YENA

YENA
Itu Mereka.. Ayok kejar



Hari demi hari cepat sekali berlalu, tak terasa Yena sudah menempati rumah itu selama sebulan, Ia menjadi akrab dengan Bobby maupun Daniel.


Hari ini pagi sekali Daniel berkunjung ke rumah.


"Ayok lah bang, kamu tidak lihat sepatu ku sudah jelek seperti ini" Rengek Daniel


"Terus apa urusannya dengan ku?" tanya Bobby


"Apa kamu tega, melihat adik mu memakai sepatu tak layak seperti ini?" tanya Daniel dengan wajah cemberut


"Apa orang tua mu tidak memfasilitasi mu?" tanya Yena yang tiba-tiba lewat dari arah dapur lalu membersihkan kaca depan.


"Diam kamu..!!" teriak Daniel namun, Yena hanya meledeki dengan menjulurkan lidahnya.


"Berisik..!!" Bobby menjedukan kepala Daniel


"Ayok lah.. bang.. ya.. ya.." Daniel memohon dengan ke dua tangannya.


"Bukankah orang tua mu kaya? uang mu kamu habiskan untuk apa saja?" tanya Bobby


"Uang ku..? apakah aku punya uang..? bukankah aku belum bekerja..?!!" Daniel melipat tangan sambil melihat langit-langit.


"Kau ingin di pukul.." Bobby menghentakkan kakinya sambil mengepalkan tangannya, seolah siap memukul Daniel, sampai Daniel mengangkat kedua tangannya karena takut.


"Ia maaf.. maaf.. habis bang, habis.." Ucap Daniel


"Ya sudah, beli di pinggir jalan saja.." Ucap Bobby


"Enggak.. gua enggak mau akh bang. gua mau ke Waybi Departemen Store.." Ucap Daniel


"Wah.. bukankah di sana barang mewah dan mahal-mahal semua?" tanya Yena menghampiri


"Kamu tidak tau, itu milik siapa?!" Ucap Daniel


"Siapa..??" tanya Yena


Daniel melirik ke arah Bobby.


"Ekeheum.." Bobby membuang mukanya


"Ah.. maksud kamu OB ini punya mimpi untuk memiliki mall tersebar itu?. bermimpi itu bagus, bekerja keraslah.." Yena menepuk-nepuk bahu Bobby lalu pergi ke luar ke arah dapur


"Maksud dia apa bang?" tanya Daniel yang bingung dengan ucapan Yena


"Entahlah.. bersiap-siaplah" Ucap Bobby menepuk bahu Daniel


"Maksudnya, kita jadi pergi bang?" tanya Daniel


"Menurut Lu..??!!" Ucap Bobby pergi ke kamarnya


"Okeee...." teriak Daniel kegirangan, di otaknya telah terbayang apa saja yang hendak ia beli. dengan bantuan kakaknya, ia menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah sepatu.


"Yena.. berganti pakaianlah.. kita akan shopping.." Teriak Daniel


setelah bersiap-siap, mereka bertiga pergi ke Waibe Departemen Store.


Waibe Departemen Store adalah Sebuah pusat perbelanjaan. Segala hal ada di sana, dari berbagai barang-barang fashion branded, kosmetik, sepatu hingga berbagai kuliner street food yang menggoyang lidah.


Puluhan toko kecantikan berjejer seperti Aritaum, Innsifree, The Saem, Laneige, Skin Food, The Face Shop, Missha, dan lain sebagainya.


Mereka pun Sampai ke Waibe Departemen Store dan akan melangsungkan misi mereka untuk berbelanja.


"Pakailah uang Orang tua mu.. aku Takan membayarkan apapun yang kau ambil.." Ucap Bobby


"Bang.. Abang ingin melihat aku habis di pukuli oleh Ayah lah?!" Ucap Daniel


"Terserah.. tak ada urusannya dengan ku." Ucap Bobby tersenyum


"Aku tau Abang tidak akan melakukan hal buruk padaku.. Abang akan bertanggungjawab apapun yang aku pilih di sini kan? Ayok lah bang.. bukannya Abang sudah janji padaku akan membayarkan semuanya?!" Ucap Daniel dengan tangan bergelantungan pada Bobby


"Kamu lihat Yena, meski usianya lebih tua dari mu tapi, tingkahnya seperti bocah SD" Ucap Bobby tertawa


"Benar.. untuk pertama kalinya aku menemukan orang seperti Daniel.." Yena tertawa melihat tingkah Daniel yang seperti anak kecil.


"Jangan meledeki seperti itu.. aku lebih tua darimu.." Ucap Daniel menatap Yena


"Benarkah? Bobby benarkah dia lebih tua dari ku?" tanya Yena tertawa kembali


"Entahlah, bukankah baru kemarin Daniel tidak memakai pempers lagi?" Ucap Bobby tertawa kegelian


Seseorang berjas hitam rapih, menghampiri Bobby yang tengah asyik mengobrol dengan Yena dan Daniel.


