YENA

YENA
Alasan kenapa kamu tidak boleh berkencan di tempat yang sama dengan mantan



Malam itu banyak orang yang sengaja ke sungai Han untuk melihat pertunjukan air mancur, menggelar tikar dan duduk sambil menunggu acara di mulai.


Begitu juga dengan Daniel dan Jessica yang telah siap dengan Tripod nya, mereka duduk sambil menunggu beberapa menit lagi parade Air Mancur akan di mulai.


Beberapa truck food (Pedagang yang berjualan makanan di dalam truk) berjejeran di pinggir jalan, makanan yang di jual pun beragam dari mie cup hingga hamburger.


Jajanan yang pas sambil menunggu pertunjukan di mulai.


Terlihat juga beberapa polisi mengawasi, berjaga-jaga agar hiburan ini berjalan dengan lancar, mereka semua di kerahkan agar tidak ada kejadian yang tak di inginkan terjadi.


**


Di sisi lain, di tempat yang sama, Yena tengah berdiri menunggu Dimas membawakan makanan, yang akan mereka santap saat pertunjukan nanti di mulai.


"Yena...?! Sedang apa kamu di sini?!" tanya Pria yang berdiri mendekatinya dari samping.


"Aku menunggu Dimas membelikan ku beberapa cemilan dan minuman.. kamu sendirian ke sini?" Tanya Yena


"Tidak aku kesini bersama Irene.. kamu akan pulang jam berapa ini sudah malam?" tanya pria itu


"Berhenti mengaturku Bobby.. Pertunjukannya saja belum di mulai.. tapi, kamu sudah menyuruhku pulang.." Ucap Yena pada pria yang ternyata Bobby.


"Aku tidak menyuruhmu pulang.. aku hanya bertanya jam berapa kamu akan pulang.." Ucap Bobby membela diri


"Sudahlah jangan pedulikan aku.. kamu sendiri boleh keluar malam kenapa aku tidak?!!" Ucap Yena


"Aku ini laki-laki Yena, tidak masalah jika aku tidak pulang sekalipun. tapi kamu ini wanita.. mana boleh wanita seperti itu.. pokoknya kamu pulang harus bersama ku.." ucap Bobby begitu posesif


"Bisa gak sih, sehari aja kamu bersikap baik pada ku..?!! Kamu ini selalu menyebalkan.. selalu membuat ku marah.. Jika aku pulang denganmu, Irene bagaimana..?!!!" Ucap Yena dengan nada tinggi karena kesal pada Bobby yang terkesan selalu membuat kencannya berantakan. seolah Bobby ingin melihat dirinya bahagia.


Saat nama Irene di sebut terlintas di benak Bobby, ia bertanya-tanya dalam hatinya kenapa kekasihnya itu belum juga kembali, padahal dia bilang akan membeli kentang goreng sebentar tapi, sampai sekarang gadis itu belum kembali juga.


"Kamu pikir aku percaya pada Dimas??!!! si brengsek itu bahkan mengencani pacarku sendiri di belakang ku, bagaimana aku bisa percaya dia bisa menjagamu..." Kata Bobby.


Bersamaan dengan Yena dan Bobby yang sedang bertengkar.


Kedua pasang mata saling bertemu di truck food.


Seorang pria memberikan uangnya pada pedagang, sedangkan wanita di sampingnya baru saja hendak mengambil uang di dompetnya.


"Pak.. sekalian hitung yang di beli gadis ini juga.." Ucap pria itu yang masih tak mengalihkan pandangannya pada gadis di sampingnya.


Wanita itu berhenti merogoh tasnya untuk mencari dompet, ia hanya diam saat pria itu membayarkan makanan untuknya.


ia mencoba menghindari kontak mata dengan pria itu dengan menekuk kepalanya.


Wanita itu melangkah menjauhi pria yang terus memandanginya tanpa henti itu.


"Irene tunggu...." Ucap pria yang menghentikan langkah kaki wanita bernama Irene, pria itu berlari menghampiri Irene.


Irene menghela nafas berat, rasanya semakin ia ingin melupakan mantan kekasih itu.


Semakin sering mantan kekasihnya itu muncul di hadapannya.


"Kamu tak ingin berterimakasih padaku?" Ucap mantan kekasih Irene, Dimas


"Kenapa aku harus berterimakasih padamu? aku tak pernah menyuruhmu untuk membayarkan makanan untukku.." Ucap Irene ketus.


