To My Youth

To My Youth
BAB 37



Rumah Sakit Haneul tempat Hyunjie bekerja.


Hyunjie tengah menunggu seseorang ditemani rintik hujan yang membuatnya sedikit kedinginan karena ia melepas jubbah putihnya.


Tampak samar ia melihat seseorang yang berlari ke arahanya sembari meletakan kedua tangan diatas kepala untuk sekedar menutupi kepala dari rintik hujan.


                “Reza kenapa kau hujan-hujanan kau tak membawa payung? Dan mana mobilmu?” terdengar dari nada suara Hyunjie jika dia sangat mengkhawatirkan prianya.


                “ooh, tadi ada kecelakaan, dan mobilku terjebak disana sepertinya akan lama di evakuasi aku takut kau akan menunggu lama, makanya kutinggalkan saja mobilku hehe.” jawab Reza seraya menunjukan senyum lebarnya pada Hyunjie.


                “kau ini, ayo masuk kita ngobrol didalam saja diluar sangat dingin nanti kau bisa flu.” Ajak Hyunjie seraya menarik lengan Reza, namun Reza sepertinya tetap ingin berada ditempatnya.


                “tidak, disini saja aku tak akan lama.” Katanya kemudian menurunkan genggaman Hyunjie.


                “tapi,” Hyunjie tekekeh.


                “aku baik-baik saja Hyunjie, apa pekerjaanmu lancar ?” tambah Reza mengawali percakapannya.


                “tiba-tiba kenapa kau menanyakan pekerjaanku?” Hyunjie terlihat bingung ketika lelakinya itu menyinggung soal pekerjaannya.


                “hanya.. kau sudah mengantar putramu ke bandara?” Reza mengubah topik pembicaraannya.


                “dia ingin pergi sendiri, mungkin sekarang dia sudah sampai di Yogya, ada apa? apa sesuatu terjadi lagi?” seolah Hyunjie mengerti apa yang ingin Reza sampaikan.


                “tidak aku hanya ..” Reza kembali menghentikan kalimatnya seolah ia ragu untuk mengatakannya pada Hyunjie.


                “kau akan pergi lagi bukan?” tebak Hyunjie seraya memandang kedua mata Reza lekat.


                “bukan begitu aku hanya..” lagi-lagi Reza terus mengulang kata yang sama.


                “kau takut hal itu akan terjadi kembali, lalu kau harus pergi lagi meninggalkanku.” Lanjut Hyunjie dengan nada serius.


                “kau ingin pergi bersamaku?” ajak Reza seraya meraih kedua tangan lembut Hyunjie dan menatapnya penuh harap.


                “aku tak bisa meninggalkan anakku dan juga karirku disini, bukankah kita sudah pernah membahasnya Reza.” Tolak Hyunjie kemudian melepas paksa genggaman tangan Reza.


                “aku bisa memenuhi semua kebu..”


Tak sempat Reza menyelesaikan kalimatnya amarah Hyunjie keburu memuncak seiring dengan nada suaranya yang semakin meninggi.


“bukan karena itu Reza!! menjadi dokter adalah impianku sedari dulu, kenapa kau terus membuatku memilih antara cinta dan mimpi. Tak bisakah aku memiliki keduanya?” terlihat bulir air mata Hyunjie menetes mengalir dipermukaan pipinya yang putih, dan mulus membuat Reza mengalah untuk tak berdebat lebih lanjut.


                “baiklah.. kurasa hubungan ini akan sulit.” Ujarnya dengan senyum lembut yang ia paksakan di akhir kalimat.


                “kenapa kau selalu seperti ini REZA?!


selalu ingin semua berjalan sesuai kehendakmu, jika tidak kau takan segan-segan meninggalkannya bahkan padaku.” Lirih Hyunjie lalu menundukan kepala menyembunyikan tangis yang semakin menjadi.


                “maafkan aku.” Kata terakhir Reza sebelum ia pergi meninggalkan Hyunjie, seolah ia tak perduli dengan perasaan wanitanya ia berlalu pergi meski wanita itu menangis dihadapannya.


                “berhenti mengatakan maaf, aku muak mendengarnya.” Gumam Hyunjie dalam isaknya setelah Reza membalikan tubuhnya.


