YENA

YENA
Kamu sangat Kuno



Siang itu matahari begitu terik, cahaya masuk lewat jendela kaca menyoroti dua insan yang tengah tertidur lelap.


seseorang mulai terusik tidurnya, di tambah dering ponsel membangunkan sepasang mata yang perlahan membuka kedua matanya.


Orang itu terbangun mengambil ponsel yang bukan miliknya, di lihatnya ponsel yang sempat berdering itu.


1 panggilan tak terjawab dari nomor tanpa nama, yang berarti pemilik ponsel belum atau tidak menyimpan nomor itu di ponselnya.


Ia penasaran siapakah nomor tanpa nama itu, ia pun berniatan untuk mengirimkan pesan pada nomor tersebut.


saat dia hendak mengetik, ia melihat percakapan nomor tersebut dengan pemilik ponsel, percakapan pendek yang membuatnya makin penasaran.


"Sepertinya ada yang aku belum tahu bahkan belum ku ketahui" batinnya


Ia berpindah ke WhatsApp, mencari apakah nomor itu pernah meninggalkan percakapan lagi di sana selain di pesan biasa?!, benar saja ia menemukan pesan-pesan pemilik ponsel dengan nomor itu, kali ini percakapan mereka lebih panjang.


Orang itu menarik nafas panjang menghembuskannya sembarang.


Ia melirik ke belakang gadis yang tengah tidur terlelap tak terganggu walaupun matahari memancarkan sinarnya, tak terbangun meski handphone nya berdering.


Orang itu menyimpan handphonenya kembali di meja dekat gadis itu terlelap.


Ia keluar kamar dengan raut wajah yang masam.


"Ayo makan.." Gadis bernama Yena itu menghampiri pria itu sambil tersenyum di hadapannya, membuat pria yang tandinya bermuka masam menyunggingkan bibirnya membuat sebuah senyuman di bibirnya.


tanpa berkata apapun, pria itu mengikuti langkah Yena menuju meja makan, mereka duduk dan menyantap makanan yang terlihat masih hangat.


"Bagaimana kamu tau aku lapar?" tanya Bobby


"Ini sudah jam makan siang.." Jawab Yena menaruh beberapa lauk di piring Bobby.


Bobby hanya mengamati tingkah gadis itu.


"Bukankah aku hanya tidur?" tanya Bobby


"Yah.. kamu bilang hanya tidur? tapi, kamu masih hidup, perut mu masih bekerja di dalamnya, jelas saja kamu kan lapar walaupun seharian hanya tidur, bukankah begitu?" tanya Yena


"Hmm.. benar juga.." Jawab Bobby


"Kamu tak tak meminta maaf padaku? atau bertanya apa gitu?" tanya Bobby


"meminta maaf? aku memang punya salah apa padamu?" tanya Yena


"Karena Irene?" ucap Bobby


"benarkah aku harus meminta maaf?. bukankah yang penyebab semuanya dirimu sendiri?" tanya Yena dengan percaya diri


"Waaahh.. aku tak percaya kamu sungguh tebal muka.." Bobby tertawa dan bertepuk tangan dengan mimik wajah terkejut tak menyangka Yena akan mengeluarkan kata-kata itu.


"Ada yang salah? yang bilang aku tidur denganmu siapa? bukan aku kan? kata-kata itu keluar dari mulut ku..?!!" Ucap Yena


"Bagaimana kamu berkata tanpa rasa malu?, maksudku.. bilang kalau kita tidur bersama.." ucap Bobby


"kamu tidak punya otak? aku bukan tidur dengan mu.. tapi menemani mu..!!" ucap Bobby


"Lalu kenapa kamu mengatakan kamu tidur dengan ku, sehingga membuat Irene salah paham?. bukankah pertanyaan tidak punya otak itu harusnya di tanyakan pada diri mu sendiri?" tanya Yena tanpa ekspresi apapun lalu menuangkan air ke dalam gelas di hadapannya, setelah gelas terisi penuh di tegaknya hingga habis.


