To My Youth

To My Youth
Bab 92



“jangan sedih, aku akan mengajak kak meda untuk bergabung.” Ucap Andheera seraya mengetikan sesuatu di ponselnya.


“tambah menyedihkan dong, sesama jomblo bergabung ditengah pasangan yang bermesraan, hufft.” Keluhnya yang kemudian disambut dengan gelak tawa dari semua teman perempuannya.


“HHAHAHAHAAA..!!!”


Sementara itu dikursi belakang, Oliver hanya tersenyum tipis, mendengar suara tawa bahagia dari keponakan juga teman-temannya.


“mungkinkah setelah kejadian ini, Andheera masih tetap kekeh ingin pergi, mudah-mudahan saja kenyamanan juga keperdulian yang teman-temannya berikan bisa merubah rencana kepergian Andheera.” Batin Oliver.


***


Sesampainya disebuah supermarket yang keberadaannya tidak terlalu jau dari vila milik keluarga Hanyoora.


“ayoo kita belanja!!” seru Hanyoora yang tampak sangat antusias sekali.


“let’s goooo!!” timpal Vivian yang tak kalah nyaring nya.


Mereka semua pun turun dari mobil 1 per satu, kecuali sang paman yang lebih memilih untuk menunggu di mobil saja dan menyerahkan tugas berbelanja pada anak-anak muda.


“kalian duluan saja nanti aku menyusul.” Kata Anha seraya mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya.


“kenapa?” tanya Andheera penasaran dengan apa yang ingin karibnya itu lakukan.


“aku mau menelfon seseorang..” jawab Anha.


“ahhh kau pasti ingin mengajak cowomu itu kan? Hahahaa, yaudah ajak aja sekalian kenalkan dengan kita.” Seru Vivian yang kemudian langsung pergi menyusul Hanyoora setelah berhasil menggoda Anha.


“kau duluan saja aku akan ke dalam bersama Anha.” Ujar Andheera pada Keenan yang masih berdiri disampingnya.


“tapi aku ingin tetap bersamamu.” Sahut Keenan dengan nada manjanya membuat Andheera mengerutkan dahinya.


“dih apa sih.” respon Andheera yang merasa eoh melihat sikap manja Keenan padanya.


“sudah, kau duluan saja dengan kak Keenan, selain menelfon temanku, aku juga akan menelfon Yerim mungkin akan memakan waktu cukup lama, jadi jika aku tidak sempat menyusul, belikan aku cemilan yang banyaka ya, dan juga daging sapi oke!” timbrung Anha.


“ahh iya, aku hampir lupa dengan Yerim, sampaikan salamku untuknya ya, jika saja dia bisa bersama dengan kita mungkin akan lebih menyenangkan, hmm..” Sahut Andheera, sebelum ia pergi bersama Keenan menyusul yang lainnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam supermarket.


Anha pun langsung menelfon seseorang bersamaan dengan kepergian Andheera dan Keenan beberapa menit yang lalu.


“hallo..”


***  


Sesampainya di villa, setelah 1 jam lamanya berbelanja kebutuhan masing-masing mereka semua pun langsung disibukan dengan aktivitasnya masing-masing. Yesa, Oliver yang bertugas membawa peralatan memanggang ke pinggiran pantai. Sementara ciwi-ciwi seperti Yoora, Anha dan Vivian bertugas membawa bahan-bahan makanan.


Sementara itu Andheera, Jenny dan Keenan ditugaskan untuk membawa sebuah kotak besar yang berisikan berbagai macam minuman didalamnya dan juga es batu.


“ini mau disimpan dimana?” tanya Andheera.


“disana aja.” Sahut Vivian seraya menunjukan letak yang dimaksud dengan 1 tangannya.


Begitu bahan makanan telah kumpul di atas meja, Vivian pun langsung memulai aksinya untuk meracik bumbu dan sebagainya, karena dialah yang ditunjuk sebagai koki diacara makan malam tersebut.


Dan Keenan pun beralih menuju tempat pemanggang berkumpul dengan para lelaki disana, Oliver dan Hanyesa.


“Yoora, bisa kau bersihkan sayur mayur ini.” pinta Vivian pada Yoora yang tengah meneguk air mineral dalam botol.


“oke.” Sahut Yoora yang kemudian menutup kembali botol minuman tersebut lalu meletakannya diatas meja kemudian mengambil mangkuk besar yang berisikan sayur mayus dalam genggaman Vivian.


“apinya sudah siap, dimana dagingnya?” tanya Yesa, setelah selesai berkutat dengan pemanggang.


“sebentar aku masih belum selesai membumbuinya.” Ucap Vivian seraya mengaduk daging yang sudah dibumbui dalam mangkuk besar.


“oke.” Sahut Yesa kembali.


“hati-hati sayang.” Ucap Yesa pada Jennie yang tengah memotong bahan makanan.


