YENA

YENA
Bunuh Diri



Yena pergi meninggalkan rumah yang ia rindukan, harapan yang ia simpan untuk bertemu paman dan bibinya bercerita hal yang menyenangkan yang ia alami selama di Jepang pupus sudah.


Ia tak pernah menyangka bahwa bibi dan pamannya bisa setega itu padanya, ia bingung harus pergi kemana, ia bingung kemana ia harus tinggal dan berteduh dengan uang yang hanya tinggal beberapa rupiah di sakunya.


Dengan deraian air mata yang membasahi kedua pipinya, Yena berjalan menyusuri jalan dengan koper warna merah yang di tariknya sepanjang jalan.


Ia berpikir, jika pun ia melaporkan ke pihak kepolisian ia tetap Takan menang dan mendapatkan rumah itu kembali, butuh dana juga untuk menyewa pengacara agar bisa merebut rumahnya kembali.


Jangankan untuk menyewa pengacara, saat ini untuk tinggal dan sekedar bermalam saja dia bingung.


gadis itu sudah putus asa, ia berjalan menyusuri jalan raya.


Entah kemana arah dan tujuannya.


Ia tak dapat menghubungi siapapun karena handphone hilang.


Lama ia berjalan hingga bukan pipinya saja yang basah Namun, badannya juga basah karena keringat yang bercucuran deras.


Yena berjalan di bawah terik matahari yang sedang panas-panasnya, tenggorokan begitu kehausan.


Ia menginginkan air minum sehingga bisa melepas dahaganya.


Namun, sepanjang jalan ia tak menemukan kios atau orang berdagang.


Pikiran Yena bergelut memikirkan kelakuan paman dan bibinya yang tega melakukan ini padanya, salah apa ia hingga mereka melakukan hal sekejam ini pada seorang anak yatim-piatu.


Pantas saja mereka perhatian padaku, menyuruhku berlibur, ku kira mereka mengkhawatirkan kondisi ku, menganggap ku anaknya seperti aku menganggap mereka seperti orang tua ku sendiri, ternyata semua hanya kedok untuk menipuku.


Padahal kurang apa aku?, mereka menumpang tinggal di rumahku aku tak pernah keberatan, aku membayar hutang-hutang merek aku tak pernah permasalahan apalagi mengungkitnya, salah apa aku hingga mereka melakukan hal keji ini padaku, aku marah, aku sedih, aku kecewa.


pada siapa aku harus berlindung?, pada siapa aku harus mengadu?, Tuhan belum cukupkah kau menghancurkan hatiku dengan memisahkan ku dengan keluarga ku, mengambil mereka dan menyisakan trauma yang aku alami di malam hari.


Apalagi yang ingin kau uji dariku, selama ini aku dan keluargaku tak pernah berbuat jahat pada orang lain tapi, mengapa kau berbuat jahat padaku? mengirimkan orang-orang jahat, yang ku kira pengganti orang tuaku yang telah tiada.. Bukan hanya keluarga yang kau ambil dariku, sekarang bahkan rumah tempat tinggal ku harus di ambil juga, kenapa tak sekalian aku kau ambil?, sekarang aku bingung harus pulang ke mana, aku lelah, aku letih, aku capek berjalan seharian tanpa tau arah dan tujuan Tuhan... batin Yena


Yena berjalan hingga bertemu dengan sungai Han, sungai terbesar di kotanya yang lebarnya lebih dari 500 meter.


Ia menyusuri Jembatan Sungai Han, Jembatan besar dengan sepi orang berjalan dan hanya ramai oleh kendaraan berlalu lalang.


Gadis itu terduduk di pinggir jalan, dekat garis pejalan kaki dan sepedah.


Ia menatap langit dengan mata terpejam, angin yang begitu sejuk menenangkan pikirannya yang kacau.


Aku tau Tuhan, agar aku tak terus-menerus di permainankan oleh takdirmu yang sepedih ini. Lebih baik, aku menghentikan permainan mu dengan mengakhiri hidup ku.


Aku akan lebih senang bertemu kedua orangtuaku yang sedari kecil melahirkan, merawat dan membesarkan ku hingga aku dapat tumbuh besar seperti ini. kasih sayang yang mereka berikan tak dapat di ragukan lagi ketulusannya tuhan.. batin Yena


Yena terbangun, menatap air sungai dari jembatan ia berdiri.


Sungai yang besar dengan air yang mengalir deras di dalamnya.


Terpaan angin membuat rambut panjangnya yang terurai, berterbangan kebelakang.


Ia menatap ke dalam air sungai yang begitu deras dan besar.


Kini di mata Yena air yang begitu deras, besar dan menyeramkan tersebut, berubah menjadi air sungai yang begitu tenang dan sangat indah.


