
Kembali ke apartemen Bougenville.
Setelah selesai berbelanja ditoserba terdekat, Andheera kembali dengan membawa 2 kantung kresek yang penuh berisikan bahan makanan juga berbagai cemilan favoritenya.
Begitu ia kembali, ia sangat terkejut karena mendapati kedua temannya sudah nangkring di depan televisi seraya menangis sesenggukan, dan sesekali mengelap ingusnya dengan tisu yang berada diantara mereka berdua.
“astaga..! kalian hanya patah hati, tak seperti sedang sekarat, benar-benar..!!” mendengar keluhan Andheera, sontak keduanya pun menoleh ke arah Andheera yang tengah berjalan menuju dapur untuk menyimpan bahan makanan yang baru saja ia beli.
“apa..!!” seru Andheera ketika ia menyadari sedang ditatap oleh kedua temannya dengan tatapan yang menusuk, ia malah balas memelototi keduanya.
“YAA..!! tak bisakah kau bersimpati sedikit, aku tau kau tak memiliki hati, tapi.. aku ini kan temanmu..” Protes Vivian sembari menyeka air mata juga ingusnya disaat yang bersamaan.
“hanya karena kau tak pernah dicampakan oleh lelaki bukan berarti kau bisa meremehkan perasaan orang yang sedang patah hati kan..!” Tsuyu pun ikut menyuarakan pendapatnya.
“berhentilah merengek, aku akan pesan makan, kalian mau ku pesankan apa..?” tanya Andheera yang lebih memilih untuk mengakhiri debatnya.
“aku gak nafsu..” gumam Vivian yang kembali memutar tubuhnya bersamaan dengan Tsuyu yang juga ikut kembali pada posisi awal.
“eeyyy.. kalian juga perlu makan agar bisa bertahan hidup.” Celoteh Andheera seraya berjalan menghampiri kedua temannya, setelah selesai menata semua bahan makanan dikulkas miliknya.
Namun keduanya malah menatap kehadiran Andheera dengan sorot mata tajamnya, membuat Andheera yang berdiri disebelahnya mundur selangkah.
“APA..!! Aughh..! jika bukan temanku sudah ku usir kalian berdua.” Seru Andheera seraya membalas tatapan tajam kedua temannya.
Sekitar 60 menit kemudian..
Karena kedua temannya, baik Vivian maupun Tsuyu masih belum bisa menenangkan dirinya, Andheera hanya memesan makanan yang diinginkannya.
Satu box pizza jumbo untuk dirinya makan sendirian ditemani 1.5 liter minuman bersoda yang diletakan diatas meja, lengkap dengan cangkir yang bergambarkan wajah idolanya Kim taehyung BTS.
Meski sebelumnya ia merasa kesal dengan kedua temannya, namun tetap saja ia tak bisa meninggalkan kedua temannya yang tengah patah hati, ia pun duduk diantara Vivian dan Tsuyu sembari mendengarkan curhatan dari keduanya selagi menyantap pizza yang masih hangat.
“Andheera.. apa kau pernah merasakan sakitnya patah hati, padahal kau tak pernah memulainya..?” tanya Vivian dengan tatapan kosongnya ke arah televisi yang menayangkan siaran reality show korea.
“tidak..” sahut Andheera sembari mengunyah makanannya dan fokus menonton acara televisi yang berlangsung.
“lalu.. apa kau pernah baru memulai suatu hubungan dan kau terpaksa harus mengakhirinya dengan berdalih demi kebaikan semuanya..?” timpal Tsuyu.
“tidak..” jawaban Andheera masih sama dengan yang sebelumnya.
“padahal aku sudah berusaha agar bisa setara dengannya, bisa pantas untuknya, aku bukan lagi gadis kecil yang kumel, dekil dan gadis miskin.
Aku bahkan sampai mendaftar ke SMA yang sama dengannya, terus memperhatikannya dari jauh, dia adalah cinta pertamaku.” Sambung Vivian dengan cerita yang lebih panjang.
