
"Aku ingin kamu menemaniku untuk bertemu dengan sahabat ku saat kuliah dulu." Ujar Bobby
"Kenapa kamu tak pergi dengan Daniel saja?" tanya Yena
"tidak.. dia sedang fokus dengan kuliahnya. mungkin sebulan ini dia takan kesini.." Ucap Bobby
"Lho.. Kenapa?" tanya Yena heran
"Begitulah dia. kemarin dia berjanji padaku akan kuliah dengan rajin lagi, setidaknya dia akan menepati janjinya.." Ucap Bobby tersenyum
"Bisakah, orang seperti Daniel belajar dengan rajin?" tanya Yena
"Sudah tak perlu khawatir dengan Daniel. berganti pakaianlah.." Ucap Bobby mengganti topik pembicaraan
"Baiklah.." Jawab Yena
Setelah Yena berganti pakaian, mereka pun pergi dengan mobil hitam milik Bobby.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Yena
"Nanti juga kamu tahu.." Jawab Bobby
"Kamu takkan membawaku ke suatu Bar atau tempat minum kan?" tanya Yena
"Waaahhh.. aku tak percaya gadis kecil seperti mu bisa berfikiran kesana" Ucap Bobby tertawa kecil melirik Yena sambil mengemudikan mobil miliknya.
"Jangan tertawa kamu membuat ku takut.." Jerit Yena
"Busseetttt.. Lu yang buat gua takut. siapa juga yang mau nyulik lu.." Ucap Bobby tertawa
"Jadi kita mau kemana?" tanya Yena
"Khawatir banget sih lu?, nanti nyampe baru gua kasih tau" Ucap Bobby
Mobil yang di kemudikan Bobby pun berhenti di sebuah butik.
"Kamu mau beli pakaian?" tanya Yena
"Gak.. kata siapa?" Ucap Bobby
"Terus kok kita berhenti di sini?" tanya Yena
"Lu denger gak sih waktu di rumah gua ngomong apa?" tanya Bobby
"Iyya.. Iyya.. ketemu sahabat kuliah kan?!" ucap Yena
"Ya, udah turun.. nunggu apa lagi?!" ucap Bobby
"Hih.. galak bangett..!!, pantes aja udah tua gak punya pacar.." Ucap Yena kesal lalu keluar dari mobil.
"dasar bocil..!" Gumam Bobby
Mereka berdua pun memasuki butik tersebut, di sambut oleh seorang wanita memakai long dress berwarna putih susu dengan rambut di ikat ke belakang dan pria berkemeja abu tinggi tak kalah tampan dari Bobby.
"Heiii.. lama gak ketemu.." Ucap Wanita berbaju putih tersebut
"Wih.. bro gimana kabarnya?" Ucap pria tampan yang belum di ketahui namanya itu.
Mereka pun berjabat tangan
"Baik.. gimana usaha lu? lancar?" tanya Bobby
"Untuk sekarang.. lancar.." Ucap wanita itu, sambil tersenyum.
"Kok buat sekarang sih? kaya pesimis banget" Ucap Bobby
"Ya bukannya gua pesimis Bob, gua kan gak tau kedepannya kaya apa" Ucap wanita itu tertawa kecil.
"Ya ngomongnya, moga lancar sekarang dan seterusnya dong..!!" Ucap Bobby membuat wanita berdress putih tertawa
"hahahaha.. iya.. iya.. dari dulu gak mau kalah ya." Ujar wanita itu
"Eh, lu bawa siapa? kenalin dong.. di diemin terus.." Ujar pria berkemeja abu
"Gak penting juga kalo di kenalin.." Ucap Bobby
Seketika Yena menggigit bibir bawahnya, ingin rasanya ia menonjok muka Bobby saat itu namun, ia tahu posisinya sekarang sedang berada di tempat dimana Bobby bertemu kembali dengan sahabatnya.
"Eh, gua kira selera lu berubah dari dewasa ke yang imut-imut kaya gini.." Ucap pria berkemeja abu itu tertawa.
Yena merasa posisinya sekarang sedang tak aman dan tak nyaman, mengapa Bobby harus membawanya jika ia hanya di remehkan seperti ini?!.