“uuhh.. kak Yesa so sweet sekali sih. Aku juga mau dong di so sweetin gitu hhehe.” Goda Anha dengan diiringi tawa renyahnya.


“tenang aja, sebentar lagi Jimin datang kok.” Timpal Andheera lengkap dengan tatapan nakalnya.


“yak! darimana kau tahu?” seru Anha yang terkejut seraya membulatkan kedua matanya.


“Jimin? Siapa Jimin?” timbrung Vivian. “ini udah kak.” Lanjut Vivian seraya memberikan mangkuk yang berisikan daging pada Yesa.


Yesa pun pergi dengan membawa mangkuk tersebut menuju tempat pemanggangan. Sementara Yesa dan Oliver yang bertugas memanggang, sisanya malah asyik mengobrol sembari mengeluarkan beberapa cemilan untuk diletakan diatas mangkuk.


“yak! sejak kapan kau tau?” tanya Anha kembali yang masih penasaran bagaimana Andheera mengetahui hubungannya dengan Jimin.


“hanya kebetulan aja, aku pernah melihat kalian ber..” sebelum Andheera membuka mulutnya lebih lama lagi dengan cepat Anha membungkam mulut Andheera.


“ber.. apa?” timpal Jennie yang juga ikut penasaran.


“berciuman?!” celetuk Vivian.


“UUuuuuuuu..” goda mereka serempak yang membuat kedua pipi Anha memerah.


“aughhh!! Tanganmu bau daun seledri tau!” pekik Andheera yang akhirnya berhasil menyingkirkan tangan Anha dari bibirnya.


“siapa yang ciuman diih! Aku masih anak dibawah umur tau!” seru Anha yang tak terima.


“tidak berciuman tapi berpelukan.” Lanjut Andheera yang membuat semunya kembali meledek Anha.


“yak! itu bukan pelukan seperti yang kau fikirkan, itu hanya pelukan..” sanggah Anha.


“pelukan apa?” sahut Jennie lengkap dengan senyuman jahilnya.


“yak! yang namanya pelukan, ya pelukan, tubuhmu beradu dengan tubuhnya seperti ini.” prookk. Seru Vivian seraya menyatukan kedua telapak tangannya untuk mengimajinasikan tubuh Anha dan Jimin yang tengah menyatu.


“kemudian jika suasana menjadi panas makan wajah kalian akan berdekatan kemudian terjadilah seperti ini.” sambung Jennie seraya membuat gerakan ciuman dengan kedua tangannya dan juga bibirnya yang tampak dimonyong-monyongkan.


“hahahaaha.” Gelak tawa pun tak terhindarkan membuat suasana malam itu semakin mencair dan terasa hangat seolah tengah berkumpul dengan keluarga sendiri.


“ahh iya, Yoora lama sekali mencuci sayurnya, coba kau lihat deh.” Ucap Vivian yang tersadar jika salah satu temannya itu masih juga belum kembali.


Namun saat Andheera hendak menyusulnya, samar-samar ia melihat Yoora yang tengah berjalan dengan sebuah mangkuk dalam genggamannya. Yang membuatnya tidak jadi menyusul dan tetapa pada posisinya.


“lama sekali nyucinya.” Ucap Anha saat Yoora telah kembali bergabung.


“aroma apa ini..” Celetuk Andheera kala Yoora hendak menyerahkan kembaali mangkuk yang berisakan sayur mayur pada Vivian.


“kau mencucinya dengan sabun?” sambung Anha yang juga merasakan ada yang tidak beres dengan pekerjaan Hanyoora.


“Iya, memangnya kenapa? kan biar bersih.” Respon Yoora polos.


“tapi sepertinya ini bukan aroma mami lemon.” Kata Jennie seraya ikut mengendus wewangian dari sayur mayur.


“memang bukan, aku cuci pakai sabunku.” Celetuk Yoora.


“YAK!!”  bentak ketiga temannya yang tak menduga jika Yoora benar-benar tidak mengetahui cara membersihkan sayur mayur.


Sehingga membuat para lelaki yang tengah sibuk memanggang pun ikut menengok kearah para ciwi-ciwi berada lengkap dengan kerutan didahinya karena mereka tidak tahu keributan apa yang sedang terjadi di sisi lain.


“kenapa sih?” kaget Yoora, sementara itu Jennie hanya bisa nyengir sembari menyemil cemilan yang ada diatas meja.


“kenapa tak sekalian kau pakaikan shampoo aja Yoora!” pekik Vivian seraya menjatuhkan secara kasar mangkuk sayur tersebut keatas meja.


“memangnya ini masih belum cukup bersih ya?” tanya Yoora dengan polosnya sembari mengambil beberapa helai sayur dari dalam mangkuk untuk mengecek kebersihannya.


