
Sementara itu, kembali ke apartemen Renville.
“kau masih disini..?” ucap Jiso yang baru saja keluar dari kamarnya.
Setelah beberapa jam berlalu, dirinya masih mendapati karibnya itu tengah tertidur diatas sofa miliknya, merasa ada yang tak biasa dengan sikap Keenan yang seperti ini, Jiso memutuskan untuk kembali menghampiri Keenan dan mencoba mengecek keadaannya.
Hatinya pun mulai berdegup kencang, tiba-tiba perasaan yang sudah lama ia lupakan kini kembali menyerangnya, hingga kedua tangannya tampak gemetar karena situasi canggung ini.
“apa yang harus ku lakukan..” Jiso membatin seraya mengepalkan kedua lengannya.
Tak ingin kembali terbawa suasana, Jiso pun mencoba berbalik dan menghindarinya, namun.. tangan Keenan lebih dulu menahannya, masih dengan setengah wajahnya yang tertutup oleh sikunya yang lain, seolah ia tengah menahan sesuatu yang menyakitkan dalam hatinya.
“Andheera..” gumam Keenan lemah hingga Jiso tak begitu jelas mendengarnya.
Tak perduli kata apa yang terlontar dari mulut temannya itu, sebab yang menjadi fokusnya saat ini adalah tangan Keenan yang terasa sangat panas, mungkinkah ada sesuatu yang tak beres dalam tubuhnya ‘fikir Jiso, yang kemudian kembali berbalik dan menempelkan punggung tangannya pada kening Keenan.
Keningnya juga sangat panas, Jiso mulai panik hingga tak dapat berfikir jernih untuk sesaat, ia hanya memandangi wajah Keenan juga jemari Keenan yang masih melingkar di pergelangan tangannya yang kecil secara bergantian.
Sampai..
“Andheera..!” tiba-tiba saja tangan Keenan menarik paksa tubuh Jiso hingga masuk ke dalam dekapannya, namun masih dengan kedua matanya yang terlelap seolah ia tengah mengigau dalam tidurnya.
“jangan pergi.. jangan pergi Andheera..” gumamnya lagi, kali ini disertai tetesan air mata yang mulai mengalir membasahi kedua pipinya.
“bagaimana mungkin kau masih mengharapkan orang yang sudah meninggalkanmu Keenan, sedangkan aku yang selalu disampingmu, tak pernah kau lihat..”
Sama hal nya dengan Keenan, Jiso pun tak mampu menahan air mata kepedihannya saat ia menyadari jika hatinya yang terdalam masih sangat menginginkan lelaki yang saat ini tengah memeluknya.
***
1 jam kemudian..
Rumah sakit Haneul Jakarta, lebih tepatnya di ruangan VVIP dimana Keenan tengah terbaring tak berdaya di atas ranjangnya, dengan selang infus yang menempel di pergelangan tangannya, juga pakaiannya yang sudah digantikan oleh seragam rumah sakit Haneul.
Terlihat seorang wanita yang berumur sekitar 40 tahunan memakai jas putih tampak berdiri disamping ranjang Keenan, seraya memeriksa tetesan cairan infus yang mengalir ke tubuh Keenan, kemudian kembali beralih pada wajah putranya itu dengan raut wajah cemas layaknya seorang ibu pada umumnya.
Selang beberapa menit, akhirnya kedua mata putranya itu perlahan terbuka, membuat wanita yang bernama Hyunjie tersebut bisa bernafas lega, dan mengusap pelan bagian kepala putranya tersebut seraya memberikan senyum tulusnya.
“kau sudah bangun Keenan..? mama benar-benar khawatir.”
Kalimat pertama yang ia dengar setelah beberapa jam yang lalu tak sadarkan diri, namun tiba-tiba rasa sakit dikepala menyerangnya, hingga membuat satu tangannya refleks memegangi titik dimana ia merasakan sakit.
“ada apa..? kepalamu sakit Keenan..?” tanya ibunya khawatir.
“engga.. gak apa-apa, hanya sedikit pusing.” Respon Keenan seraya memejamkan kedua matanya sesaat untuk sekedar meredam rasa sakitnya.