“aku juga sudah berusaha keras meyakinkannya untuk memberikan aku kesempatan, meski dia sudah menolak dan mencampakan aku berulang kali,
tapi aku tetap tak menyerah dan terus mengejarnya.
Sampai akhirnya dia bilang akan menungguku kembali, dia juga cinta pertamaku.” Tsuyu ikut mengungkapkan isi hatinya.
“tak ada cinta pertama yang berakhir dengan bahagia, karena semua itu hanya ada dalam drama.” Celetuk Andheera sembari menuangkan minuman ke dalam cangkirnya, lalu meneguknya beberapa kali untuk mengalirkan makanan yang ada dikerongkongannya.
“tak bisakah kau hanya mendengarkan tak perlu menjawabnya, karena jawabanmu tidak membantu sama sekali..!” geram Vivian.
“iya kau ini benar-benar tidak memiliki hati..!” timbrung Tsuyu lengkap dengan tatapan sinisnya.
“iya.. iyaa baiklah terserah kalian saja.” Gumam andheera yang tak ingin berdebat dengan kedua gadis yang tengah patah hati tersebut.
30 menit berlalu dan akhirnya keduanya pun tertidur disisi sofa masing-masing dengan beralaskan bantal sofa.
Melihat kedua temannya sudah tertidur disisi yang berbeda, Andheera pun bangkit kemudian berjalan menuju balkon apartemennya.
Gadis itu berdiri sekaligus bersandar di tepi pagar pembatas, ia menghirup udara malam yang cukup menyegarkan dan menikmati pemandangan langit yang dipenuhi bintang juga terangnya bulan penuh saat itu.
Sebelumnya..
“bukan tanpa alasan tuan Darren berusaha mungkin memisahkan nyonya Furry dan tuan Anton. Tuan Anton adalah ketua preman yang paling melegenda pada masanya,
hingga beliau memiliki banyak musuh disetiap penjuru kota, itulah yang membuat tuan Darren sangat menentang hubungan putrinya.” Papar Asisten kakek Darren yang tak lain adalah Paman Yudha.
“Meski tuan Anton sudah mengundurkan diri dari posisinya dan mulai mencoba berbisnis dengan membuka café di tengah kota.
Namun hal itu tak membuat musuh-musuhnya tak lagi mengincarnya, dengan keadaannya yang tak lagi bersama anak buahnya itu malah membuat musuhnya semakin mudah mengincar tuan Anton.” Sambungnya lagi.
Sedangkan gadis yang berada dihadapannya mencoba mendengarkannya dengan raut wajah serius.
“bagaimana dengan kebakaran yang terjadi yang menewaskan kedua orang tuanya..? apa itu ulah dari musuh ayah Vivian..?” tanya Andheera yang menanggapi cerita paman Yudha..
“iya nonna, yang melakukan semua itu adalah musuh tuan Anton, tapi untungnya tuan Darren masih bisa menyelamatkan nonna Vivian yang saat itu tengah pingsan di dalam kamar sendirian.” Jawabnya, percakapan pun terus berkembang diantara mereka berdua.
“lalu kenapa Vivian bisa berakhir di panti Cameron..?”
“untuk sementara waktu tuan Darren harus membuat musuh dari tuan Anton percaya jika tuan Anton, juga anak dan istrinya tewas dalam kebakaran malam itu.
Itulah sebabnya nonna Vivian dititipkan di panti Cameron untuk beberapa tahun, itu semua tuan Darren lakukan untuk kebaikan dan keselamatan nonna Vivian.”
“kakek lebih memilih dibenci oleh cucunya sendiri daripada menceritakan yang sebenarnya..? bukankah Vivian juga berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya.” Sanggah Andheera.
“tuan Darren khawatir jika nonna Vivian diberitahu yang sebenarnya, nonna Vivian akan mencari orang-orang yang telah menewaskan kedua orang tuanya.
Mengingat nonna Vivian saat ini pandai bela diri, bukan tidak mungkin nonna akan mencari semua pelaku pembakaran tersebut.” Pungkasnya yang mengakhiri cerita singkatnya.