***


2 jam kemudian, setelah acara makan malam usai, mereka pun langsung berpindah tempat ke dalam villa. Sementara Andheera dan Keenan masih duduk santai ditepian pantai sembari menikmati angin malam sejuk dan juga secangkir teh hangat yang dibuat oleh Keenan sebelumnya untuk menemani obrolan mereka malam itu.


“bagaimana kabarmu Andheera?” tanya Keenan yang mengawali obrolannya kala itu.


“seperti yang kau lihat, aku.. baik-baik saja.” Sahut Andheera dengan sesekali menyesap teh hangat miliknya.


“benarkah?


Seharusnya aku bahagia ya mendengarnya, tapi anehnya kenapa hatiku terasa sedikit sakit. Mendengar kau baik-baik saja tanpaku membuatku sedikit kecewa.” Respon Keenan lengkap dengan tatapan sendunya.


“memangnya apa yang kau harapkan?”


Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Keenan sontak menaikan satu alisnya.


“apa aku benar-benar tidak ada artinya untukmu And?” keluh Keenan yang membuat Andheera sontak terkekeh karena mersa geli dengan kalimat tersebut.


“yak! lantas kau ingin aku bagaimana?” kata Andheera dengan diiringi tawa renyahnya, yang membuat Keenan tampak semakin kesal.


“aku benar-benar tak mengerti, kenapa kau seperti ini?!


Bukankah seharusnya kau yang mencariku..”


“untuk apa aku mencarimu?” potong Andheera seraya menatap Keenan dengan tatapan seriusnya.


“kau sudah meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah katapun, dan sekarang saat aku menemukanmu kau malah bersikap seperti ini. Ada apa sebenarnya dengan dirimu?!” tukas Keenan tajam seraya bangkit dari duduknya.


“aku.. sudah bukan Andheera yang dulu kau kenal, banyak hal yang telah kita lalui, bukankah seharusnya kau bisa menjalani hidupmu dengan bahagia tanpa harus kembali mengingat masa lalu. Jika kau berfikir tentang menjalin suatu hubungan, kurasa itu tidak akan berhasil. Karena.. aku sudah tidak berada dimasa lalu.” Ucap Andheera panjang lebar kemudian bangkit dan meninggalkan Keenan dengan tetesan air mata yang mulai mengalir membasahi kedua pipinya.


“apa kau mencampkanku Andheera?!” pekik Keenan yang bergegas menyusul langkah Andheera kemudian menarik lengan Andheera hingga tubuhnya berbalik seketika.


“kenapa aku mencampakkanmu? Memangnya kita sudah menjalin suatu hubungan sebelumnya?” ujarnya seraya melepas cengkraman erat tangan Keenan dari pergelangan tangannya. Kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


“maafkan aku.” Gumam Andheera ditengah perjalanannya, sementara Keenan masih tampak mematung ditempatnya.


Perkataan Andheera yang terakhir mampu membuatnya tersadar dari mimpi indanya tentang pencarian cinta pertamanya.


Kini semuanya benar-benar berakhir dengan penolakan keras, hingga membuat sebagian dalam dirinya terasa sangat hancur sehancur-hancurnya.


***


Beberapa pekan kemudian.


Dikediaman Reza alvharez, lebih tepatnya di kamar Andheera. Tampak gadis berparas cantik itu tengah membenarkan dasi yang melingkar dikerah seragamnya.


Andheera kembali kerumah setelah kepulangannya dari villa, ditambah ia juga meminta cuti atau sebenarnya meliburkan diri untuk menenangkan fikirannya dari agensi. Dan hanya fokus pada ujian yang akan berlangsung beberapa hari lagi.


“Andheera!” panggil kakaknya dari luar kamar kemudian mendorong keras pintu kamar Andheera.


“ada apa kak?” tanya Andheera seraya berjalan menuju tepi ranjang untuk mengambil ranselnya.


“sepertinya ayah sakit.” Sambung Meda seraya menunjukan secarik kertas yang diyakini adalah rekam medis ayahnya.


“sakit?” ulang Andheera sembari ikut membaca rekam medis ayahnya dengan seksama.


“ada apa, pagi-pagi sudah membuat keributan?” seru Oliver yang baru saja bergabung diantara mereka berdua.


“bagaimana ini paman, kurasa ayah sakit keras. Hikksss..hikksss..” ujar Meda disela isak tangisnya yang sudah tak bisa ia bending mendapati kenyataan jika saat ini ternyata ayahnya tengah sakit keras.


“tenangkan dirimu Meda, menangis tak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik kita bersiap sekarang, kita susul ayahmu ke Amerika. Paman akan memesan tiket untuk penerbangan tercepat.” Ucap Oliver pada kedua keponakannya tersebut, kemudian pergi keluar dari kamar untuk menelfon dan memesankan tiket seperti rencananya.