“kita periksa kembali ya, kalau perlu kita lakukan CT scan oke, mama akan menjadwalkannya untukmu tunggu sebentar..” ucap Hyunjie dengan nada yang terdengar tergesa-gesa, karena saking cemasnya jika ada sesuatu yang buruk yang menimpa putranya.
“maa..” panggil putranya yang masih lemah, namun Keenan mencoba bangkit dari tidurnya untuk bisa duduk di ranjangnya.
Hyunjie pun menghentikan langkahnya kemudian kembali berbalik untuk membantu putranya duduk dan mengambil bantal untuk dijadikan sandaran Keenan agar bisa duduk lebih nyaman.
“benar kau baik-baik aja Keenan..?” tanya Hyunjie memastikan.
“iyaa, aku hanya kelelahan mah, aku hanya perlu istirahat.” Jawabnya seraya memaksakan untuk tersenyum tipis.
“syukurlah kalau begitu, kau tahu, mama sangat mengkhawatirkamu..” paparnya yang kemudian mencoba duduk diatas ranjang Keenan sembari masih memandangi wajah putranya itu yang tampak pucat.
“bagaimana aku bisa kesini mah..?” tanya Keenan yang merasa aneh, karena seingatnya pagi tadi ia masih terbaring di atas sofa.
“Jiso menghubungi managernya dan memintanya untuk mengantarkanmu ke rumah sakit.”
“jadi managernya tahu kalau aku menemui Jiso..?
kenapa Jiso malah menghubungi managernya itu hanya akan menyulitkannya.” Keluhnya.
“kau fikir, Jiso sendiri yang akan mengantarmu kesini..? huhh..!! kau sendiri yang menyulitkan Jiso malah mengeluhkannya pada gadis malang itu.” Sahut ibunya.
***
Sore harinya.
Di Kirin School Jakarta.
Tak banyak siswa yang berkeliaran saat ini di sekolah, dikarenakan kelas sudah selesai beberapa jam yang lalu, namun tidak bagi siswa dan siswi tingkat akhir,sebab mereka harus memasuki kelas tambahan agar bisa memperbaiki nilanya di ujian kelulusan nanti.
Begitu pun dengan siswi pindahan yang bernama Denise Mahardika, gadis berperawakan ramping itu juga baru saja menyelesaikan kelas tambahannya, hingga kini ia tampak berjalan menyusuri halaman sekolah menuju parkiran sekolah dimana mobilnya terparkir.
Tak seperti sebelumnya yang selalu di kawal oleh kedua temannya, kini ia berjalan sendiri seraya memainkan ponsel dalam genggamannya.
Dan saat gadis tersebut masuk ke dalam mobilnya, tak ada sedikit pun rasa curiga dalam dirinya, sampai saat ia mencoba melepas ransel miliknya untuk ditaruhnya dikursi sebelahnya…
“Annyeong..” sapa seseorang dari belakang seraya menunjukan raut wajahnya yang begitu menyeramkan.
Ingin hati langsung pergi melarikan diri keluar dari mobilnya, namun apa daya tangan gesit Andheera keburu mendekatkan pisau kecil miliknya tepat ke bagian samping perutnya.
Merasakan ada sesuatu yang mengenai bagian samping perutnya, perlahan ia menurunkan kedua bola matanya untuk melihat benda apa yang mengenai bagian samping perutnya.
Gadis malang itu benar-benar terkejut bukan main kala ia mengetahui jika benda yang mengarah ke perutnya adalah sebuah pisau kecil yang begitu tajam, hingga merobek sedikit blazer yang dikenakannya.
“ku pastikan pisau ini akan tertancap tepat dibagian vitalmu, saat kau mengeluarkan suara atau bertindak diluar keinginanku..!” bisik Andheera masih dengan senyum smirk yang menakutkan.
Ternyata Andheera lebih dulu menyadari apa yang difikirkan Denise, sebab ia melihat pergerakan bola mata Denise yang tampak berkeliling ke segala arah berharap ada orang yang akan melihatnya berada dalam bahaya.
“a.. apa ma.. umu..?” tanya Denise terbata-bata.
“aku hanya ingin bicara denganmu, tapi tidak disini, hidupkan mobilnya..!” perintah Andheera yang membuat Denise semakin ketakutan dan tampak gemetar di sekujur tubuhnya.
