
1 jam berkeliling membantu keponakannya mengantar pesanan, membuat Andheera ikut merasakan lelahnya bekerja, padahal ia baru pertama kali melakukan hal ini, tidak seperti Ben yang mungkin sudah berulang kali melakukan kegiatan yang sama demi membatu ibunya menghasilkan uang.
Di depan resto yang baru saja dibuka, Andheera, Ben dan Jessy terlihat menunggu Brian yang tengah mencoba untuk menyeberang.
“selagi menunggu kita foto dulu yuk dengan badutnya.” ajak Jessy pada Ben seraya menarik tangannya menghampiri sang badut yang sedang membagikan selembaran promo pada orang-orang yang lewat di depan resto, sembari sesekali berjoget untuk membuat sedikit hiburan di depan resto yang baru saja dibuka.
Ben pasrah dan menuruti keinginan teman perempuannya itu.
“eonni bisa tolong fotokan kita?” seru Jessy pada Andheera yang terlihat memperhatikannya sembari menyodorkan ponsel milikinya, Andheera langsung berjalan menghampiri mereka berdua lalu mengambil ponsel dan memotretnya dengan baik bak seorang photografer handal.
Setelah Andheera mulai menghitung untuk memfoto, mereka pun berpose selucu mungkin tak terkecuali dengan badutnya yang ikut berpose menggemaskan juga, hingga membuat kedua sudut bibir Andheera terangkat.
“1..2..3 “ cekrek “sekali lagi 1..2..3 oKeenan udah.” Andheera mengakhiri sesi fotonya dengan langsung memberikan kembali ponsel milik Jessy bersamaan dengan Brian yang sudah bergabung ditengah mereka.
“apa aku ketinggalan, ayo kita foto bersama sekali lagi.” Ajak Brian sembari mengatur ponsel ke dalam mode selfi.
Kedua remaja menggemaskan itu menyambut ajakan Brian dengan antusias sembari menarik lengan Andheera juga untuk masuk ke dalam Frame foto.
Meski sedikit tidak nyaman baginya, namun karena Ben yang menarik lengannya, ia tidak bisa menolaknya, ia pun terpaksa ikut berfoto bersama dengan raut wajah alakadarnya.
Brian mulai menghitung, “1..2..3,” cekrek.
“aah! kau sangat kaku sekali Andheera, ayolaahh sekali lagi okee senyum yang ikhlas.” Keluh Brian setelah melihat hasil jepretannya ia mendapati ekspresi Andheera yang datar.
“1..2..3,” ingin mengakhirinya dengan cepat Andheera pun bertekad untuk membuat ekspresi yang lebih baik dari tadi, ia ikut berpose lucu bersama dengan Jessy dan Ben sesuai permintaan Brian.
Begitu Brian mengecek hasil fotonya kembali, lelaki yang akan beranjak dewasa itu tampak tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, melihat wajah gadis yang disukainya terlihat sangat menggemaskan di dalam foto yang ia ambil, membuat Brian hampir hilang kendali dan tidak perduli hal disekitarnya.
“mana coba kak Brian aku ingin lihat!” pinta Jessy seraya menurunkan lengan Brian yang tengah menggenggam ponselnya, diikuti juga oleh Ben yang sama-sama ingin melihat hasil jepretan fotonya barusan.
“aku juga, aku juga..” seru Ben penuh antusias.
Seperti biasa Andheera hanya berdiam diri menunggu mereka selesai agar bisa masuk ke resto bersama.
Sampai ada seseorang dari dalam yang terlihat seperti salah satu staff dari resto menghampiri sang badut, kemudian memberikannya sebuah nasi bungkus.
“Luna kau boleh istirahat untuk makan 20 menit ya, ini jatah makan siangmu.” Tak menunggu lama sang badut itu langsung menerima nasi bungkus lengkap dengan botol air mineral.
Karena merasa sudah cukup puas dengan hadil fotonya, Brian dan kedua bocah itu berjalan masuk sembari saling merangkul layaknya sudah berteman bertahun-tahun, mereka terlihat begitu akrab dan tidak canggung sama sekali melewati Andheera yang dibiarkan sendiri berjalan dibelakang.
Namun ada satu hal yang terasa mengganjal dalam hati Andheera, ketika ia hendak masuk menyusul langkah teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam resto.
