YENA

YENA
Suami?



ini adalah malam pertama Yena tidur di tempat barunya, terasa sepi dan sunyi.


entah kenapa ia ingat pada sosok pria yang bukan Kekasihnya, pria yang selalu ia lihat sebelum dan sesudah tidurnya, pria yang selalu ada ketika ia pulang kerja dan pria yang terakhir kali ia bentak.


Jika di ingat pria itu memang memiliki jasa yang sangat luar biasa bagi Yena, bagaimana tidak.. Jika pria itu tak ada, ia takan mungkin bisa hidup seperti sekarang.


Pria itu menyelamatkan hidupnya, pria itu juga yang memberikannya tempat tinggal dan bahkan kartu kredit. Namun, pria itu juga adalah pria yang sulit ia tekan nomor handphonenya walau hanya sekedar mengirim pesan singkat.


Ia hanya ingin mengatakan bahwa ia sangat berterimakasih dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja di tempat yang baru ini.


Namun, rasa gengsi mengurungkan niatnya.


"Bagaimana mungkin aku meminta maaf padanya.. jelas-jelas dia yang salah padaku.." Batin Yena


Ia berguling-guling di tempat tidur, ia bingung apa yang meski ia katakan..


Handphonenya berdering..


Ia langsung mengambilnya berharap pria yang sedang ia pikirkan saat ini menghubunginya walau hanya sekedar mengirim pesan.


Di lihatnya ponselnya..


"Dimas..." Batinnya


Saat melihat yang mengirim pesan ternyata Dimas.


Yena menghembuskan nafasnya ke udara, ada rasa kekecewaan di raut wajahnya.


Perlahan ia terkejut dengan dirinya sendiri,


"Kenapa aku begitu kecewa saat melihat pesan yang ku dapat ternyata dari Dimas dan bukan dari Bobby?? Sadarlah Yena... sadar.. kekasih mu bukan Bobby tapi Dimas..?!!!" Ucap Yena menepuk-nepuk kedua pipinya, menyadarkan diri.


Sepanjang malam ia menunggu pesan dari Bobby, ia terus memegangi ponselnya berharap pria itu benar-benar menghubunginya.


Di lihatnya jarum jam telah menunjukkan pukul 23.55 ..


"Seharusnya ia sudah pulang jam segini.. Tapi kenapa ia tak menghubungiku sama sekali?, apa ia tak khawatir padaku?, Apa ia takan menulis permintaan maaf padaku? Atau ia mabuk lagi seperti tempo hari? akh.. tidak mungkin, ia hanya akan mabuk jika punya masalah dengan Irene... benar, Irene hampir aku lupa bahwa tadi pagi saja Daniel bilang melihat mereka bermesraan di atas ranjang.. Atau mungkin Bobby sedang tidur dengan Irene?" Batin Yena, ia terus bertanya-tanya di dalam hati tanpa tau jawaban yang pasti.


Yena hanya menebak-nebak apa yang terjadi.


Sampai-sampai ia tertidur dengan ponsel yang masih di genggaman tangannya.


Selang beberapa lama kemudian gadis itu menjerit kuat...


Ia terbangun dengan mata yang basah, Mimpi buruk itu datang kembali di saat ia tak memiliki orang lain di kos-kosan itu, saat ia belum mengenal tetangga-tetangganya dan Saat ia tak bisa meminta bantuan siapapun. badannya bercucuran keringat, rasa dingin di badannya ia rasakan, wajahnya terlihat sangat pucat setiap kali ia bermimpi kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya, yang membuat dia kehilangan seluruh anggota keluarganya.


gadis itu merasa sangat ketakutan, di pikirannya ia hanya membutuhkan satu orang yang bisa menenangkannya.


Orang yang sudah tidak kaget melihat penyakitnya, orang yang mau merawatnya saat dia sakit, pikirannya langsung teringat dengan pria yang sempat bersitegang dengannya tadi pagi.. siapa lagi orang yang mengetahui sisi lain dari seorang 'Yena' selain Bobby..?!.


Ia tau jika ia terus hanyut dengan rasa ketakutan,ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan menjadi sosok berbeda seperti saat Bobby menemukannya di jembatan, seperti itulah jika penyakit nya kambuh.


Tanpa ragu ia menekan panggilan di ponselnya yang menghubungkan dia dan Bobby


Bobby yang kala itu sedang tertidur pulas, seketika terbangun melihat panggilan telepon masuk dari Yena.


Sejujurnya ia khawatir, untuk apa Yena menelponnya dini hari seperti ini?!


"Hallo.. iya ini aku.. ada apa?" Ucap Bobby dengan suara serak habis bangun tidur


"Bob..." Yena menjawab dengan suara lemah seolah banyak ke khawatiran dalam dirinya


"Kamu kenapa Yena..?" Tanya Bobby makin resah setelah mendengar suara Yena yang begitu rendah.


