
Keesokan harinya Yena bangun pagi menyiapkan sarapan, untuk Bobby.
"Lho.. kamu gak makan?" tanya Bobby melihat Yena hendak melangkah pergi
"Aku masih ngantuk.. mau tidur bentar lagi aja.." Jawab Yena
"Bukannya kerja?" tanya Bobby
"Ia kerja nanti siang.." Jawab Yena
"Terus gak sarapan dulu.. sini makan dulu" Ajak Bobby
"Nanti ajalah.. aku mau tidur dulu.." Jawab Yena
"Kamu gak lagi ngambek gara-gara omongan aku semalem kan?" tanya Bobby
"Ya ampun Bob, kamu masih mikirin itu? gak lah.. gak kok.. pokonya aku cuma mau tidur doang semalem tidur jam 1 malem aku" Ucap Yena
"Siapa yang nyuruh..?!!" Ucap Bobby nyeleneh'
"Tau akh.." Jawab Yena melangkah pergi.
Bobby duduk dan makan sendiri, rasanya begitu sepi.
meski makanan yang di buatkan Yena cocok dan enak di lidahnya, namun semua terasa hambar
seperti hal sebelum Yena datang di hidupnya.
ia menghabiskan makanannya dengan segera karena 'rasa sepi' yang ia benci itu tiba-tiba datang kembali.
Sehari.. dua hari.. sebulan.. dua bulan..
Ia terus makan sendirian setiap pagi.
Yena memang menepati janjinya, rumahnya selalu bersih dan ia membuat sarapan dan makan malam.
namun, hanya makan malam saja yang ia santap bersama dengan Yena.
setiap pagi Yena tak pernah terlihat, setelah masak ia selalu tidur di kamarnya.
Bobby tak bisa memprotes karena, tak ada yang salah dari Yena, ia tetap melakukan kewajibannya untuk bersih-bersih rumah.
Namun, entah kenapa Bobby merasa kesepian.
Setiap hari Yena di antar jemput oleh Dimas, pulang kerja baru sampai rumah Yena bertelponan dengan Dimas, hari libur ia pergi dengan Dimas.
Terkadang Yena hanya menyiapkan makan malam tanpa ikut makan bersama dengannya, Yena beralasan ia telah makan bersama Dimas.
Entah mengapa lagi-lagi Dimas.. Dimas.. Dimas.. dan terus Dimas.. seolah tak ada orang lain yang bisa ia benci selain Dimas.
Yena yang kini menjadi Yena yang pasif.
Ia hanya tertawa dengan ponselnya, ia hanya tersenyum ketika melihat pesan di handphonenya, ia hanya mengobrol dengan HP-nya.
"Kamu gak makan?" tanya Yena saat melihat makanan semalam masih terlihat utuh.
"Gak nafsu.." Jawab Bobby
"Kok gitu.. aku udah capek-capek bikinin gak di makan. emang gak enak ya?" tanya Yena
"Udah lu gak usah ngurusin makanan buat gua lagi.. gua bisa pesen Go-food kalo gua mau" Ucap Bobby
"Maksud kamu apa? kamu marah? marah kenapa sih? kalo makanannya gak enak nanti aku ganti deh, ya?" tanya Yena penasaran
"Siapa yang marah? udah urusin aja si Dimas.. sekalian aja lu tinggal sama dia.." Ucap Bobby
"Kok bawa-bawa Dimas sih?, kamu ngusir aku?. aku tau kok Bob, aku di sini cuma numpang dan aku gak bakal pernah lupa semua jasa-jasa kamu" Ucap Yena
"Bukan gitu maksud gua, lu kan kerja.. jadi capek kalo ngurusin makanan buat gua" Ucap Bobby yang tak bermaksud untuk mengusir Yena
"Aku juga gak mau Bob, ngerepotin kamu terus. oh, iya aku juga mau bilang.. bulan depan aku mau ngekost gak jauh dari restoran." Ucap Yena yang membuat Bobby kaget dan merasa bersalah
"Kok ngekost.. udah disini aja." bujuk Bobby
"Gak lah Bob, makin ngerepotin aja.." Ujar Yena langsung pergi ke kamarnya.
Padahal, Bobby berharap agar Yena tetap menemaninya makan dan menghabiskan hari libur bersama seperti sebelumnya.
Tapi, gara-gara ucapannya Yena menjadi salah faham dan memutuskan untuk hengkang dari rumahnya.
Semenjak Yena bekerja di restoran dan dekat dengan Dimas ia merasa ada yang beda dengan dirinya sendiri.
Karena Yena yang sibuk, setiap libur Bobby menghabiskan harinya dengan Irene, wanita yang sangat ia cintai.
Meski begitu, harusnya ia memikirkan Irene seorang.. tapi, entah kenapa meski bersama Irene ia selalu memikirkan sosok Yena, yang selama ini di matanya adalah gadis kecil yang ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Ia tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
setiap hari ia hanya menahan rasa kesal dan marah saat Yena sibuk dengan handphonenya.
"Yena.. Yena.. udahlah.. maafin gua ya.." ucap Bobby sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
Bobby mencoba membuka pintunya, namun pintunya terkunci rapat.
"Yena.. lu tau kan gua gak maksud ngomong kaya gitu.. buka dong hey.. maafin gua ya.." Ucap Bobby namun tak ada jawaban dari Yena.