“kau tak mendengarku...?!” seru Andheera ketika Denise masih tak bergeming.
“i.. iya aku mengerti..” ucapnya masih dengan nada yang sama, kemudian mulai menyalakan mesin dan pergi dari area parkir sekolah sesuai dengan perintah gadis mengerikan yang duduk dibelakang kursi kemudi.
***
Iyaa.. gadis tersebut adalah Hanyoora, bukannya pergi ke tempat les, Yoora malah memilih membolos dan melesat pergi ke agensi BangQit untuk memastikan apa yang dilihatnya sewaktu pagi disekolah, adalah seseorang yang telah pergi meninggalkannya beberapa tahun yang lalu atau hanya seseorang yang mirip dengannya.
“apa yang kau lakukan disini Yoora..?” tanya seseorang dari belakang yang mampu membuatnya tersadar.
“ahh, amm.. aku..” ucapnya terbata-bata sebab ia tak tau apa yang harus ia katakan pada Anha.
“kau bolos les ya..? ada apa, kau tak biasanya seperti ini.” Tanya Anha lagi lengkap dengan raut wajah kebingungan.
“engga.. ga ada apa-apa.” Elak Hanyoora yang kemudian membalikan tubuhnya.
Namun saat tubuhnya berbalik, tak sengaja ia mendengar suara mobil yang keluar dari belakang agensi hingga membuat tubuhnya refleks kembali berbalik untuk melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut.
Dan..
Benar saja kedua pasang mata itu bertemu, iya antara Hanyoora dan Min yonggi membuat keduanya sontak membulatkan matanya serta tetap saling memandang meski mobil yang membawa Yonggi sudah melewati tempat Hanyoora berdiri bersama karibnya.
“apa yang kau lihat Kak..?” tanya Ben yang duduk di sebelah Yonggi seraya menyemil keripik dan sesekali menjilati jemarinya yang berlumur bumbu dari keripik tersebut.
Mendengar perkataan Ben, membuat seokjin yang duduk di samping manager pun ikut menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang terjadi.
“ngga ada..” dustanya, yang kemudian terdiam beberapa saat seolah tengah mencerna apa yang baru saja ia lihat.
-----
Sekilas ingatan masa lalu kembali muncul dalam benak Hanyoora.
Tepatnya di sebuah tempat les terpopuler di kota Jakarta yang saat ini masih menjadi tempat les pilihan ibu dari Hanyoora.
Saat itu cuaca tak begitu baik, karena sedari pagi kota Jakarta sudah diguyur hujan deras, namun meskipun begitu tak menyulutkan semangat juang para siswa yang mendaftarkan diri di tempat les tersebut.
Mereka tetap datang meski harus sedikit terguyur hujan sebab memakai payung pun tak menjamin tubuh mereka bebas dari cipratan air hujan yang lumayan deras, juga petir yang sesekali mengejutkan para siswa yang tengah berkonsentrasi mengerjakan soal latihan dari sang guru les.
30 menit telah berlalu, akhirnya latihan pun selesai, semua siswa mengumpulkan kertas jawaban mereka masing-masing dengan meletakannya di meja sang guru kemudian pergi keluar ruangan secara bergiliran.
“kapan kakak akan kembali..?” tanya seorang gadis kecil yang masih berumur 15 tahun, seraya memegangi lengan lelaki yang tubuhnya lebih tinggi 5 cm darinya.
Lelaki itu pun berbalik seraya memandangi wajah manis sang gadis kecil.
Tidak seperti mereka berdua yang masih berada di koridor, sementara siswa lainnya satu persatu tampak berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya masing-masing dengan memakai payung mereka dan ada juga yang dijemput supirnya seraya memayungi putri dari majikannya tersebut.
“aku ga akan pernah kembali, jadi jangan pernah menungguku..!” ketusnya seraya menepis secara paksa lengan gadis tersebut.
“kenapa..?
Kau sudah berjanji bukan, akan menjadi dokter bersamaku.” Lirihnya seraya mencoba menahan kesedihannya.
“aku menyerah, sekuat apapun aku berusaha aku tetap tak bisa menyaingi kakakku, dan aku muak menghabiskan waktuku di perpus juga di tempat les, belum lagi dirumah aku selalu dibandingkan dengan kakakku..! mari kita sudahi semua ini Hanyoora..”