*** 


Kediaman Reza, karena hujan yang tiba-tiba turun tanpa permisi mereka berempat berlarian kebawah, sembari membawa makanan yang bisa dibawa oleh kedua tangan mereka.


                “siapa yang memiliki ide untuk makan di atap?” gerutu Andheera dalam perjalanannya menuju lantai bawah, sembari membawa beberapa cemilan dalam pelukannya.


                “dheera menyalahkan oppa, oppa hanya berusaha menyenangkanmu.” seru Andromeda tak mau mengalah ia membela dirinya dengan berdalih semua itu untuk menyenangkan adik kesayangannya.


                “sudahlah, lagipula kan kita juga tak tahu kalau akan turun hujan.” Vivian mencoba menengahi diantara kakak beradik itu, sambil mengunyah cemilan yang juga dibawanya dari atap.


                “waaaah kak meda kau juga suka main PS?” timbrung Brian yang sudah sampai duluan diruang tamu, sedangkan 3 lainnya masih dalam perjalanan.


                “iya kau mau bermain denganku?” seru Andromeda antusias kemudian mempercepat langkahnya, menghampiri Brian yang sudah lebih dulu menemukan posisinya di depan televisi.


                “tentuuu ayoo!!” respon Brian tak kalah antusias seraya mengambil stick PS menunggu Andromeda yang menyalakan PS nya.


Sementara Brian dan Andromeda bermain PS bersama, para gadis hanya menonton keseruan antara Brian dan Andromeda dari belakang di sofa sembari memakan cemilan yang tersisa.


                “waaah kau jago juga, akhirnya aku bisa menemukan saingan yang sebenaranya, apa kau juga sering bermain dirumah?” tanya Andromeda karena merasa tertantang.


                “iya aku sering bermain dengan adikku dulu, sampai akhirnya dia harus pindah sekolah ke luar negeri jadi aku jarang bermain sekarang.” jelasnya sembari masih terfokus pada permainan.


                “begitu, aku juga kadang bermain dengan Andheera, tapi nggak seru tuh karena dia selalu kalah hahahaha.” ejek Andromeda meski adiknya berada tepat dibelakangnya namun ia tak perduli.


                “aku hanya mengalah oppa.” gumam Andheera dari belakang yang masih asyik menikmati cemilannya.


                “hahahaha.. aku juga kak, adikku selalu kalah dia kesal sampai hampir menjual PS ku di situs penjualan onlen untung saja aku memergokinya hehehe.” balas Brian tak ingin kalah ia juga mengejek adiknya yang tidak berada disana.


Hahahahahahahahha.. terdengar suara tawa kompak mereka berdua mengejek adik-adiknya penuh kepuasan.


                “untung aku anak tunggal.” Gumam Vivian seraya masih memakan cemilannya.


                “kak Brian apa kau selalu seperti ini?” ujar Andheera.


                “hah kenapa?” sahut Brian tanpa menoleh.


                “kau baru saja bertemu dengan oppaku beberapa jam yang lalu, tapi sudah bisa seakrab ini?” katanya lagi.


                “itu karena kak Brian orang yang supel dan welcome, tidak sepertimu.” timbrung Vivian mewakili seniornya menjawab pertanyaan Andheera.


                “hahhahha memangnya kenapa, baguskan memliki kepribadian yang ramah membuatmu mempunyai banyak teman.” Jawab Brian santai dengan senyum renyahnya.


                “apa bagusnya punya banyak teman, itu merepotkan.” Gumam Andheera pelan berniat ingin mengakhiri perdebatan dengan Brian, namun bibir mungilnya tak dapat menahan gerutuan kecilnya.


                “kau sudah memiliki rencana untuk masa depanmu Brian? setelah lulus nanti kau akan melanjutkan kuliah dimana?” selagi mereka berdua masih asyik bermain mereka melakukan percakapan ringan.


                “aku sedang mencoba peruntunganku untuk menjadi seorang Idol hehehe, aku sudah menjadi trainee di Pm entertainment.” Katanya.


                “waaah benarkah tadinya aku berniat mengajakmu untuk audisi di tempat agensiku bekerja ternyata sudah keduluan, eeh tunggu PM entertainment dimana itu aku baru dengar kau yakinkan itu benar-benar agensi bukan abal-abal.” Sahut Andromeda yang merasa bingung dengan nama agensi Brian.


