
Malam itu Bobby sengaja tak tidur, ia di ruang tengah menonton Liga sepak bola yang tayang jam 1 malam.
Meski menonton sendirian, teriakannya begitu ramai ketika club andalannya memasukan gol ke gawang lawan.
ia terlihat fokus melihat televisinya.
"AAAAAAAA..!!!!" Suara jeritan keras dari dalam kamar Yena mengalihkan Bobby yang tengah fokus melihat pertandingan bola.
dengan segera Bobby berlari ke arah kamar Yena, namun kamarnya terkunci rapat.
ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Yena.. Lu di kamar kan?, Yena.. lu gak papa kan?, di kamar lu ada siapa?" Bobby terlihat sangat khawatir ia berfikir apa ada maling yang masuk lewat kamar Yena.
tapi, gadis itu tak menyahut barang sepatah katapun.
"Yena.. jangan bikin gua khawatir.." Bobby terus ngetok-ngetok pintu kamar, ia cemas dan begitu khawatir.
pasalnya saat telinganya mendekatkan ke pintu tak ada suara apapun, semuanya terasa hening.
ia sangat takut terjadi apa-apa pada Yena.
"Yena buka pintunya..!!!" Bobby terus menarik turun handle pintu.
"Krrekk.. krrekkk.." Suara putaran kunci dari dalam.
Perlahan pintu kamar terbuka.
di lihatnya Yena, wajahnya pucat, dahinya bermandikan keringat.
ia terlihat begitu lesu seperti orang yang tak kuat berdiri, ia memegang kuat pintu kamar dan menyandarkan kepalanya di tembok.
"Berisik.." Ucap Yena dengan suara lemah yang kemudian langsung jatuh pingsan, beruntung Bobby langsung menangkapnya, hingga ia jatuh di pangkuan Bobby dan tak jatuh ke lantai.
Saat itu juga Bobby baru ingat bahwa Yena punya trauma yang belum bisa di sembuhkan.
Bobby membopong badan gadis itu, badannya dingin sekali namun seluruh badannya berkeringat.
Dengan segera ia menelpon dokter khususnya, dokter yang biasa dia telepon saat ia sakit dan kurang enak badan.
Saat di telepon untung saja dokter itu mau datang ke rumah Bobby.
Bobby bercerita tentang Yena pada dokter itu.
"Jadi dia punya trauma?" tanya dokter muda itu
"Iya.. waktu itu dia sempat bercerita padaku seperti itu.." jawab Bobby
"bicaranya biasa aja bro, kita kan temenan.. gak usah formal gitu." Senyum dokter itu
"Ya, lu kan seorang dokter. gua kan menghargai predikat lu lah.." ucap Bobby
"Haha.. bisa aja lu. lama ya, gak ketemu.." Ujar dokter itu.
"Iya.. syukurlah tuhan jarang kasih gua sakit jadi gua jarang liat lu dan jarum suntikan lu.." Ucap Bobby membuat keduanya tertawa
"Bisa aja Lu, Bob..?!" tawa dokter yang memakai kacamata itu.
"Padahal, gua hampir lupa lho punya dokter bernama Reno, haha.. Eh, gimana kabarnya Karin.. udah lahiran?" tanya Bobby
"Belum lah, baru 5 bulan.. nanti lahiran Dateng ya. eh, ngomong-ngomong kapan lu nyusul? gua udah mau punya anak, lu nikah aja belom tapi udah serumah aja.." Ucap Reno menyenggol lengan Bobby sambil tersenyum melirik Yena, yang tengah terlelap.
"Apaan.. bukan dia.. bukan.." Jawab Bobby menangkap kode yang di berikan Reno
"Gua pikir lu sama Irene udahan?" tanya Reno
"Siapa bilang?, gak lah.. Irene udah ada di hidup gua sejak gua kecil" Ucap Bobby
"Jadi lu mau ngikutin, sejarah gua nikahin temen sendiri?" tanya Reno tertawa kecil
Reno adalah dokter khusus Bobby.
Reno juga sebenarnya teman kuliah Bobby, yang menjadi dokter jadi mereka tak segan untuk berbicara santai.
Dulu saat kuliah mereka cukup dekat.