"Bob....." Yena berucap singkat kembali, bibirnya bergetar.


Logikanya bilang untuk tidak meminta tolong pada Bobby Namun, hatinya terus meyakinkan bahwa hanya Bobby yang dapat menolongnya.


"Yena.. Yena.. kamu jangan khawatir ya, kamu jangan takut, coba kamu tarik nafas.. lalu keluar kan pelan-pelan..." Ucap Bobby


Yena mengikuti apa yang di suruh oleh Bobby, gadis itu menarik nafas panjang lalu perlahan di hembuskan.


"Iya seperti itu.. kamu katakan sekarang kamu ada dimana? aku akan kesana.." Ujar Bobby dengan terburu-buru melangkah mengambil kunci mobilnya hingga ia tersandung.


Bruukk...!!!!


Pria itu terjatuh.


"Aww..." teriaknya


"Kamu Kenapa?" tanya Yena yang mendengar kegaduhan


"tidak apa-apa..." di lihatnya lututnya tergores dan mengeluarkan setetes darah.


"Kos-kosan ku tak jauh dari Gedung Budaya.. nama kos-kosannya '16'.." Ucap Yena


"Baiklah aku ke sana sekarang kamu jangan pergi kemana-mana..." Ucap Bobby penuh penekanan


"Baiklah, aku berada di lantai 2 nomor 5.." Ucap Yena


"Baik aku kesana sekarang... Ingat, jangan pergi kemanapun.." Ujar Bobby mengulang kata-katanya.


Bobby masuk ke mobil dan mulai mengendarainya dengan kecepatan tinggi.


"Baiklah.." Jawab Yena


Tangan Yena bergetar seolah ia tak sanggup lagi memegang ponselnya, tubuhnya terasa sangat lemas dan lemah.


Ia berbaring di tempat tidur tanpa bisa menutup kedua matanya.


20 menit kemudian..


Pria itu sampai ke tempat yang di sebutkan Yena.


Dengan langkah tergesa-gesa pria itu turun dari mobil miliknya.


tak ada pagar pembatas disana, hanya ada dua orang satpam dengan perawakan tinggi dan besar menghentikan langkahnya.


"Mas, mau kemana jam segini?" tanya seorang satpam menghentikan langkahnya.


Bobby memutar otaknya, ia berfikir mungkin ia Takan di berikan ijin bahkan di curigai, jika bilang menjenguk temannya atau adiknya.


"Saya mau nemuin Istri saya yang sedang sakit pak.. kebetulan dia baru pindah hari ini dan saya baru pulang bekerja.." Ucap Bobby mengarang cerita


"Siapa nama istrinya pak?" tanya seorang satpam membuka lebaran buku di tangannya


"Yena.. dia tinggal di lantai 2 nomor 5.." Ucap Bobby


"Oh, iya benar.. mbak itu baru datang tadi siang. biar saya temani sampai pintu pak..." Ucap satpam itu dengan senyuman di bibirnya


"Saya tinggal dulu ya pak.." Ucap satpam itu meninggalkan Bobby


"Terimakasih pak..." Ucap Bobby


"Sama-sama pak.." Jawab satpam itu.


Tokk.. Tokk.. Tokk...


Bobby mengetuk pintunya kos-kosan Namun, jawaban di dalamnya.


Tokk.. Tokk.. Tokk...


"Yena... ini aku Bobby" Ucap Bobby


Sekali lagi tak ada jawaban dari gadis itu.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Yena.. aku datang.. ini aku Bobby" Ucap Bobby


Perlahan suara kunci berputar terdengar, pelan-pelan pintu itu terbuka.


terlihat seorang gadis bersandar di pinggir dekat pintu, wajahnya begitu pucat dan wajahnya bak bermandikan keringat.


Bobby langsung masuk dan menutup pintu itu kembali.


"Kamu Kenapa?, bukankah aku sudah melarang mu untuk pindah?, Apa kata ku juga... aku melarangmu karena aku sangat khawatir padamu Yena.. Aku takut kamu seperti ini lagi... tapi, kamu keras kepala dan tak mau mendengarkan penjelasan ku.." Ucap Bobby menuntun gadis itu untuk tertidur di kasurnya


Yena melirik jamnya di tembok yang sudah menunjukkan pukul 2.30


"Bisakah kamu diam..?! kamu sangat berisik.. kamu ngomel terus gak capek?!" tanya Yena


"Iyaa maaf.. maaf.." Bobby duduk di sebelah Yena sambil terus menggenggam tangannya.


Pria itu mengambil kain bersih di lapnya, keringat yang bercucuran di dahi gadis itu.