"Irene kamu yakin tidak akan memaafkan ku?" tanya DImas meraih tangan Irene


"Memaafkan kamu bilang? untuk apa minta maaf? bahkan kita sudah memiliki pasangan masing-masing" Ucap Irene melepaskan tangan Dimas


"Kamu belum mendengar jawaban dariku Rin.." Ucap Dimas


"Jawaban apa? Sudah ku bilang kan untuk melupakan apa yang aku katakan?!!" Ucap Irene menatap Dimas dengan tajam


"Kamu berharap kita kembali kan?, kamu tidak ingin mendengar pengakuan hati ku yang sebenarnya?" tanya Dimas


"Kamu gak berhak membahas 'Hati' dengan ku Dimas.. kamu juga gak berhak menyebut 'Kita' saat kamu sudah memiliki wanita lain sebagai kekasih mu......." Ucap Irene


Dimas langsung membungkam mulut wanita di hadapannya dengan sebuah ciuman lembut di bibir tipis Irene.


mata Irene membulat, ia terkejut dengan apa yang dilakukan Dimas, ia tak pernah menyangka Dimas akan menciumnya secara tiba-tiba.


Dengan segera Irene mendorong tubuh Dimas yang begitu lekat dengan dirinya.


"Apa yang kamu lakukan...??" tanya Irene merasa kebingungan, memberi jarak dengan wajah Dimas.


"Kamu tak pernah memberikan ku kesempatan untuk berbicara.. apa dengan Seperti ini kamu akan mengerti bahwa aku juga masih mencintaimu...?!!!" Ungkap Dimas


Irene menatap jauh ke dalam mata Dimas, ia menelan ludah bulat-bulat, ia merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Dimas sebentar lagi aku akan menikah dengan Bobby.." Ucap Irene


"Jangan menyebut nama laki-laki lain selagi kamu bersama dengan ku.." Jawab Dimas


"Apa maksudmu Dimas?" tanya Irene menatap pria dengan mata sendu itu, mata yang dulu meneduhkan hati Irene, kini malah membingungkan dirinya.


"Kembalilah bersamaku Rin, aku takan membuatmu kecewa lagi.." Ucap Dimas memegang kedua tangan Irene.


"Tapi....." baru saja sepenggal kata di keluarkan Irene Dimas langsung memotongnya.


"Sudahlah.. biar aku urus semuanya. kamu hanya perlu bersamaku.." Ucap Dimas mengelus rambut Irene, lalu menggandeng tangan Irene, mengajaknya ke pinggir sungai yang penuh keramaian orang-orang karena sebentar lagi acara akan di mulai.


Dari kejauhan Jessica melihat semua yang Irene dan Dimas lakukan, mulutnya menganga lebar saat melihat keduanya habis berciuman, minuman yang sedang di pegangnya tumpah ke pahanya.


"Ya ampun Jessica.. kamu ini seperti anak kecil, pegang minuman saja tak bisa..?!!!" Ucap Daniel mengambil tisu di sakunya lalu membatu mengelap celana pendek yang menutupi paha Jessica.


"Aku bisa sendiri.. Daniel.. Daniel.. liat itu.." Jessica menunjuk Irene dan Dimas yang tengah berjalan dengan bergandengan tangan hendak ke pinggiran sungai.


"Apa kita baru saja melihat perselingkuhan?" tanya Daniel


"Sepertinya kita saksi satu-satunya bahwa bos Dimas dan Irene masih saling mencintai.." Gumam Jessica


"beruntung lah Daniel tidak melihat di saat Irene dan bos Dimas berciuman" Batin Jessica


"Kamu tidak tau.. lihat ke sana.." Daniel menunjuk ke arah lain, Dimana Bobby dan Yena tengah berdiri bersama terlihat mereka sangat akrab.


"Apa arti semua ini..??!!" Ucap Jessica


"Awalnya aku sangat kasihan pada Abang karena Kekasihnya masih memiliki perasaan pada pria lain. tapi setelah melihat semua ini aku bingung... Aku kira, Abang hanya dekat biasa dengan Yena tapi setelah ku amati mereka tidak seperti teman biasa kan?!!" Ujar Daniel


"Berarti mereka saling berselingkuh?" tanya Jessica


"Tidak.. aku rasa mereka datang kemari dengan pasangannya masing-masing. tapi, aku juga tidak tau.. yang satunya seperti cinta bersemi kembali dan satunya seperti pasangan yang penuh pertengkaran.." Ucap Daniel melihat Yena yang mulai memukul badan Bobby, dan membandingkannya dengan Irene dan Dimas yang tampak mesra bergandengan tangan dengan senyuman yang tak lepas dari ke dua bibir keduanya.


