YENA

YENA
Seolah takdir mendukung ku



Malam itu Bobby tak bisa memejamkan matanya, ia masih memikirkan apa yang akan terjadi esok hari dan apa yang harus ia lakukan jikalau ternyata Irene kembali padanya. Namun, sekeras apapun ia memikirkannya tetap saja ia tak bisa menemukan jalan keluarnya, pikirannya buntu dan hanya membuat pria itu pusing.


Bobby menyentuh layar handphonenya, di lihatnya jam yang telah menunjukkan pukul 02.00, lalu menaruhnya kembali di meja dekat lampu tidur.


ia menggeser kan badannya agar lebih dekat dengan gadis yang tertidur lelap di sampingnya.


Gadis itu tidur nyenyak dengan posisi membelakanginya.


dengan pelan-pelan ia menaruh tangannya di perut gadis itu, di usapnya dengan lembut perut gadis itu secara perlahan.


"Eukhh.. apa yang sedang kamu lakukan sih Bob..." Yena terbangun karena terganggu dengan tindakan Bobby.


Ia menyingkirkan tangan Bobby yang menyentuh perutnya.


"Aku hanya ingin tau.. apa anakku sudah tidur atau belum..." Ucap Bobby kembali menaruh tangannya di perut Yena


"Akh.. konyol sekali.. sudahlah berhenti mengganggu ku, aku ingin tidur.." Ucap Yena dengan mata masih tertutup membalikan badannya, hingga menjadi berhadapan dengan Bobby.


"Ya sudah.. tidurlah.. tidur..." Ucap Bobby menyelipkan beberapa helai rambut Yena ke belakang telinganya, lalu mendekap tubuhnya.


"Ini apa-apaan..?" Tanya Yena dengan suara serak, matanya enggan untuk terbuka tapi mulutnya terus berbicara memprotes pergerakan Bobby yang aneh.


"Aku tak bisa tidur.." Ucap Bobby


"Tidurlah.. aku ngantuk sekali..." Ucap Yena


Tokk... Tokk.. Tokk..


Suara seseorang dari luar mengetuk pintu rumahnya.


"Apa aku tidak salah dengar...? apa kamu mendengarnya juga?" tanya Bobby


"Ada tamu..?" Tanya Yena


"Jam 2 bertamu..? yang benar saja..?!!" Ucap Bobby


"Sana lihat.." Ucap Yena menepuk-nepuk bahu Bobby.


"tidurlah.. aku akan memeriksa ke luar.." Ujar Bobby melepaskan dekapannya.


Bobby beranjak dari tempat tidurnya, keluar dari kamar dan berjalan menuju arah sumber suara.


"Siapa..." Ujar Bobby sebelum membukakan pintu.


Ia memutarkan kunci rumahnya, lalu membuka pintu rumahnya..


"Mamah...." Bobby terkejut mendapati kedua orang tua Irene tengah bertamu pada dini hari seperti ini.


"Kami pasti mengganggu tidur kamu ya Bob.." Ucap Pak Jodi


"Tidak.. tidak.. ayokk masuk dulu.." Ucap Bobby mempersilahkan masuk keduanya.


Mereka pun duduk di ruang tamu.


"Malam-malam kesini ada apa ya mah.. pah..?" tanya Bobby yang sudah menganggap orang tua Irene sebagai orang tuanya sendiri.


"Ada yang mau kami bicarakan dengan kamu nak.." Ucap Bu Risma


"Oh, iya bagaimana mah.. Irene sudah di temukan..??" tanya Bobby


Bu Risma menatap suaminya, seolah tak tega untuk menyampaikan inti dari pembicaraannya.


