
Yena menunggu di halte bus, duduk dengan pakaian rapih.
memakai kemeja kotak-kotak berwarna hitam putih pendek, yang di lapisi sweeter abu dan celana jeans berwarna hitam pekat.
ia duduk dengan tas selempang kecil berwarna merah yang di taruh di atas pahanya.
Sesekali ia melihat ke kiri dan kanannya, berharap Dimas segera datang menghampirinya.
"Tin... Tin.." Suara kelakson mobil yang berhenti di depannya.
mobil berwarna biru, yang terlihat begitu bersih dan kinclong.
Kaca pengemudi perlahan turun menampakkan sesosok pria dengan kaca mata hitam, kepala pria itu condong keluar kaca,
"Ayokk masuk.." Ucapnya
Yena memperhatikan, siapa yang berbicara barusan. ia tak begitu yakin orang itu bicara padanya. tapi, tiada orang lain selain dia di halte bus itu.
pria itu membuka kaca mata hitam yang di gunakannya
"Ini aku Dimas...!!" Ucapnya
"Oh.. oke, aku masuk.." Yena tersenyum menyadari orang itu adalah dimas, ia melangkahkan kaki dan memasuki mobil berwarna biru milik Dimas, Lalu duduk bersebelahan dengan Dimas.
"Kapan lagi coba bos jemput karyawan.." Ucap Dimas tersenyum mulai mengemudikan mobilnya.
"haha.. jadi serasa jadi bos di jemput gini.." Ucap Yena tertawa
"Oh ya, sejak kapan kamu deket sama Bobby?" tanya Dimas
"Mm.. udah sebulan lebih" kata Yena sambil berfikir.
"Kalian ketemu dimana?" tanya Dimas
"Sungai Han.." Ucap Yena singkat dan tanpa keraguan.
"Sungai Han? kok bisa gimana ceritanya?" tanya Dimas
"Dia lagi bersepeda waktu itu, terus ketemu sama aku" Ucap Yena
"Oh, jadi kalian sama-sama suka bersepeda?" tanya Dimas
"Bisa di bilang begitu.." Jawab Yena berbohong.
Ya, karena dia takan mungkin menjawab bertemu dengan Bobby di sungai Han saat dia hendak bunuh diri.
Entah kenapa dia pun merasa konyol dan malu jika ingat hal itu, Apalagi orang lain?. mungkin ia akan di tertawakan atau malah di bawa ke psikiater agar jiwanya kembali berdamai, hingga mengurungkan rasa ingin matinya saat itu.
tapi, bukan tanpa alasan.. Yena melakukan itu karena sudah tak tahu harus kemana ia pergi dan harus kemana ia pulang.
"Oh, ia di sana juga sudah ada beberapa orang yang akan mulai bekerja hari ini, jadi kamu akan memiliki banyak teman disana. semoga betah ya.." Ucap Dimas dengan senyumnya
"Berarti aku harus panggil 'Bapak' dong ya, secara kak Dimas kan pemiliknya" Ucap Yena
"Hmm.. sebenarnya sih, aku agak keberatan di sebut bapak.. aku masih muda Lho, belum menikah, belum punya istri, belum punya anak.." Ujar Dimas menyetuh dagunya.
"ya sudah kakek saja..." Jawab Yena bergelak tawa.
"Wah, ternyata kamu orangnya lucu juga ya.." Dimas tertawa
"Oh, ya.. emang restorannya kaya apa kak? maksudnya konsepnya makanan apa?" tanya Yena
"Jadi, restoran BBQ biasa.. nanti juga tau." ucap Dimas.
sesampainya di sana, Yena turun dari mobil.
terdapat restoran dengan tulisan "GoggiJjang" Diambil dari bahasa Korea dimana Goggi berarti Daging dan Jjang artinya terbaik.
GoggiJjang menyajikan potongan daging woo samgyup (beef belly) tipis karena tekstur potongan daging ini lembutdan juicy.
Restoran berkonsep Korean Street bernama GoggiJjang, menawarkan menu all you can eat Korean BBQ.
Tersedia 4 varian rasa daging yang sudah dimarinasi yaitu Bulgogi, Spicy Bulgogi, Honey Soy dan Black pepper dan satu pilihan daging ayam dengan rasa barbeque. Untuk daging wagyu tersedia dalam rasa original dan Bulgogi.
Masing-masing pilihan ditemani dengan banchan (menu pendamping) yang terdiri dari Japchae, Pajeon dan Karaage. Semua menu ini diracik oleh Chef Korea, untuk memastikan GoggiJjang menghadirkan cita rasa kuliner Korean barbeque yang autentik.
Setelah daging-daging tersebut matang, pengunjung bisa menyantap BBQ ala Korea, dengan melapisinya di atas selada, bersama nasi, kimchi, bawang putih serta saus ssamjang dan minyak wijen.
Selanjutnya semua bahan-bahan tadi dibungkus dan masuk ke dalam mulut.
Yena cukup jelas dan mengerti arahan bosnya, tentang apa saja yang harus ia lakukan.
ia bekerja dari pukul 11.00 pagi sampai 10.00 malam.
Cukup lelah baginya karena, ini adalah pengalaman pertamanya mencari uang.
Meski lelah, ia tak pernah melepaskan senyum di bibirnya.
semakin ia lelah, ia malah semakin ceria.
Yena pintar beradaptasi dengan orang-orang, dia gadis ceria yang tak segan untuk bertanya, bahkan tak malu untuk bercanda pada orang yang baru di kenalnya.
Dari kejauhan Dimas hanya tersenyum melihat tingkah Yena.
