
Di Apartement Andheera.
Setelah melalui hari yang panjang, Andheera langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari polusi diluar yang menempel ditubuhnya.
Ditambah kejadian yang tak terduga membuat Andheera terbaring di aspal, bukan hanya tangannya yang tergores namun wajah cantiknya juga karena menghantam aspal saat Anha jatuh ke atasnya, karena ia tak sempat menghindar kejadian itu terlalu tiba-tiba.
Kemudian ia membantingkan tubuhnya ke atas ranjang masih memakai jubbah mandi, ia terlalu malas untuk memakai baju lagipula hanya dirinya yang ada di Apartement, jadi tak apa jika ia ingin telanjang sekalipun.
Tak butuh waktu lama Andheera tertidur pulas, sampai malam tiba ia masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Di depan pintu apartement, tampak Vivian menggerutu ia tak bisa membuka pintu Apartement milik temannya itu, sebab Andheera sudah mengganti sandinya saat ia pulang tadi.
Meski beberapa kali menekan bell pun tak ada tanda-tanda seseorang di dalam yang akan membukakan pintunya.
“AUGHH SIAL!! kau fikir aku tak akan bisa masuk karena kau sudah mengganti sandinya, kau lupa yaa Andheera, aku yang memegang card key mu hhehee.” gumamnya sembari menunjukan senyum penuh arti, kemudian menempelkan card key pada tempatnya.
Ia pun berjalan masuk dengan langkah penuh kemenangan.
“apa ini, kok gelap, apa gadis kasar itu belum pulang.” Ocehnya sembari terus berjalan masuk ke dalam, dan mulai menyalakan stop kontak di setiap ruangan.
Merasa penasaran, setelah semua lampu menyala ia berjalan menuju kamar Andheera untuk memastikan.
Namun ia juga mendapati kamar temannya masih gelap gulita, sepertinya Andheera memang belum pulang ‘fikirnya.
Vivian berjalan perlahan mencari stop kontak kamar Andheera. “ASTAGA..!!“ saking terkejutnya, Vivian hingga terjatuh mendapati sesosok tubuh yang masih terbalut jubbah mandi berwarna putih terbaring diatas ranjang Andheera.
“YAAAA!! ku fikir kau hantu, kenapa kau tak menyalakan semua lampu ANDHEERA!” keluh Vivian kemudian mencoba bangun, dan berjalan mendekati Andheera yang masih tak bergeming sedikitpun meski Vivian sudah membuat suara gaduh.
“kenapa dia sangat tenang seperti tak terlihat bernafas, mungkinkah dia mati.” Vivian bicara sendiri seraya mendekatkan jemarinya ke hidung gadis yang tengah terbaring aestetik di ranjang, untuk memastikan jika temannya itu masih bernafas.
Merasakan sentuhan dihidungnya, reflex Andheera membuka kedua mata dan menatap tajam wajah Vivian yang hanya berjarak 10 cm dari wajahnya, hingga Vivian kembali terkejut untuk yang kedua kali.
“astaga! kau ini mengagetkan saja, bagaimana kau bisa tertidur hanya memakai jubbah mandi?!” Vivian mendumel.
“ini musim kemarau sangat nyaman sekali hanya memakai handuk.” Gumam Andheera yang malah bergulang-guling di ranjang empuknya.
“jangan beralasan, itu AC yang nangkring diatas apa gunanya, dan juga tadi hujan tau?” ujar Vivian sembari menunjuk kearah AC yang menempel di dinding kamar Andheera.
“aahhh sudahlah kau ini cerewet sekali seperti kakakku, kembalikan card key ku.” Kata Andheera lalu mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk bangun, sebab ia ingin mengakhiri perdebatan yang tidak penting dengan meninggalkan Vivian yang masih ingin mengeluarkan unek-uneknya.
“tidak mau, hey Andheera, kau tak mendengarkanku?!” tak ingin berhenti sampai disini, Vivian mengikuti langkah Andheera keluar kamar.
Andheera berjalan santai menuju dapur untuk mengambil botol minuman, beberapa jam tertidur membuatnya kehausan.
“oiia, kau bilang akan membelikan hadiah untukku, mana?” Andheera menagih hadiah yang dijanjikan oleh Vivian saat Andromeda ulang tahun beberapa hari yang lalu.
“pakai baju dulu, nanti kau bisa flu jika hanya memakai handuk seperti ini.” Vivian terkekeh.
