To My Youth

To My Youth
BAB 55



Keesokan harinya, di kediaman Reza Alvarhez.


Reza khawatir sebab putri bungsunya tak kunjung turun untuk sarapan, padahal 5 menit lagi waktunya untuk berangkat sekolah. Jika tidak, ia akan terlambat di hari ujian pertamanya di sekolah.


                “jam berapa adikmu pulang kemarin, meda?” tanya Reza pada putra sulungnya yang tengah menikmati sarapan paginya seraya menatap layar ponsel dalam genggamannya.


                “amm.. aku tak ingat ayah, pulang dari agensi aku langsung masuk ke kamarku dan mengerjakan banyak hal sampai ketiduran.” sahutnya seraya meletakan ponselnya sejenak.


                “seharusnya kau memperhatikan adikmu dengan baik Andromeda!” tegas ayahnya kemudian berniat untuk bangkit dari tempat duduknya.


Namun.. Andheera sudah lebih dulu muncul dan menuruni tangga dengan raut wajah yang tak seperti biasanya. Tanpa menyapa ayah dan kakaknya ia langsung duduk untuk meminum segelas susunya sampai habis tak tersisa.


                “wajahmu sangat pucat kau yakin bisa sekolah Andheera?” tanya Reza khawatir.


                “kau bisa ujian susulan kan, jangan memaksakan dirimu dek.” Tambah Andromeda yang juga ikut khawatir melihat keadaan adiknya yang sangat memprihatinkan.


                “aku hanya sedikit demam, aku baik-baik saja.” Sahut Andheera kemudian bangkit dari tempat duduknya.


                “oppa antar yaa.” Seru Andromeda yang juga ikut bangkit dari tempat duduknya.


                “hmm..” sahut Andheera sembari berjalan pergi.


                “oke tunggu oppa di depan.” Sambungnya, ia langsung bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ransel juga jaket tebalnya, tak lupa ia meraih ponselnya dimeja makan lalu memasukannya ke dalam saku celana jinsnya.


Dalam perjalanan menuju kamarnya tak sengaja ia berpas-pasan dengan bi dharma yang akan membereskan meja makan.


                “bi.. tolong buatkan sup ayam untuk makan siang Andheera nanti ya, dan juga karena hari ini ujian jadi Andheera akan cepat pulang.” Pinta Andromeda lengkap dengan senyum ramahnya.


                “oiya, dan juga pudding strawberry oke, terimakasih bi.” Tambahnya kemudian masuk ke dalam kamarnya setelah menerima respon anggukan dari bi Dharma.


Bi Dharma pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, ia langsung membereskan semua piring dan gelas kotor yang ada di meja makan, beberapa menit setelah Reza pergi meninggalkan meja makan.


***


SMA Kirin school Jakarta.


Suasana tampak begitu sunyi dan sepi di koridor maupun di halaman sekolah, karena semua murid tengah melaksanakan ujian sekolah di hari pertama.


Dikenal dengan SMA yang cukup elit dan termasuk 3 besar sekolah terbaik se Indonesia, membuat SMA Kirin school tak luput dari pengawasan yang super ketat, hingga para murid pun tak ada yang bisa berkutik, dan akhirnya hanya terfokus pada kertas ujian yang ada dihadapannya.


Sampai 15 menit berlalu..


Andheera bangkit dari tempat duduknya seraya menggendong ranselnya, kemudian berjalan perlahan menuju meja pengawas untuk menyerahkan lembar jawaban yang telah selesai ia isi.


Refleks semua murid dikelasnya terkejut dengan kecepatan Andheera menjawab semua pertanyaan yang begitu sulit, bahkan mungkin masih belum ada yang bisa menjawab 1 pertanyaan pun hingga sampai saat ini.


Sebab yang mereka semua tahu, Andheera adalah gadis yang malas, tak pernah mendengarkan jika guru menjelaskan, bahkan tak pernah mendapat nilai diatas KKM. Lalu bagaimana mungkin ia bisa cepat menyelesaikan semua soal sulit hanya dalam kurun waktu 15 menit.


Sedangkan Hanyoora murid terpintar dalam kelasnya pun masih tampak tenang menyelesaikan soal-soalnya, namun seperti pada umumnya orang berasumsi, jika Andheera hanya menjawabnya asal-asalan agar bisa lekas selesai lalu pulang ke rumah.


