena yang mengurung diri di dalam selimut.


"Kamu ngapain kesini.. aku gak mau liat kamu lagi.." Ucap Yena


"Heii.. udah dong ngambeknya.. maafin aku ya, aku udah jahat banget sama kamu hari ini.." Ucap Bobby


"Kamu baru tahu kamu jahat..??" Ucap Yena


"Yeh.. Sini doang liat aku dulu.. aku bener-bener minta maaf. aku rela deh.. mau kamu pukul, mau kamu tampar.. kamu hukum aku kaya gimanapun aku rela.. biar kamu lega, gak ngambek kaya gini lagi.." Ucap Bobby


"Ya, udah sana tidur di luar.. aku kan udah bilang aku gak mau liat kamu lagi.." Ucap Yena


"Kalau kamu gak mau liat aku lagi berarti kamu masih dendam sama aku.. liat aku dulu dong.. sini..." Bobby coba memasukan tangannya ke dalam selimut mencari tangan Yena


"Eh.. akh... hahhahha... apaan sih.." Yena tertawa kegelian karena Bobby malah menyentuh perut Yena


"Nih.. rasain Jail sih..." Ucap Yena mengigit tangan Bobby


"A... AAAAAAAA........" Bobby teriak kesakitan


"Kamu ini Drakula atau apa sih.. maen gigit aja.." Ucap Bobby memegang tangannya yang keluar dari selimut dengan bekas gigitan.


"Kalo aku Drakula terus kamu yang jahat apa Hah..?!!" Ucap Yena yang masih kesal bekas kejadian tadi sore


"Ya, makanya itu aku minta maaf.. aku harus bilang kaya gimana sih sama kamu sayang.. kamu tuh salah faham.. salah faham.. aku ngomong sampe mulut aku berbusa pun kamu masih gak percaya sama aku.." Ucap Bobby


"Gak usah sayang-sayang Eneuk dengernya.." Ujar Yena


"Udah dong ngambeknya ya.." Bobby memaksakan diri masuk ke dalam selimut, menggeserkan badannya agar mendapatkan teman di kasur sekedar untuk berbaring.


"Ih.. ini apaan sih.." Protes Yena


"Tidur doang.." Jawab Bobby yang masih mencoba menenangkan Yena dengan mencoba memeluknya.


"Tidur di luar sana..." Ucap Yena mendorong tubuh Bobby saking tidak ingin di sentuh


"Gak akh.. dingin.." Ucap Bobby yang masih memaksakan diri meski terus di dorong


"Apa sih Bob.. udah akh.. sana pergi.. aku kesel sama kamu.. ih.." Ucap Yena menendang tubuh Bobby agar keluar dari area tempat tidurnya, hingga Bobby jatuh dari ranjang.


Bbbbukkkk.....


"Aku kan bilang gak mau.. ya gak mau..." Ucap Yena yang masih kukuh dengan tangan memegang ujung selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya.


Bobby pun terbangun dengan rasa sakit di punggungnya, karena terbentur dengan lantai.. belum lagi wajahnya yang memar bekas perkelahian sore tadi yang menimbulkan bekas luka di wajah tampannya.


Bobby membuang nafas sembarang.


"Ya udah terserah.. kalo kamu mau aku tidur di luar aku tidur di luar.. tapi, jangan salahin aku, kalau kamu di marahin karena aku tidur di luar.." Ucap Bobby


"Bodo amat... udah sana pergi.. aku mau tidur..." Ucap Yena


"Ya, udah aku pergi.." ucap Bobby


Bobby melangkahkan kakinya, sampai di depan pintu kamar, ia melihat Yena masih membungkus diri dengan selimutnya.


Tiba-tiba muncul sebuah ide di benaknya.


"Ya, udah aku tidur di luar.. lampu aku matiin ya.. tidur yang nyenyak.. jangan lupa minum susunya.." Ujar Bobby


tanpa ada Jawaban Bobby menekan handle pintu, ia membuka pintu lebar-lebar.


"Lampunya aku matiin ya.." Ucap Bobby


"Iya.. ih, sana pergi.." Jawab Yena


Cklekkkk..........


Bobby mematikan lampu kamar, lalu menutup pintu tanpa keluar dari kamar itu.


Ia berdiri dalam kegelapan dekat pintu, dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya, sambil menunggu apa yang hendak di lakukan istrinya yang sedang merajuk itu.


Cahaya yang masuk dari ruang tengah melalui pentilasi udara, cukup bisa melihat gerak-gerik istrinya itu.


Tak butuh waktu lama Yena langsung membuka selimutnya yang pengap setelah mendengar suara pintu tertutup.


Ckleekkkkkkk.....


Bobby menghidupkan lampu membuat Yena sangat malu saat kotak mata dengan Bobby dan melihat Bobby yang sedang berdiri di dekat pintu dengan melipatkan tangan di depan dadanya sambil memperhatikannya.


Ia telah tertipu, ia mengira Bobby telah keluar dari kamar tersebut Dengan segera ia kembali menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya lagi.


"Aaaahhh.. kenapa belum pergi.. sana keluar..." jeritnya


Bobby menghampirinya dengan santai, ia naik ke ranjang dengan kedua kaki mengunci kaki Yena yang terlentang, badannya di atas tubuh istrinya, tangannya menahan ke kasur agar tak menindih istrinya yang sedang hamil itu. ia sengaja membuat istrinya malu dulu baru ia bertindak.


"Dasar gak tau malu.. kamu yang nyuruh aku pergi, tapi kamu juga yang langsung liat pintu pas aku keluar..." Ucap Bobby tertawa.. sambil tangannya menarik tubuh Yena untuk terduduk menatapnya Namun, Yena bersikeras menolak dan menahan tubuhnya agar tak terangkat.


"Kamu yang gak tahu malu..." Sahut Yena


Bobby menariknya sekali lagi, membuat wanita yang sedang ngambek itu seketika terduduk dengan selimut yang jatuh ke bawah perutnya, sehingga wajah cantiknya terlihat kembali. Dengan segera Bobby memeluk wanitanya itu.


"Sana pergi.. kamu itu jahat.." Ucap Yena meronta-ronta


"Gimana bisa aku pergi ninggalin kamu.. Muaaacchh..!! Muaaacchh..!! Muaaacchh..!!" Bobby wanitanya beberapa kali, lalu memeluk tubuh mungil itu kembali


"Sekali milikku, mau kamu pergi ke ujung dunia pun pasti aku kejar.." Ucap Bobby tersenyum mendapatkan pelukan hangat kembali.


Yena mencoba mendorong jauh tubuh Bobby Namun, tenaganya tak kuat untuk mengalahkan lelaki sebugar Bobby.


hatinya pun perlahan luluh hanya karena sebuah pelukan hangat dan lembutnya ciuman singkat. Jemarinya perlahan membalas pelukan suaminya itu.