Yena telah merasakan ketenangan jika ia bisa menyeburkan dirinya ke dalam sungai, ia Takan kehausan jika masuk ke dalam air tersebut.


Matanya menatap indah ke bawah air, yang menurutnya jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah yang ia alami.


Ia telah siap meninggalkan dunia ini, ia telah siap kehilangan nyawanya, ia telah meneguhkan hatinya.


hatinya bulat mengambil keputusan ini sebagai akhir dari riwayat hidupnya.


Ia tak segan untuk Bunuh diri.


Bunuh diri adalah puncak protes Yena terhadap kehidupan.


Seseorang bisa mengambil cara tragis itu jika benar-benar telah frustasi dan merasa telah ingin memutus semua hubungannya dengan yang ada di dunia.


Seperti yang hendak di lakukan oleh Yena Sekarang.


Yena mulai menaiki besi pembatas jembatan dengan kaki kirinya, lalu di bantu dengan kaki kanan tanpa gentar dan pro terhadap yang tubuhnya lakukan.


Dengan nafas tersengal-sengal ia pun berdiri di atas besi pembatas, jantungnya berdegup kencang.


Ini adalah kenekatan terbesar yang pernah ia lakukan semasa hidupnya, ia telah kehilangan semangat untuk hidup.


di benaknya mati adalah hal yang terbaik yang harus ia lakukan dengan proses bunuh diri, mencebur dirinya kedalam sungai terbesar di kotanya itu.


Ia pun siap melakukan hal yang telah ia rencanakan ini, matanya terpejam dengan tangan terlentang.


Ia telah siap menceburkan dirinya kedalam Sungai.


Ibu.. Ayah.. putri semata wayang kalian akan menyusul kalian, kembali berkumpul bersama dan bahagia, Ayah.. Ibu.. Aku merindukan kalian berdua tunggu Yena disana.. batin Yena


Kakinya sedikit demi sedikit melewati besi tersebut, ia menghitung mundur dalam hatinya.


Tiga...


Dua..


Sattt...


BRRUUKKK...!!!


Seseorang menarik tangan Yena ke belakang hingga terjatuh ke aspal dan **** tubuh seseorang yang menarik tangannya.


Tarikan kencang membuat, Goresan luka di siku Yena dan darah segar keluar dari sikunya.


Tangan itu masih kencang, memegang erat pergelangan tangan Yena.


Yena pun berdiri karena tak nyaman dengan Seseorang yang ia tindih.


"Hei mbak.. kalo mau mati jangan disini.."


Bentak seorang pemuda berjaket putih dengan kupluk di atas kepalanya


"Bukan urusanmu, banyak orang yang mati disini kenapa aku tidak boleh?" tanya Yena


"Karena, lu mau mati depan mata gua..!!" Ujarnya.


Yena menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya, suaranya sudah kering menahan kehausan.. ia tak punya tenaga untuk berkata-kata


Yena terduduk di aspal di pinggir besi pembatas, di ikuti pria tersebut yang ikut duduk di sampingnya dengan nafas tersengal-sengal.


"Apa kau punya air? aku sangat haus" Ucap Yena menatap pria di sampingnya.


Pria itu bangun dan mengambil sebotol air mineral, yang menggantung di sepedanya.


sepedah yang ia standard kan tak jauh tempat ia terduduk.


"Ini.. minumlah," Ujar Pria bercelana cargo pendek tersebut.


Pria itu terduduk kembali di samping Yena, mengeluarkan sebungkus rokok di sakunya.


lalu menarik satu batang rokok yang di tahan di bibirnya, pria itu merogoh kantong dan mengambil korek api yang bertuliskan 'Cricket', hendak menyalahkan rokoknya.


"Apa boleh aku merasakan sebatang?" tanya Yena


Pria itu berhenti, terdiam dan menatap Yena.


"Berapa umur mu?" tanya pemuda itu.


"18 tahun" jawab Yena


Pemuda itu mengambil rokok di mulutnya, melepar rokok beserta korek apinya ke sungai yang mengalir.


Yena menatap heran pada pemuda itu.


"Kamu masih terlalu muda untuk mencicipi rokok yang tidak berguna itu," Ucap Pria itu.


