
Malam harinya.
Diatap gedung BangQit agensi.
Setelah banyak berlatih Andheera memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan menghirup udara segar di malam hari diatap gedung, dengan sesekali meneguk air mineral yang dibawanya dari ruang latihan.
“kau disini rupanya..” terdengar suara dari belakang yang perlahan menghampiri dirinya yang tengah berdiri bersandar di dinding pembatas.
“kudengar tadi kau mengunjungi sekolah, dan kau bertemu dengan Vivian..?” lanjutnya yang kemudian berdiri disebelah Andheera seraya memandangi karibnya itu dari samping.
Alih-alih merespon pertanyaan Anha, Andheera malah seolah tak perduli dengan kehadiran temannya itu dengan terus meneguk air mineralnya.
“apa terjadi sesuatu..?” tanya Anha lagi.
“kurasa raut wajahmu benar-benar menyeramkan..” gumam Anha namun masih terdengar jelas di telinga Andheera.
“bukankah kau yang menyeramkan Anha..” respon Andheera lengkap dengan sorot mata tajam yang ia tunjukan pada gadis yang berada disebelahnya itu.
Anha mengangkat 1 alisnya untuk menanggapi perkataan temannya barusan.
“apa maksudmu..?” tanya Anha yang kebingungan.
“apa tujuan mu sebenarnya memaksaku untuk ikut dalam audisi saat itu..? aku berusaha mencoba untuk mempercayaimu, bahkan..”
“aku punya alasan..” sela Anha.
“atasanku melihatmu saat kau menemani Ben dan kak Brian audisi, dan dia ingin kau juga ikut ke dalam audisi itu bagaimana pun caranya, dan dengan begitu atasanku akan mempertimbangkan aku untuk menjadi karyawan tetap setelah aku lulus nanti.” Jelasnya.
“itu bukan urusanku..! seharusnya kau tak mengorbankan orang lain hanya untuk kepentingan pribadimu, ini salah Anha..! cara yang kau tempuh untuk mendapatkan pekerjaan itu salah, itu sama aja kau tidak percaya diri dengan kemampuanmu sampai kau melakukan cara kotor seperti ini.” Ujar Andheera dengan emosinya yang hampir tak bisa ia kendalikan.
“maafkan aku, aku hanya berfikir tawaran itu benar-benar menggiurkan, kau tahu, saat ini mencari pekerjaan itu bukan hal yang mudah, banyak orang yang menganggur meski mereka memiliki ijazah S1 tidak menjamin akan langsung mendapat pekerjaan.” Katanya lirih seraya mengalihkan pandangannya ke langit malam.
“aku tak seberuntung dirimu Andheera, kehidupanku begitu sulit sejak ayahku pergi, ibuku di PHK dari perusahaannya hanya tinggal kakaku yang berusaha sendiri untuk menghidupi aku dan ibu. Maafkan aku, karena sudah memanfaatknmu Andheera.” Ujarnya seraya melirik kearah Andheera.
“baiklah.. hanya sampai kau mendapat pekerjaan tetap disini.” Respon Andheera yang akhirnya mengalah untuk membantu Anha mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.
Senyum merekah pun dipancarkan oleh Anha begitu ia mendengar Andheera akan tetap tinggal, saking bahagianya Anha sampai memeluk erat Andheera hingga botol air mineral yang digenggamnya pun terjatuh.
“terimakasih Andheera, aku tahu kau masih memiliki hati..” ucapnya sembari mengungkapkan rasa bahagianya dengan tersenyum juga mengeratkan pelukannya.
“ciihh..! lepaskan..” seru Andheera seraya memberontak, namun Anha malah lebih mengeratkan pelukannya hingga akhirnya Andheera menyerah dan memilih diam.
“akhir pekan nanti mari kita bertemu dengan yang lainnya oke, udah setahun ini kita ga pernah kumpul berlima lagi, yang lain juga sangat merindukanmu.” Ujar Anha seraya melepas pelukannya dan beralih menggenggam kedua tangan Andheera.
