
Pagi itu Bobby kembali ke aktivitasnya, untuk bekerja.
Yena bangun pagi-pagi dan membuatkan makan untuk Bobby.
"Eh, emang ada OB yang pake jas rapih kaya gini ya?" tanya Yena melihat pakaian Bobby yang terlihat rapih
"Aku OB ekslusif.." Ucap Bobby tertawa dengan mulut yang penuh makanan
"Jangan makan sambil ketawa gitu akh, nanti keselek lho.." ujar Yena yang kala itu makan dan duduk di kursi tempat makan bersama Bobby.
"makanya kamu juga jangan banyak ngomong.." Ucap Bobby tersenyum
"Ya udah abisin makannya.." Ucap Yena
Mereka pun menyantap makanan bersama, dengan lahapnya sambil melempar senyum satu sama lain.
Setelah menghabiskan makanannya, Bobby pamit untuk pergi bekerja.
Seperti biasa Yena bertugas untuk membersihkan seluruh rumah di dalam dan luarnya.
Jam 15.00
Seseorang mengetuk pintu, Yena sudah kegirangan, ia begitu yakin yang datang adalah Bobby yang baru pulang dari kegiatan kantornya.
"Ia sebentar..." Ucap Yena
Yena berlari ke arah pintu depan, dengan segera ia membuka pintu.
"Lho.." Mulut Yena terbuka lebar
Yena terkejut ketika membuka pintu depan. bukannya Bobby yang di dapatinya di depan pintu tetapi, pria berambut pirang dengan kaos pendek berwarna kuning dan celana jeans panjang yang robek-robek di lututnya.
"Kok lho masih disini?!" Tanya pria yang kemarin merengek-rengek seperti anak kecil
"Daniel.." Ucap Yena
Yena hendak menutup pintu kembali Namun, tertahan oleh Daniel seorang lelaki tenaganya lebih besar daripada dirinya.
Yena kalah dan pintu pun akhirnya terbuka Karena, adu tenaga yang di lakukan Yena dan Daniel.
"Kok lho masih disini?" tanya Daniel.
Yena hanya menunduk, tak dapat menjawab apapun. ia bingung apakah ia harus jujur atau terus berbohong.
"Lu ngapain di sini?, Lu dapet kunci rumah ini dari siapa?" tanya Daniel
"Aku.. aku di suruh ngambil sesuatu, terus suruh di anterin ke tempat Bobby kerja, ia gitu.." Ucap Yena agak ragu-ragu
"Oh, gitu.. suruh ngambil apa?" tanya Daniel
"aku gak bisa ngomong ke kamu ini private, urusan kantor" ujar Yena
"Oh, gitu.. sekarang udah ketemu sesuatunya?" tanya Daniel
"U.. udah.." Yena menjawab setengah ragu-ragu
"Ya udah lho boleh pergi..!!?" Ucap Daniel
"Hah pergi? pergi kemana?" tanya Yena
"Ya, kan.. tadi katanya di suruh ke sini ngambil sesuatu??, sekarang kan udah ketemu sama barang yang di carinya.. ya kamu sekarang samperin bosnya dong, nganterin apa yang di perintahkannya" Ucap Daniel sedikit menaruh rasa curiga
"Oh, ia benar.." Ucap Yena tersenyum paksa.
Namun, saat hendak melangkah ia kebingungan. karena ia tak pernah tau letak kantor Bobby di sebelah mana, ia juga kesulitan mengahapal jalanan komplek rumah yang di huninya baru-baru ini.
"Kenapa kok diem?" tanya Daniel
"Aku gak tau kantornya di mana.." Ucap Yena pelan
"Serius Lu gak tau? bukannya kemarin so tau ya..?" tanya Daniel mengangkat alis nya ke kirinya ke atas.