"Tuan.." Pria yang terlihat lebih tua dari Bobby menyapa Bobby


"Sebentar.." Bobby memberi jarak dari Yena dan Daniel


"Selamat datang tuan.. ada yang perlu saya bantu? atau tuan ingin mengetahui perkembangan mall kita ini?" tanya pria berjas hitam itu


"Tidak perlu.. aku kesini hanya ingin berbelanja. bersikaplah seperti biasa, aku tak ingin terlalu mencolok, jika bisa acuh kan aku dan bilang pada semua karyawan untuk hari ini agar memperlakukan aku sebagai konsumen biasa oke..!!" Ucap Bobby menepuk pundak pria itu


"Bagaimana bisa tuan.." Ucap pria itu


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan.." Ucap Bobby


"Baik tuan.. Saya pamit." Ucap pria itu


"Oke.." Jawab Bobby


Pria itu pergi meninggalkan Bobby.


Yena dan Daniel pun menghampiri Bobby,


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Daniel


"Apa kamu mengenal orang tua itu?" tanya Yena


"Bukan urusan kalian, ayokk kembali berjalan." Ujar Bobby mengalihkan pembicaraan


"Benar.. aku ingin membeli sesuatu.." Ucap Daniel dengan mata berbinar binar


"Tidak.. kita mulai dengan Yena dulu.." Ucap Bobby


"Aku dulu lah.. Yena terakhir" Ucap Daniel protes


"Apa yang ingin kamu beli?" tanya Bobby


Bobby berdiri di samping Yena membelakangi Daniel


"Aku..? Eum, aku ingin membeli jeans" Jawab Yena


"Jeans..? Okee.. mari kita mencari jeans seperti yang kamu inginkan.. kamu ingin yang seperti apa?" tanya Bobby berjalan dengan Yena meninggalkan Daniel


"Hei.. Kenapa kalian hanya berjalan berdua?.. tunggu aku.." Teriak Daniel yang tak di hiraukan oleh Bobby maupun Yena.


Mereka pun berjalan sambil memilih dan memilah dari satu toko ke toko lainnya.


membeli beberapa barang yang di inginkan.


satu persatu kantong belanjaan memenuhi tangan mereka.


Obrolan dan gelak tawa tak jarang terdengar dari mulut mereka.


mereka menikmati waktu mereka dengan ceria dan bahagia.


Hingga mereka merasa cukup dengan apa yang mereka beli.


"Untung ada Yena, kalo tidak.. aku mungkin hanya akan mendapatkan sepatu hitam gelap yang tak pernah aku sukai" Ujar Daniel


"Aku selalu memakai sepatu hitam saat bekerja apa masalahnya?" tanya Bobby


"Aku kan bilang tak menyukainya.." jawab Daniel


"Sudah.. jangan bertengkar. aku malah menyukai warna putih yang tadi aku pilihkan untukmu.." Ujar Yena


"Aku sudah punya yang seperti itu." Ucap Daniel


"Kalau sudah punya kenapa kamu membeli sepatu lagi?" tanya Bobby


"Terserah kalian.." teriak Daniel kesal


"Bukankah dia aneh?" tanya Bobby


"Sejak kapan dia tak terlihat aneh? bukankah setiap hari dia selalu aneh.." Ucap Yena menahan tawanya


"Setidaknya aku mendapat kan sepatu Air Jordan X Max Pack 'Atmos Safari, seperti yang aku inginkan sebelumnya" Ucap Daniel tersenyum.


Mereka pun turun ke lantai dasar dengan eskalator, untuk segera pulang ke rumah.


Mengistirahatkan badan yang telah lelah seharian menghabiskan waktu di mall tersebut.


Tiba-tiba mata Yena tertuju pada sepasang pria dan wanita yang menggunakan eskalator ke lantai dua di samping nya, ia terus memperhatikan kedua orang itu.


Seorang pria dan wanita yang sedang tertawa bahagia dengan beberapa kantong belanjaan yang penuh di tangan mereka, mereka tak sadar sedang di amati oleh Yena dari eskalator yang berlawanan arah.


"Paman.. bibi.." Gumam Yena


"Apa? maksudmu apa?" tanya Bobby di sampingnya


"Bobby, mereka yang telah menjual rumahku Bobby.." Ucap Yena yang menyadari bila orang yang ia lihat adalah orang yang telah berkhianat padanya.


"Mana.. mana.." Ucap Bobby panik


"Itu mereka.. itu.." Ucap Yena tergesa-gesa


Menyadari mereka masih di eskalator dari arah berlawanan, dengan segera mereka turun dari lantai dasar dan kembali menggunakan eskalator di sebelahnya untuk kembali ke lantai atas.