"Begini Bobby... Sebelumnya, kami sangat meminta maaf yang sebesar-besarnya pada kamu..." Ucap pak Jodi


"Ada apa pah..? kenapa jadi meminta maaf pada saya?" tanya Bobby


"Irene meminta kami untuk membatalkan pernikahannya.." Ucap Bu Risma spontan


"Batal..? memang Irene sekarang dimana mah?" tanya Bobby, di hatinya masih penasaran kenapa Irene meminta membatalkan padahal awalnya dia lah yang merencanakan untuk membatalkan pernikahannya.


"Irene belum pulang tapi kami mendapat telepon darinya.." Ucap Bu Risma


"Tapi Irene baik-baik saja kan?" tanya Bobby


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan dia, Irene baik-baik saja. Hanya saja kami sangat malu padamu nak Bobby.. kamu pasti sangat kecewa..." Ucap Bu Risma


"Jadi besok kami tidak jadi menikah?" tanya Bobby memastikan kembali bahwa apa yang di dengarnya adalah kenyataannya.


"Kami sangat meminta maaf padamu nak.. tapi tenang saja, semua kerugian kami yang tanggung dan kami juga akan mengklarifikasi pembatalan pernikahan ini sepenuhnya kesalahan dari kami.. agar tak ada yang berspekulasi yang tidak-tidak padamu.." Ujar pak Jodi


"Ya sudahlah.. mau di apakan lagi pah.." Ucap Bobby berpura-pura terlihat sangat kecewa, padahal hatinya merasa lega karena masalahnya bisa terselesaikan begitu saja.


Seolah takdir memang tak merestui Irene dan Bobby bersama, tanpa ia meminta pembatalan pernikahan.. keluarga Irene lah yang datang membatalkan lebih dulu. Seolah takdir mendukung keputusannya untuk memulai hidup bersama Yena, Dan menunjukkan bahwa Ia memang tak berjodoh dengan Irene.


Selang beberapa menit kemudian..


Kedua orang tua Irene pamit tuk pulang, tiada tangisan atau pun tindakan emosional di kedua belah pihak, mereka terlihat akur dan bersikap biasa meski hal yang di bicarakan justru bukan hal yang biasa.


Setelah memastikan Bu Risma dan pak Jodi telah pulang, Bobby kembali ke kamar dengan raut wajah kebingungan.


"Kok belum tidur...? tadi katanya ngantuk..?" tanya Bobby menghampiri Yena, yang menatapnya sedari ia memasuki kamar.


"Gak tau pengen bangun aja... Apa yang mereka bilang..?" tanya Yena penasaran


Bobby duduk di sebelah Yena.


"Kamu tidak mendengar apa yang tadi kami bicarakan?" tanya Bobby


"Gak kedengeran lah.. apa sih..?? kok dari tampangnya, kamu kaya bingung gitu..?" tanya Yena


"Aku gak tau apa arti semua ini.. tapi, sepertinya Tuhan memang menyuruh kita untuk merawat anak ini bersama..." Ucap Bobby memegang perut Yena yang masih datar


"Sebentar.. maksudmu apa sih..? coba jelasin.." Ujar Yena masih kebingungan


"Irene membatalkan pernikahan Yena..." ucap Bobby tersenyum dengan mata membulat


"Batal..? kok bisa? kamu gak lagi becanda kan?" tanya Yena masih keheranan


"Serius.. aku juga gak tau alasannya apa..?!! kamu tahu apa artinya..?? Artinya, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak kita" Ucap Bobby tersenyum ke arah Yena.


Mendengar perkataan dari mulut Bobby, Yena langsung menarik selimutnya dan berbaring membelakangi Bobby.


Ia tak menunjukan ekspresi bahagia sama sekali.


"Ada apa dengan mu..? kamu tidak bahagia aku akan bertanggung jawab sepenuhnya pada dirimu dan anak kita..?" tanya Bobby


Yena terdiam tak menjawab, ia bingung harus menjawab seperti apa, menjadi seorang istri dari lelaki yang tak ia cintai sebenarnya hal sulit baginya. ia belum bisa menerima sepenuhnya, jika ia harus menerima Bobby sebagai suaminya.