"Ya udah sana pergi.. nanti d jalan, gua kasih tau harus ke mana-mana nya" Ucap Daniel
"Aku juga belum hafal jalanan kompleks ini" Ucap Yena
"Bukannya kemarin Dateng kesini juga? harusnya hapal dong.. tadi lu jalan lewat mana? hapal dong?" ucap Daniel memancing informasi
"Lupa.." ucap Yena unjuk gigi
"Masa lupa?" tanya Daniel penuh kecurigaan
"Mau gua ingetin gak..?" tanya Daniel
"Gak perlu.. karena, kamu adeknya Bobby aku mau cerita suatu hal sama kamu" Ucap Yena
"Apa?" tanya Daniel begitu penasaran
"Omongin di ruang tamu aja.." Ujar Yena
Yena dan Daniel masuk ke dalam rumah, duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Kamu penasaran? aku mau jujur, aku tinggal di sini.. aku gak bisa punya tempat tinggal" ucap Yena, Daniel begitu terkejut mendengar pengakuan Yena yang begitu berani.
"Wahh.. benarkah? apa kamu seorang pengemis sebelumnya? kenapa kamu berani ngomong kaya gini depan gua? lu gak takut gua usir?" tanya Daniel
"Gak sih.. aku yakin kok, sebenarnya kamu orang baik." Ucap Yena membuat Daniel tersenyum
"kau benar, aku memang orang baik. lalu bagaimana kamu bertemu dengan Abang ku?" tanya Daniel
"Entahlah, kita bertemu begitu saja. tapi, aku bukan seorang pengemis. hanya saja aku di tipu orang dan mereka menjual rumah ku tanpa sepengetahuan ku.." Ucap Yena
"Tinggal dimana kamu sebelumnya?" tanya Daniel
"aku tinggal di Star City.." Ucap Yena
"benarkah? sekarang keluarga ku tinggal disana.." Ucap Daniel
"kamu sekolah dimana?" tanya Daniel
"Aku sekolah di Hanlim.." Jawab Yena
"Sepertinya kita beda, aku sekolah di sekolah lain. Pantas saja, aku tak pernah melihat mu sebelumnya, kamu di sekolah putri. kamu lahir bulan apa?" tanya Daniel, mereka jadi terlihat lebih akrab sekarang padahal sebelumnya mereka terus bertengkar.
"Aku..? aku Mei.." Ucap Yena
"Benarkah? aku juga Mei.. kamu tanggal berapa?" tanya Daniel
"Aku tanggal 15. Wah, berarti kita bisa merayakan ulangtahun bersama ya.. aku dan kamu terpaut satu tahun.. tunggu berapa hari ya.." Daniel seperti menghitung dengan jarinya
"1 tahun 13 hari.." ucap Yena
"Benarkah? tampaknya kamu lebih pintar dari ku.." Daniel tersenyum
Di sisi lain sebuah mobil yang di kemudikan seseorang, baru saja memasuki area rumah.
mobil hitam itu berhenti dan seseorang keluar dari mobil tersebut.
Ia datang dan mendekati pintu depan, orang itu sangat kaget melihat pintu dan sepatu yang yang ia kenal terpajang di luar, orang itu berlarian seperti mencari sesuatu.
"Yena..!!" teriak pria itu
"Bisakah volume bicara mu di kecilkan? menganggetkan kami saja.." Ucap Daniel
"Bobby.. kenapa kamu sampai berlari-lari seperti itu?" tanya Yena
Bobby terheran-heran melihat Yena dan Daniel duduk bersampingan, sambil tersenyum senyum. padahal kemarin mereka bertengkar terus.
"Sejak kapan kalian akrab?" tanya Bobby dengan nafas tersengal-sengal.
"Kami..?" tanya Daniel
"Iya.. kalian berdua bodoh..!! aku melihat pintu terbuka dan sepatu Daniel di luar, aku fikir kalian sedang perang, saling menjambak rambut.." Ucap Bobby
Yena dan Daniel hanya tertawa melihat tingkah Bobby,
"Apa aku terlihat seperti orang yang akan menjambak rambut perempuan?" tanya Daniel
"Tingkah mu lebih dari seorang perempuan.. bodoh..!!" Teriak Bobby yang malah membuat Daniel dan Yena bergelak tawa, melihat tingkahnya.