"Kamu sungguh tidak tau malu ya.. kamu bahkan membalikan semua kata-kata ku. aku hampir tak percaya apa kamu benar-benar gadis 18 tahun?!!" ucap Bobby kesal


"Begini.. coba berfikir saat Irene datang yang bilang aku tidur denganmu siapa? kamu kan?, Irene tau dari mulutmu lalu yang harus di salahkan siapa?, jelas tidak mungkin aku kan?, Karna kamu yang mengatakan dengan mulutnu sendiri.. kamu bilang aku tidak punya otak, harusnya kalau kamu punya otak kamu mengatakan bahwa kamu menemaniku bukan tidur dengan ku iya kan?, lalu siapa yang tidak punya otak sebenarnya?.. akukah atau kamu?" Ucap Yena melipat kedua lengannya di dadanya.


Bobby membuang nafas ke udara hingga terdengar suara hembusan nafasnya, seolah rasa kesalnya sampai di ujung ubun-ubun kepalanya.


Ia tak percaya menemukan bahkan bisa hidup serumah dengan gadis seperti Yena.


Yena sungguh gadis yang susah di tebak, ia tak mengerti bagaimana bisa seorang gadis yang harusnya meminta maaf padanya, malah membalikan semua kesalahan padanya dan membalikkan semua kata-katanya bahkan secara tidak langsung Yena mengatakan bahwa ia yang 'tak memiliki otak'.


Itu semua sangat membuat Bobby jengkel dan marah.


"Aku yakin kamu bukan gadis-gadis polos seperti ekspetasi ku.. aku yakin kamu pernah berpacaran.. iya kan?. maksudku.. gadis biasanya ragu bahkan malu jika hanya mengatakan 'tidur bersama' tapi kamu.. dengan percaya diri dan tanpa ekspresi apapun mengatakan itu dengan mudah." Ucap Bobby memasukan makanan terakhir ke mulutnya, dari sendok makanannya lalu mengunyahnya.


"Zaman sekarang kamu masih bertanya apa aku pernah berpacaran atau tidak?, kamu bahkan tidak tau perkembangan zaman?, anak SD saja sudah banyak yang berpacaran dan kamu bertanya pada ku hal sekonyol itu?, aku bahkan tak bisa percaya bahwa kamu hidup dengan pemikiran sekuno itu.." Yena tertawa menggaruk-garuk hidungnya dengan jari telunjuknya.


"Bahkan sekarang kamu mengejekku?!.. Wah, kamu sungguh berani.. berarti kamu pernah pacaran?!" tanya Bobby mengusap-usap rambut di kepalanya, seolah ini caranya untuk bersabar menghadapi gadis di hadapannya.


"Tentu saja.. aku ingin bertanya, aku sungguh penasaran sedari tadi.. apa semua laki-laki di usia mu selalu tidur sekamar untuk berdamai dengan kekasihnya? bahkan belum menikah?" tanya Yena menyondongkan wajahnya.


"Ya Tuhan.. bahkan dia bertanya tentang sekamar.. kenapa tak sekalian kamu tanyakan saja apa yang aku lakukan di dalamnya?!!" Ucap Bobby Jengkel


"Aku yakin kau tak melakukan apapun" Ucap Yena


"Bagaimana kamu begitu yakin?" tanya Bobby


"Pikiranmu saja sangat kuno.." ucap Yena


"Tapi, aku seorang lelaki yang memiliki gairah juga. bagaimana kamu menyimpulkan semudah itu?" tanya Bobby


"Apa aku salah? meski harusnya melakukan.. tapi, aku tak yakin kamu melakukan semua itu!. entah.. tapi menurut ku kamu masih kuno" Ucap Yena menyenderkan badannya ke kursi.


Bobby mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi.


Bagaimana pun semua yang di katakan Yena tidak ada yang salah semuanya benar namun, Bobby merasa dirinya lebih kecil bahkan di sepelekan gadis seperti Yena.


logikanya mengakui kepintaran Yena namun, ia menolak kenyataan bahwa ia memang termasuk orang yang berfikir kuno.


"Bagaimana kalo kita keluar?" Tiba-tiba Bobby mengatakan hal di luar topik pembicaraan


"Kamu mengajakku? lalu Irene?" tanya Yena


"Iya kamu.. biarkan saja, dia bisa pulang sendiri ketika terbangun nanti.. Aku ingin berjalan di taman hari ini.." Ucap Bobby


"Heumm.. baiklah.." Yena menyetujui ajakan Bobby