"Itu mereka.." Ucap Yena setengah berlarian di eskalator.


"Ayokk.. kejar mereka.." Ucap Daniel


Dengan kantong belanjaan yang memenuhi tangan mereka berlarian, mengejar orang yang telah membuat Yena menderita dan menelantarkannya.


Beberapa bawahan Bobby di arahkan untuk mengejar dua orang itu, tak terkecuali security juga ikut mengejar dua orang itu.


"Hei.. para pengecut berhenti kalian..!!" Teriak Daniel berlarian


"Bibi.. Paman.. berhenti.." Teriak Yena yang cukup menarik perhatian orang-orang sekitar, sehingga banyak mata yang menyaksikan aksi mereka.


"Ayo tangkap mereka.. tangkap..!!" Teriak Bobby


Gina Sonia dan Rudi Heriansyah seperti mempunyai jubah untuk menghilang, beberapa orang di arahkan untuk menangkap mereka. Namun, dari banyaknya orang yang mengejar tak ada satupun dari mereka yang berhasil menangkap keduanya.


Mereka menghilang dari banyaknya orang yang berlalu lalang, mereka menghilang dari luasnya mall tempat mereka berbelanja.


"Tuan.. kami kehilangan jejak mereka tuan," Ucap seorang security dengan nafas tersengal-sengal


"Periksa semua CCTV, perintahkan pada semua security di luar untuk berjaga-jaga jika ada yang mencurigakan.." Ucap Bobby dengan tegas


"Kita harus memeriksa ke Kantor kontrol CCTV" Ujar Bobby


"Bisakah kita menemukan mereka lagi?" tanya Yena


"Semoga.." Jawab Bobby


Mereka pun ke Ruang Kontrol CCTV, Untuk memantau ratusan kamera keamanan. Pusat kontrol monitor khusus ini umumnya dilengkapi dengan belasan hingga puluhan layar monitor CCTV di sepanjang dinding ruangannya. Operator dapat melihat gambar yang diambil hingga ratusan kamera.


Hingga kemungkinan besar untuk mendapatkan bukti lebih dari keberadaan Gina dan Rudi, yang menghilang saat dalam tahap pengejaran.


"Tuan.. lihat lah, ini.. setelah mereka keluar dari pintu keluar mereka pergi dengan taksi." Ucap Seorang staff pria yang bekerja memonitori CCTV.


"Apakah kita tidak bisa melihat orang itu menggunakan taksi apa? dengan plat berapa?" tanya Bobby


"Seperti yang tuan lihat, mereka berlari ke arah utara. sedangkan, kualitas CCTV di luar tidak sejernih di dalam, kami tidak bisa memeriksanya lebih tuan.." Ucap staff tersebut.


Bobby menarik nafas panjang.


Ia kesal kenapa tak bisa menangkap dua orang itu, ia kesal karena gagal dan membuat Yena kecewa.


"Mungkin lain kali kita bisa menangkap mereka lagi.." Gumam Yena menundukkan kepalanya, menyembunyikan tangis kesedihan yang tertahan sedari tadi.


"Akan ku pastikan, kita pasti akan menangkap mereka lagi.." Ujar Bobby melangkahkan kakinya lalu memeluk tubuh gadis yang menunduk dengan penuh kesedihan.


"Aku juga akan membantu.." Ucap Daniel ikut memeluk kedua orang itu.


"Sudah, jangan bersedih lagi" Ucap Bobby menyeka air mata yang keluar dari pelupuk mata gadis itu.


"Bagaimana aku tak sedih, mereka yang mengambil rumahku. kenangan yang aku rajut dari aku lahir dengan kedua orang tua ku" Ucap Yena menangis kencang


"Aku janji padamu.. kita akan menangkap kedua orang itu dan mengambil rumah mu kembali Yena.." Ucap Bobby sambil mengelus rambut Yena yang terurai


"Sudahlah.. jangan menangis, aku jadi ikut bersedih.." Ucap Daniel


"Husstt.." Bobby memperingatkan Daniel untuk menutup mulutnya.


"Cup.. cup.. cup.. Kita pulang ya.." Ucap Bobby melepas pelukannya


"Aku pegang janjimu.. jangan pernah ingkar pada janjimu ya.." Ucap Yena yang masih terisak


"Iya aku janji.. kita pulang ya.." Bujuk Bobby


Dengan mata yang masih basah, Yena berhasil di bujuk untuk pulang.


Sampai rumah Yena langsung ke kamarnya mengurung dirinya, menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


"Yena keluarlah.. Abang telah membeli beberapa makanan." Bujuk Daniel di depan pintu kamar yang tertutup rapat.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


Bobby mengetuk pintu kamar Yena.