Kedua mata tajam Andheera tak bisa mengalihkan pandangannya, pada sang badut yang bersiap untuk membuka kepala boneka yang menutupi seluruh kepala serta wajahnya.
“dia sangat cantik tapi kenapa dia memilih pekerjaan seperti ini.” gumam Andheera.
Sampai beberapa menit Andheera terus memperhatikan wanita badut itu yang mulai menyantap nasi bungkusnya dimeja luar resto.
Wanita itu mempercepat suapannya, entah karena ia tengah kelaparan ataukah memang ia harus menghabiskan makanannya dengan cepat. Tapi satu hal yang pasti, raut wajah itu benar-benar mengusik dirinya.
Didalam Resto.
“kau darimana sih, ku kira kau kabur dan meninggalkan kita disini, lihat tuh mereka berdua sudah pesan banyak.” Ujar Brian ketika Andheera akhirnya bergabung di meja mereka.
“eonni boleh ga kalau aku nanti nambah buat dibungkus juga.” pinta Jessy lengkap dengan ekspresi so imutnya.
“hey! noona itu masih pelajar jangan buat noona ku kehabisan uang bekalnya.” Timpal Ben tak terima jika Jessy ingin menambah makanannya untuk dibawa pulang, mendengar omelan temannya itu Jessy malah cemberut.
“boleh asal kau tak memakan semuanya sendiri, kau harus berbagi.” sahut Andheera.
“OKEE!! Aku akan membaginya dengan Uju, Joan dan kak Yerim jika masih ada sisa aku akan membaginya juga dengan kedua orang tuaku hihihihi.” serunya penuh antusias.
“banyak sekali anggota keluargamu sudah seperti anak kucing saja.” Goda Brian diiringi dengan tawa ledekan diakhir.
“huh!" Jessi mendecak kesal sembari menikmati makanannya yang mulai berdatangan satu persatu..
“kau masih memiliki adik? kukira Yerim hanya memiliki 2 adik kembar.” Ujar Andheera.
“eonni kenal kak Yerim?” Jessy sedikit bingung.
“iya dia teman sekelasku.” Kata Andheera lagi.
“waaaahhhhh pantas saja kau sangat baik padaku terimakasih eonni. Oiya Mmm.. aku hanya ingin memastikan aja Dheera eonni dan Brian oppa tidak sedang berkencan kan?” tanya Jessy tiba-tiba membuat situasi canggung seketika.
Brian dan Ben kompak terbatuk saking terkejutnya mendengar pertanyaan random Jessy. “uuhuuuk..uuhuuk..!!”
“memangnya kenapa?” respon Andheera santai disaat yang lain sibuk meredakan batuknya dengan meminum air yang ada didepannya.
“karena aku akan menikahi Brian oppa saat dewasa nanti.” Tuturnya dengan nada tegas juga senyum lebar.
“HEY!! Kau tak boleh bilang begitu,” seru Ben seolah tidak menerima keputusan Jessy.
“memangnya kenapa, kurasa aku udah cukup cantik tuh.” Kata Jessy, sepertinya ia tak terlalu memperdulikan perkataan Ben, ia malah melanjutkan makannya kembali sedangkan Ben masih cemberut kesal.
“okee akan kutunggu kau 10 tahun lagi, aku akan datang melamarmu.” Sahut Brian semakin memicu kecemburuan dalam diri Ben.
“benarkah ahahahaha!! SETUJU, aku janji akan terus menjaga jari manisku agar tetap kosong sampai waktunya tiba.” Meski Jessy tahu itu hanyalah sebuah omong kosong yang Brian lontarkan sebagai kalimat penghibur untuknya, namun ia tetap merasa sangat bahagia hingga tak hentinya tersenyum sembari mengunyah makanannya.
Begitupun dengan Brian, ia pun menyambut senyum manis Jessy dengan senyum kotak andalannya seolah dunia ini miliki mereka berdua, sedangkan Andheera dan Ben yang juga berada di meja yang sama hanyalah debu yang tak terlihat.
“nih makan yang banyak ya biar kau bisa tumbuh setinggi Andheera hihihi.” tambah Brian seraya mengusap kepala Jessy lembut.