“nanti aja..” lagi-lagi Andheera berusaha untuk melepas genggamannya, namun Anha tak membiarkannya.
“nanti kapan..? apa kau tak merindukan Yoora, Yerim bahkan Vivian..?” seru Anha yang sedikit kesal dengan jawaban Andheera.
“aku akan kembali ke sekolah.” ucap Andheera seraya melepas genggamannya dan mencoba memungut botol mineral yang dijatuhkannya.
“benarkah..!!” seru Anha dengan kedua matanya yang siap keluar dari cangkangnya kemudian kembali menggenggam kedua tangan Andheera yang belum sempat meraih botol minumnya.
“iyaa, udah dong lepaskan..!” kata Andheera lagi yang kembali mencoba melepas genggaman erat Anha.
Alih-alih melepas genggamannya Anha malah semakin mengeratkan genggamannya, lalu meloncat-loncat bahagia sembari mengayunkan tangannya ke atas dan ke bawah. Melihat hal itu Andheera hanya bisa nyengir dengan tatapan aneh seperti biasanya.
Selagi Anha dengan dunia bahagianya, tatapan Andheera tak sengaja menangkap sesosok wajah yang tak asing tengah berjalan di area luar agensinya, seseorang yang pernah ia curigai sebagai sosok teman kecilnya dahulu.
Karena penasaran dan ingin memastikan, gadis itu pun tiba-tiba berlari meninggalkan Anha sendiri di atap.
“hey..! kau mau kemana..?” panggil Anha yang kebingungan.
***
Halaman BangQit agensi.
“kakak..!” panggil Brian yang sedikit berlari dari lobi untuk menghampiri Keenan yang tengah menunggunya di luar.
Keenan pun menyambut kehadiran Brian dengan senyum lebarnya, kemudian mereka pergi bersama sembari saling merangkul.
Selang beberapa menit Andheera pun muncul dengan sedikit terengah-engah, kedua matanya masih berusaha mencari sosok teman kecilnya itu.
“ketemu..” gumam Andheera saat kedua matanya berhasil menemukan lelaki misterius tersebut, namun satu alisnya terangkat saat ia mendapati sosok temannya yang tak lain adalah Brian tengah berjalan bersama lelaki tersebut.
Tak ingin ketinggalan jejaknya, ia pun memutuskan untuk mengikuti kedua lelaki itu pergi dengan berjalan 10 langkah dibelakang mereka berdua.
Baik Brian maupun Keenan, keduanya sama-sama tidak sadar jika ada seorang gadis yang mengikutinya dari belakang, mereka berdua malah asyik saling ngobrol juga bercanda ditengah perjalanannya menuju suatu tempat yang telah mereka rencanakan.
“kakak sudah lama menunggu di depan agensi..?” tanya Brian.
“aku hanya menunggu sekitar 5 menit, kau yakin ga mau makan di tempat lain..?” Keenan mencoba memastikan kembali kalau-kalau keinginan Brian berubah.
“engga, udah lama aku pengen makan makanan yang di jual di pasar malam.” sahutnya.
“hahaa.. oke, belilah semua yang kau sukai, aku yang traktir.” Ujarnya seraya merangkul Brian lebih erat lengkap dengan senyum lebarnya.
Setibanya di pasar malam.
“Waahhh.. aku beli apa dulu ya, semuanya kayaknya enak.” Serunya seraya mengedarkan pandangannya ke semua jajanan pasar.
“ayo kita coba semuanya..” seru Keenan.
“beneran..!”
Keenan hanya membalasnya dengan senyum juga anggukan tanda ia benar-benar dengan perkataannya.
Sedangkan Andheera hanya bisa melihat dari belakang tanpa ada keberanian untuk menghampiri, ia lebih memilih terus mengawasi dari kejauhan.
Sampai..