"Berapa umur mu? 17? 18?" tanya Wanita berdress putih
"18.." Jawab Yena terpaksa tersenyum
Akh.. mereka malah bertanya umurku dulu sebelum namaku, sungguh teman Bobby tak ada yang sopan. batin Yena
"Kenalin.. gua Hendi.." Pria berkerah itu mengulurkan tangan, tak ragu Yena menyambut tangan itu dengan senyuman.
"Yena.." Ucapnya sambil berjabat tangan, lalu melepaskan tangan itu.
"Yena.. aku Irene.." Wanita itu memperkenalkan dirinya
"Aku Yena.." Ucap Yena berjabat tangan dengan Irene
"Kamu siapanya Bobby?" tanya Irene
"Aku.. aku temannya Bobby" Ucap Yena gelagapan
"Oh ya..? sejak kapan Bobby punya teman anak SMA yang baru lulus?" tanya Irene melirik Bobby yang tengah kebingungan.
karena, perbedaan umur Yena dan Bobby yang jauh membuat Irene curiga, bagaimana Bobby bisa mengenal yena? Sedangkan, Irene hapal betul bagaimana dan seperti apa seorang Bobby, yang hanya berteman dan berkeliaran tak jauh dari yang ia ketahui.
"Oh, iya.. bawalah.. dia lihat-lihat, dia bilang mau membeli sebuah baju" Ucap Bobby mengalihkan pembicaraan
"Baju?" Yena menoleh heran ke arah Bobby, ia heran kenapa Bobby beralasan bahwa ia yang akan membeli baju?, bukankah dia datang hanya untuk menemani Bobby?
"Kamu ingin mencari yang seperti apa?" tanya Irene
"Tunggu.. aku tidak.." Ucap Yena yang di salib oleh Bobby
"Baju apa saja.. sana pergilah mencari..!!" Ucap Bobby sambil mendorong tubuh Yena yang di rangkul oleh Irene.
Irene menarik Yena memperlihatkan baju-baju yang ia miliki di butiknya,
"Kamu ingin mencari yang seperti apa?" tanya Irene
"Carikan yang pantas untukku.." Ujar Yena kebingungan dengan semua baju yang terpajang.
Sedangkan Bobby dan Hendi, dua pria itu duduk di bangku yang tak jauh dari Yena dan Irene.
Hendi mengeluarkan bungkusan rokok dari saku kemejanya, lalu mengambil sebatang rokok dari bungkusnya.
"Mau.." Hendi menyodorkan sebatang rokok pada Bobby
"Ok.." Bobby mengambilnya, di jepitnya rokok tersebut di mulutnya, selagi ia mencari korek di saku celananya, lalu di nyalakanlah rokok tersebut.
"Setelah lu patah hati, lu ganti selera? cari yang imut-imut sekarang?" Ucap Hendi mengambil korek dari tangan Bobby lalu menyalakan rokoknya
"Hahaha.. bisa aja lu..!!" Bobby menghembuskan asap rokok ke udara
"Lah, kenapa enggak? lu gak mungkin selamanya saingan sama Dimas kan?" tanya Hendi menoleh ke arah Bobby
"Ngaco lu..!!" Ucap Bobby seolah tak ingin menjawab pertanyaan Hendi
"Serius gua, gak papa juga kali. biar pun Yena masih bocah, kalo ternyata di lebih bisa buat lu nyaman kenapa enggak?" Ucap Hendi
"Kayanya lu salah tangkap deh.. gua gak ada hubungan apapun sama Yena.." Ucap Bobby tersenyum lalu menghisap rokok di tangannya.
"Terus lu masih mau bersaing sama Dimas? gak ada cewek lain emang?" Tanya Hendi membuang abu rokok di asbak.
Irene yang asyik berbincang dengan Yena, mengendus-endus mencium sesuatu yang tak enak.
Ia berbalik badan, dimana Bobby dan Hendi sedang duduk dengan jarak 10 meter tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Hei.. kalian tidak bisa baca bahwa disini tidak boleh merokok..!!!" teriak Irene mengejutkan seisi butik
"Anjjirrrr.. hampir aja jantung gua copot.." Ucap Hendi terkejut
"Ayo.. gua juga takut.." Ucap Hendi berlari keluar.