"Kenapa diam..? aku tau kalau kamu belum tidur.." Ucap Bobby


"Aku hanya belum siap.. aku belum terbiasa.. aku belum mencintai mu Bobby..." Ucap Yena


Bobby menghela nafas berat.


"Aku tahu kita sama-sama belum bisa menerima sepenuhnya, aku faham.. tapi bagiku, bagaimana pun kamu.. aku akan tetap menerima kamu.. karena kamu ibu dari anakku sekarang.. Tak masalah jika kamu belum mencintaiku, kamu bisa mencobanya pelan-pelan.. Kamu juga harus mencoba menerima aku, hal buruk apapun yang pernah aku lakukan, masa lalu buruk apapun yang pernah kamu lihat dan kamu dengar orang-orang, kamu harus mencoba menerimanya.. aku tau kamu masih belia untuk menjadi seorang ibu tapi, aku terus membantu kamu menjadi seorang wanita dengan pemikiran yang dewasa yang bisa merawat anak-anaknya... tak masalah jika kamu menganggap ku cerewet karena ini demi kebaikan kita dan anak kita.." Tutur Bobby


Yena hanya terdiam sambil memikirkan perkataan Bobby, Entah kenapa akhir-akhir ini Bobby terlihat lebih dewasa dari biasanya.


Sejak ia mengetahui bahwa Yena tengah mengandung anaknya, tutur katanya selalu membuat Yena membuka pikirannya dan tergugah hatinya.


Namun, jika di pikir kembali Bobby memang satu-satunya orang yang membuat Yena bisa hidup sampai sekarang.


Bobby adalah satu-satunya orang yang muncul di pikirannya ketika membutuhkan bantuan,


Bobby adalah satu-satunya orang yang selalu di sampingnya dan bisa menenangkannya ketika penyakitnya kambuh,


Bobby adalah satu-satunya orang yang menjaganya baik sehat maupun sakit,


Bobby adalah satu-satunya orang yang dia punya dan merupakan tempat berlindung satu-satunya baginya.


Jika di pikir kembali Bobby telah memberikan segalanya untuk Yena tanpa ia sadari.


Yena terdiam sambil memikirkan semua itu di otaknya.


"Ya sudah... lupakanlah jika kamu tak terima dengan perkataan ku.." Ucap Bobby


"Tidak.. semua perkataan dari mulut mu memang benar, tak ada yang salah.. hanya saja aku pikiran ku masih kekanakan-kanakan" Ujar Yena


Bobby berbaring di tempat tidur, masuk ke selimut yang sama dengan Yena, ia memeluk tubuh gadis itu dengan posesif.


Yena hanya diam tak bergerak ketika tubuh pria itu sangat lekat padanya.


"Aku sudah bilang kan.. bahwa aku tak mau..." Ucap Yena memperjelas tindakan Bobby


"Ya.. ya.. aku tau. biarkan saja kita tidur seperti ini ya..." Ujar Bobby


"Kamu tidak lupakan saat ku bilang ada flek..?" tanya Yena


"Iya...!! aku Takan melakukan apapun... sudah tidurlah..." Ucap Bobby


Catatan Penulis :


Hai... Aku Kayra im, ini sudah tanggal 7 Januari jam 22.28 tapi sampai sekarang upload.an episode terbaruku masih dengan status 'diriview' (Belum berhasil di publikasikan).


aku tak mengerti dengan apa yang terjadi pada mangatoon 🙄, aku mencoba berusaha keras dengan men chat admin dari mangatoon dan mereka bilang masih dalam proses antrian... tapi kok antriannya berasa gak maju-maju dari tanggal 5 Lho padahal..


Entah episode ini berhasil di update kapan,


Intinya aku mau kembali bilang sama kalian ini bukan kesalahan dariku 😅


Jangan lupa Like dan kasih aku semangat lewat komentar


Terimakasih 😘


Salam dari ku


Kayra im 😍