“KEENAN..!” panggil seseorang dari sisi yang lain, seraya berjalan menghampiri Keenan juga Brian.
Kedua mata Andheera membulat mendengar nama itu, rasa penasarannya kini benar-benar terjawab, lelaki tersebut memanglah teman masa kecilnya yang kini sudah menjadi lelaki dewasa yang sangat mempesona.
Hingga membuat kedua matanya sulit untuk berkedip, juga mulutnya tak dapat menutup untuk beberapa saat.
“kau tak perlu memanggilnya dengan sebutan kakak, dia seumuran denganmu.” Ujar Keenan.
“benarkah..? kukira kau lebih tua dariku.” Goda Brian seraya menunjukan senyum kotaknya.
“apa kau meledekku Brian..!” geram Jiso lengkap dengan tatapan tajamnya.
“hehehe.. bu telor gulungnya 5, kau mau telor gulung..?” Brian mulai memesan makanannya.
“aku juga 5..” tambah Keenan.
“aku lagi diet, aku hanya akan menemani kalian aja.” Kata Jiso.
“eeyyy.. ayolah, makan sedikit ga akan membuat mu gendut kok.” Bujuk Brian agar Jiso mau makan dan ikut bersenang-senang mencicipi semua makanan yang ada di pasar malam.
“pfftttt..” Keenan terdengar seperti tengah menahan tawa, membut Jiso semakin geram lalu memukulnya.
BUKKK..!! “YAA..!!” teriak Jiso.
“apa kau bertambah gendut dengan cepat..?” tebak Brian mencoba memahami situasi yang ada.
“engga tuh..!!” seru Jiso dengan mulutnya yang di maju majukan.
“hahaha.. udah ini makan, nanti kan kau bisa olahraga lagi.” Kata Keenan seraya memberikan telor gulung miliknya untuk dimakan Jiso.
Meski awalnya ragu namun karena Keenan terus menyodorkan telor gulung miliknya, akhirnya Jiso ikut memakannya dan bahkan kini gadis itu pun tak bisa menahan rasa ingin memakan semua makanan yang kedua lelaki itu beli.
Tak hanya telor gulung, makanan lainnya pun tak luput dari kedua mata lelaki yang tengah memburu jajanan malam itu. Seperti cilor, papeda, seafood, cimol juga minuman berwarna-warni yang menyegarkan.
Selagi berjalan sembari menyantap jajanan yang mereka beli, mereka pun saling berbagi cerita sederhana hingga membuat mereka sesekali tertawa renyah bersama.
Sementara itu Andheera yang berada jauh dibelakang masih tetap memandangi teman masa kecilnya itu dengan tatapan penuh penyesalan.
“bagaimana kau bisa ada disini Ray..” gumam Andheera masih seraya berjalan perlahan mengikuti Langkah teman masa kecilnya itu.
“syukurlah kau tumbuh dengan baik, juga dikelilingi oleh teman-teman yang menyayangimu, aku bahagia karena kau baik-baik saja.” Lanjut Andheera seraya menyunggingkan senyum tipisnya.
Dreedd.. dreedd.. tiba-tiba ponsel Andheera bergetar di dalam saku celana trainingnya, membuat langkahnya terhenti dan beralih untuk merogoh ponsel kemudian mengangkatnya bersamaan dengan tubuhnya yang membalik.
“ya ayah..” ucap Andheera lembut kemudian berjalan perlahan ke arah yang berbeda.
Setelah lama mengikuti teman kecilnya, gadis itu memutuskan untuk berhenti dan kembali pulang.
“iya aku baik-baik aja ayah, ada apa..?” tanya Andheera seraya terus berjalan keluar dari pasar malam.
“memangnya harus ada apa-apa baru ayah bisa menelfonmu..? kau ini.” Seru seseorang di dalam telfon, putrinya hanya membalas perkataan ayahnya dengan tawa kecilnya.
“ayah hanya.. sangat merindukanmu.” Lanjutnya.
