YENA

YENA
Masih bisakah menyukainya?



Restoran GogiJjang


Yena mendatangi meja tak lama setelah seorang pembeli pergi, ia mengelap atas meja dengan lap bersih dan semprotan di tangannya.


Malam itu pelanggan yang mereka tak seramai hari kemarin, matanya diam-diam mengamati seorang pria yang sedang duduk di kursi depan sebari memegang kertas kecil dan pulpen yang di peggangnya, entah apa di tulis oleh pria itu.


"Hei.. Ngapain lu???!!" Seseorang dari belakang menganggetkan Yena.


"Ya ampun.. Jesicca.. hampir aja gua jantungan.." Ucap Yena dengan mata melotot karena terkejut.


"Ahahahaha.. iya.. iya.. sorry. Lagian lu ngapain sih?" Jessica menatap ke depan


"Wahhh.. si bos.. Tuh, kan apa kata gua.. Lu demen sama si bos?" tanya Jessica mendorong-dorong bahu Yena dengan kedua tangannya


"Gak.. apaan sih Lu.." Yena melepaskan tangan Jessica


"Ngapain Lu sembunyiin, semua orang yang kerja di restoran ini udah pada tau Lu pacaran sama si bos.." Ucap Jessica dengan senyum lebar.


"Kata siapa? ngarang lu.." Jawab Yena


"Lah, tiap hari di antar jemput kok" Ucap Jessica


"Emang boleh ya gua suka sama bos..." gumam Yena, ia merasa tidak pantas untuk menyukai bos tampan dan baik seperti Dimas.


"Kenapa gak boleh?, boleh aja lah.. Menyukai kan hak setiap orang yang gak boleh tuh menyukai milik orang dan ingin mengambilnya.." Ucap Jessica sambil mengambil sisa-sisa daging di piring bekas pelanggan.


"Dih.. jorok.." Ucap Yena melihat apa yang di lakukan Jessica


"Jorok apaan ini masih bersih kok" Ujar Jessica


"Wah.. kamu ini.. bener-bener......." Yena menggeleng-gelengkan kepalanya


"Eh, ada apa nih kayanya rame banget.." tanpa sadar, ada seseorang yang berdiri di dekat mereka.


"Eh, bos.. saya balik ke dapur dulu bos.. permisi.." Jessica tersenyum, dengan sedikit memangutkan kepalanya ia melangkah pergi.


"Yena.. pulangnya tunggu aku ya" Ucap Dimas tersenyum lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Yena


Yena memangutkan kepalanya, senyuman di bibirnya menjadi perwakilan hatinya, betapa bahagianya ia walau hanya bertatap mata dengan Dimas.


"Apa aku masih pantas untuk memiliki mu?, apa aku masih pantas menyukaimu?. Aku selalu berfikir 'tak apa bila orang bilang aku tak cantik asal aku masih memiliki harga diri' tapi sekarang.. bukan hanya tak cantik harga diriku saja masih perlu di pertanyakan. aku tak yakin apa aku masih memiliki harga diri.. bahkan sekarang aku hanya gadis yang tak tau diri karena menyukai orang seperti sesempurna Dimas" Batin Yena


Tak lama seorang pria dengan potongan rambut hitam di cat pirang di bagian depannya datang ke restoran, ia datang saat restoran hendak tutup.


"Maaf mas, kita udah tutup.." Ucap Jessica menghampiri pria itu


"Gua gak mau beli kok.." Ucap pria itu dengan sombongnya, matanya melihat-lihat kesana-kemari.


Jessica menghela nafas, kaki sebelah kirinya menginjak-injak lantai tanpa henti.


Ia yang bicara dengan ramah dan sopan Namun, di jawab dengan keangkuhan dan kesombongan, tentu saja ia jengkel.


"Terus kalo lu gak beli.. lu mau ngapain ke sini?" tanya Jessica dengan wajah masam


"Lah, Kenapa gua harus laporan ke elu?" tanya pria itu sewot


"Lah, kok situ tiba-tiba marah sih?!" tanya Jessica


"Siapa yang marah? gua biasa kok.. Lu nya aja baperan.." Jawab Pria muda itu mengerutkan dahinya.


"Wah, Lu mau nguntilin karyawati disini?!! emang kurang ajar ya lu.." Jessica melayangkan tendangan, kaki kirinya yang sedari tadi tak bisa diam akhirnya mendapatkan giliran juga.


Pria itu jatuh ke lantai karena kencangnya tendangan Jessica.


"Anjjiiirrrr...!!! Lu parah ya, Lu ya.." teriak pria itu terduduk di lantai dengan tangan memegang kakinya yang kesakitan.


"Suruh siapa lu gak sopan ke gua?!! Rasain tuh, lu gak tau aja gua itu pernah juara pencak silat se-kabupaten" Jessica mengibaskan rambutnya.


