YENA

YENA
Masih Marah?



Dimas terlihat melamun, ia memikirkan kejadian semalam. kata-kata Irene terus terngiang di telinganya.


Jika saja Irene tak bilang, ia takan pernah tahu perasaan gadis itu, ia juga tak menyangka Irene juga akan merasakan sakit hati yang sama seperti dirinya. ia hanya mengira keputusannya untuk meninggalkan Irene adalah keputusan yang tepat.


Dimas selalu berfikir bahwa hanya dirinya yang tersakiti saat itu. karena, Irene pun dengan mudahnya kembali pada Bobby setelah mereka berpisah, meski itu yang di inginkan Dimas namun, tetap saja hatinya terasa sangat sakit.


Semua perkataan Irene memang benar, dia adalah wanita bukan barang yang bisa di berikan.


Entah, mengapa Dimas terus teringat gadis itu.. Siang dan malam ia hanya mengingat wanita yang bernama 'Irene'.


Meski ia mencoba melupakan, tetapi kejadian semalam terus membekas di ingatannya.


Apalagi ketika Irene mencoba menggoyahkan hatinya kembali dengan berkata bahwa ia masih menyukai Dimas.


Dimas terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa penyebab ia tak bisa melupakan kejadian semalam.. apa yang ia rasakan hanya rasa bersalah..? ataukah rasa cinta yang sempat hilang?, ia belum bisa memastikan semua itu.


"Eh, Lu kenapa sama si bos?" tanya Jessica


"Kenapa emang?" tanya Yena


"Kok si bos dari tadi diem terus.. kaya ngelamun gitu.. Lu berantem sama si bos" Tanya Jessica


"Gak sih.. cuma salah faham aja" Ucap Yena


"Oh, pantes.. ngomong dong lu ke dia.." Ucap Jessica


"Masih kerja Jes, gak enak lah sama yang lain.." Ucap Yena


"Minta maaf doang, gak papa kali..." Ujar Jessica


"Akh.. gua bingung, dia dari tadi aja menghindar terus sama gua.. biar nanti aja pas mau pulang.. baru gua ngomong ke dia.." Kata Yena


"Oh, ya udah terserah lu.." Jawab Jessica.


Waktu begitu cepat berlalu, jarum jam kini menunjukkan pukul 22.00 waktunya toko tutup dan bagi semua karyawan GogiJjang untuk pulang.


Yena menghampiri Dimas yang sedari siang terlihat gelisah dan banyak melamun.


"Kak..." Ucap Yena


"Eh, iya..." Dimas tersadar dari lamunannya


"Kamu masih marah sama aku..?" tanya Yena duduk di depan


"Eh, marah kenapa ya..." Dimas sempat lupa saat ia adu jotos dengan Bobby di depan kos-kosan Yena


"Ouh.. iya, udahlah lupain aja..." Dimas yang kemarin terlihat sangat marah, tiba-tiba sekarang bilang 'Lupakan saja' dengan mudahnya, tanpa amarah atau minta penjelasan. tak terlintas sedikitpun di otak pria itu tentang gadis yang duduk di depannya, seharian ia malah tenggelam dalam kenangan masa lalunya dengan mantan kekasihnya.


"Kamu lagi mikirin apa sih? Aku kan udah minta maaf.. udahlah jangan cuek-cuek lagi.." Ucap Yena


"Emang kapan aku cuek?" tanya Dimas


"Ya ampun kamu gak nyadar?, Seharian ini kamu diemin aku.. menghindari aku..?!" Ucap Yena


"Masa sih..?!!" Ucap Dimas, ia bahkan tak sadar seharian bersikap aneh dan mendiamkan kekasihnya itu.


"Kalo kamu masih marah sama aku, ya udah aku terima.. tapi jangan lama-lama" Ucap Yena


"Emang kenapa kalo lama?" tanya Dimas


"Ya ini udah malem.. kamu gak niat buat nganterin aku pulang?" tanya Yena


"Oh, iya.. nyampe lupa.. maaf.. maaf.." Ucap Dimas tertawa.


Mereka berdua berjalan keluar restoran, di depan restoran terlihat seorang pria tengah berdiri di depan mobilnya dengan tangan yang di lipat.


"Yena biar gua yang anterin..." Ucap pria itu


"Bobby...." Ucap Yena dengan mata melotot memberikan kode bahwa kehadiran Bobby bisa menjadi pertengkaran bagi Yena dan Dimas.


"Kenapa kamu gak jemput Irene aja...?" ucap Yena menyinggung Bobby, agar ia tak memperdulikan lagi Yena.


"Gak tahu, Irene hari ini aneh.. bingung gua.." Ucap Bobby.


Deg..


Jantung Dimas berdegup kencang saat nama Irene di sebut. Ia berfikir penyebab Bobby mengatakan bahwa 'Irene aneh hari ini' ada kaitannya dengan kejadian semalam, saat Irene menangis karena dirinya.


"Bang, pulangnya bareng lah.." Daniel datang menghampiri yang di ikuti Jessica di belakangnya.


"Lu ngapain ada disini? Lu tiap hari kesini?" Tanya Bobby terlihat keheranan, melihat Daniel malam-malam berada di Restoran GogiJjang.


"Gak ngapa-ngapain gua.." Ucap Daniel membuang muka, terlihat sekali ada sesuatu yang di sembunyikan.


Bobby melirik ke sebelah Daniel, seorang wanita yang dengan rambut di ikat ke belakang.


"Ouh... gua tau.. gua tau.." Ucap Bobby tersenyum.