Karin juga bukan sosok wanita asing bagi Bobby, mereka adalah teman dekat saat kuliah, bisa di bilang Reno menikahi temannya sendiri.
Karena, Reno juga Bobby berfikir bahwa Irene lah wanita yang paling tepat untuknya.
"Gua pacaran dulu kali.. emangnya lu temen langsung nikah" Jawab Bobby
"Yeh.. ngapain pacaran-pacaran kalo udah berpenghasilan..!!" Ucap Reno
"Iya juga sih.." Bobby kalah telak
"Tapi, saran gua ya. kalo ceweknya gak suka.. ya janganlah.. ngapain coba?. gua denger dari Hendi sebelumnya Irene selingkuh sama Dimas?" tanya Reno
"Bocah itu.. punya mulut lemes banget ya.." Ucap Bobby gemas.
"Menurut gua gak semua teman itu pantas buat jadi istri, coba lu fikir lagi.. lu jadiin Irene sebagai calon istri karena dia teman lu yang hanya sekedar dekat dengan lu dan mengerti lu, atau memang Lu jadiin Irene sebagai calon istri karena dia memang teman yang lu cinta yang lu fikir dia layak jadi istri dan ibu dari anak-anak lu.."
"Ya, jelas karena gua cinta dia lah Ren.." Ucap Bobby percaya diri
"Cinta sepihak itu gak enak bro.." Balas Reno membuat kepercayaan diri Bobby goyah
"Tapi, gua juga yakin Irene cinta sama gua" Jawab Bobby
"Ya bagus, kalo begitu. gua tau Irene cewek cantik tapi, jangan karena dia cantik lu jadi keset kaki nya dia bro.." Ucap Reno
"Eh, lu gak balik?" tanya Bobby yang sudah tak tahan mendengar ceramah dari mulut Reno
"Oh ia.. udah malem juga, kasian Karin gua tinggal sendirian di rumah" Ucap Reno
"Eh, makasih sebelumnya udah bela-belain datang kesini.." Ucap Bobby
"Ya, gak papalah bro. demi sohib.. ya udah gua pergi dulu, jangan lupa minum obatnya." ucap Reno
"Ya hati-hati ya bro.." Ucap Bobby
"Oke.." Reno melangkah pergi, dengan mobil pribadinya Bobby berjalan pulang ke rumahnya, dari balik kaca jendela Bobby memastikan bahwa Reno telah hengkang dari rumahnya.
Bobby melangkah mendekati Yena, ia duduk di samping gadis itu.
ia mengusap dahi Yena, entah kenapa rasa kasihan dan rasa sayangnya tak bisa ia bedakan.
Saat melihat Yena seperti ini ia sangat merasa bersalah namun, juga rasa sayang.
Ia sangat percaya bahwa rasa sayang, rasa peduli dan rasa bersalahnya karena baginya Yena seperti Yuki almarhumah adiknya.
Di hatinya ia akan menyayangi Yena seperti rasa sayangnya pada Yuki dulu.
perlahan mata Yena terbuka..
"Tanganku kenapa sakit?" tanya Yena dengan suara lemah
"Tadi dokter memberikan suntikan di tanganmu.." Jawab Bobby
"Aku gak papa kok di panggilkan dokter?" tanya Yena
"Kamu sakit Yena.." Jawab Bobby
"Kamu tahu kan, aku sebelumnya juga seperti ini..?" tanya Yena
"tetap saja kamu sakit, pokoknya besok kamu gak boleh kerja. aku akan menelpon Daniel untuk menemani mu di rumah, memastikan juga agar kamu tetap di rumah.." Ucap Bobby
"Tapi Dimas nanti......"
"Dimas lagi.. Dimas lagi.. bahkan saat sakit seperti ini pun kamu malah mengkhawatirkan Dimas yang sehat??!!. sudah aku tak mau tau, pokonya kamu besok gak boleh kerja..!!" Ucap Bobby tegas
"Baiklah.." Jawab Yena
"Sudah cepatlah tidur, aku akan menemanimu tidur di sini.." Ucap Bobby
Yena memejamkan matanya kembali dengan sebelah tangan yang menggenggam tangan Bobby.
Bobby menjaganya hingga Yena tertidur.
sampai-sampai mereka tidur di satu ranjang yang sama.