                “waaahh.. aku tak tahu ada yang lebih cepat menghitung kancing daripada aku.” Celetuk Lucas yang lalu disambut gelak tawa oleh teman-temannya yang lain.


                “HAHAHAHAAA!!” tawa mereka serempak setelah mendengar gurauan Lucas yang seperti biasanya selalu bisa mencairkan suasana, tak perduli dengan celotehan temannya, Andheera hanya berjalan keluar meninggalkan kelas.


Disaat teman-temannya meributkan Andheera yang telah usai mengerjakan soal ujian, lain halnya dengan Vivian dan Hanyoora mereka berdua tatap tenang tak terpengaruh sama sekali.


                “SUDAH SUDAH! Ayo kerjakan lagi!” seru pengawas tersebut seraya menghentakan bolpoin yang tengah digenggamnya ke meja.


Suasana pun kembali serius seketika setelah mendengar suara nyaring sang guru pengawas menegur semua murid yang menimbulkan suara gaduh.


Sementara itu diluar kelas X-2, dikarenakan masih belum waktunya pulang, Andheera pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju UKS untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang mulai melemah.


-UKS.


Mendapati ruang UKS yang kosong, Andheera langsung mengarahkan kakinya menuju salah satu ranjang, setelah melepas sepatunya ia pun tertidur di ranjang dengan menutup setengah wajahnya dengan siku lengannya, dan satu lengannya lagi ia letakan di atas perutnya.


Selang beberapa menit kemudian..


                “kau sakit Andheera?” tanya Lyra yang baru saja datang lalu menghampiri ranjang Andheera.  


                “tidak.. aku hanya butuh tidur sebentar.” Gumamnya pelan dengan sedikit tenaga yang tersisa.


                “bagaimana dengan ujianmu, kau sudah menyelesaikannya?” tambah Lyra lagi yang kemudian duduk di ranjang Andheera seraya memandangi wajah gadis tersebut yang tampak sangat pucat.


                “heemm..”


                “kau yakin baik-baik saja, wajahmu sangat pucat, ku ambilkan obat ya.” Ucap Lyra yang khawatir pada murid yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


                “tidak perlu, kak Lyra sudah kembali ke sekolah?” tanya Andheera yang masih menutup kedua matanya dengan siku lengannya.


                “iya aku sudah lebih baik, terimakasih karena sudah menampungku selama 1 pekan.” Sahut Lyra.


                “heemm.. bisakah kak Lyra pergi, aku hanya ingin istirahat.” Pintanya seraya membalikan tubuhnya ke sisi yang lain.


                “oke baiklah, ku buatkan kau teh hangat saja ya.” Ujar Lyra sembari mengusap kaki Andheera lembut sebelum ia pergi untuk membuatkan Andheera teh hangat.


Selagi Lyra tengah membuatkan teh hangat, sementara itu Andheera yang masih terbaring di ranjang UKS, tengah bergulat dengan demamnya yang semakin tinggi seiring dengan rasa pusing yang terus membuat dirinya semakin tak bisa menahan rasa sakitnya lagi.


BRUKKKK…!!!! Mendengar suara hantaman keras, seolah ada yang terjatuh ke lantai membuat Lyra langsung menghentikan aktifitas mengaduk teh hangatnya dan menaruh gelasnya diatas meja, kemudian bergegas menghampiri Andheera kembali.


Benar saja, seperti dugaannya bunyi itu berasal dari Andheera yang terjatuh ke lantai, saking paniknya Lyra hanya memandangi Andheera yang terbaring dilantai untuk sesaat, sebelum akhirnya ia berlari kecil menuju mejanya kembali untuk menelfon satpam sekolahnya.


 


Di dalam mobil milik Lyra, setelah dirinya berhasil memnita bantuan dari salah seorang satpam yang bertugas siang itu, kini Andheera, Lyra juga seorang satpam tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat, yang tak lain adalah rumah sakit Haneul Jakarta.


                “bagaimana mungkin kau bisa bertahan dengan demam setinggi ini Andheera, kau ini sangat keras kepala.” Ucap Lyra seraya mengusap kepala Andheera yang terbaring di atas kedua paha nya.


