YENA

YENA
Menunggu



Yena terbangun karena sorotan Matahari yang masuk ke dalam ruangan itu.


cahayanya menyorot tepat matanya, mengganggu tidurnya yang nyenyak.


Yena menguap, bangun dengan mengucek matanya, ia terkejut dengan tempat ia terbangun, ia celingak-celinguk ke sana ke mari.


"Ouh.. ia nyampe aja lupa, ini kan rumah Bobby" Yena menepuk jidatnya


Ia bangun dari tidurnya dan sempat lupa ketika bangun bahwa, ia sekarang menumpang di rumah lelaki yang baru ia kenal Kemarin hari.


"Apa aku ketiduran disini..??!!" Gumamya sambil melihat ke arah sofa, tempat ia terbangun.


Yena melipat selimut yang telah menemaninya menutup dinginya udara semalam.


Ia melangkah keluar ruangan itu, ia mencari sosok pria yang di lihatnya semalam, memasuki beberapa ruangan Namun, tak ada tanda keberadaan pria tersebut.


Yena pun pergi ke dapur, ia tak menemukan apa yang ia cari kecuali, selembar kertas kecil dan beberapa uang tunai di bawahnya.


"Belilah sayur untuk kebutuhan memasakmu, tak jauh dari rumah ada toko yang menjual kebutuhan pokok. belilah dan gunakan uang itu"


Yena tersenyum, ia begitu yakin bila yang menulis pesan di kertas itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bobby, siapa lagi..?? mereka hanya tinggal berdua di rumah itu sekarang, Jadi dapat di pastikan bahwa itu adalah perbuatan Bobby.


Yena tau diri dengan posisinya sekarang, setelah mandi dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri, ia membersihkan sekitaran rumah, menyapu, mengepel, hingga membersihkan kaca jendela ia lakukan.


Yena juga melaksanakan isi pesan yang di tinggalkan Bobby, setelah selesai pekerjaan rumahnya, Yena membeli beberapa sayuran dan lauk untuk di makan bersama dengan Bobby nanti.


Yena cukup bisa di andalkan di dapur.


Selama di tinggalkan orang tuanya, Yena mengurus dirinya sendiri, skill memasaknya tak dapat di ragukan lagi.


Hari berjalan begitu lambat bagi Yena, ia merasakan begitu kesepian di rumah itu hanya sendirian, sesekali Yena menonton TV lalu mematikannya, menonton lagi tak lama mematikannya lagi, Ia sangat bosan tak ada teman untuk di ajak berbincang bersama.


Hingga malam pun tiba, Yena masih menunggu Kepulangan Bobby.


"Bukankah ini sudah waktunya jam pulang.." Gumam Yena


Ia tak tau jam berapa Bobby pulang, ia juga tak punya Handphone untuk menanyakan jam kepulangan Bobby.


Meski ada telepon rumah, ia tak tau nomor handphone Bobby.


Yena keluar rumah mondar-mandir sambil berharap Bobby pulang, ia kesepian di rumah, ia butuh kawan dan benci kesendirian.


setelah menunggu lama, tak ada tanda-tanda kedatangan Bobby.


Yena pun kembali masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu sesekali mengintip lewat kaca jendela, berharap kepulangan Bobby lebih cepat namun, Bobby tak kunjung pulang.


Yena duduk di kursi ruang tamu, ia lelah menunggu sedari tadi.


perutnya berbunyi, tanda cacing di perutnya meminta makan.


Namun, ia enggan untuk makan.


Ia tak berselera meski lapar terasa di perutnya, ia membiarkan dirinya kelaparan, ia bersikukuh untuk menunggu Bobby dan makan bersama dengannya.


Tanpa sadar Yena tertidur di kursinya


Jam 23.00 Bobby yang baru sampai rumahnya membuka pintu mobil.


Ia terkejut ketika membuka pintu, di lihatnya Yena tergeletak di kursi ruang tamu.


"Heii.. Yena, bangun.. kamu tidak apa-apa kan? Yena.. bangun.." Bobby begitu panik, iq mendorong-dorong kedua bahu Yena, lalu memeriksa detak jantungnya di pergelangan tangannya.


"Ada apa?"


Yena terbangun, bersuara serak khas orang bangun tidur, ia mengucek kedua matanya.


"Astaga, kamu membuat ku takut. aku kira kamu mau bunuh diri lagi.." Ucap Bobby menghela nafasnya.