“kak tenanglah, semua akan baik-baik aja oke. Mari kita bersiap-siap aja seperti apa yang paman katakan.” Ucap Andheera yang mencoba menenangkan kakak lelakinya seraya mengusap lembut bahu Meda.


“hiiikss.. hikkss.. lalu bagaimana dengan sekolahmu, ujianmu?”


“itu tidak penting sekarang, aku bisa menundanya untuk sementara.”


“oke, kakak akan menelfon agensi dulu, hikkss.” Katanya disela isak tangisnya kemudian merogoh ponsel didalam saku celananya dan berjalan pergi keluar dari kamar adiknya.


***


Kirin school Jakarta.


Dan lebih tepatnya dikelas Anha. Saking terkejutnya dengan berita yang baru saja ia dengar dari salah satu temannya yang juga bekerja diagensi membuat dirinya kini refleks bangkit dari kursi masih dengan ponsel yang menempel ditelinganya.


“ada apa?” tanya temannya yang duduk disebelah nya.


“tidak, tidak ada, tolong katakan pada guru ya, aku ijin.” Seru nya seraya menggendong ransel miliknya kemudian bergegas pergi meninggalkan kelas.


-----


“Yoora! Hanyoora!” panggil Anha saat melihat Yoora tengah berjalan menuju perpustakaan dengan beberapa buku dalam dekapannya. Ia pun langsung menoleh kearah sumber suara.


“kenapa?” tanya Yoora.


“apa kau punya nomor telfon kak Keenan?!”


“ada, kenapa memanganya?” tanya Yoora yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


“cepat hubungi dia, katakan jika Andheera akan pergi ke Amerika sekarang juga, aku akan menghubungi Vivian.” Perintahnya yang kemudian berlarian menuju parkiran sembari mencoba menelfon 1 karibnya yang lain.


“apa Amerika?!” kaget Hanyoora, tanpa berlama-lama ia pun langsung merogoh ponselnya yang berada dalam saku blezernya kemudian menelfon Keenan seperti yang diperintahkan Anha sebelumnya lengkap dengan kepanikan yang luar biasa.


30 menit kemudian di area depan Kirin school.


“ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba Andheera pergi ke Amerika.” Panik Keenan yang baru saja bergabung diantara ketiga teman Andheera.


“sebaiknya kita pergi sekarang sebelum terlambat, dari informasi yang kudapat penerbangan tercepat tujuan Amerika hanya tinggal 30 menit lagi.” Timpal Yoora.


“baiklah ayo.” Seru Vivian yang kemudian berjalan mendahului ketiga temannya menuju mobil yang terparkir tepat didepan mobil Keenan.


Seolah tengah berpacu dengan waktu baik mobil yang dikendarai Keenan maupun mobil yang dikendarai Vivian terus melaju dengan kencangnya melewati setiap kendaraan yang berada didepannya.


Namun disaat mobil yang dikendarai Keenan hampir sampai di perempatan jalan, tiba-tiba saja lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah yang membuat ia terkejut dan tak mampu mengontrol laju mobilnya sehingga terjadilah kecelakaan yang begitu tragis.


Sebuah mobil truck yang juga melaju cukup kencang dari arah samping menghantam mobil Keenan hingga mobil tersebut terpental cukup jauh dan tentu saja membuat Keenan yang berada didalamnya terombang-ambing.


Dan kemacetan pun tak terhindarkan hingga membuat semua orang memberhentikan laju mobilnya kemudian sebagian orang keluar untuk melihat situasi.


Sementara itu dimobi lainnya yang dikendarai oleh Vivian, mereka bertiga pun terkejut bukan main ketika menyaksikan sendiri kecelakaan tragis yang membuat Keenan berada dalam ambang kematian.


“astaga, kak Keenan.” Seru Vivian begitu mobilnya berhenti, ia pun lantas turun bersamaan dengan Anha dan Yoora yang juga terkejut mendapati hal mengerikan yang terjadi didepan matanya.


“aku akan telfon rumah sakit.” Ucap Anha yang kemudian merogoh ponselnya dan menelfon dengan nada gemetar.


Sedangkan Yoora hanya bisa berpegangan pada mobil karena mendadak kedua kakinya lemas dan tak bisa mengeluarkan satu parah kata pun dari mulutnya, melihat mobil Keenan yang sudah terjungkir balik dengan diselimuti asap tebal diarea mobilnya.


Baru saja Vivian ingin melangkahkan kakinya menghampiri mobil Keenan..


DDddduuaarrrr!!!! Suara ledakan mobil Keenan begitu nyaring terdengar yang membuat Anha menoleh, begitu juga Yoora dan Vivian yang terjatuh seketika sembari membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Karena saking tekejutnya dengan apa yang baru saja mereka saksikan saat ini.


*** 


_Tamat_


Nantikan season 2 nya ya, terimakasih sudah membaca. 😊