“amm.. gimana kalau ku alihkan ke video call..?” saran Andheera seraya menjauhkan ponsel dari telinganya untuk mengalihkan mode telfon ke video call, namun..
“amm.. ayah sedang dikamar mandi nih.. EUUU..!!” tolak ayahnya seraya menambahkan efek suara seseorang yang tengah buang air besar, membuat Andheera sontak bergidik jijik.
“Ayah..!! ayah sedang di kamar mandi..?” Andheera sedikit geram.
“ya.. EUUH.. apa kau sudah makan..?” katanya lagi dengan santai mengajukan pertanyaan tentang makan padahal dirinya tengah buang air besar.
“apa ayah bercanda..? setidaknya selesaikan dulu urusan ayah baru menelfonku..!” seru Andheera sedikit kesal dengan kelakuan konyol ayahnya.
“tapi ayah tak bisa menahan rasa rindu pada putri ayah..” dalihnya dengan suara yang sedikit manja.
“AUGH..!! kapan ayah pulang..?” Andheera pun mengalah untuk tidak membahasnya lagi, dan mengalihkan topik.
“entahlah, ayah rasa akan sedikit lebih lama dari rencana awal, karena ada beberapa hal yang harus ayah selesaikan disini.” Ungkapnya.
“baiklah, ayah jaga kesehatan disana, kabari aku jika ayah akan pulang aku akan ikut menjemput ayah di bandara.”
“waaah benarkah..? akhirnya kau mau meluangkan waktu juga untuk ayahmu, setelah 1 tahun ini kau tak pernah sekalipun mengunjungi ayah.” Ayahnya mencoba menyindirnya secara halus.
“setidaknya oppa selalu memberikan foto-foto terbaruku kan, itu bisa sedikit mengobati kerinduan ayah padaku.”
“kau ini..”
Ceklek.. “malam pak Reza..” sapa seseorang disana, membuat percakapan antara ayah dan putrinya terhenti sesaat.
“sudah dulu ya, nanti ayah telfon lagi..” bipp telfon pun langsung dimatikan tanpa menunggu respon dari putrinya.
Seolah seperti ada sesuatu yang tengah ditutupi ayahnya hingga ia buru-buru mematikan telfonnya, Andheera pun sedikit bingung dengan sikap ayahnya barusan hingga mengernyitkan keningnya.
“bukannya ayah sedang di kamar mandi..” gumamnya seraya memandangi ponselnya yang baru saja di matikan sepihak oleh ayahnya.
Meski ada perasaan curiga terhadap ayahnya, namun Andheera lebih memilih untuk percaya pada perkataan ayahnya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.
Malam semakin larut, seiring dengan bertambah dinginnya suasana saat itu, membuat Andheera yang keluar tanpa mantel/jaket mencoba menghangatkan tubuhnya dengan memeluk dirinya sendiri di sepanjang perjalanannya.
Ketika kedua kaki itu terus melangkah menyusuri jalanan yang ramai, namun tiba-tiba saja perasaan terdalamnya merasa sangat hampa, juga kesepian, seakan hati kecilnya tengah terhantam luka kelam dari masa lalu.
“aku ngga baik-baik aja ayah, aku sangat lelah, haruskah aku berhenti melindungi semuanya agar aku bisa hidup semauku, semua ini semakin sulit untukku, ayaah..” gumamnya dengan nada lirih dan juga kedua matanya yang mulai berair.
Disaat seharusnya orang dewasa bisa menjadi tempat berlindung baginya, namun tidak bagi gadis malang itu, ia harus berjuang sendiri melindungi orang yang dikasihinya yang tak lain kakaknya sendiri yang menderita gangguan mental.
Bahkan dirinya rela bertukar peran dengan Andromeda, menerima semua tuduhan yang tidak pernah ia lakukan hingga stigma negative tentang dirinya pun masih melekat sampai hari ini. Semua itu ia lakukan hanya untuk melindungi Andromeda.
***
Andheera
Ray Keenan