                “kau sudah menemukan impianmu rupanya.” timpal Andheera yang mendengarkan percakapan kedua lelaki itu didepannya.


                “kukira kak Brian ingin menjadi atlet basket.” timbrung Vivian yang ingin ikut bergabung dalam percakapan.


                “tiba-tiba ingin menjadi Idol kenapa?” tanya Andromeda penasaran.


                “aku ingin melihat Andheera menyorakiku saat aku konser hahaha.” kata Brian seraya menoleh kebelakang dan memberikan wink ke arah Andheera yang tengah memandangi televisi, namun malah direspon eooh oleh gadis tersebut.


                “heh! kau kira menjadi Idol itu mudah, tidak semua trainee bisa debut apalagi jika hanya bermodalkan wajah.” Ujar Andheera mencoba menyadarkan Brian dari kehaluannya.


                “lihat saja aku akan berjuang sampai aku sukses, dan kau akan tergila-gila padaku nanti hahaha!!” balas Brian dengan penuh percaya diri serta meninggikan suaranya menekankan jika ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


                “YEEAAAHHH!!” Andromeda bersorak untuk kemenangannya ia berusaha menggunakan kesempatan disaat Brian lengah.


                “kak meda kau curang kan, kau selalu mengambil kesempatan disaat aku lengah.” Gerutu Brian tak terima dengan kekalahannya ia terus merengek pada Andromeda.


                “salahmu sendiri kenapa tak fokus huuh.” pertengkaran pun tak terhindarkan bagai adik kakak yang tengah memperebutkan sebuah mainan tak ada yang mau mengalah dan malah saling menyalahkan.


                “iisshhh! Aku tak terima ayo main lagi!!” ajak Brian namun terdengar seperti memerintah karena ia tak menerima tolakan dalam ajakannya.


                “astaga kalian berdua berisik banget sih.” Ketus Andheera kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan pergi meninggalkan ruang tamu.


“kau mau kemana?” tanya Vivian melihat Andheera berjalan lurus kearah pintu.


“toserba, Vivian kalau kau mau tidur disini jangan pakai bajuku, pinjam saja baju oppa.” tambah Andheera sembari membalikan badan sesaat kemudian melanjutkan langkahnya.


                “hahahahaha.” suara gelak tawa membahana mengisi ruang tamu yang biasanya sunyi sepi seperti halnya dipemakaman seolah rumah besar ini tak berpenghuni.


                “tidak aku akan pulang.” jawab vivian.


“oia!! kau sudah mengerjakan PR matematika Andheera aku mau lihat.” lanjut Vivian teringat akan PR yang masih belum ia kerjakan hingga kini.


                “silahkan jika ingin mendapat nilai telur mata sapi.” Andheera masih merespon Vivian dalam perjalanannya.


                “AUGHH!! SEHARUSNYA KALAU KAU TAK MENGGUNAKAN OTAKMU DENGAN BENAR SUMBANGKAN SAJA OTAKMU ITU PADA ORANG YANG MEMBUTUHKAN!!” teriak Vivian sebelum temannya itu menarik handle pintu, namun gadis kasar itu lebih memilih mengacuhkannya dengan cepat-cepat menghilang dari pandangan Vivian.


“apa gunanya memiliki otak tapi tidak pernah dipakai.” gerutu Vivian setelah ia melihat Andheera sudah hilang dari pandangannya.


*** 


Diluar rumah.


Sesaat Andheera menghirup udara segar dimalam hari, ditambah aroma wangi sehabis hujan deras yang bisa menenangkan fikiran yang tengah kacau, begitu pun dengan suasana hati Andheera, bibir mungilnya tersenyum tipis seolah ia bisa menemukan ketenangan dalam hatinya.


                “hmm menyegarkan.. (gumamnya sembari sedikit meregangkan tubuhnya)


ayah tumben sudah pulang jam segini.” Tampak mobil Reza tengah melaju mendekat ke arah dirinya yang masih melakukan peregangan.


                “kenapa kau keluar Andheera malam-malam begini, ditambah masih gerimis juga?” ujar ayahnya yang berjalan mengahampiri putri kecilnya.