"Yena, keluarlah. kamu belum makan sedari siang tadi." Ucap Bobby


Namun, tak ada jawaban dari dalam kamar.


"Yena apa kamu tidur?" tanya Daniel namun, masih tak ada jawaban dari Yena.


"Apa pintunya di kunci?" tanya Bobby


"Entahlah, kenapa tak Abang coba sebelum bertanya?" Ucap Daniel


"Kamu memang membuat ku kesal.. aku kira kamu sudah mencoba masuk ke kamarnya" Ucap Bobby mengertakkan gigi karena kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut Daniel.


"Aku hanya memanggilnya dari sini, bahkan Abang yang pertama mengetuk pintunya." Ucap Daniel tersenyum


"Ya sudah, bawakan makanan untuk Yena.." Perintah Bobby


"Oke Abang.." Ucap Daniel dengan segera membawakan piring yang berisikan makanan dan memberikannya ke tangan Bobby.


"Yena.. makanlah.. jangan menyiksa tubuhmu sendiri.." Ucap Bobby lalu menekan handle pintu.


"Ternyata tak di kunci.." Ucap Daniel terkejut


"Pergi sana.. dasar bodoh.." Ucap Bobby mengusir Daniel


"Baiklah.. aku pamit pulang ya bang." Ucap Daniel


"Ya sudah sana.." Ucap Bobby


"Terimakasih sudah membelikan apa yang aku inginkan, sebulan ini aku Takan bolos kuliah bang.. aku janji.." Ucap Daniel tersenyum


"Ya, baguslah.. tepatlah janjimu.." Ucap Bobby


"Oke bang.. titip salam ku untuk Yena bang" Ucap Daniel lalu pergi meninggalkan rumah.


Bobby pun melangkah memasuki kamar Yuki yang kini di tempati Yena.


Kamar dengan nuansa anak kecil, dengan banyak boneka panjangan di sekitarnya.


"Aku tau kamu belum tidur.. makanlah, nanti kamu sakit.." Ucap Bobby duduk di samping tempat tidur Yena


Namun, Yena masih terdiam tak ada jawaban.


"Ayolah.. Yena makanlah walau sedikit ya.." Bujuk Bobby mencoba menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Yena, dari ujung kaki hingga atas kepala.


Namun, Yena cukup keras kepala menutupi dirinya dengan kencang, hingga Bobby tak bisa membuka selimut yang menutupi tubuh gadis itu.


"Aku harus bilang apa lagi agar kamu mau makan? bukannya aku sudah berjanji akan menemukan orang itu? dan akan mengambil kembali rumahmu?" Ucap Bobby


"Benarkah?" tanya Yena membuka selimutnya hingga memperlihatkan wajahnya yang basah oleh air mata.


"Benar.. makanlah.." Ucap Bobby tersenyum


Yena membuka dirinya dari selimut yang membungkusnya, ia duduk dengan memegangi lututnya.


"Berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri.. berhentilah dari ketakutan yang kamu alami" Ucap Bobby seolah mengerti apa yang di rasakan Yena saat ini.


Ia menaruh piring di atas meja. lalu ia menarik tangan Yena, melepaskan kedua tangannya dari lutut.


"Aku yakin kamu gadis baik.. orang tua mu pasti bahagia memiliki anak seperti mu." Ucap Bobby dengan tatapan senduh


"Benarkah? bukankah aku sangat bodoh dan gampang di tipu?" Ucap Yena membanjiri pipinya dengan tangisan.


"Berkacalah, matamu merah dan menyipit karena terlalu banyak menangis" Ucap Bobby mengambil kembali piring di atas meja lalu menyuapi Yena dengan sedok yang terisi makanan.


"Benarkah?" tanya Yena melahap makanan yang di suapi oleh Bobby.


Bobby tersenyum kecil, Yena terlihat begitu lucu dengan wajah basah sambil mengunyah makanan.


"Benar.." Ucap Bobby yang berhasil membujuk Yena untuk makan.


"Ini sangat pedas.. aku ingin minum." Ucap Yena lalu di sodori segelas air putih oleh Bobby


"Sepedas itukah? apa perlu aku ganti makanannya?" tanya Bobby


"tidak usah.. aku sanggup untuk makan pedas kok." Ucap Yena tersenyum yang kembali di suapi makanan oleh Bobby


"Setelah ini, istirahat lah.." Ucap Bobby tersenyum


"Baiklah.. Terimakasih ya Bobby.." Ucap Yena sambil mengunyah makanannya


"Terimakasih untuk?" tanya Bobby mengaduk makanan yena


"Segalanya.." Ucap Yena kembali tersenyum.


"Makan lagi.."Ucap Bobby tersenyum, sambil kembali menyuapi Yena di atas tempat tidurnya itu.