                “apa dia masih belum sadar bu Lyra?” tanya satpam tersebut seraya melirik sesaat kebelakang.


                “iyaa pak, bisa tolong sedikit lebih cepat.” Pinta Lyra agar sang satpam bisa lebih memacu kendaraannya.


                “iyaa baik bu.” Sahut satpam lagi yang kemudian mempercepat laju kendaraannya.


***


Area parkir SMA Shinwa Yogyakarta.


                “huhh.. haahh.. huuh.. (setelah sampai ia masih harus mengatur pernafasannya sebelum mengatakan tujuannya pada Keenan) tante.. huuh.. masih.. haah ada kan?” tanya nya yang masih terengah-engah.


                “iya.” Jawab Keenan singkat seraya menaruh kembali helmnya diatas motornya.


                “aku buatkan bermacam-macam kue untuk tante Hyunjie, bisakah kau berikan ini untuknya?” sambungnya seraya menyodorkan totebag yang sedari tadi digenggamnya.


                “baiklah, mari kita perjelas.” ujarnya seraya mematikan kembali mesin motornya dan terfokus memandangi kedua mata gadis tersebut.


                “ku fikir kau seudah terlalu jauh melewati batas, ku mohon hentikan..!” Tambahnya lengkap dengan tatapan seriusnya.


                “bukankah sudah ku bilang aku tak akan menyerah begitu saja..!” balas Jiso yang masih terkekeh dengan tekad awalnya.


                “aku sudah memiliki seseorang yang kutunggu..”


                “aku gak PERDULI… !! lagipula apa kau yakin cinta monyetmu itu masih hidup disana… !!” seru Eunjiso yang sudah diluar kendali, membuat Keenan terkejut hingga membelalakan kedua matanya.


Tak ingin meneruskan perdebatannya, Keenan lebih memilih untuk pergi meninggalkan temannya itu tanpa sepatah kata pun.


Meski ia menyadari jika Eunjiso akan menangis, namun kali ini ia tak ingin perduli, perkataan gadis itu sudah benar-benar menusuk hatinya, bagaimana mungkin ia bisa mengatakan kalimat sekejam itu padanya.


Dan.. benar saja tangis itu pecah seiring dengan kepergian Keenan yang telah menghilang dari pandangannya.


Merasa tak sanggup lagi untuk menopang berat tubuhnya, gadis itu pun berjongkok seraya masih memandangi jalanan yang telah dilalui Keenan dengan isakan tangis yang semakin menjadi.


                “jika kau bersikap seperti itu, kau hanya akan membuat dia semakin menjauh.” Ujar Jeo yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana, kemudian ikut berjongkok disamping Eunjiso sembari menyedot yogurt rasa pisang kesukaannya.


                “Hikkssss..!! hikksss..!!” Jiso masih belum bisa menghentikan air mata kesedihannya.


                “kau mau..” ucap Joe seraya menyodorkan yogurt pisang yang tengah diminumnya.


                “HUAAAA… Hikssss..!! Hikssss..!!” namun Eunjiso malah semakin melampiaskan tangisannya, membuat perhatian para murid lainnya tertuju padanya juga Joe yang ada disampingnya.


                “hey berhentilah menangis, aku tak memiliki jaket untuk menutupi wajahmu yang sembab.” Kata Joe yang kemudian kembali menyedot yogurt pisangnya dengan santai.


***


Rumah sakit Haneul Jakarta.


Setelah beberapa jam Andheera mendapat suntikan infus, ia akhirnya tersadar, juga sudah merasa lebih baik sekarang.


                “akhirnya kau sadar juga, aku sangat khawatir padamu Andheera.” ucap Lyra seraya bangkit dari tempat duduknya untuk melihat lebih jelas wajah Andheera yang kini sudah lebih baik.


                “kau mau minum?” tambah Lyra, Andheera pun mengangguk untuk meresponnya.


Lyra membukakan botol air mineral untuk Andheera minum, juga membantunya untuk bisa duduk tegak diranjangnya.


Dreeddd.. dreeddd.. ponsel Andheera bergetar dalam saku jas Lyra, karena sebelumnya saat Andheera terjatuuh dari ranjang UKS, ponselnya pun ikut terjatuh keluar dari saku blezernya, hingga Lyra yang memungut ponsel Andheera kemudian menaruhnya didalam saku jas putihnya.