“oke baik jika kau ingin berhenti, tapi kau tak harus pergi ke Inggris bukan, dan aku.. tak ingin kita berpisah.”
“aku sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah ku di Inggris dan mencoba mencari apa yang ku inginkan disana bersama kakek dan nenek ku, karena mereka yang lebih bisa memahamiku.”
“YAAA..!!” teriak Hanyoora histeris.
“aku tau kita masih sangat kecil, tapi bukan berarti kau bisa mempermainkan janjimu seperti ini MIN YONGGI..!”
Yonggi sedikit terkejut dengan sikap Hanyoora yang tiba-tiba tak terkendali hingga berteriak padanya.
“kau tau kita masih kecil, kenapa kau menganggap serius hubungan kita..?
kau tahu apa itu cinta monyet, itulah hubungan kita bagiku, Hanyoora, jadi jangan berharap banyak padaku..!” pungkas Min yonggi kemudian berlalu pergi meninggalkan Hanyoora yang tampak akan meledakan tangisannya saat itu juga.
“HIKKSSS..HIIKKSSS.. !!” benar saja begitu Min yonggi pergi, gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya.
Beruntung karena saat itu para siswa lainnya telah pergi, hingga Hanyoora bisa menangis sepuasnya tanpa harus menjadi pusat perhatian teman-temannya.
Ia menumpahkan semua kekesalan juga kekecewaannya pada tangisannya saat ini, sampai kedua kakinya melemah dan kemudian terjongkok perlahan, sebab sudah tak sanggup menopang berat tubuhnya.
“hiikkss.. hikkss.. kalau begini jadinya, seharusnya aku tak menerima lelaki fucek boy itu, dia fikir hanya dia yang memiliki perasaan.. hikss..! da.. sar brengsek.. hikss..” umpat Hanyoora seraya terus memandangi jalanan yang telah di lalui Min yonggi beberapa menit yang lalu.
Kisah cinta yang telah Hanyoora tutup rapat kini kembali terbuka, bersamaan dengan kemunculan Min yonggi secara tiba-tiba.
Entah perasaan apa yang kini harus ia tunjukan, rasa senang karena lelaki yang disukainya itu kembali ataukah rasa sakit yang telah Min yonggi berikan disaat lelaki itu meninggalkannya begitu saja.
Keduanya tengah berperang dalam hatinya, seolah sama kuatnya ia benar-benar tak bisa mengartikan perasaan yang kini tengah ia rasakan, hingga membuatnya hanya terdiam dan terus memandangi mobil yang dinaiki Yonggi tersebut benar-benar telah hilang dari pandangannya.
“kau baik-baik saja Hanyoora..”
Sampai Anha yang berdiri disampingnya pun mencoba mengibaskan lengannya tepat di depan wajahnya agar Hanyoora tersadar dari lamunannya.
“ahh.. iya.. aku baik-baik aja, kau sedang apa disini..?” sahut Hanyoora yang membuat Anha mengernyitkan keningnya.
“kau kenapa sih..? sepertinya kau perlu ke dokter atau kau butuh minum..?” kata Anha yang meninggikan nada suaranya.
“hah..?” namun tampaknya Hanyoora masih terlihat seperti orang ling lung.
“kau tahu aku bekerja part time disini, dan sekarang kau tanya aku sedang apa..? jujur kau kenapa sih..!” ujar Anha yang mulai kesal karena karibnya itu terus menutup-nutupi sesuatu darinya.
“engga ada, amm.. aku pulang ya.”
“Hanyoora..!”
Belum sempat Hanyoora melangkahkan kakinya untuk pergi, ternyata lengan Anha lebih dulu menahan lengan karibnya tersebut, membuat Hanyoora menoleh ke arah temannya itu dengan tatapan bertanya-tanya, apa yang sedang Anha lakukan ‘fikirnya.
“Aku sudah gagal menjaga Yerim, hingga akhirnya dia sampai dibuly oleh geng Denise, tolong jangan buat aku khawatir lagi dengan sikap aneh mu saat ini Hanyoora, aku temanmu kan..?” ujar Anha seraya menunjukan sorot mata tajamnya tanda ia benar-benar tengah serius saat ini.
***
Hanyoora
Anha