                “aku mau ke toserba ayah, mau beli beberapa cemilan.” Sahut Andheera lengkap dengan senyum manja seorang putri pada ayah pada umunya.


                “cemilanmu sudah habis?” tanya ayahnya perhatian.


                “iyaa Vivian yang menghabiskannya.” Balas Andheera dengan menumbalkan nama temannya.


                “begitu, mau ayah temani?” kata Reza lengkap dengan senyum hangatnya.


                “boleh.”


                “payungnya pak.” Ujar pak Toni seraya menyodorkan sebuah payung untuk Reza, sebab cuaca kala itu masih tampak gerimis.


                “iya baik terimakasih pak Toni.” Ujar Reza lalu membuka payungnya.


                “iya pak, saya ijin pulang.” Katanya lagi sebelum supir nya itu pergi.


                “oke.” Respon Reza ramah.


***


                “apa semuanya baik-baik saja ayah?” tanya Andheera dalam perjalanannya menuju toserba bersama dengan ayahnya yang memayungi dirinya.


                “hm, tentu ayah baik-baik saja kenapa kau bertanya begitu?” Reza terlihat keheranan dengan pertanyaan yang diajukan putrinya.


                “wajah ayah terlihat kusut dan kurasa ayah semakin kurus hehe.” Ujar Andheera.


                “tapi ayah tetap tampan kan hehehe.” Katanya dengan penuh percaya diri, mirip sekali dengan kelakuan kakak lelakinya yang selalu narsis.


                “ayah dan oppa sama aja narsis, ayah apa kau menyayangiku?” pertanyaan yang lagi-lagi membingungkan Reza.


                “tentu kau ini bertanya yang sudah jelas jawabannya, tak ada pertanyaaan lain memangnya?” keluh Reza.


                “mama juga?” tambah Andheera.


                “tidak ada satupun yang tidak menyayangimu Andheera, begitupun dengan mamamu, Hyemi adalah orang yang paling menginginkan mu lahir ke dunia, saat Hyemi tahu bayi kedua yang dikandungnya adalah bayi perempuan senyum dan tangis bahagia Ibumu terpancar jelas dari wajahnya." paparnya.


"Bahkan dia sampai mendekor kamar perempuan yang dipenuhi warna pink, hal itu tak dilakukannya saat oppamu akan lahir, itu tandanya kau lebih dari istimewa bukan.” imbuhnya seraya membelai lembut kepala Andheera dengan tangan yang satunya.


                “tapi..” potong Andheera.


                “sampai saat ibumu tiba-tiba berubah, setelah ibumu menghadiri acara reuni sekolahnya. Ayah tak tahu kenapa ibumu berubah begitu banyak hingga perlakuannya padamu pun terlihat sangat dingin tak seperti biasanya seolah ia menyembunyikan sesuatu dari ayah." ceritanya lagi.


"Tapi percayalah ibumu sangat menyayangimu, ibumu tak benar-benar berniat meninggalkanmu di panti asuhan, pasti sesuatu terjadi pada ibumu.” pungkasnya.


                “ayah tahu jika aku hanya pura-pura lupa ingatan.” Kata Andheera sedikit berhati-hati.


                “hmm, kau juga pasti memiliki alasan bukan membohongi kami semua, makanya ayah diam dan menunggu kau yang datang lebih dulu pada ayah, sangat sulit kan menyimpan semuanya sendirian. Mulai sekarang kau tak perlu menyimpannya sendirian lagi, datanglah pada ayah.” ujarnya seraya merangkul putrinya dengan penuh kehangatan.


                “jika aku katakan yang sebenarnya apa ayah akan percaya padaku.” Andheera mencoba memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi di masa lalu.


                “tentu ayah akan selalu percaya pada putri kecil ayah.” Respon Reza seolah ia ingin meyakinkan putrinya jika, dirinya bisa diandalkan.


                “aku tidak pernah menusuk perampok itu dan bukan aku juga yang menyebabkan mama meninggal sewaktu di rumah sakit.” Ungkapnya, namun diluar dugaan respon ayahnya benar-benar terkejut degan pengakuan putrinya, hingga tak bisa berkata-kata.


***