                “halo..” sapa Lyra pada sang penelfon.


                “KAU SIAPA..!” seru seseorang di dalam telfon yang menyadari jika suara itu bukanlah suara adiknya.


                “oh astaga..!” sahut Lyra seraya menjauhkan sesaat telfonnya karena suara nyaring yang membuat telinganya sedikit terngiang.


                “apa itu kakakku?” tanya Andheera yang selesai meminum air mineralnya kemudian menutupnya dan menaruh ke tempatnya kembali.


                “entahlah..”


                “HEY!! Apa yang kau lakukan pada adikku, KAU MENCULIKNYA..?!!!” teriak seseorang lagi di dalam telfon, hingga suara nyaring nya sampai terdengar oleh pasien lainnya.


                “tidak, bukan begitu, adikmu sekarang ada di rumah sakit Haneul jak..”


TUTT..TUTTT..  telfon pun terputus sebelum Lyra menyelesaikan kalimatnya.


                “waaahhh.. apa kakakmu selalu bertindak berlebihan seperti ini?” gumamnya seraya menatap layar ponselnya kemudian melirik ke arah Andheera yang mencoba untuk kembali tertidur.


                “waahhh kalian berdua sama-sama menyebalkan, aku sedang berbicara denganmu Andheera.” gerutu Lyra yang tak percaya jika Andheera mengabaikan dirinya.


***


Kembali ke SMA Shinwa Yogyakarta, setelah Eunjiso merasa lebih baik, mereka berdua berpindah tempat ke bangku taman sekolah.


                “apa dia hanya membual sedang menunggu cinta monyetnya, karena nyatanya mungkin dia masih mengharapkan Jennie kembali padanya.” Gumam Jiso seraya memandang lurus ke dapan dengan tatapan lirihnya.


                “Jennie? Jadi kau tak tahu mereka berpacaran hanya untuk bersenang-senang, mereka tidak benar-benar berkencan.” Katanya yang membuat Eunjiso benar-benar terkejut.


                “bagaimana mungkin mereka hanya bermain-main, mereka bahkan menjalin hubungan sampai hampir 3 tahun..?” responnya yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


                “Jennie ingin menaikan popularitasnya dengan memacari keenan kapten tim basket juga lelaki tertampan di SMA Shinwa, sebagai imbalannya Keenan bisa masuk Sevit University dengan koneksi yang dimiliki oleh Jennie.” Jelasnya.


                “jadi cinta monyet Keenan itu benar-benar ada..” Jiso bergumam pelan seraya mencoba mengingat kembali sebuah nama yang pernah Keenan ucapkan disaat dirinya mengigau.


                “Andheera..” ucapnya lagi.


                “apa kau bilang?” sahut Joe yang tak asing dengan nama tersebut.


                “aah tidak..” ujar Jiso yang tak ingin membahasnya lagi.


                “Andheera? sepertinya aku pernah mendengar Keenan menyebut nama itu beberapa kali dalam tidurnya.” Tuturnya, sontak membuat Jiso lagi-lagi terkejut, ternyata seorang gadis bernama Andheera itu nyata sebab Joe juga mengetahui hal tersebut.


                “kenapa kau tak pernah cerita padaku tentang itu?” seru Jiso dengan nada suaranya yang meninggi.


                “untuk apa? Memangnya siapa Andheera..?”


“sudahlah berhenti mengejarnya kurasa kau tak benar-benar menyukainya, kau hanya terobsesi padanya karena hanya dia yang tidak melihatmu sebagai wanita.” Tambah Joe lagi.


                “kalau begitu kau juga berhentilah menjadi Fanboy IU dan cobalah untuk hidup di dunia NYATA..!” tukasnya tajam lalu pergi meninggalkan karibanya itu sendiri dibangku taman.


                “HEYYY..!!! ITU TAK AKAN PERNAH TERJADI..!!” teriak Joe senyaring mungkin agar Jiso bisa mendengarnya, kemudian mencium layar ponselnya yang ber wallpaperkan foto idolanya yang bernama IU dengan ganas.


*** 


Jennie