"Mereka itu bertingkah seperti anak kecil kan? padahal, umur mereka sudah matang." Ucap Irene masih kesal dengan tingkah dua pria itu
"Kak Irene.. sahabatnya Bobby?" tanya Yena
"Aku?.. aku kenal Bobby dari kecil, aku sahabat sekaligus mantan pacarnya." Ucap Irene tersenyum ke arah Yena
"Mantan pacar.." Gumam Yena
"Iya kenapa? Bobby tak pernah bercerita tentang ku?" tanya Irene
"Bukan begitu kak.." Ucap Yena
"tenang saja, aku memutuskan untuk tetap bersahabat dengan Bobby. Bobby orang yang sangat pencemburu kan?" tanya Irene
"Aku tak punya hubungan apapun dengan Bobby kak.." Jawab Yena
"Benarkah? lalu kamu mengenal dia dari mana?" tanya Irene
"Aku kenal dia.. dari..." Yena kebingungan untuk mengungkapkan alasannya, tak mungkin rasanya bila ia harus bilang ia kenal Bobby saat ia hendak bunuh diri.
"Sudahlah, aku tahu Bobby seperti apa, tak ada yang tak aku ketahui kecuali kamu.. hebat sekali, bahkan setelah dua bulan ia tak menjawab telepon ku dan mengacuhkan pesan dari ku, ia membawa kekasih baru ke butik ku.. Sungguh, rapih menyembunyikan mu dariku" Ucap Irene
"Sungguh kak.. aku bukan kekasihnya" Yena menyangkal.
"Sudahlah, kamu tak usah takut padaku.. Aku malah bersyukur padamu, setidaknya aku tak merasa bersalah terus-terusan padanya" Ucap Irene tertawa membuat kecanggungan memudar di antara mereka.
Di sisi lain, Bobby yang tengah duduk santai bersama Hendi dengan sebatang rokok yang menyala di jarinya, di hampiri pria bertubuh tinggi berkulit putih.
"Itu Dimas.." Gumam Hendi ia melirik ke arah Bobby tak seharusnya Bobby dan Dimas bertemu, ia mencemaskan sesuatu jika mereka bertemu.
"Woi.. apa kabar.." Pria berkaus merah itu menyapa mereka namun, hanya Hendi yang menjawab.
"Baik.. Apa lu gak ke dalem aja? Irene di dalem.." Ucap Hendi berharap dua orang di depannya terpisah.
"Benarkah?" tanya pria tampan berkaos merah itu
"Mending, lu aja yang ke dalem.. gua yang di sini bareng Dimas" Ujar Bobby tak menatap Dimas sama sekali
"Gua? gua ke dalem?" tanya Hendi
"Ia elu.. ada yang mau gua omongin sama Dimas. makanya lu pergi sana.." Ucap Bobby
"Oke deh.. oke.. kalian jangan ribut ya" Ucap Hendi melangkah pergi
Dimas duduk di bangku, di depan Bobby.
"Apa yang mau lu omongin?" tanya Dimas
"Gimana lu sama Irene? baik?" tanya Bobby menatap Dimas dengan kebencian terpendam
"Bukannya gua udah bilang berkali-kali sama lu.." Ucap Dimas
"Bilang apa? Bilang kalo lu pacaran sama Irene di belakang gua??.. Lu sahabat macam apa sih? hubungan gua sama Irene baik-baik aja sebelum lu ngerusak semua nya.." Ucap Bobby emosi
"Gua minta maaf Bob, gua gak ada maksud untuk.." Dimas mencoba memberi penjelasan
"Minta maaf buat apa..?, Lu baru minta maaf setelah gua pergokin lu sama Irene ciuman di belakang gedung itu?" tanya Bobby mengungkit kejadian yang menyakitkan hatinya
"Gua udah lama juga suka sama Irene Bob," Ucap Dimas
"Lu baru sekarang bilang suka?, sebelum gua jadian sama Irene kenapa lu diem aja?, kenapa lu gak bilang ke gua sebelumnya?, apa ini cara kotor buat lu rebut apa yang udah jadi milik gua?" tanya Bobby
"Gua sekarang sadar Bob, gua salah.. gua minta maaf, gua juga udah putusin buat bersahabat sama Irene" Ucap Dimas
"Bacott Lu..!!, terus menurut lu gua percaya?, udah berapa lama lu sama Irene? selain ciuman apa aja yang lu lakuin sama Irene di belakang gua? " Cecar Bobby
"Terserah lu Bob, yang pasti gua udah minta maaf." Ucap Dimas melangkah pergi
"Sialan ya Lu..!!" Ucap Bobby geram
Bobby melangkahkan kakinya, lalu memukul wajah tampan Dimas hingga meninggalkan bekas merah di sudut bibirnya.