"Aku hanya ingin merasakan menjadi seorang bajingan" Ucap Yena


"Aku tau, kau ingin bunuh diri karena di tinggalkan kekasih mu?. Heii.. nona sadarlah banyak di luaran sama pria yang jomblo yang siap menikah" Pria itu tertawa lepas


"Bukan.. aku ingin bunuh diri karena di tinggalkan oleh orang yang ku anggap sebagai orang tua ku sendiri, mereka menjual rumah peninggalan satu-satunya yang ku miliki dari Almarhum Ayah ibu ku." Ujar Yena menundukkan kepala


"Lalu kamu pikir, bunuh diri di Sungai Han itu indah?" tanya pria tersebut


"Mungkin, aku lelah.. aku bingung harus pulang kemana.. maka dari itu aku ingin pulang pada yang zat yang menciptakan ku" Ucap Yena


"tapi kamu akan merasa menyesal jika bunuh diri di tempat jelek seperti ini, lebih baik ke pulau-pulau indah di luar negeri, kamu bisa mati dengan hati senang." Ucap pria tersebut


"Aku baru pulang dari luar negeri.. dan sekarang aku menyesal karena pergi, jika aku tak pergi mungkin aku Takan kehilangan rumahku, aku Takan berkeinginan untuk mati" Ucap Yena


"Jadi yang kau butuhkan adalah tempat tinggal?" tanya pria itu


"Kalau pun ia apa yang akan kamu lakukan? membuatku menjadi seorang pelacur? atau menjadikan ku istrimu?" tanya Yena


Pria itu tertawa lepas mendengar kata yang keluar dari mulut Yena.


pikirnya bagaimana mungkin seorang gadis yang gagal bunuh diri berfikir sepintar ini.


"Apa yang kau tertawakan?, Apa pertanyaan ku ada benarnya? " Tanya Yena


"Menjadikan mu istri ku? maaf nona badan ku terlalu bagus jika harus ku berikan padamu, masa depanku terlalu mewah jika harus ku habiskan bersama mu.." Pria tersebut bergelak tawa kembali.


"Benarkah? masa depan mu mewah? Ehey, kau berpenampilan seperti pemuda tanpa pekerjaan bagaimana kau bisa bilang hidupmu mewah? bahkan kau bukan seorang pangeran yang keluar dari mobil mahal, kau hanya pengayuh sepedah dengan terik matahari sepanas ini..?!!" Yena tersenyum meringai


"Bagaimana mungkin aku harus memakai jas hanya untuk bersepedah? heii.. gadis, pakai otakmu, jelas saja kau di tipu orang, kau terlalu lugu" Ucap pria tersebut sambil tertawa


"Dasar pria jahat.. lalu bisakah kamu buktikan bahwa kehidupanmu sungguh mewah?" tanya Yena.


"kau tak perlu mengujiku membuktikan kehidupan ku mewah atau tidak, aku yakin itu hanya dalih agar kau bisa menumpang di rumah ku.." Pria itu tersenyum ke arah Yena, membuat Yena tertunduk malu.


"Ya, aku akui.. karena aku batal mati karena kamu, kamu harus bertanggung jawab atas hidup ku. aku akan jadi apapun di rumah mu sampai aku menemukan tempat tinggal lagi, tolong bantu aku..!!" Ujar Yena


"Oke.. sekarang kau ikut aku" Ucap pria itu berdiri


"Naik sepeda?" tanya Yena


"Ya naik apa lagi.." Ucap pria itu.


"Lalu koperku?" tanya Yena.


"Oh.. iya.. sebentar.."


Pria itu menelpon seseorang, ia menyuruh orang itu ke sungai Han.


Tanpa menunggu lama, seorang pengendara sepeda motor berhenti di depan mereka.


ternyata pria itu menyuruh jasa antar barang, di berikannya alamat rumah lengkap beserta sejumblah uang.


hanya dengan beberapa ikatan tali, koper merah milik Yena di tempat kan di belakang sepeda motor, siap untuk di antarkan ke rumah pria itu.


Jasa pengantar barang itu pun pergi meninggalkan mereka.


"Lalu kita pake apa?" tanya Yena


"Ini.." Pria itu tersenyum, melirik sepeda gunungnya.


"Lalu aku dimana?" tanya Yena


"Di ban.. ya, di depan lah..!!" Ucapnya tersenyum


"Emang muat..?" tanya Yena


"Banyak ngomong lu, ayok.. naek..!!" ucap pria itu


"Iya.. iya.."


Yena pun duduk di top tub atau yang lebih di kenal dengan pipa bagian atas pada sepeda gunung.


Pria itu pun mulai mengayuh sepedanya


"ini gak akan jatuh kan?" Tanya Yena


"Gak akan.." Jawab pria itu


"Gak akan patahkan aku dudukin?" tanya Yena


"Gak akan.. ya kalo patah tinggal lu ganti bereskan.." Ucap pria yang masih bertahan mengayuh sepeda nya.


"Aku kan gak ada uang.." ucap Yena


"Ya cari.." Ucap pria itu


"Gimana caranya?" tanya Yena


"Ikut persugihan sana biar kaya" Pria itu kembali tertawa


"Malah ngeledikin" Kata Yena


"Lagian lu berisik.. Nanya mulu kaya Wartawan..." Ucap pria itu tertawa


**Bersambung


like dan coment


Salam


KAYRA IM