***
“jadi itu alasannya kenapa Vivian selalu diawasi dan dikawal oleh beberapa bodyguardnya kakek Darren selama SMP.
Hmm.. disaat seperti ini aku jadi merindukan bocah hitam gendut itu.” Gumamnya seraya menghela nafas panjang lalu menurukan pandangannya ke arah halaman depan apartemennya.
Sekilas ia melihat seorang lelaki tengah berjalan menuju apartemen, seolah ada yang menarik perhatiannya kedua matanya tak bisa mengalihkan pandangannya dari lelaki tersebut.
“seperti..(tiba-tiba saja sosok Ray kecil memenuhi fikirannya saat memandangi lelaki tersebut) eeyyy..!! tidak mungkin hahahaa..! apa aku sudah tak waras.” Celetuknya kemudian berbalik untuk masuk kembali ke apartemannya.
***
Waktu menunjukan pukul 10.00 tepat, suasana didalam kamar Keenan pun masih tampak gelap, karena gorden besar kamar Keenan masih tertutup rapat.
Tok.. tok.. tok.. suara ketukan pintu yang tak beraturan membuat Keenan terusik.
“KEEN..!! KEENAN..!! KAU GAK LUPA AKAN JANJIMU KAN..!!” teriak seseorang dari luar lengkap dengan suara gedoran pintu yang tak tertahankan.
Yang akhirnya membuat Keenan menyerah untuk tidurnya lalu duduk seraya menatap tajam ke arah pintu kamarnya, seolah ingin membolongi pintu kamarnya.
“HEY..!! KEENAN APA KAU MASIH HIDUP..?!!” bentaknya lagi, karena dirinya belum mendapat jawaban dari dalam kamar membuatnya semakin menggila.
“HEY..!!” bentak Keenan tak kalah nyaring seraya membuka pintu kamarnya dengan tenaga penuh.
“apa kau gila, pagi-pagi buta begini sudah nongol diapartemenku..!!” sambung Keenan yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya.
“pagi-pagi buta..? ini sudah siang kau tak lihat para ayam sudah berkeliaran mencari makan..!” bantah Joe yang masih tak bisa santai.
“kau bandingkan aku dengan ayam.. (protes Keenan seraya berjalan melewati temannya menuju dapur untuk mengambil sebotol air minum) mau sepagi apapun ayam bangun, mereka tetap saja jadi ayam..!” lanjutnya setelah meneguk beberapa kali air mineral didalam botol yang ia ambil dari kulkas.
“kau sudah janji akan menemaniku liburan kan..!” seru Joenathan seraya berjalan cepat menyusul keberadaan Keenan didapur.
“tapi tak sepagi ini..”
“konsernya akan diadakan 1 jam lagi.” Kata Joenathan sembari mengambil botol air mineral yang masih digenggam Keenan untuk ia minum.
“sudah kubilang, aku gak mau pergi ke konser..!!” tolak Keenan dengan tegas.
“ayolaah.. Eunjiso sudah menunggu di mobil.” rengeknya.
“kau mengajaknya juga..?” tanya Keenan sembari mengambil kembali air mineral dari genggaman temannya untuk ia teguk kembali.
“iya, kau bilang takut jika dia melakukan hal yang buruk, jadi aku membantu untuk menghiburnya dengan menonton konser idolanya.” Paparnya.
“jika dia terus melihatku, dia akan semakin terluka.” respon Keenan.
“itu bagus, untuk mendewasakan diriya daripada harus menghindarinya, ayo cepatlah..!!” rengek Joe namun sepertinya Keenan masih terdiam dalam lamunannya.
“HEY..!! (bentak Joe yang membuat Keenan terkejut) kau tak ingat, aku sudah banyak membantumu agar bisa dekat dengan Trisa dulu dan menghibur Jiso disaat kau yang menyakitinya..!! dan aku hanya memintamu menemaniku nonton.”
“okee .. okee baiklah, kau tunggu dibawah saja, 20 menit lagi aku akan turun.” Akhirnya Keenan pun mengalah dan menuruti keinginan karibnya itu.