Jam 10.00 malam,
semua karyawan berbenah merapihkan seisi restoran untuk bersiap pulang ke rumah masing-masing.
"Yena.. Mau pulang denganku?" seorang gadis memakai kaos pendek berwarna merah, menghampirinya dengan rambut panjang yang di ikat ke belakang.
"Tidak.. dia akan pulang bersamaku.." Tiba-tiba Dimas datang dan masuk ke percakapan mereka.
"Eh, bos.. malam bos.." Gadis berbaju merah itu menyapa
"Malam bos.." Yena ikut menyapa.
walaupun Dimas menjadi temannya namun, tetap saja Dimas adalah bos di restoran ini.
"Ia malam.. Jessica, kamu duluan saja. Yena akan pulang denganku" Ucap Dimas pada gadis berbaju merah yang di ketahui bernama Jessica itu.
"Oh, begitu. maaf bos saya tidak tahu. saya permisi pulang dulu bos.." Ucap Jessica memangutkan kepalanya
"Gua pulang dulu Yena.. nanti malam gua telepon" bisik Jessica ke telinga Yena.
Lalu ia melangkah pergi.
Jessica adalah gadis berusia 20 tahun, meski Yena lebih muda darinya, ia tak mau di panggil dengan sebutan 'kakak'.
belum sehari mereka tampak dekat dan akrab, sosok Jessica juga bukan orang yang susah untuk bergaul, Sehingga Yena dan Jessica tak segan bertukar nomor handphone hari itu juga.
"Padahal gak usah kali pak.. takut saya kebiasaan ngerepotin orang terus" Ucap Yena pada Dimas
"Pak? ini kan udah lewat jam kerja" Ucap Dimas
"Tapi ini masih di tempat kerja bos..?!" Jawab Yena
"Ya sudahlah terserah kamu.. aku anter pokoknya." Ucap Dimas
"Ya sudah kalau bos maksa.." Yena tersenyum
"kapan aku maksa..?!" Tanya Dimas meledek
"Berarti gak jadi nih bos nganterin pulangnya?" tanya Yena dengan kedua alis yang berkedut membuat Dimas tertawa kegelian.
"Haha.. ya sudah. ayokk, pulang." ajak Dimas.
mereka pun melangkah keluar restoran.
"Memang kalo jam segini kendaraan umum masih ada gak sih?" tanya Yena
"Mm.. ada deh kaya nya. kurang tau juga aku.." jawab Dimas
"Iya.. kamu kan punya mobil..?!!" Ucap Yena
"Ya bukan gitu, tapi kan ini udah malem.. takut juga kamu kan cewek.." Ucap Dimas
"Jadi maksud anda, cewek itu penakut begitu?" Yena langsung menangkap umpan dari omongan Dimas sambil tertawa
"Ya bukan gitu maksudnya.. tapi kan kebanyakan cewek jadi korban tindak kriminal. cewek kan gak bisa ngelawan.." Kata Dimas menahan tawanya
"Jadi menurut anda, cewek itu lemah??" Yena bertanya lagi pada Dimas, membuat Dimas bingung harus menjawab apa.
"Pertanyaan kamu tuh ya.." Dimas begelak tawa melihat tingkah Yena.
mereka berdua berjalan mendekati mobil sambil memegangi perutnya, yang kegelian karena tertawa.
"Yena..." seseorang dari belakang memanggilnya.
Yena pun menoleh.
"Bobby..?!!" Yena terkejut
"Bukankah Bobby pagi tadi marah?, lalu kenapa dia malah datang kesini?, bagaimana dia bisa tau tempat kerja ku? oh.. iya aku lupa dia berteman dengan Dimas dan Hendi. lalu untuk apa dia kesini?, apa dia juga menjemput ku?, berarti dia sudah tidak marah lagi dong..?!!" Batin Yena
"bukankah kantor mu melawan arah?, kok kamu bisa kesini?" tanya Dimas
"Emang perlu gua jelasin ke lu.. suka-suka gua, mau gua jalan sini... mau jalan sono.. bukan urusan lu, urusan gua cuma buat jemput Yena." Ucap Bobby dengan mata melotot ke arah Dimas
Dimas menanggapinya dengan tenang.
melihat Dimas setenang itu, membuat Yena kagum.
"Pantas saja Irene lebih menyukai Dimas dibandingkan Bobby, sifat mereka bertolak belakang. lihat saja Dimas setenang itu, walau Bobby begitu bringasan.. sungguh terlihat sifat kedewasaannya" Batin Yena
"Ngapain lu, liat Dimas kaya gitu?? di pelet lu?" Ucap Bobby
"Sembarangan..!!" Ucap Yena menghentakkan kakinya.
"Makanya ayo pulang.." Bobby menarik tangan Yena
"Eh, ini ambil.." Dimas memberikan bungkusan pada Yena
"Apa ini..??" tanya Yena menahan kaki untuk tetap berdiri karena Bobby yang terus menarik-narik tangannya.
"Nanti liat aja.." Ucap Dimas
"Ih.. apan sih narik-narik.." Ucap Yena menatap kesal pada Bobby
"Ya makannya ayokk pulang." Ucap Bobby
"Ya ini juga.. pulang kok" jawab Yena
"Lu Binal gua bilangin bapak lu Lho..?!!" Ucap Bobby agar Dimas melihat kedekatannya dengan Yena.
"Aku pulang dulu.. makasih ya bos.." Ucap Yena tergesa-gesa, lalu melangkah pergi bersama Bobby
"Hati-hati di jalan.." Ucap Dimas