
Yena telah merapihkan barang-barangnya, ia berbaring di kasur karena kelelahan.
Kos-kosan nya ini adalah tempat tinggal baru bagi Yena sekarang.
Kasur dan lemari adalah salah satu fasilitas yang di berikan oleh sang pemilik kos-kosan.
Ia tinggal di lantai 2 dimana kos-kosan itu memiliki 3 lantai dan 20 pintu di setiap lantainya yang berarti total 60 pintu dan penghuni kos-kosan.
Semua kos-kosan terisi semua tak ada yang kosong, Yena membayangkan berapa uang yang di dapat pemilik kos-kosan dalam sebulan mungkin berkali-kali lipat dari gajinya. tanpa kerja mereka akan duduk dan menunggu uang berjatuhan setiap bulannya.
"Akhh.. kenapa aku jadi memikirkan orang lain.." Yena menepuk-nepuk wajahnya, menyadarkan diri.
Kos-kosan tempat ia tinggal termasuk tempat yang ramai, bagaimana tidak.. terkadang satu pintu bukan hanya di tinggali oleh satu orang namun, di tempati sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri dan anaknya.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
di lihatnya pesan WhatsApp itu dari Dimas.
Dimas : Kamu sedang apa?
Yena : Berbaring habis pindahan
Dimas : Siapa yang pindahan?
Yena : Aku
Dimas : Kenapa kamu gak bilang sama aku?
Yena : Aku takut mengganggu waktu mu kak,
Dimas : Sekarang kamu tinggal dimana?
Yena : Kamu tau kos-kosan bernama '16' ? dekat Gedung Budaya?
Dimas : Oke.. aku akan ke sana sekarang.
20 menit kemudian...
Ponsel Yena berbunyi
"Iya kak..." Ia mengangkat telepon dari Dimas
"Turunlah, aku tidak tau kamu tinggal di sebelah mana.." Ujar Dimas
"Lantai 2.. nomor 5 kak.. biar aku yang kesitu saja.." Jawab Yena segera bangun dari tempat tidurnya. tanpa merapihkan diri, ia segera berjalan turun ke bawah dan menghampiri Dimas yang berdiri menunggunya dengan memegang satu kantong plastik yang terlihat penuh.
"Dari tadi?" tanya Yena
"Gak dong Padi.. baru nyampe langsung telepon kamu.." Ucap Dimas merapihkan rambut Kekasihnya yang terlihat agak berantakan
"Idih.. padi..." Yena tertawa
"Iyalah.. PAcar DImas..." Ucap Dimas
"Keliatan berantakan banget ya? maaf ya aku gak sisiran dulu.." Ucap Yena
"Gak papa kok Padi sayang..." Dimas mengelus rambut Yena yang terurai panjang
"Ya udah kita masuk yukk.." Yena mengajak Dimas ke dalam kosan ke tempat tinggal barunya saat ini.
"Ya udah ayokk.." Jawab Dimas
Yena berjalan duluan dan Dimas mengikutinya dari belakang.
"Tttaaarraaa..... sampailah kita ke tempat tinggal baru.." Ucap Yena dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya
"Eumm.. lumayan" Dimas melangkah masuk ia melihat-lihat sekitar, dimana terdapat dapur kecil, kamar mandi, kamar pribadi dan ruangan depan.
"Kamu bawa apa kak?" tanya Yena mengintip sesuatu dalam kantong plastik besar yang di bawa Dimas
"Oh, ini.. makanan.." Mereka duduk di lantai yang beralaskan tikar.
Di bukanya seluruh isi kantong plastik itu.
"Aku kan juga pernah ngalamin jadi anak kosan.." Ujar Dimas
Dimas membawa Satu box Red Hot Chicken, Satu box Hot Chicken dan satu box Crispy Chicken.
Tak hanya itu Dimas juga membelikan beberapa cemilan, minuman dingin, mie instan, bahkan perlengkapan mandi seperti sikat gigi dan odol.