Suara kegaduhan yang mereka perbuat, sampai ke telinga karyawan-karyawan lainnya yang sedang bersih-bersih dan bersiap pulang.


Beberapa orang mendatangi sumber suara,


"Ada apa sih?" tanya Yena


"Gak tau.." Jawab staf laki-laki


Karena rasa penasaran Yena ikut berlari mendekati tempat ke gaduhan.


"Jes, ada apa innn..........." Yena terkejut, ia menutup mulutnya yang repleks terbuka dengan telapak tangannya.


"Daniel... kamu sedang apa disini?" tanya Yena jongkok menghampiri Daniel.


Jesicca yang melihat Yena menghampiri pria itu kaget dengan mata yang membulat.


Ia hanya mengira pria itu adalah pria mata keranjang yang sedang mencari mangsa.


"Gua mau jemput lu tapi malah di serang sama cewek gila itu.." Daniel menunjuk Jessica yang mematung.


"Jess, ini ada apa sih?" tanya Yena


"Dia karyawan sini? pecat aja.. gak tau etika tuh orang.." Ucap Daniel


"Eh, sialan Lu dulu ya yang mulai..!!" Kata Jessica menunjuk-nunjuk


"Udah.. udah.. kalian ini kenapa sih?, Ada apa?, Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yena


"Gua Dateng ke sini mau jemput lu kan, eh gak tau kenapa tuh cewek main tendangan-tendangan aja.. di kiranya gua samsak tinju kali ya.." Bobby berdiri dengan kaki tertatih


"Gak.. enggak.. dia tuh yang dateng-dateng matanya jelalatan liatin karyawati-karyawati yang ada di sini" Ucap Jessica


"Mata gua bukan jelalatan, gua lagi nyari orang.. dan orang itu adalah Yena.." Ucap Daniel


"Ya lu Kenapa gak ngomong?" tanya Jessica


"Gini nih kalo ngomong sama orang yang SQ nya rendah, belum apa-apa udah emosi aja" Ucap Daniel dengan melempar senyuman masam.


"Lu yang emosi.. bukan gua.." Jesicca membela diri


"Lu yang nendang gua.. dasar bodoh..!!!" Ucap Daniel


"Berani bilang bodoh, gua patahin tulang kaki lu biar gak bisa jalan sekalian.." Jessica dengan penuh emosi mendekati Daniel namun, di tahan oleh Yena.


"Wah, anjjiiirrrr" Daniel bersembunyi di belakang punggung Yena


"Udah sih.. Udah.. ya ampun, Daniel Lu tuh ya.. minta maaf sekarang.." Ucap Yena


"Ngapain gua minta maaf..? orang gua gak salah kok.." Ucap Daniel membuang muka


"Kamu tadi nge-bully Jessica..." Yena menatap tajam.


"Iya.. iya.. maaf.. gua minta maaf" Ucap Daniel menjabat tangan Jessica


"Ya udah gua maafin.. maafin gua juga gara-gara gua lu kesakitan.." Ucap Jessica


"Iya gak papa.. tapi, sakit banget asli.." Ucap Daniel


"Mau gua tambahin?" Jessica tersenyum


"Eh, ini kenapa gua jadi kaya tontonan di liatin banyak orang?!!" Ujar Jessica baru menyadari


"Bubar.. bubar.." Ucap Yena mengusir orang-orang yang berkerumun melihat kejadian itu.


"Eh.. ada apa ini ribut-ribut?" tanya seseorang yang baru datang.


"Eh.. Bos.. gak ada apa-apa kok bos, kita cuman lagi becanda tadi.. iya gak Yena.." Jessica menyenggolnya tangan Yena dengan sikunya seperti memberi kode


"Iya pak.." Jawab Yena tersenyum


"Oh, begitu.. Yena kamu sudah mau pulang?" tanya Dimas


"Iya pak tapi... maaf pak, sepertinya saya gak bisa pulang bersama bapak.." Ucap Yena


"Kenapa?, udah ada yang jemput?" tanya Dimas


"Saya..." Daniel memberi suara.


"Yena, bisa bicara sebentar..?!" Dimas berjalan keluar, di ikuti Yena di belakangnya.


Daniel hendak menyusul namun tangannya tarik oleh seseorang di belakangnya.


"Apa sih lu?" Ucap Daniel


"Lu mau ngapain?" tanya Jessica


"Ya, nyamperin Yena lah.. ngapain mereka berduaan di luar coba..." Ucap Daniel


"Terserah mereka lah.. itu bukan urusan lu.. Jangan ikut campurlah..." Ucap Jessica


"Mau gua ikut campur atau enggak juga bukan urusan lu kan?!!" Kata Daniel


"Lu diem atau gua patahin kaki Lu.." Jessica mengancam.