“ciih, ya.. ya.. ya.” akhirnya Andheera mau menuruti Vivian meski harus di iming-imingi hadiah, setelah beberapa kali meneguk minumannya ia pun kembali ke kamar untuk memakai baju.
Sementara itu Vivian berjalan menuju laci tempat ia menyimpan hadiah untuk Andheera, lalu kembali ke dapur untuk mengambil kue tart yang belum sempat mereka makan, Vivian memotong beberapa kue dan menaruhnya di piring kecil.
Kemudian ia meletakan piring yang sudah berisikan potongan kue dan 2 minuman kaleng di atas baki, hendak membawanya ke balkon.
Selagi menunggu Andheera memakai baju, dirinya sudah lebih dulu menyantap sepotong kue sembari menikmati indahnya langit malam kala itu.
“padahal masih musim kemarau tapi tadi kenapa bisa hujan ya, apa mungkin goblin sedang menangis hihihihi.” Celetuk Vivian teringat akan scene dalam drama korea yang berjudul Goblin, mengisahkan jika Goblin yang tengah menangis akan menyebabkan perubahan cuaca yang tak terduga.
“kenapa kau nyengir-nyrngir sendiri, kesambet ya.” ujar Andheera yang muncul dari belakang, kemudian duduk disebelah temannya dan ikut menyantap kue yang sudah disediakan Vivian.
“ini hadiahmu.” Ucap Vivian seraya menyodorkan sebuah kotak ke dekat Andheera, tak sabar ingin melihat apa isinya dengan senyum sumringah Andheera membuka isi kotak hadiah pemberian Vivian.
“kudengar ayahmu akan menikah lagi.” sambung Vivian sembari memandangi wajah bahagia Andheera karena mendapat hadiah sebuah gelang lucu dari Vivian.
“entahlaah.” Andheera tak begitu menanggapinya ia lebih memilih fokus memakaikan gelang ditangan dan mengunyah potongan kue yang masih belum ia telan sepenuhnya.
“kenapa kau masih memakai perban ditanganmu apa lukanya sangat dalam? Coba kulihat.” tangannya hendak meraih tangan Andheera, refleks Andheera mengihndar seolah ada yang ia sembunyikan, membuat Vivian semakin curiga.
“tanganku baik-baik aja, pakai perban biar terlihat keren aja hhahaaa.” Andheera menunjukan tangannya yang diperban dengan tawa renyah ia berusaha menutupi sesuatu.
“benarkah?” Vivian tak percaya.
Ia tetap kekeh ingin memastikannya dengan mengenggam tangan Andheera, apakah masih terasa sakit atau tidak, kali ini Andheera tak bisa mengelak, ia membiarkan tangannya digenggam sedikit erat oleh Vivian.
Namun yang mengejutkan adalah ekpresi gadis itu tak berubah, Andheera tetap tersenyum tak terlihat sama sekali rasa sakit dalam raut wajahnya, yang akhirnya bisa membuat Vivian mempercayainya meski hati kecilnya masih bertentangan dengan apa yang sudah ia lihat.
Ia hanya mencoba untuk percaya pada gadis yang berada disampingnya saat ini.
“aku baik-baik aja, Vian.” kata Andheera lagi.
“apa kau keberatan jika ayahmu menikah lagi?” Vivian melanjutkan obrolan yang sebelumnya.
“kenapa tidak?” jawab Andheera santai.
“benar, karena ayahmu sudah lama sendiri, ayahmu juga perlu pendamping untuk masa tuanya bukan, hhehehee. Tapi.. kau tau kan dalam drama semua ibu tiri itu jahat looh.” Goda Vivian seraya menyenggol tubuh Andheera.
“apa perduliku? lagipula jika benar ayahku akan menikah lagi, aku akan sepenuhnya pindah ke apartementku. Memangnya kau tahu darimana tentang itu?” tanya Andheera seraya menatap wajah Vivian.
“oppa, dia memberitahuku saat ulang tahunnya kemarin bahkan menunjukan fotonya, eummm, tapi kurasa dia wanita yang baik.” Ujarnya sembari memakan beberapa potong kue lagi.
Andheera bisa menunjukan kepribadiannya yang lain ketika tengah bersama dengan Vivian, mungkin bisa dibilang Vivian adalah pawangnya gadis kasar tersebut, karena Andheera bisa banyak berinteraksi hanya dengan Vivian.