"Sebegitu perhatiannya kakak padaku? sampai hal seperti ini saja kakak beli?" tanya Yena terharu dengan barang bawaan kekasihnya.
"Gak tahu.. tiba-tiba liat perlengkapan mandi langsung keinget aja.. Jangan-jangan punya santet supaya aku ingat terus padamu.." Ucap Dimas tertawa
"Pelet... bukan santet.. kalo santet, kamu mati kak..." Ujar Yena
"Oh, iya salah ya? Lupa aku.." Ucap Dimas tertawa terbahak-bahak
"Belajar Romantislah agar aku tak bosan padamu.." gumam mengambil satu potong ayam dan langsung menggigitnya.
"Ih, manyun.. bibirnya makin kaya Donal bebek aja.." Dimas meledek Yena yang terlihat manyun.
"Udah gak nih...iiii..." Yena tersenyum paksa dengan memperlihatkan seluruh bagian gigi depannya.
"Iiii....??? emang mau periksa gigi apa..?!" Ucap Dimas
"Udah makan dulu akh.. ngomong Mulu dari tadi.." Ucap Yena
"Ya ampun padi.. kamu lucu banget kalo lagi cemberut.." Dimas mencubit pipi kekasihnya itu
"Udah kak.. makan..." Yena menyumpel mulut Dimas dengan sepotong Hot Chicken
"Ih, pedes tau..." Dimas langsung mengambil minuman botol yang di belinya dan meneguhkan dengan beberapa tegukan.
"Dih, Cemen.." Yena tertawa melihat wajah Dimas yang mulai merah ke pedesan.
"Aku bukan Cemen.. aku cuman gak suka pedes.." Ucap Dimas membela diri
"Sama aja itu namanya.. makannya jangan ngerasain orang, sekarang ke bales kan aku ketawain" Kata Yena kembali tertawa.
"Udah akh.. udah.. eh, kamu kenapa keluar dari rumah? berantem sama orang tua?" tanya Dimas
Yena terdiam, pada dasarnya Dimas orang baru dalam hidupnya yang tak mengenal dia yang sebenarnya
"Cuma mau mandiri aja kak.." Yena menjawab, ia menyembunyikan kenyataan bahwa orang tuanya telah lama meninggal dan selama ini ia hanya numpang tinggal di rumah Bobby.
"Eumm.. begitu, ia gak bolehlah berantem-berantem sama orang tua. berarti padi ku sayang ini bagus dong.. sekarang udah belajar mandiri.." Dimas mengusap kepala Yena
"Kak tangan kamu kotor..." ujar Yena
"Cuma dikit doang..." Ucap Dimas
"Dikit apaan.. itu minyak goreng lho bukan minyak rambut.." Ujar Yena
"Iya.. iya.. maaf gak sengaja.. kamu belum mandi ini kan?!!.. ya udah nanti sekalian cuci rambutnya.." Ucap Dimas menyuapi Yena
"Cuci...?! di kira baju kali di cuci.. keramas kak.." Ucap Yena dengan mulut yang penuh makanan
"Iya.. sama aja." Ucap Dimas
"Harusnya kamu beli nasi juga kak.." Ucap Yena yang masih di suapi Dimas
"Ia aku lupa.. tapi, kenyang lah segini banyaknya ayam.." Ucap Dimas
"Aku aja gak yakin habis.." Ucap Yena
"Gak.. aku yakin habis kok..!! aku dengar pacar ku pemakan daging.." Dimas melirik kan matanya
"Pemakan daging apaan? Karnivora dong?? di kiranya aku mamalia apa? Harimau? berarti kamu pacarnya harimau dong.." Ucap Yena tertawa
Suasana makan mereka terasa nikmat, meski berdua namun, mereka terus tertawa saling melempar senyuman satu sama lain.
Selesai makan tak lama Dimas memutuskan untuk pamit pulang.