YENA

YENA
Korban atau Umpan?



Di perjalanan pulang gadis itu terus menangis tak henti Namun, pria di sampingnya bersikap biasa saja seolah tak ada yang terjadi, seolah suara tangis gadis di sampingnya tak di dengar di telinganya.


Sepanjang perjalanan gadis itu terus mengajak pria yang sedang mengemudikan mobil itu untuk berbicara, gadis itu terus bertanya mengapa pria itu memperlakukannya seperti seorang yang memiliki dosa besar?, mengapa ia di bentak di depan umum? dan apa salahnya?.


Namun, pria tersebut diam seribu bahasa.


tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, seolah suara gadis itu tak terdengar, seolah gadis itu tak terlihat, ia hanya fokus menyetir mobilnya.


Hingga akhirnya, gadis itu lelah dan tertidur dengan mata basah bekas tangisan.


Sesampainya di rumah.


Bobby menghentikan mobilnya di depan rumahnya, ia melihat ke samping gadis yang kelelahan menangis kini hanya tidur nyenyak tak bersuara.


"Heiii.. bangun.." Ujar Bobby mencoba membangunkan Yena namun, sepertinya gadis itu telah tidur nyenyak berkelana ke alam mimpi.


"Masa ia gua harus gendong lu.." Gumam Bobby


Bobby keluar dari mobilnya, lalu membuka pintu mobil sampingnya tempat Yena terduduk nyenyak.


Ia membopong gadis itu sendirian.


Bukan masalah besar baginya membopong gadis yang kini di pangkuannya.


Bobby memliki tubuh yang atletis karena, ia sering berolahraga.


dengan pelan-pelan dan perlahan ia membopong Yena, gadis berusia 18 tahun yang memiliki berat badan 55kg, tinggi badan 165cm dan berkulit putih seputih susu itu.


Perlahan Bobby memasuki rumah, ia cukup kesulitan saat harus menyeimbangkan badannya saat mengambil kunci rumah yang ia simpan di saku celananya.


Perlahan ia merogoh sakunya dan mengambil kunci rumahnya itu dengan hati-hati, ia takut gadis yang berada di pelukannya kini terbangun.


Setelah kunci di masukan, lalu ia memutar kuncinya hingga terbukalah pintu rumahnya.


Badan Yena tergolong kecil Namun, tetap saja gadis itu jika di gendong dalam waktu yang bukan sebentar terasa beratnya.


Bahkan bayi sekalipun yang sangat ringan, jika di gendong dalam jangka waktu yang lama akan terasa berat dan membuat orang yang menggendongnya kelelahan.


Di tatapnya wajah gadis yang kini dekat dengan dadanya.


Entah kenapa gadis itu, sama sekali tak terganggu, ia terus tertidur nyenyak.


Bobby masuk ke kamar Yena, tempat Yena merebahkan diri.


Bahkan, saat tubuhnya di baringkan di tempat tidur saja gadis itu masih dalam keadaan memejamkan matanya, seolah suara langkah Bobby yang tergesa-gesa untuk menaruh badannya di atas ranjang bukan suatu masalah yang mengganggu mimpi indahnya.


"Bocil.. bocil.. berat juga ya lu.." Gumam Bobby menutup badan Yena dengan selimut tebal.


Bobby mengusap dahi Yena, telihat make up yang gadis itu gunakan berantakan karena air mata.


lalu Bobby melangkah keluar kamar.


Jam menunjukkan pukul 22.00


Bobby kala itu sedang di ruang tamu, sambil memainkan handphone nya.


tak lama suara jeritan terdengar dari kamar Yena, dengan segera Bobby berlari ke arah kamar tersebut.


Ia mendapati Yena yang berkeringat deras dengan tubuh yang dingin, ia terlihat panik tanpa sebab, sekilas matanya seperti kosong.


Dengan segera Bobby duduk di samping Yena, memegang pipinya dengan kedua tangan Bobby.


"Yena.. kenapa??.. Yena.. sadar ini aku Bobby tenanglah.. tenanglah.." Ucap Bobby untuk pertama kalinya Bobby melihat Yena seperti itu.


Yena hanya diam tak berbicara, Bobby panik ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Sadarlah.. Yena.. tenanglah, aku Bobby.. kamu ingat aku kan?.. tenanglah, aku akan selalu bersama mu..!!" Ujar Bobby


hitungan detik, perlahan tatapan kosong di mata Yena kembali terisi.


Ucapan Bobby seolah sihir yang mengembalikan Yena yang sesungguhnya.


"Bobby.." Ucap Yena dengan lemas.


"Ia aku Bobby, kita ke rumah sakit ya?" Ajak Bobby hendak melangkahkan kaki Namun, sebuah tangan dengan jari yang lentik menahan langkahnya.


"Jangan.." Ucap Yena terbaring lemas


"Lalu aku harus apa? aku bukan dokter yang bisa menyembuhkan mu Yena.. kamu perlu dokter.." Ujar Bobby


"Aku memiliki trauma hingga aku jadi seperti ini.." Ucap Yena


"Kalo kamu tak ingin di panggilkan dokter lalu aku harus apa?" tanya Bobby duduk kembali di samping tempat tidur.


"Aku haus.." Ujar Yena


Lalu Bobby mengambil gelas berisi air di atas meja di sampingnya.