“cih.. bagaimana kau bisa menebak kepribadiannya hanya dengan melihat wajahnya?” kata Andheera seraya melirik ke arah Vivian dengan tatapan songong seolah ia ingin mengajak temannya itu gelut.
“aku hanya menebak..” sahutnya lalu meneguk air minumnya.
“kau masih tak ingin pulang?” tambah Vivian.
“aku akan pulang jika omma sudah kembali.” balasnya lalu menyomot kembali sepotong kue tart yang berada disampingnya dengan satu suapan penuh.
“kelihatannya kau tak begitu suka dengan kedatangan omma?” Vivian ikut memakan kue tartnya lagi, disela obrolannya yang terus berlanjut.
“sama seperti kebanyakan orang lain pada umumnya, kurasa omma salah menilaimu, seharusnya kau bisa lebih dekat dengan omma agar kesalahpahaman ini tak terjadi."
"Kau tak bisa terus mengurung diri dan membiarkan semua orang berfikir negative tentangmu Andheera,
kau sudah berjanji padaku bukan..” ujar Vivian mencoba mengingatkan Andheera tentang janjinya saat mereka kembali berbaikan, salah satu alasan Vivian memaafkan Andheera adalah karena Andheera berjanji untuk merubah sikapnya.
“pelan-pelan.. (potong Andheera sebelum Vivian menyelesaikan kalimatnya)
aku bukan bunglon yang bisa langsung berubah dalam hitungan detik.” Andheera tersenyum manis untuk membuat Vivian mengerti jika ia sudah berusaha, namun keperibadian yang sudah terbentuk sejak ia lahir tak bisa hilang begitu saja.
“kau juga tau kan, kepribadianku sudah seperti ini sebelum kau bertemu denganku.
Tak mudah bagiku untuk mengendalikan emosi dan sikap kasarku hanya dalam beberapa hari.” Tambahnya lagi.
“baiklah, tapi setidaknya kau terima uluran tangan dari Yerim okee, kulihat dia benar-benar tulus ingin berteman denganmu.” Pinta Vivian.
“kau ingin meninggalkanku lagi?” tebak Andheera membuat Vivian kebingungan mengartikan perkataan temannya itu.
“kurasa kau mulai bosan berteman denganku, tapi kau juga tak bisa meninggalkan ku sendirian, jadi kau berusaha keras menemukan teman-teman untukku sebelum kau meninggalkanku.” Sambung Andheera.
“berhentilah berfikir yang tidak-tidak, apa kau tak belajar dari kesalahanmu Andheera, kenapa sekarang seolah malah aku yang bersalah padamu.” Protes Vivian tak terima.
“aaahh sudahlah kau berisik sekali!” seperti biasa Andheera memang tak pernah ingin disalahkan, ia meregangkan tubuhnya lalu berbaring dilantai sembari memandangi langit malam yang dipenuhi banyak bintang.
“aku lapar apa kau sudah masak?” tanya Andheera mendadak ia merasa lapar meski sudah memakan beberapa potong kue.
“kau ingin makan apa, nasi atau ramyeon?” tanyanya dengan nada lembut seperti seorang ibu yang tengah menanyakan apa yang ingin putrinya makan malam ini.
Meski Andheera terus membuatnya kesal, namun tetap saja Vivian akhirnya kembali mengalah dan berhenti berdebat dengan Andheera.
“ramyeon kayaknya enak.” gumamnya seraya memegangi perut sispeknya berkat olahraga rutin yang ia lakukan.
“okee, masuk nanti bawa kembali gelas dan piringnya.” tanpa berlama-lama setelah Vivian mendegar keinginan Andheera untuk memakan ramyeon, Vivian berjalan masuk menuju dapur.
“PAKAI TELUR YAAK!! 2.” Andheera berteriak agar Vivian yang sudah masuk ke dalam bisa mendengarnya.
“heemm..” Vivian mendehem dalam perjalanannya, meskipun respon dirinya sebenarnya tidak akan terdengar oleh Andheera yang berada diluar.
“memang apa serunya memiliki banyak teman, jika kebanyakan adalah orang-orang munafik cihh.. memiliki 1 teman seperti Vivian sudah cukup merepotkan sih sebenarnya.” Andheera bergumam masih sembari memandangi langit dengan kedua tangan yang menopang kepalanya sudah seperti bantal dadakan.
Sebelumnya..,
Saat dalam perjalanan Vivian pulang dari toko Yerim, seharusnya malam ini Vivian tengah memasakan daging seperti janjinya kemarin pada Anha, namun karena kondisi hati Andheera yang tidak memungikinkan untuk berkumpul, ia pun memutuskan untuk mengundur pertemuannya.
Vivian tak ingin terlalu memaksakan Andheera untuk keluar dari ruangan yang asing baginya, ia akan memulainya secara perlahan dan tidak terburu-buru, sampai Andheera terbiasa dan nyaman dengan dunia barunya.
***
Apartement Jiso.
Keenan baru pulang setelah seharian berkeliaran tanpa merasa bersalah dengan santainya ia berjalan masuk, sontak pandangan Jiso yang sedari tadi terfokus pada TV kini beralih menatap tajam kehadiran Keenan.
“jika kau akan datang jam segini seharusnya kau tak usah datang saja Keenan!” celetuk Jiso kesal masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari si tampan Keenan.
“okee.” Keenan berniat untuk kembali keluar dengan senang hati.
“HEY..!!!!” teriakan nyaring Jiso menghentikan langkah Keenan.
“apa sih? katanya tak perlu kemari” Keenan menarik nafas kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi, ia membalikan tubuhnya kembali lalu berjalan melewati Jiso menuju kamar mandi dan mengakhiri perdebatannya dengan Jiso.
“sialan! kenapa harus dia sih orangnya!!” umpat Jiso yang melihat Keenan berjalan melewatinya.
Beberapa menit kemudian setelah Keenan menyelesaikan urusannya dikamar mandi, Keenan berjalan menghampiri Jiso diruang tamu lalu duduk disamping Jiso seakan tak ada yang terjadi, ia mengambil remote di atas meja memindahkan siaran TV nya ke Channel Anime kesukaannya.
“kemana aja kau seharian?” tanya Jiso dengan tatapan tajamnya ia berusaha meminta penjelasan atas apa yang terjadi hari ini, karena semuanya tak sesuai dengan yang mereka sepakati diawal.
“aku mengunjungi ibuku,” jawab Keenan sekenanya.
“kenapa tak mengajakku.” Jiso bergumam lalu mengalihkan pandangannya dari Keenan, tampaknya kekesalan Jiso mulai mereda mendengar alasan Keenan pergi adalah untuk mengunjungi ibunya.
“bukannya kau bilang harus beres-beres.” ujar Keenan tetap fokus pada jalan ceritanya meski Jiso terus mengajaknya bicara.
“aku bisa menundanya kan masih ada hari esok hheheee.” balas Jiso seraya menunjukan senyum termanisnya.
“lagipula aku juga tak ingin mengajakmu tuh!” kata Keenan dengan nada songong seakan ingin mengajak baku hantam.
“shittt..!!”
“kau sudah makan?” tanya Keenan, setelah beberapa detik ia bersikap angkuh ia kembali menunjukan perhatiannya pada Jiso.
“belum,” jawab Jiso sedikit ketus.
Keenan bangkit dari Sofa pandangannya langsung tertuju ke dapur, lelaki yang memiliki tinggi 185 cm itu berjalan santai menuju dapur berniat memasak makan malam untuk Jiso.
Emosi Jiso pun perlahan menghilang ketika ia melihat Keenan tengah memasak untuknya didapur memakai celemek milikinya.
Tak dapat dipungkiri meski ia mencoba untuk tak menyukai temannya itu, namun tetap saja perasaan yang Jiso miliki tak dapat tertahan karena perhatian Keenan yang seperti inilah yang membuatnya terus goyah.
Bukan hanya 1 atau 2 kali Jiso berusaha menyerah pada perasaannya dan mencoba menyukai lelaki lain, bahkan ia juga sempat mau di jodoh-jodohkan dengan teman satu les nya.
Tapi itu hanya bertahan selama beberapa hari karena pada akhirnya hati Jiso akan kembali tertuju pada Keenan yang selalu ada disisinya.
“jika aku mendapatkan 1 keinginan, (gumam Jiso sembari memandangi Keenan dari ruang tengah) keinginan terbesarku adalah memilikimu.” Jiso membentuk angka 0 dengan kedua jemarinya lalu memejamkan 1 mata untuk memandangi wajah Keenan seolah ia tengah melihat ketampanan Keenan menggunakan teropong.
“semakin ku lihat aku ragu padamu, kau itu benar-benar manusia apa alien yang menyamar menjadi manusia, aah aku jadi teringat drama my love from the star, hheheee,” Jiso terus mengoceh sendiri selagi menunggu Keenan memasak.
***