YENA

YENA
Dia menghilang



Siang itu Yena terbangun karena sorot cahaya matahari menyilaukan matanya, tangannya meraba ke samping ia seperti sedang mengecek sesuatu.


Dalam hatinya ia berteriak kaget.. kemana perginya lelaki yang semalam masih tidur dengannya, kemana lelaki yang kemarin memberikan seluruh cinta dan kebahagiaan kepadanya.


Ia langsung membuka matanya lebar-lebar, dengan selimut yang masih di badannya.


Ia melihatnya selembar kertas di mejanya di samping tempat tidur.


di ambilnya surat itu, tepat saja itu adalah pesan terakhir yang di tinggalkan Bobby sebelum ia pergi meninggalkan Yena.


Dalam hatinya Yena sangat kesal dan geram, bagaimana bisa Bobby pergi tanpa berpamitan padanya, padahal semalam mereka baik-baik saja kenapa ia tak bilang jika akan pergi, kenapa tidak mengajak Yena untuk menemaninya.


Semua kata-kata manis dan fasilitas yang di tinggalkan Bobby untuk Yena tiba-tiba menjadi sebuah kepahitan.


Isi surat itu tak memberikan alasan kenapa ia harus pergi tanpa berpamitan pada Yena, padahal Yena ingin sekali mengantarkannya sampai bandara tapi kenapa Bobby malah pergi dengan cara seperti ini.


Isi surat itu hanya kata-kata manis agar Yena menjaga kesehatannya dan tak lupa selalu minum susunya, Bobby telah mengerahkan 5 Asisten rumah tangga dan seorang supir jika Yena ingin bepergian, Bobby juga meninggalkan 2 Kartu berwarna hitam untuk Yena jika ingin berbelanja.


Bukan kebahagiaan yang Yena rasakan sekarang, hanya rasa sesak dan tangisnya meleleh begitu saja membanjiri pipinya.


Entah jam berapa pria itu meninggalkannya pergi, mungkin malam atau pagi ia tak tahu karena masih terlelap tidur.


Ia melihat handphonenya, tak ada pesan satupun yang hinggap di Hp nya.


Entah, sejak kapan suaminya itu mengganti tampilan wallpaper menjadi foto mereka berdua.



Yang pasti Yena sangat sedih karena Bobby tak pamit padanya, padahal dia juga ingin mengantarkan suaminya sampai ke Bandara.


***


"Selamat Pagi Nyonya.." Sapa mereka dengan sedikit membusungkan badannya.


"Ssseelamat pagi.." Balas Yena terbata-bata


Tiba-tiba seseorang muncul di depan Yena, dia adalah Jessica.


"Jess.. kenapa Lu........,"


"Mulai sekarang mereka akan bekerja sama Lu, Mereka akan masak, ngepel, bersih-bersih dan kalo lu mau keluar ada pak supir yang bakal nganter lu.." Ujar Jessica


Yena menarik Jessica membuat jarak dengan para pelayannya.


"Lu kenapa bisa ada disini..??" Tanya Yena


"Gua..?? gua cuma di suruh laki Lu.." Ungkap Jessica


"Terus sekarang Bobby nya mana..??" tanya Yena matanya mulai mencari-cari ke belakang


"Gak ada.. dia udah pergi, pagi-pagi banget mereka pergi Daniel yang nganterin.. Nyampe sekarang aja tuh bocah belum balik" Ucap Jessica


"Kenapa gak bangunin gua sih.. gua juga kan mau ikut...??!!" tanya Yena kesal sekali


"Katanya sengaja gak bangunin Lho.. soalnya lu tidur udah malem banget, dia takut Lho kecapekan.. apalagi kemarin kalian abis jalan-jalan kan..?? dia tuh, khawatir sama lu.. dia menomor satukan kesehatan Lu.. udahlah lu gak usah murang-maring kaya gitu" Kata Jessica


Air mata Yena berjatuhan kembali, ia merasa kenapa orang-orang tak mengerti perasaannya, sejak ia merasa semua hal di batasi. begitupun saat Bobby meninggalkannya bukankah keterlaluan karena dia tak berpamitan..?? tapi, kenapa Jessica sekalipun tak memihak padanya..?? batinnya terus bertanya-tanya


"Lah, Lu kenapa nangis..?? Gua salah ngomong apa ya?? Cup.. cup.. udah ya" Ucap Jessica memeluk tubuh wanita berbadan dua itu, sambil menepuk-nepuk punggungnya.