"Inilah alasan kenapa kamu tidak boleh berkencan di tempat yang sama dengan mantan kekasih mu.." Gumam Jessica


"Akh.. aku tak mengerti isi otak orang dewasa...." ucap Daniel mengacak-acak rambutnya.


"Berhentilah.. kamu akan terlihat bodoh bertingkah seperti itu.." Ucap Jessica.


"Bukankah aku memang bodoh? semua keluarga ku tau sebodoh apa aku ini.." Ujar Daniel


"Berhentilah.. menyalahkan dirimu sendiri, aku juga pernah merasakan di usia seperti mu.." Ujar Jessica


"Di usia ku..? bahkan umur kita hanya terpaut satu tahun.. kenapa kamu harus berkata seperti itu..?" tanya Daniel menatap Jessica


Melihat senyuman di bibir Jessica, membuat Daniel merasa terdorong untuk melakukan hal lebih dari sekedar menemaninya untuk melihat pertunjukan Air mancur.


Cup!!!


Daniel mengecup bibir wanita itu, bersamaan dengan di mulainya pertunjukan air mancur atau yang lebih sering di sebut Moonlight Rainbow Fountain.


Jessica membuka matanya lebar-lebar, ia mematung saking terkejutnya dengan apa yang di lakukan Daniel padanya barusan.


"He.. Hei.. ini tidak seharusnya kamu la.. lakukan.." Ucap Jessica terbata-bata sambil melihat ke arah Moonlight Rainbow Fountain.


"Kamu tidak perlu bersikap dewasa padaku karena bagiku kamu hanya seorang wanita.." Ucap Daniel


"Ta.. tapi.. ini gak bener..." Ucap Jessica enggan melihat ke arah Daniel


"Lihatlah dulu Moonlight Rainbow Fountain, Jangan banyak bicara.. kita hanya bisa menikmati ini selama 15 menit.." Ujar Daniel membuat Jessica bungkam dan menikmati keindahan Moonlight Rainbow Fountain



Moonlight Rainbow Fountain adalah pertunjukan air mancur jembatan paling panjang yang di catat oleh Guiness world record Saat mentari mulai terbenam, 200 lampu aneka warna menyinari air mancur yang terjun langsung ke Sungai Han di bawah jembatan tersebut.


Air mancur ini mengalir dari sisi kiri dan kanan jembatan, yang panjangnya 1.140 m. Debit air yang dikeluarkan sekitar 190 ton per menit. Air mancur itu jatuh di jarak 43 meter dari jembatan. Diiringi alunan musik, air mancur pelangi ini seakan menari. Cantik!


Selama 15 menit pula Yena dan Bobby menikmati Pertunjukan itu, mereka sangat terpanah dan takjub dengan keindahan Moonlight Rainbow Fountain, sampai keduanya lupa bahwa pasangan mereka belum juga kembali.


Setelah Acara selesai barulah Dimas dan Irene kembali secara terpisah, berpura-pura seolah tak terjadi apapun di antara mereka.


"Kamu dari mana saja..? aku menunggu mu dari tadi.." tanya Bobby


"Maaf lupa dimana kamu berada karena, terlalu banyak orang disini.." Ucap Irene


"Kamu melihat pertunjukan tadi?" tanya Bobby


"Tentu saja.. Kamu di sini dengan Yena?" tanya Irene melirik gadis lain di sisi kekasihnya


"Tidak.. dia bersama Dimas.." Ucap Bobby berbohong, agar Irene tidak salah faham padanya.


"Ouh.. begitu.." Gumam Irene


tak lama kemudian Dimas datang menghampiri Yena.


"Acaranya sudah selesai.. bagaimana kalo kita pulang?" Ajak Dimas


"Pulang..?? Biar Yena gua yang nganter pulang.." Ujar Bobby dengan serakahnya


"Emang ada yang salah? gua kan pacarnya.. Wajar dong gua nganter dia pulang.." Ujar Dimas


"Gimana bisa gua percayain Yena sama cowok brengsek kaya Lu..." Ucap Bobby menatap tajam Dimas


"Oh, jadi maksud Lu.. gua pulang sama Irene dan Lu pulang sama Yena.. gitu??" Ucap Dimas


"Wah, Lu bener-bener gak tau malu ya.." Ucap Bobby mulai geram dan langsung mencengkram kerah baju Dimas, rasanya ia ingin membuat Dimas kapok dengan memukulinya.