"Jangan khawatir, kami berteman sekarang bang" Ucap Daniel
"Benarkah?" tanya Bobby
"Benar, kamu bisa tanyakan pada Yena.." Ucap Daniel
"Benar, aku sudah bercerita banyak dengan Daniel.. sekarang dia tau aku tinggal di sini" Ucap Yena
"Apa yang terjadi pada kalian? kenapa bisa tiba-tiba seakrab ini?" tanya Bobby
"Entahlah.. terjadi begitu saja.." Ucap Daniel
"Yena, tolong cucikan mobilku.." Ucap Bobby
"Oke.." Yena melangkah ke luar
"Aku akan membantu mu.." Daniel menyusul dari belakang
"Bagaimana mereka bisa akrab, padahal kemarin mereka masih saling serang. apa ada yang salah dengan otak Daniel setelah kena pukulan kemarin.." Gumam Bobby
Bobby memperhatikan Yena dan Daniel dari kaca jendela dalam, mereka saling mengobrol dan tertawa.
"Apa luka mu sudah sembuh?" tanya Yena
"Lukaku? akh.. tak perlu di tanyakan lagi, bukankah kamu melihat aku lepas dari perbanku.." Ucap Daniel
"Sembuhkah?" tanya Yena
"belum, hanya saja aku tidak betah memakai perban seperti itu." Ucap Daniel tersenyum
"Coba aku lihat.." Yena mendekat dan melihat lebih dekat luka Daniel
Bobby dari dalam rumah yang tak dapat mendengar percakapan mereka, hanya melihat tingkah mereka di buat geram.
"Apa mereka sedang pacaran sekarang" Gumam Bobby kesal,
Bobby melangkah keluar rumah, mengambil selang air yang tergeletak dengan air yang masih menyala.
"Bukankah aku menyuruh kalian mencuci mobil.." kata Bobby menyemprotkan air dari selang itu ke pada Yena dan Daniel yang berdekatan, membuat wajah dan pakaian mereka basah kuyup.
"Abang.. apa apaan sih?!!" Ucap Daniel
"Kami juga mau cuci mobil kok.." Ucap Yena dengan bibir manyun
"Tadi apa? kalian berdekatan seperti tadi.. kalian baru kenal sudah mau ciuman??!!" Ucap Bobby
"Hah?" Daniel terkejut dengan kata yang keluar dari mulut Bobby
"Aku hanya melihat luka Daniel yang kemarin kok.." Ucap Yena sambil mengusap wajahnya yang basah terkena semburan air.
"Ia.. gara-gara air yang Abang semprotkan, luka ku jadi malah terasa perih.." Ucap Daniel.
Daniel mengambil selang air dari tangan Bobby,
"Eh.. eh.. mau ngapain lu.." Ucap Bobby panik melihat Daniel merebut selang air darinya.
"Mau Cuci mobil lah.. sekalian orangnya..hahaha" Daniel menyemprotkan air itu ke arah Bobby, Bobby bersembunyi di balik badan Yena.
"Eh, gua masih pake pakaian kantor.." Ucap Bobby
"Gak papa sekalian cuci baju.." Ucap Daniel tertawa
Yena menghindar dan membiarkan Daniel membalaskan dendamnya dengan menyemprotkan air ke arah Bobby.
Bobby merebut selang itu kembali lalu menyemprotkan mereka berdua. Yena tak mau kalah, ia mengguyurkan seember air yang terisi penuh ke arah Bobby.
"Kamu membela siapa sebenarnya heii..." Ucap Bobby.
"Aku tak membela siapapun.." Ucap Yena bergelak tawa.
Daniel membawa selang air lainnya yang masih aktif.
mereka bertiga saling menyemprotkan satu sama lain, gelak tawa tak henti terdengar dari mulut mereka, berlarian ke sana kemari.
Baju yang basah kuyup tak di hiraukan lagi, acara mencuci mobil malah menjadi acara perang air.
Mereka terlihat bahagia, seperti tiga orang anak kecil yang sedang main air.
Tiga orang anak kecil yang tanpa yang sedang asyik bermain air.
Tiga orang anak kecil yang di sulap menjadi dewasa.