"Ini minumlah.." Ucap Bobby menyodorkan segelas air putih.


"Kamu kenapa bisa seperti ini" Ucap Bobby menempatkan kembali gelas ke atas meja.


"Aku boleh minta sesuatu?" tanya Yena


"Apa?" tanya Bobby mengelap wajah Yena yang banjir keringat, dengan tisu.


"Temani aku tidur malam ini ya.." Ujar Yena dengan sorot mata sedu, membuat Bobby tak bisa menolak begitu saja.


"Ya sudah.. aku akan menemanimu.. tidurlah.." ujar Bobby.


Mereka tidur di satu ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama.


Sambil mengelus-elus rambut Yena yang terurai panjang, Bobby berusaha memejamkan mata yang namun, matanya tak ingin terpejam.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya Bobby


"Belum.." jawab Yena yang menghadap dada pria yang menemani tidurnya malam itu.


"Tidurlah.. aku Takan meninggalkan mu.." Ujar Bobby


"Apa kamu kaget?" tanya Yena


"tentu saja.." jawab Bobby


"Aku kira mimpi buruk ku ini Takan pernah kembali, sejak pulang dari Jepang aku tak pernah mengalami mimpi buruk ini lagi.. Aku kira aku sudah sembuh total karena sebulanan ini aku tak pernah mengalami mimpi buruk itu lagi.. tapi, ternyata aku salah" Ucap Yena


"Sejak kapan kamu seperti ini?" tanya Bobby


"Setahun lebih sejak kecelakaan mobil yang menimpa aku dan keluargaku, yang membuat mereka meninggal dunia dan meninggalkan aku sendirian. aku minta maaf ya, aku pasti membuat mu terkejut," Ucap Yena


"tentu saja aku terkejut, harusnya aku yang meminta maaf atas kejadian di butik itu." Jawab Bobby


"Apa Irene itu mantan pacarmu?" tanya Yena


"Iya.. dia adalah mantan pacar dan Cinta pertama ku" Jawab Bobby


"Mantan pacar dan cinta pertama?, berarti kamu tak pernah berkencan dengan siapapun kecuali Irene?" tanya Yena


"Tidak juga, Saat masa sekolah Irene adalah wanita pertama yang aku ajak berkencan, meski tak lama kami putus dan kembali bersahabat. Aku dan Irene itu kenal sejak kecil. kamu pernah mendengar?, Cinta sejati adalah cinta seribu pandangan, Entah sejak kapan aku menyukai Irene kembali, lalu kami pacaran lagi. Saat kami telah dewasa, aku menyadari pacaran bukan solusi terbaik untuk membuat kami bahagia, aku berniat untuk hidup bersama dengannya tapi, dia ketahuan berselingkuh, aku melihatnya berciuman dengan Dimas sahabatku sendiri" Ujar Bobby


"Tak salah wanita secantik itu jadi rebutan" Ucap Yena


"Benar, dia memang cantik..." Gumam Bobby


"Jadi ini sebabnya aku di bentak?" tanya Yena


"Maksudnya?" tanya Bobby


"Pria tampan yang memiliki luka di sudut bibirnya itu dia kan? pria yang bernama Dimas?" tanya Yena


"Bagaimana mana kamu tahu?"


"Jadi kamu menjadikan aku korban kecemburuan mu pada Irene? ataukah, kamu mengajakku untuk menjadi umpan agar Irene cemburu?" tanya Yena


"Maka itu aku minta maaf.." Jawab Bobby


"Kamu masih menyukainya?" tanya Yena


"Sepertinya.. Apa kamu selalu seperti ini?" tanya Bobby


"Seperti ini?" tanya Yena


"Badanmu begitu dingin tapi kamu berkeringat banyak.." Ucap Bobby


"Saat aku tinggal di rumahku yang dulu, malah hampir setiap hari aku seperti ini. aku juga heran kenapa aku seperti ini lagi.." Ucap Yena


"Apa karena, aku bentak kamu jadi tertekan dan mimpi buruk itu datang lagi?" tanya Bobby


"Seperti tidak mungkin, aku lebih tertekan saat aku kehilangan rumah ku. tapi, mimpi itu tak datang.." Ucap Yena


"Kok bisa seperti itu?" tanya Bobby


"Aku juga tak tahu.. Oh ya Bob, terimakasih ya.. Karena, kamu sudah berbuat banyak hal untukku, kamu memberikan tempat tinggal bahkan menemani ku seperti sekarang." Ucap Yena


"Tak masalah, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri.." Ucap Bobby


"Oh, ya.. jangan pernah kamu membiarkan pria lain menemanimu seperti ini" Tambahnya


"Apa kamu mengkhawatirkan ku?" tanya Yena


"Tentu saja, bagaimana pun kamu masih muda. bisa saja sesuatu terjadi jika kamu seperti ini dengan pria lain.." Ucap Bobby


"Jika aku Irene mungkin malam seperti ini akan jadi malam yang penuh keringat?!" Ucap Yena tertawa


"Heii.. otak mu itu.. sudah tidurlah, ini sudah jam 1 pagi.. dari tadi kita mengobrol saja, besok aku harus kerja" Ucap Bobby menatap gadis yang berbicara blak-blakan itu.


"Ya.. ya.. aku tidur sekarang.." Ucap Yena tersenyum