"Woii... Woii.. ada apa nih.." Daniel datang dengan Jessica di belakangnya, menghampiri dan melerai keduanya.


"Dia tuh yang bikin emosi..." Ujar Bobby yang di dorong menjauh dari Dimas oleh Daniel.


"Lah, Lu yang ngajak duel duluan.. Lu kira gua bakal diem terus.." Ucap Dimas di tahan oleh Yena dan Jessica


"Ngomong baik-baik gak enak jadi tontonan, kalian mau di amankan polisi apa? disini banyak polisi.." Ujar Jessica


Dimas dan Bobby berhenti bersitegang, mereka melihat sekeliling, beberapa orang polisi terlihat sedang memperhatikan mereka.


"Coba ngomong baik-baik" Ucap Daniel


"Biar gua ngomong duluan.. Gua cuma gak mau dia nganterin Yena pulang.." Ujar Bobby


"Terus Yena pulang sama siapa? wajarlah bos Dimas nganterin.. dia kan pacarnya.." Ujar Jessica


"Tapi gua gak percaya sama dia.." Kata Bobby


"Terus maksudnya mau tukeran gitu? Abang pulang sama Yena.. Dimas pulang sama Kak Irene gitu?" tanya Daniel


"Sembarangan....." Ujar Bobby dan Yena secara bersamaan keduanya seolah tak rela kekasihnya pulang bersama orang lain


"Eh, sorry.. sorry.. jadi maksudnya gimana?" tanya Daniel


"Gini aja... kebetulan lu dateng, Lu pulang sama mereka pastiin cowok brengsek itu gak ngapa-ngapain Yena" Ujar Bobby


"Lah, kalo Daniel pulang sama Dimas.. gua pulang sama siapa?" tanya Jessica


"Ya, Lu juga ikut sama mereka..." Ujar Bobby


"Bentar-bentar.. maksudnya 'pastiin gak ngapain-ngapain Yena...' itu maksudnya apa??. Lu pikir gua cewek murahan yang gampangan kasih-kasih sesuatu sama cowok.." Yena menjambak rambut Bobby.


Yena beranggapan bahwa kata-kata Bobby, telah membuat semua orang mengira bahwa ia adalah wanita murahan.


"Haduh.. kenapa jadi ceweknya ikut-ikutan perang.." Ujar Jessica menepuk dahinya.


"Udah.. udah.. Lu pada mau di bawa polisi.." Ujar Daniel melerai keduanya.


"Aku tahu Bobby mengirim Daniel untuk mengganggu ku tapi dia tak ingin terganggu.. di kiranya aku gak bisa melakukan hal yang sama.. kenapa gak sekalian Jessica pulang bersama mereka agar kita impas" Batin Yena


"Ya udah gini aja.. Daniel pulang sama gua.. Jessica Lu pulang sama Lu.." Ujar Yena menatap sinis Bobby


"Ya sudah terserah.." Jawab Bobby


Pada akhirnya Bobby pulang bersama Irene dan Jessica di mobilnya, sedangkan Yena dan Daniel pulang bersama dengan mobil Dimas.


Sepanjang perjalanan Daniel yang sangat cerewet Seperti perempuan, tiba-tiba diam di dalam mobil untuk waktu yang lama.


Semua hening Dimas pun tak mengatakan sepatah katapun.


"Daniel.. Daniel.. Daniel..." Yena mencoba memanggilnya.


Namun, ia hanya diam larut dalam lamunannya.


"Coba saja aku tak bertemu dengan orang-orang ini.. mungkin aku bisa menjelaskan tentang tindakan ku itu" Batin Daniel


"Daniel...!!!" Ucap Yena menyadarkan lamunan Daniel.


"Iya ada apa??" tanya Daniel


"Kamu mikirin apa sih...?!! aku panggil-panggil juga.. Oh, aku tau.. kamu melamunkan apa.. kamu pasti berharap mencium seorang wanita saat Moonlight Rainbow Fountain mulai kan...?!!!" Yena tertawa meledek Daniel


Ucapan Yena bukan hanya membuat Daniel terkejut tapi, juga membuat Dimas kaget.


Bagaimana bisa Yena menebak dengan tepat seperti itu, membuatnya tak sengaja menginjak rem mobil dan membuat mereka badan mereka bergeser ke depan secara mendadak.


"Ada apa...?!!!" Tanya Yena terkejut


"Tidak ada apa-apa.. tadi seperti ada kucing lewat tapi ternyata tidak ada.." Ucap Dimas berbohong.


"Aneh sekali kamu ini.. hati-hatilah.." Ujar Yena tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun