
Dreedd.. dreedd..
Ponselnya bergetar saat lengannya hendak membuka pintu kamar, ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengecek pesan masuk.
Sedangkan lengannya yang terluka membuka pintu kamar hingga meninggalkan noda darah di handle pintu kamarnya.
#kau tidak lupa kan, aku sudah menunggu mu di Chimi Café# begitulah isi pesan yang dikirim oleh Brian, satu janji yang terlupakan Andheera.
Andheera hanya bisa menghela nafas panjang untuk menanggapinya sebab ia benar-benar lupa memiliki janji di akhir pekan dengan Brian.
Tak ingin membuat Brian menunggu lama sendirian di cafe, Andheera berniat menelfon seseorang yang bisa menemaninya sebentar sebelum dirinya bisa menemui Brian.
“hallo.” Sapa seseorang di telfon.
“Vian kau bisa turun sekarang?” pinta Andheera.
“turun kemana?” Vivian yang keheranan dengan permintaan mendadak temannya itu.
“cafemu, kak Brian sudah menunggu disana, temani dia sampai aku datang oke.” Jelasnya.
“kau kan tahu..”
“oke thanks aku akan cepat kesana.” Beep bunyi telfon dimatikan sebelum Vivian menjelaskan situasinya.
Tok.. tokk..!! Suara ketukan pintu membuat Andheera membalikan tubuh rampingnya.
“masuk.” Seru Andheera dari dalam, kemudian bi Dharma masuk dengan membawa kotak p3k mendekati Andheera yang berdiri di depan meja rias masih menggenggam erat ponselnya.
“biar bibi bersihkan lukanya ya.” Ujar bi Dharma seraya menarik lembut lengan Andheera membawanya untuk duduk di tepi ranjang.
“akan ku bersihkan sendiri.” Andheera menarik paksa lengannya yang digenggam oleh bi Dharma, namun bi Dharma tak membiarkannya ia menarik kembali dengan lembut lengan Andheera lengkap dengan senyum menyejukan, layaknya senyum seorang ibu pada umumnya.
“apa pamanku sudah datang?”
“astaga!!” bi Dharma terkejut saat melihat luka putri majikannya yang begitu dalam.
“luka nona sangat dalam sepertinya harus dijahit, kita ke rumah sakit sekarang yaa, bibi akan memanggil pak Dadan untuk menyiapkan mobil.” Seru bi Dharma lengkap dengan ekspresi paniknya.
“sudah ku bilangkan aku bisa mengatasinya.” Tegas Andheera seraya menarik kembali lengannya dari genggaman lembut bi Dharma, lalu berdiri untuk meletakan ponsel di meja belajar.
“Andromeda pasti akan melupakannya jadi jangan pernah ungkit kembali, dan jangan sampai Ayahku tahu.” Sambung Andheera sembari memandangi wajah bi Dharma dari pantulan cermin di sudut ruangan kamarnya.
“baik nona, tapi untuk Mira..”
“aku tak akan memecatnya, sudahkan? bibi boleh keluar sekarang.” Perintah Andheera seraya membalikan tubuhnya menghadap bi Dharma.
“baik nona, terimakasih.” Bi dharma pun keluar dengan perasaan sedikit lega.
***
Chimi Café.
Setelah hampir 1 jam menunggu akhirnya Vivian muncul dari dalam Café, tak butuh waktu lama untuk menemukan Brian, senior pujaan banyak wanita itu jelas terlihat menonjol dari sekian banyak pelanggan di Café hari ini.
Duduk sendirian dengan meja yang sangat penuh berbagai macam makanan, kemudian Vivian pun berjalan menghampiri meja Brian seraya menyunggingkan senyum bahagianya bisa melihat orang yang disukainya di pagi hari.
Itu seperti, ia sudah mendapatkan suntikan vitamin di pagi hari yang cerah, juga suatu moment yang sangat jarang terjadi.
“hay Kak Brian.” sapa Vivian lengkap dengan senyum cerah seperti biasanya lalu duduk di kursi seberang Brian, melihat Brian hanya menatapnya dengan tatapan yang kebingungan ia pun kembali tertawa tipis.
“kenapa? Kak Brian kecewa karena bukan Andheera yang sekarang duduk di depanmu?” tambah Vivian mencoba menyadarkan Brian dari lamunannya dengan sedikit kibasan lengan tepat didepan wajah tampannya.
“bu.. bukan begitu, aah iya aku ingat kau memang tinggal disini aku hampir lupa hehe.” Ujarnya seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencoba mengingat hal yang sempat terlupakan olehnya.
“dimana Andheera?” tanya Brian sembari mengerutkan dahinya sebab ia hanya mendapati sosok Vivian yang ada dihadapannya.
“entah, dia hanya memintaku untuk menemani kak Brian sebentar.” Jawab Vivian santai lalu meminum minuman yang di sajikan untuk Andheera pada awalnya namun kini sudah diminum duluan oleh Vivian.
“begitu..” terlihat jelas ekspresi kekecewaan Brian.
“waaahh kak Brian luar biasa, sepertinya hampir semua menu di cafeku kak Brian pesan, bukannya kau sedang miskin?” celetuk Vivian mencoba mencairkan suasana agar Brian merasa terhibur dan tak memikirkan temannya lagi.
“aku meminjam sedikit uang dari temanku sekelasku.” Sahutnya dengan nada datar.
“hanya untuk mentraktir Andheera? kak Brian menyusahkan diri sendiri.” Respon Vivian.
“sudahlah ayo makan saja, kau ini terlalu banyak bicara.” Ujar Brian lalu mulai menyantap makanan yang sedari tadi hanya dipandanginya.
“aku hanya mengingatkan situasi kakak sekarang.” Imbuhnya seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.
“iya iya dibandingkan denganmu aku gembel sekarang.” Kata Brian dengan mulut yang dipenuhi makanan.
“hahahaha kakak sadar juga, oh iya ngomong-ngomong terimakasih untuk kemarin, aku tak akan pernah bisa kembali tanpa bantuanmu.” Ujar Vivian yang kemudian ikut mencicipi beberapa makanan yang ada dihadapannya.
“hanya terimakasih?” sahut Brian, merasa tak cukup hanya dengan ucapan terimakasih ia ingin imbalan lebih.
“lalu kakak ingin aku bagaimana?” tanya Vivian.
“kau ingin pergi ke tempat wisata?”
“tiba-tiba?”
“bukankah itu keinginanmu dulu, kau bilang saat dewasa nanti kau ingin pergi ke tempat wisata.” Ujar Brian masih anteng mencicipi hampir semua makanan yang ia pesan.
“memangnya kakak punya uang?”
“ada kau,” jawabnya.
“waaahhh yang ku lihat di dalam drama laki-laki yang harus membayar semuanya, makan ataupun transport, kakak ingin aku yang membayar semuanya?” seru Vivian.
“hey sadarlah, kita tidak sedang bermain drama.” Balasnya dengan nada ketus.
***
Gazebo depan rumah Andheera.
Gadis cantik itu tengah duduk sendirian di temani dengan secangkir teh hangat buatannya sendiri.
Selagi menunggu pamannya, putri bungsu dari Reza Alvharez itu melamun untuk beberapa saat sebelum akhirnya satu pesan masuk di ponselnya membuat ia tersadar, kemudian lengannya meraih ponsel yang ia letakan di atas meja.
#maafkan aku, tapi bisakah berikan aku kesempatan untuk bersamanya lebih lama.# isi pesan tersebut yang di kirim oleh teman baiknya yang menggantikan dirinya untuk menemani Brian saat ini.
Andheera hanya menghela nafas panjangnya, kemudian menaruh kembali ponselnya di atas meja tanpa membalas pesan dari Vivian, sebab ia sendiri tak tahu harus menanggapinya bagaimana jadi dia hanya membiarkannya begitu saja.
“ahhh tidak..” Andheera sedikit terkejut dengan kemunculan pamannya yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
“kapan kakak ku sadar?” tambahnya saat pamannya duduk disampingnya kemudian meletakan kotak yang berisi peralatan medisnya diatas meja.
“jika tidak malam ini mungkin besok pagi, kau yang menyuntiknya?”
“heemm, apa dia akan baik-baik saja.” Gumam Andheera dengan tatapan kosong ia melihat ke arah taman bunga yang berada dihadapannya.
“seharusnya kau khawatirkan dirimu sendiri, lihatlah tanganmu ini.” Ujar pamannya yang bernama Oliver, seraya menarik tangan Andheera untuk melihat lebih jelas luka yang didapatkan Andheera setelah menyelamatkan kakaknya tadi pagi.
Adik dari ayahnya itu kemudian membuka kotak peralatan medisnya, ia berniat untuk menjahit luka keponakan perempuannya yang terlihat cukup dalam.
Untungnya kali ini Andheera menurut tidak melakukan perlawanan pada pamannya yang hendak menjahit luka ditelapak tangannya.
“paman sudah menemukan jawabannya?” tanya Andheera seraya memandanginya lekat.
“jawaban apa?” Oliver yang tengah menjahit luka Andheera malah balik bertanya, karena pertanyaan Andheera yang ambigu ia bingung dengan apa yang Andheera maksud.
“penyebab kecelakaan 11 tahun yang lalu.” Jelas Andheera membuat Oliver terhentak sesaat menghentikan aktifitas menjahitnya.
“hey ayolah!! paman ini seorang dokter bukan detektif, tugasku mengobati pasien bukan menyelidiki kasus.” Protesnya lalu kembali melanjutkan aktifitas menjahitnya.
“paman sudah berjanji bukan?” kata Andheera mencoba mengingatkan Oliver akan janjinya di masa lalu.
“oke oke baiklah, paman akan menyelidikinya kembali, tapi kau juga harus janji apapun yang terjadi kau tidak boleh membalasnya.” Ujar Oliver.
“kenapa kau tak menjawab?” tambah Oliver milhat Andheera yang mengabaikannya.
“sudah berapa lama paman disini?” Andheera pura-pura tak mendengar dengan mengubah topik pembicaraannya.
“huhh kau ini.” meski sedikit kesal namun ia tak bisa memaksa Andheera dan hanya membiarkannya.
“dari sebulan yang lalu mungkin.” Katanya lagi lalu menyelesaikan jahitan nya dengan rapi serta memasukan kembali peralatannya ke kotak medisnya.
“paman kesini untuk mencari Ben?” tebak Andheera.
“apa kau tahu keberadaannya?” Oliver malah balik bertanya.
“tidak,” sahut Andheera.
“kau yakin? Bukankah kau paling dekat dengannya dia pasti selalu mengabarimu kan.” Kata Oliver yang tak percaya pada perkataan keponakannya itu.
“menyerahlah paman, Ben sudah benar-benar membencimu.” paparnya.
“apa kita tak bisa saling membantu, paman akan menyelidiki kasus kecelakaan itu dan kau membantu paman untuk bertemu kembali dengan Ben, oke.” Ujarnya mencoba untuk melakukan pertukaran yang saling menguntungkan.
“ciih.. padahal paman sendiri yang membuat kekacauan kenapa harus melibatkanku.” Gumam Andheera pelan.
“paman bahkan belum sempat meminta maaf padanya, Andheera, paman juga sangat merindukannya.” Rengeknya seraya menunjukan ekspresi semenyedihkan mungkin, agar gadis yang tengah dihadapannya itu merasa iba padanya.
“iya iya berhentilah merengek seperti itu.” Ujar Andheera yang kembali menyeruput teh hangatnya.