"Udahlah bang, jangan banyak ngomong.. Anterin kita pulang aja.." Ucap Daniel


"Apaan..?! kagak.. kagak.. emangnya gua supir lu.." Ucap Bobby


"Lah, lu kesini mau ngapain? jemput Yena kan? ya udah sekalian sama kita..." Ucap Daniel


"Kalo Yena ikut.. kalian boleh ikut.. kalo Yena gak mau ikut.. gua juga gak mau kasih Tebengan buat kalian.." Ucap Bobby


"Lho.. kok gitu.." Ucap Daniel


"Lho.. kok bawa-bawa aku sih?" tanya Yena


"Bodo amat.. suka-suka gua lah.." Ucap Bobby


Dimas menghela nafas, melihat sikap kekanak-kanakan Bobby.


"Gak akh.. nanti kamu salah faham lagi.." Ucap Yena


"Tenang bos, ada kita Yena pasti aman.." Ucap Jessica


"Gak.. gak papa kok.. bareng sama mereka ini.." Ucap Dimas menatap Yena


"Ya udah.. tapi kamu gak marah kan?" tanya Yena


"Gak kok.." Jawab Dimas


"Eum.. Drama.." celetuk Bobby yang langsung mendapat reaksi kesal dari Yena


Sekilas Yena melirik Bobby dengan tatapan sinis,


"Ya udah aku pulang dulu ya.." Ucap Yena


Yena dan yang lainya memasuki mobil.


"Ya.. hati-hati.." Jawab Dimas melambaikan tangannya, sambil berdiri sampai mobil itu pergi.


Dimas melakukan mobilnya namun, ia tak berarah ke rumahnya.


Ia membeli beberapa minuman isotonik yang biasa mantan kekasihnya, ia melajukan kendaraannya dan berhenti di depan sebuah butik yang tak asing baginya.


terlihat sekelompok orang yang sedang menongkrong, Dimas mengenal salah satu di antara mereka, Dimas keluar dari mobilnya lalu ia menghampiri orang itu.


"Hendi..." Ucap Dimas


"Wih bro, gimana kabarnya..?" Ucap Hendi yang langsung berdiri ketika Dimas menghampirinya.


"Baik, butik Irene udah tutup?" tanya Dimas


"Gak buka bro seharian.. gua juga gak tau kenapa.." Ucap Hendi


"Ouh, gitu.. oke makasih ya.." Dimas menepuk bahu Hendi lalu kembali kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Lah, lu mau nanya itu doang?, gak mampir dulu, maen dululah kita.." Ucap Hendi


"Kapan-kapan aja bro.." Ucap Dimas


"Lah, lu kesini cuma mau liat Irene?" tanya Hendi


Dimas hanya diam dan tersenyum lewat kaca mobilnya yang di biarkan terbuka.


"Gua pergi dulu ya..." tanpa menjawab pertanyaan Hendi, Dimas melajukan kendaraannya.


Dimas mengemudikan mobilnya dan berhenti di sebuah rumah, ia mencoba untuk menelpon seseorang namun nomornya tak di angkat.


terlihat seorang pembantu hendak memasuki gerbang, dengan sigap Dimas menghentikan orang itu.


"Pak.. masih kenal saya..?" tanya Dimas pada seorang pria


"Den Dimas.. mau ketemu sama neng Irene?" tanya Supir pribadi Irene yang kebetulan sedang berjalan kaki hendak masuk ke dalam rumah.


"Tadinya sih mang, tapi ini udah malem.. gak enak juga.. saya mau titip ini aja, tolong kasih ke Irene ya mang.." Ucap Dimas memberikan sebuah bungkusan plastik.


"Oh, gitu.. ya udah, mang pasti kasih ke neng Irene.. tapi, yakin ini gak mau ketemu dulu sama neng Irene?" tanya lelaki itu kembali bertanya


"Gak usah mang.. Makasih ya sebelumnya" Ucap Dimas


"Oh, gak papa kok den.. ya sudah saya masuk dulu ya den.." Ucap supir pribadinya Irene yang berjalan meninggalkan Dimas


"Ya mang.. terimakasih.." Ucap Dimas


Sesuai dengan ucapannya, saat memasuki rumah supir itu memberikan bungkusan pada pembantu, yang tanpa menunggu lama pembantunya itu langsung berjalan mengetuk pintu kamar Irene.


Tokk.. Tokk... Tok...


"Neng... ini ada titipan dari temannya.." Ucap pembantunya.


"Masuk aja.. gak di kunci kok.." Jawab Irene dalam kamarnya


Pembantu itu menekan handle pintu, hingga pintu kamar terbuka.


"Neng kenapa sakit?" tanya pembantu melihat Irene yang tidur di bungkus selimut tebal.


"Gak kok bi..." Irene terbangun, duduk di atas ranjangnya.


"Ini tadi ada yang nitip ini buat neng Irene..." Ucap pembantu itu memberikan bungkusan plastik.


Irene langsung mengambilnya dari tangan pembantu itu, di lihatnya isi plastik tersebut.


"Minuman.. ini dari siapa bi?" tanya Irene


"Saya kurang tahu neng, soalnya orangnya kasih itu ke si mang, katanya si temnnya neng Irene cuma saya lupa siapa gitu namanya..." Ucap pembantu itu


"Cewek... cowok..?" tanya Irene


"Cowok neng.." Ucap pembantu itu


"Cowok...?" Irene diam sebentar sambil berfikir siapa yang telah memberikan minuman kesehatan ini.


"Ya sudah, bibi boleh ke luar..." Ucap Irene


"Ya sudah.. saya tinggal dulu neng" pembantunya itu melangkan kaki dari kamar Irene


"Makasih bi.." Ucap Irene


Irene terus bertanya-tanya siapa orang yang di maksud, jika itu Bobby rasanya tidak mungkin.. seisi rumah telah mengenal Bobby dengan baik jika pun memberikan sesuatu tidak mungkin Bobby menitipkannya pada supirnya dan malah tidak masuk ke rumah.