Yena tersenyum dengan mata masih tertutup, masih mengumpulkan kesadaran yang tertinggal di alam tidurnya.


"Konyol sekali.." Bobby tertawa kecil


Mereka pun makan bersama di meja makan.


terlihat Bobby begitu lahap memakan, makanan buatan Yena.


"Makan pelan-pelan, santai saja aku takan mengambil makanan mu.." Ucap Yena yang melihat tingkah Bobby, sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Lama sekali aku tak memakan, makanan rumahan seperti ini.." Ujar Bobby sibuk dengan sedoknya.


"Berapa lama?" tanya Yena


Bobby menatap langit-langit ruang makan itu, sambil berfikir berapa lama ia tak pernah makan makanan rumahan lagi.


"Entahlah, mungkin 10 tahun atau lebih..?!! mmm, aku tidak yakin..!! pokoknya sejak ibu dan ayah berpisah, aku tak pernah lagi makan makanan seenak ini.." Ujar Bobby kembali menyantap makanan dengan rakusnya.


Ucapan yang keluar dari mulut Bobby sungguh membuat Yena terkejut, ia memperhatikan raut wajah Bobby yang mengatakan tanpa kesedihan.


Bukankah orang ini sungguh kasihan? lebih kasihan dariku. Dia sangat kuat dan pintar menyembunyikan kesedihannya hingga orang takan pernah menyangka bahwa ia telah lolos dari masalah yang menerpanya. Tuhan bukankah aku termasuk orang yang tak bersyukur?.batin Yena


"Kamu tak pernah mencari ibumu?" tanya Yena bersikap biasa dan kembali memasukan makanan ke mulutnya.


"Untuk apa? dia yang memilih untuk meninggikanku lalu kenapa aku harus mencarinya?" tanya Bobby tersenyum


Yena pun ikut tersenyum mendengar jawaban dari mulut Bobby.


"Lalu ayah mu kemana?" tanya Yena


"Aku di usir oleh ibu tiri ku. Ayahku sangat percaya pada istrinya itu, padahal ia selalu berbuat jahat padaku. Ibu tiriku bilang, bahwa aku yang selalu berbuat onar di sekolah dan di rumah, makanya aku di pisahkan dari hidup mereka yang bergelimang harta. Aku kembali ke rumah ku yang asli ini, Aku tinggal dengan bibi pengasuh di rumah ini dari umurku 14 tahun Namun, ketika umurku 20 tahun bibi yang mengasuhku meninggal dan aku mulai terbiasa tinggal sendirian" Ucap Bobby


Yena terdiam tak dapat mengomentari banyak lagi,


"mmm.. ini enak sekali, besok buat sayur yang seperti ini lagi.." Ucap Bobby mengerutkan dahinya, sambil mengunyah makanan.


"Oke.. makanlah yang banyak.." Ucap Yena tersenyum.


"Kamu belajar masak dari mana?" tanya Bobby


"Sebelum kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan mobil, aku sangat akrab dan dekat sekali dengan mereka. aku sering ke dapur membantu ibu ku memasak," Ucap Yena tersenyum


Bobby hanya memanggut-manggutkan kepalanya.


"Apa kamu tadi menunggu ku?, hanya untuk makan bersama?" tanya Bobby


"tentu saja, aku tak ingin makan sendiri. rasanya tak enak jika sendiri..!!" Ucap Yena


"Bukankah aku sudah bilang jangan menunggu ku.. bagaimana kalau aku harus mengurus pekerjaan kantor, sehingga membuatku tak bisa pulang?. kamu akan kelaparan..?!!!" Ucap Bobby melahap habis makannya hingga tak tersisa.


"Iya aku tau, kamu juga bilang. aku hanya berselera jika ada orang menemani ku makan" Ucap Yena menghabiskan makanan di piringnya.


Bobby menatap Yena yang tengah membereskan piring bekas makanannya.


melihat Yena seperti versi perempuan dirinya, apalagi Yena dan dirinya sama-sama kehilangan orang tua.


Bobby mengerti betapa kehilangan dan kesepiannya, nuansa keluarga untuk gadis di depannya Karena, ia juga merindukan sama-sama merindukan hal yang sama.


Yena mengambil piring kotor bekas makan mereka, lalu membawanya untuk ke wastafel.


"Setelah mencuci piring tidurlah di kamarmu, jangan tidur di sofa.." Ucap Bobby


"Iya.." Jawab gadis yang rambutnya di ikat kebelakang itu.