“kenapa paman harus melakukan hal bodoh saat itu.”tambahnya lagi, seolah ia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan dimasa lalu.
“paman baru menyadarinya?”
“tak bisakah kau menghibur paman mu yang malang ini, paman benar-benar sedih sekarang.” Seru Oliver seperti bocah yang tengah merajuk pada ibunya.
“paman fikir hanya paman yang memiliki masalah?! Sampai paman menemukan jawabannya, aku tak akan mempertemukan paman dengan Ben.” Tegas Andheera kemudian lebih dulu pergi meninggalkan Oliver yang masih duduk sendirian diGazebo.
“Aisssh!! Apa dia benar-benar seorang gadis remaja, ucapannya sangat tak terduga.” Oliver menggerutu seraya menatap tajam punggung Andheera yang berjalan menjauhinya.
***
Tempat wisata Dunia Fana (Dufan).
“wahana apa yang ingin kau naiki lebih dulu?” tanya Brian pada gadis yang berdiri disampingnya.
“bagaiamna kalau komedi putar atau istana boneka.” Respon Vivian yang terlihat sangat antusias sekali.
“tunggu, apa itu ngga kekanak-kanakan? kita jauh-jauh kesini hanya untuk naik komedi putar.” Sahutnya tak percaya dengan jawaban dari Vivian.
“karena aku yang bayar jadi semua terserah aku.” Katanya seraya menatap tajam kedua bola mata Brian.
“iya baiklah kau saja yang naik, aku terlalu malu untuk naik wahana anak-anak itu.” Ujarnya dengan nada malas.
“ayolah, kakak bilang ingin menuruti keinginanku.” Vivian menarik paksa lengan Brian hingga sampai ke antrean wahana komedi putar yang dipenuhi dengan anak-anak SD.
Mereka berdua pun bersenang-senang menaiki hampir semua wahana yang ada di dufan, kecuali wahana ekstrim seperti roller coaster, kora-kora, tornado, halilintar dan banyak lagi, sebab Vivian tak memiliki keberanian seperti Brian untuk menaikinya.
Meski di paksa sekalipun oleh Brian, Vivian tetap konsisten pada pendiriannya, jika ia tidak akan pernah mencoba menaiki wahana yang mengancam nyawanya.
Sampai..
Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat seiring dengan rasa lelah yang mulai menjalar ke seluruh tubuh Brian, lain halnya dengan Vivian, gadis itu tampak masih semangat untuk bermain lebih banyak wahana lagi.
Namun karena Brian sudah sangat kelelahan tak bisa mengikutinya lagi, akhirnya vivian pun menyerah, kemudian mereka duduk di kursi dibawah pohon rindang untuk beristirahat sejenak sembari meminum air mineral yang dibeli oleh Vivian.
“sepertinya aku sudah sangat lelah.” Gumam Brian seraya meneguk beberapa kali minuman yang diberikan Vivian.
“iya baiklah kita pulang, aku juga harus kumpul osis 1 jam lagi.” Sahut Vivian yang juga ikut meneguk minumannya beberapa kali.
“amm, Vivian..” panggil Brian seraya menutup botol minumannya.
“iya.” Sahut Vivian, lalu menoleh ke arah Brian untuk menunggu kalimat yang ingin Brian katakan padanya.
“maafkan aku...”
“untuk apa?” tanya Vivian bingung seraya menutup botol minumannya lalu mletekannya di samping.
“aku selalu berfikir buruk tentangmu bahkan sampai kemarin pun kata-kataku masih selalu menyakitimu.” Lanjut Brian.
“gak apa-apa karena apa yang kakak katakan memang benar kok.” Katanya seraya menyunggingkan senyum cerah seperti biasanya.
“pokoknya mari kita berteman dari awal lagi dan saling mendukung okaaay.” Serunya sembari mengulurkan tangannya untuk mengajak Vivian bersalaman.
“tentu..” dengan senang hati, Vivian pun menerima uluran tangan Brian serta senyum lebarnya.
***