"Kamu jangan khawatir.. aku disini akan terus menjaga mu.." gumam Bobby mencoba menenangkan gadis di sampingnya.


pria itu duduk di atas tempat tidur dengan kaki di selonjoran.


"Kenapa kamu tidak menghubungiku hari ini.. padahal aku menunggu pesan darimu..." Gumam Yena mencoba menutup matanya, ia berbaring menghadap ke arah Bobby, dengan tangan kiri Bobby di genggamannya yang di tempelkan ke pipi kirinya.


"Aku kira kamu benar-benar membenci ku.." Ucap Bobby mengelus wajah gadis di sampingnya.


tubuhnya begitu dingin, ingin rasanya ia meminta dokter untuk datang namun situasinya tak memungkinkan.


gadis yang telah menutup matanya itu mengerutkan keningnya,


"Bagaimana bisa aku benar-benar membenci mu.. yang ku miliki saat ini hanya kamu.. hanya kamu yang tau seperti apa aku sebenarnya.." air mata gadis itu jatuh ke tangan Bobby.


"Sudah-sudah jangan menangis.. tidurlah.." Bobby ikut berbaring di sisi gadis itu, di peluknya tubuh gadis itu dan di tenggelamkan wajahnya ke dada bidang Bobby.


"Jangan takut apapun.. jangan mengkhawatirkan apapun.. aku akan selalu ada untukmu... tidurlah.." Ucap Bobby


Ucapan Bobby seperti sebuah mantra bagi gadis bernama 'Yena', Perlahan gadis itu menutup matanya.


Namun, berbeda dengan Bobby.. ia terjaga sampai matahari mulai memancarkan cahayanya.


Pagi-pagi sekali Bobby keluar untuk membeli makanan dan kembali ke kos-kosan dengan sebuah kantong plastik di tangannya.


Di lihatnya Yena masih lelap tertidur, makanannya itu di pindah ke sebuah mangkok.


"Yena.. bangun.." Bobby menepuk-nepuk badan gadis itu yang terbungkus selimut.


"Hmmm...." Jawab Yena dengan mata tertutup tanpa bergerak sedikit pun


"Bangunlah... makan dulu.." Ucap Bobby


Yena pun bangun dan duduk di atas ranjangnya, dengan mata tertutup.


"Masa makannya merem..?!" Ujar Bobby


"Kamu tuh cerewet banget...?!!" Ujar Yena mengucek matanya sambil mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul.


Bobby menyuapi gadis yang mulai membuka matanya itu.


"Kamu balik lagi aja ke rumah, aku janji gak akan ngomong-ngomong kasar lagi...?!" Ucap Bobby


"Gak..." Jawab Yena singkat


"kalo kamu disini siapa coba yang jagain kamu..?!, ikut pulang ya.." Ujar Bobby


"Gak mau.." Jawab Yena menolak ajakan Bobby untuk pulang ke rumah


"Dasar keras kepala..?!!!" Bobby memasukan makanan lagi ke mulut Yena.


"Hari ini jangan kerja dulu... kan belum pulih" Ucap Bobby


"Gak akh, orang aku gak papa kok.." Ucap Yena tersenyum menatap Bobby dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan


Bobby tak mengatakan apapun dia hanya melotot ke arah Yena, membuat gadis itu menundukkan kepalanya.


"Iya.. iya.. aku gak kerja" Jawab Yena


"Susah banget di bilanginnya..." Ujar Bobby


Tak lama setelah Yena menghabiskan makanannya, Bobby memutuskan untuk pulang karena hari ini ia harus pergi ke kantor untuk bekerja.


Yena mengantarkannya sampai ke tempat Bobby memarkirkan mobilnya.


"Mbak yang penghuni baru yang bernama Yena?" Seorang satpam bertanya saat mobil Bobby mulai pergi.


"Iya itu saya.." Jawab Yena


"Semalam suaminya kalang kabut nyari mbaknya.. itu suaminya mau kemana?" tanya satpam


"Kerja pak..." Ucap Yena tersenyum


"Tunggu.. Suami???. Apa satpam ini mengira Bobby adalah suamiku??" Batin Yena


"Gak baik juga mbak.. bertengkar lama-lama sama suami.. gak boleh. Kata suami mbak semalam mbak lagi sakit.. gimana udah mendingan?" tanya pak satpam


"mungkin dia berasumsi aku tinggal di sini karena bertengkar dengan Bobby.. Wah, parah.. parah.. tapi, jika aku berkata Bobby bukan suamiku mungkin aku akan di pandang jelek memasukan seorang pria ke kosan pada jam 2 malam" Batin Yena


"Iya pak.. udah mendingan kok.. Saya permisi dulu pak.." Ucap Yena meninggalkan tempat itu dan kembali ke kos-kosannya, tanpa menjelaskan kebenarannya