“gak mau, aku lebih suka terlihat imut disamping oppa daripada hampir menyamai tinggi oppa.” sahutnya dengan nada yang sedikit manja.
“astaga! jika kalian berdua tidak akan makan pergilah!!” seru Ben penuh dengan emosi yang membara tak tahan melihat situasi romance yang tak terduga.
Sontak Brian dan Jessy terkejut mendengar sentakan Ben, kemudian mengakhiri scene romance singkatnya dan kembali menyantap makanannya.
“kau ini kenapa,” gumam Jessy pelan lengkap dengan lirikan tajam ke arah Ben sebab ia merasa aneh dengan sikap sohibnya itu.
Sementara 3 orang lainnya tengah sibuk berdebat kedua mata tajam Andheera melirik ke arah kamar mandi, ia melihat sekilas sang badut tadi berjalan memasuki kamar mandi dengan wajah lesunya.
“kau mau kemana?” tanya brian ketika ia melihat Andheera beranjak dari tempat duduknya.
“kamar mandi.” Jawabnya seadanya kemudian berjalan pergi menuju kamar mandi.
“padahal baru aja makan beberapa suap udah ke kamar mandi aja.” Gumam Jessy seraya memperhatikan langkah Andheera.
Sementara itu dikamar mandi.
Begitu ia membuka pintu kamar mandi, ia sudah mendapati seseorang tak sengaja menabrak sang badut hingga membuat ponsel yang digenggamnya terjatuh, dan seorang wanita yang menabrak itu tampak terburu-buru sampai tak sempat mengambilkan ponsel yang terjatuh, kemudian pergi dengan permintaan maaf yang tergesa-gesa.
Sang badut tidak terlihat kesal atau marah, ia malah memberikan senyuman ramah untuk wanita tadi yang kini telah pergi, lalu ia mencoba meraih ponselnya yang tergeletak dilantai.
Namun baru saja ia ingin membungkuk, lengan gesit Andheera lebih dulu meraih ponselnya untuk mencoba mengambilkan ponsel milik badut tadi.
Karena jempol Andheera tak sengaja menyentuh layar ponsel, membuat layar ponsel milik badut itu menyala dan menampilkan sebuah foto seorang gadis remaja yang tidak asing baginya.
Sontak kedua mata Andheera membesar saking terkejutnya mengetahui kebenaran siapa wanita badut yang berdiri dihadapannya.
Ketika Andheera mengembalikan ponselnya dengan sedikit ukiran senyum diwajahnya, ia malah mendapat respon yang tak terduga dari wanita badut.
“kakak nya Anha.. bisu.” Andheera membatin saat wanita tadi mengucapkan terimakasih dengan bahasa isyarat.
Wanita itu pun langsung membalikan tubuhnya setelah selesai berterimakasih pada Andheera untuk bercermin sekaligus mencuci kedua tangannya.
Sedangkan Andheera masih memperhatikannya dari pantulan cermin yang berada dihadapannya, ia merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menusuk bagian dalam hatinya.
Sebuah cuplikan terlintas dalam benaknya ketika ia tengah menunggu bersama temannya Anha dirumah sakit, selama menunggu operasi Lyra, Anha sempat bercerita tentang dirinya agar suasana tidak tampak canggung dan bisa sedikit mencair.
“apa kau juga tak mengingatku Andheera, kita 1 SMP bahkan aku pernah 1 kelas denganmu.." meski Andheera tidak merespon, Anha tetap melanjutkan ceritanya.
"aku tak percaya sekarang pun kita bertemu kembali, bukan hanya sekolah tapi juga dalam kelas yang sama.” sambungnya.
“meski awalnya aku tak yakin bisa masuk Kirin School tapi kakakku bersikeras menyuruhku sekolah disana, katanya aku harus berada ditempat yang bagus agar aku tidak diremehkan orang lain seperti dirinya yang hanya lulusan SMA biasa, kakakku juga mengorbankan kuliahnya agar bisa fokus bekerja untuk membiayai aku sekolah disana, aku senang tapi disaat yang sama aku juga merasa bersalah padanya.” Lanjutnya lagi.
“Kakak ku.. hanya bekerja di kantor kecil sebagai staff administrasi, jika dia bisa melanjutkan kuliahnya mungkin ia bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik karena dia sangat pintar.” Pungkasnya yang kemudian bersandar pada bahu Andheera seraya berusah sekuat mungkin untuk tidak meneteskan air mata pilunya.