Daniel hanya bisa menurut karena wanita itu memang bukan wanita sembarangan, bekas tendangan di kakinya saja masih terasa sakit.


Dengan bibir manyun ia duduk di bangku restoran bersama dengan Jesicca.


Bobby membuka pintu mobilnya di suruhnya Yena untuk masuk kedalam.


Yena hanya menuruti apa yang di katakan Dimas dan duduk di bangku depan, setelah Yena masuk ia menutup pintu mobilnya.


berjalan ke pintu sebelahnya, lalu masuk dan duduk di sebelah Yena.


"Ada apa kak?" tanya Yena


"Gak panggil bapak lagi..?!!" Ucap Dimas tertawa


"kan di luar..hehe" Yena tersenyum


Dimas menengok ke belakang bangkunya lalu mengeluarkan satu buket bunga mawar merah asli, dan sebuah boneka beruang berwarna putih yang sangat besar.


Ia memberikan satu persatu pada Yena.


"Bagaimana aku memegangnya?, ini sangat besar.." Ucap Yena kesulitan memegang boneka itu.


"Aku bahkan tak bisa melihat wajahmu.." Dimas tertawa, ia mengambil boneka itu kembali, lalu di simpan ke belakang lagi.


"Itu untuk mu semua.." Ucap Dimas


Yena terdiam, dalam posisi seperti ini harusnya ia senang dan bahagia, pria yang ia sukai perlahan menunjukkan rasa sukanya. Namun, ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran, sehingga membuat ia diam, setiap ia dekat dengan Dimas ia hanya takut.. takut Dimas kecewa padanya bila tau mahkota keperawanannya telah hilang.


"Kenapa hanya diam? apa kamu tidak menyukainya?" tanya Dimas


"Suka.. aku suka.. sangat suka.." Yena


Perlahan tangan Dimas meraih tangan Yena, jemari-jemari menggenggam kuat tangan gadis itu.


Yena telah menebak apa yang akan di katakan pria di hadapannya Namun, ia bingung.. takut.. dan merasa bersalah.


Kecelakaan malam itu memang murni bukan salahnya namun, semua itu mengganggu hidupnya.


"Yena.. Aku rasa kamu tau aku menyukaimu, aku menawarkan lowongan posisi yang sangat penting untukmu saat ini.. Maukah kamu menjadi kekasih ku?. tawaran ini hanya berlaku untuk satu orang, aku tak membuka lowongan untuk orang lain.. hanya untuk mu.." Ucap Dimas


Yena tersenyum, ia menatap mata Dimas begitu dalam.


"Ku dengar kamu dekat juga dengan Irene, apa kamu membuka 2 lowongan juga?" tanya Yena tertawa.


Bukan Yena bila ia tak pintar menyembunyikan beban fikirannya.


"Irene.. Irene.. jujur saja aku pernah dekat dengannya tapi itu dulu... sekarang hanya kamu.." Ucap Dimas


"Oh ya..?" tanya Yena


"Tentu saja.. ku rasa kamu akan menjadi tipe pacar pencemburu.." Dimas tertawa


"Lalu aku harus jawab apa?" tanya Yena


"Cukup jawab ya atau tidak.. Oh, ya apa Bobby yang menceritakan aku dan Irene padamu?" tanya Dimas


"Hmm.. tidak, memangnya kenapa?" tanya Yena berbohong


"Lalu kamu tau dari mana soal Irene?" tanya Dimas


Deg..


Yena bingung..


"Aku mendengarnya dari Irene bahwa kalian sempat dekat.." Ucap Yena berbohong kembali


"Aku baru tau kamu dekat dengan Irene.." Kata Dimas


"Aku tidak dekat, hanya saja aku mendengar saat Irene bertengkar dengan Bobby" Ucap Yena mengarang cerita


"Oh, begitu.. biar aku perjelas agar kamu tidak salah paham" kata Dimas


"Perjelas apa?" tanya Yena


"Dengan hubungan kita.." Jawab Dimas tersenyum menatap Yena dengan sungguh-sungguh


"Ya sudah, perjelas saja.." Ucap Yena tersipu malu


"Jadi kamu mau?" tanya Dimas


"Jika kamu tak mengerti yang ku katakan aku akan berubah pikiran.." Jawab Yena tak berani menatap Dimas


"Pokoknya aku janji akan membatasi antara Aku dan Irene.. Agar pacar ku tak cemburu" Dimas tertawa, lalu mencubit kedua pipi Yena


*******


Catatan penulis:


Hai.. Namaku Kayra im, terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca novel ku.


Untuk semua orang yang telah memberikan like dan komentar aku ucapkan terimakasih banyak.. Ku doakan Semoga harapan yang belum terkabul tahun ini, dapat terkabulkan di tahun depan.