"Itu pelajaran buat pengecut kaya lu.." Bobby melangkah pergi meninggalkan Dimas di belakangnya.
"Yena.." Teriak Bobby memasuki butik
"Bukannya itu suara Bobby? untuk apa dia berteriak? padahal, butik ini tidak terlalu luas sampai dia harus berteriak-teriak memanggil mu.." Ucap Irene
"Apa ada masalah kak? kok sepertinya Bobby seperti orang kesetanan?" tanya Yena
"Tidak tahu" Jawab Irene mengerutkan dahinya.
Yena dan Irene pun berlari ke sumber suara, menghampiri Bobby dengan nafas tersengal-sengal.
"Kamu ini, tidak bisa tenang sedikit apa? kamu kira butikku hutan?!" Ucap Irene
"Apa kamu sudah selesai?" Bobby melirik Yena dan tak menggubris omongan Irene
"Memangnya ada?" tanya Yena
"Begini.. ada.." Belum selesai Hendi berbicara seseorang datang dengan tangan memegang bibirnya yang memar.
"Dimas kamu kenapa?" tanya Irene langsung menghampiri Dimas.
"Jika kamu sudah cepat lah bayar, kita pulang..!!" Ujar Bobby
"Bobby kamu apakan Dimas, hingga ia sampai seperti ini?" tanya Irene yang tengah memeriksa wajah Dimas dengan dekat, Irene tau ada yang tidak beres dengan mereka, Irene telah menduga jika Dimas di pukul oleh Bobby dan itu tak lain karena dirinya.
Bobby yang melihat Irene memperlakukan Dimas seperti itu, semakin dendam dan semakin geram.
"Yena apa kamu tuli? cepat berkemas, kita pulang..!!" Teriak Bobby membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Irene ia langsung menoleh ke arah Bobby.
Yena terkejut kenapa ia harus di bentak sekasar itu, kenapa Bobby tak berbicara baik-baik jika hanya menyuruhnya pulang?, hatinya begitu sakit, ia merasa tak salah apapun namun, hatinya begitu sesak di bentak oleh orang yang selama ini selalu bersikap baik padanya.
perlahan air matanya tak dapat di bendung, mengalir begitu saja ke pipi chubby nya.
"Bobby apa kamu gila?, kenapa kamu harus membentak Yena?, dia bahkan tak tahu apapun.." Ucap Irene menghampiri Yena, merangkul gadis itu.
"Cepat..!!" bentak Bobby
"Biar aku bereskan.. kamu tak perlu berteriak seperti itu.." Irene memeluk tubuh gadis yang kini menangis sesenggukan.
Dengan segera Irene melakukan transaksi dengan Yena.
Yena mengeluarkan kartu kredit dari sakunya.
"Bukannya ini.." Irene sadar bahwa kartu kredit yang di keluarkan Yena untuk berbayar adalah kartu kredit milik Bobby, ia semakin yakin bahwa Yena adalah kekasih Bobby.
Namun, melihat sikap Bobby barusan, ia semakin yakin bahwa Bobby memperalat Yena agar bisa melupakan dirinya.
Irene sangat yakin bahwa Yena adalah sebuah pelampiasan bagi Bobby.
"Ada apa kak?" tanya Yena
"Oh, tidak apa-apa. ini kartunya, pergilah sebelum Bobby mengamuk kembali" Ucap Irene
"Iya kak.. terimakasih" Ucap Yena.
"Siapa namanya barusan?" bisik Dimas
"Yena.. apa kamu mengenalnya?" tanya Irene dengan suara pelan
"Tidak, aku hanya bertanya. sepertinya wajahnya tak aneh bagiku" Ucap Dimas
Setelah selesai transaksi, dengan segera Bobby menarik paksa tangan Yena.
Menarik keras hingga tempat ia memarkirkan mobilnya.
"Bobby lepas.. sakit.." Ucap gadis berpipi basah bekas air mata yang mengalir.
"Masuk.." Bobby membukakan pintu mobil.
mendorong Yena memasuki mobil, lalu menutup pintunya.
Ia berjalan masuk ke mobil, tanpa ragu ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.