“apa sebuah keluarga biasanya seperti ini, mengorbankan dirinya sendiri dengan berdalih menjaga keluarganya yang lain agar ia merasa baik-baik saja.” Kata Andheera dalam hati.
Tak lama kemudian wanita itu pergi melewati Andheera seraya melemparkan senyum ramahnya yang terakhir, Andheera hanya meresponnya dengan senyum tipis sebelum wanita tadi benar-benar hilang dari pandangannya.
Selang beberapa menit Andheera pun keluar dari kamar mandi, gadis manis itu langsung berjalan menuju meja nya kembali serta melanjutkan makan siang bersama teman-temannya.
“kenapa dengan wajahmu?” tanya Brian lagi begitu Andheera duduk dikursinya.
“tidak,” balas Andheera datar kemudian melanjutkan makannya.
“sepertinya sudah waktunya aku pergi.” ujar Brian sembari membereskan alat makannya di mangkuk lalu meminum seteguk air.
“kerja lagi oppa?” tanya Jessy.
“iya aku gak boleh terlambat jadi aku pergi sekarang ya, makasih buat makannya Andheera, lain kali aku yang akan mentraktirmu! bye..” Pamitnya lalu berlari secepat kilat.
“padahal makanannya belum sampai perut hufft, eonniii.. apa Brian oppa semiskin itu sampai harus kerja part time dibeberapa tempat. Belum lagi oppa juga harus fokus pada pelajaran sekolah karena sebentar lagi oppa akan lulus dan juga masa trainne nya, aku kasihan sekali padanya.” ujar Jessy seraya memandangi Brian yang berlari kecil keluar dari resto.
“kalau kau kasihan padanya kau saja yang penuhi kebutuhannya.” Jawab Andheera santai sembari mengunyah makanannya.
“eonni, aku juga miskin tahu, aku dapet uang jajan dari membantu mengantarkan pesanan roti bukan dengan cuma-cuma. Jangan samakan aku denganmu eonni.” jelasnya.
Mendengar kalimat terakhir Jessy membuat Andheera mengerutkan dahinya.
“eonni fikir aku tak tahu, selain dari sepedamu yang biasa saja, eonni memakai semua barang branded, juga fashionmu, meskipun terlihat simple hanya kaos dan jins tapi itu semua bermerk.” paparnya seraya memandangi Andheera dari atas hingga bagian sepatu kets yang dipakainya.
“apa kau tak berfikir kalau yang ku pakai itu palsu.” sahut Andheera.
“hey ayolaah! eonni meremehkanku, aku sering melihatnya karena semua teman-temanku memakai merk yang sama, aku bisa tahu hanya dengan sekali lihat.” serunya dengan sedikit menaikan nada suaranya.
“bagaimana denganku?” timbrung Ben tiba-tiba bersuara.
“kau sama denganku, tunggu.. tapi kalau difikir-fikir sepertinya jaket yang dikenakan Brian oppa juga bermerk, apalagi jam tangannya, arghhh!! aku tak bisa memperhatikan dengan jelas selain melihat wajahnya yang tampan huuh.”
“YAA!!” sentak Ben seraya menghentakan sendok ke mangkuknya.
“astaga, kau kenapa sih.” Kaget Jessy hampir saja ia merasakan jantungnya akan berpindah tempat.
“Berhentilah menyebutnya oppa, apa kau tak cinta Indonesia?!” gerutu Ben.
“kau tahu, hari ini kau benar-benar aneh Ben! biasanya juga kau tak pernah berkomentar, kau bahkan ikut menemaniku ngefancant dalam video konser di Yusup.”
“itu.. “
“apa kau sudah selesai Jessy?” timbrung Andheera, mencoba menyudahi perdebatan antara Ben dan Jessy.
“aahh iya aku sudah selesai kok.” jawabnya seraya merapihkan alat makannya.
“kau tunggu diluar saja, aku akan membayar dulu.” tambah Andheera lalu pergi menuju kasir setelah meminum seteguk air mineralnya.
“oke.” sahut Ben dan Jessy bersamaan.
***
Bennedict
Jessy