“kau mengusirku..?” keluh Joe seraya menyipitkan kedua matanya.
“kau akan membuat Jiso menunggu sendirian dibawah..?” balas Keenan.
“oohooo.. kau masih perduli padanya rupanya hahaha..!!
okee, tapi jika kau tidak turun dalam 20 menit akan kubakar apartemen mu..!” seru Joenathan seraya berjalan keluar dari apartemen meninggalkan Keenan yang masih berdiam diri menatapnya dari belakang.
Sekitar 25 menit yang lalu..
Karena dalam perjalanan Eunjiso tertidur, begitu ia membuka kedua matanya, gadis itu sangat terkejut saat mendapati dirinya sudah berada di baseman apartemen Keenan.
“kau sengaja melakukan ini Joe..?! bukankah kau bilang hanya kita berdua..?” gerutu Eunjiso lalu keluar dari mobil Joenathan, bak adegan didalam drama korea Joe pun mengejar dan menahan lengan Eunjiso.
“kau hanya berusaha menghindarinya bukan melupakan..!! cobalah untuk menghadapinya jangan terus berlari seperti ini, Eunjiso.” Joe masih bersikukuh.
“aku hanya terlalu malu menghadapinya..” gumam Eunjiso seraya menundukan pandangannya sebab ia tak ingin Joe melihat nya tengah menahan tangis pilunya.
“pelan-pelan saja oke, jika kau terus menghidarinya itu takan menyelesaikan perasaanmu padanya, kau hanya akan dihantui perasaan itu selamanya. Sudahlah berhenti menangis, riasanmu luntur tuh..”
“hah..” respon Eunjiso seraya buru-buru mengambil kaca kecil di dalam tasnya, namun ternyata wajahnya baik-baik saja, dan Joe hanya menjahilinya.
“kau tunggu dimobil, aku yang akan memanggil Keenan.” Ujarnya seraya tersenyum penuh arti lalu pergi meninggalkan Eunjiso yang diam-diam mengumpat dibelakangnya.
***
Kita beralih ke apartemen Andheera.
Tampak ketiganya tengah menyantap sarapan paginya di meja makan, sembari di selingi obrolan ringan yang menambah kehangatan diantara mereka bertiga.
“apa yang kau lakukan disaat kita berdua pergi..?” tanya Vivian pada Tsuyu yang tengah menikmati sarapan perdananya di apartemen Andheera.
“entahlah, mungkin hanya menonton TV.” Sahutnya tak bersemangat.
“kau bisa ikut jika kau mau.” Timpal Andheera.
Sontak keduanya pun langsung menoleh ke arah Andheera.
“Andromeda tidak jadi ikut, karena dia harus keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya.” Andheera menjelaskan lebih rinci situasinya.
“tiba-tiba..?” respon Vivian.
“iya, aku baru dapat kabar tadi malam, jadi kau bisa ikut kalau kau mau.” Sambung Andheera.
“baiklah kalau begitu aku mau mandi dulu, hihihi..!!” seru Tsuyu yang tampak sangat bahagia karena bisa bersenang-senang dengan teman-temannya, kemudian berlari kecil menuju kamar mandi.
“tadi malam kau yang memindahkanku ke kamar atas..?” tanya Vivian.
“memangnya siapa lagi..” sahut Andheera sembari menyantap sarapannya yang dibuatkan oleh Vivian.
“kau bisa memindahkan aku ke kamarmu kan, jadi aku bisa tidur bersama Tsuyu.” Ujar Vivian.
“aku tak mungkin membiarkan Tsuyu berakhir dilantai karenamu.” Sahut Andheera santai.
“cih..!!” Vivian mendengus kesal. “karena aku sudah memasakanmu sarapan, kau yang mencuci semua piring dan gelas kotornya..!” seru Vivian dengan nada penuh tekanan, lalu ia pun pergi menuju kamar lantai atas untuk bersiap-siap.
Sementara itu Andheera hanya bisa menghela nafas panjangnya seraya menatap tajam punggung Vivian yang tengah berjalan menaiki tangga.
***