To My Youth

To My Youth
BAB 73



Siang harinya di sebuah apartemen Renville di daerah Jakarta utara.


Terdengar bunyi suara bel dari balik pintu apartemennya, dengan langkah malas sang pemilik tersebut pun berjalan keluar kamar, seraya mengikat rambut ikal panjangnya dengan karet hitam yang berada di pergelangan tangannya.


“iya sebentar..” sahut sang pemilik apartemen agar seseorang diluar sana bisa sabar sedikit dan tidak terus menekan tombol bel apartemennya.


Seperti biasa jiso selalu mengecek terlebih dahulu siapa yang datang bertamu melalui door viewer/kaca lubang pintu, kalau kalau yang datang hanyalah orang iseng yang berniat jahat padanya.


Ceklek..


pintu pun terbuka setelah mengetahui jika yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah karibnya yang tak lain adalah Keenan.


“ku kira kau tak ada di apartemen..” celoteh Keenan saat dirinya berjalan masuk melewati Jiso yang masih terdiam di ambang pintu.


“aku baru saja pulang, ada apa..?” tanya Jiso, setelah pintunya tertutup kembali ia pun berjalan menyusul Keenan keruang tengah.


“tidak.. aku hanya ingin beristirahat.” Sahutnya kemudian membaringkan tubuhnya diatas sofa empuk milik karibnya itu seraya menutup setengah wajahnya dengan sikunya.


Melihat Keenan yang tampak kelelahan, Jiso pun berinisiatif untuk mengambilkan air mineral untuk Keenan dari dalam kulkas.


“kau baik-baik saja..?” tanya Jiso yang berjalan dari dapur menuju ruang tengah kembali, lalu menaruh gelas yang berisikan air mineral diatas meja kacanya dan duduk di sofa yang lainnya, seraya masih memperhatikan wajah Keenan yang tertutupi sikunya.


Keenan tak bergeming, ia masih terdiam dalam tidurnya.


“oke, istirahatlah dulu, aku mau mandi, kalau kau lapar ada burger tuh di meja dapur masih hangat.” Katanya kemudian pergi menuju kamarnya tanpa mendapat respon dari temannya tersebut.


***


Kembali ke Kirin school Jakarta.


Karena Anha dan Andheera berada dalam satu kelas yang sama mereka pun memutuskan untuk menuju kafetaria bersama, amm.. lebih tepatnya Anha yang menarik paksa lengan Andheera agar mau berjalan beriringan dengannya.


“padahal 5 menit sebelum istirahat aku melihat Yerim, tapi saat aku melihat lagi ke belakang dia udah ngga ada, kemana ya dia.” Gumam Anha yang masih mengaitkan lengannya pada lengan Andheera.


“btw.. kita mampir ke kelas Yoora dan Vivian dulu ya, baru ke kafetaria bareng.” Ucapnya lagi, namun Andheera hanya meresponnya dengan dehaman.


“bisa kau lepaskan tanganmu, aku bisa jalan sendiri ngga perlu digandeng begini, kita bukan sepasang kekasih..!” ketus Andheera seraya kembali mencoba melepas kaitan tangannya.


“oke baiklah, awas saja kalau kau kabur.” Ancam Anha yang kemudian melepaskan lengan Andheera dari kaitan lengannya.


“huhh..! memangnya aku mau kabur kemana,” Andheera menggerutu.


Sesampainya di depan kelas IPA-1, Anha langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, namun ia tak menemukan seseorang yang dicarinya, sampai..


“kau mencari Yoora..?” tanya seseorang yang hendak keluar kelas.


“iya, apa kau melihatnya..?” giliran Anha yang bertanya.


“sepertinya dia ke perpustakaan, karena aku lihat dia membawa banyak buku tadi.” Jawabnya.


“aah begitu, oke makasih.” Ucap Anha.


“oke..” sahutnya kemudian pergi terlebih dahulu meninggalkan Anha dan Andheera yang masih terdiam di dekat pintu kelasnya.


“ya sudahlah, mungkin dia sedang ingin belajar, kita ke kelas Vivian aja.” Ajak Anha, tanpa memberi tanggapan Andheera hanya berjalan mengikuti kemana arah Anha pergi.


Dan.. seperti Hanyoora ternyata satu temannya yang lain pun tak ada di kelas, jika Hanyoora berada di perpustakaan, lain halnya dengan sang ketua osis tersebut, ia tengah sibuk rapat osis dengan para anggotanya.


Hingga membuat Anha mendengus kesal, “cihh bahkan untuk sekedar makan siang bareng pun sekarang sulit sekali.” Ocehnya seraya berjalan menuju kafetaria bersama Andheera disampingnya.


“bukannya kau juga anggota osis Anha..?” Andheera menanggapi ocehan karibnya itu.


“tidak lagi, setelah aku bekerja paruh waktu di agensi, membuatku tak memiliki waktu luang untuk mengurusi hal seperti itu.” Keluhnya.


“btw, kau akan terus masuk sekolah..?” tanya Anha seraya melirik ke arah temannya.


“engga juga, aku hanya akan masuk ketika aku ingin.” Jawabnya.


“sudah kuduga.” Respon Anha.


-----


Kafetaria.


Setelah mereka berdua mengantri mengambil makan siang, Anha mengambil 1 langkah didepan untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuk  mereka berdua.


“apa kau tak melihat ada yang aneh dengan Yerim..?” ucap Andheera seraya duduk menyusul Anha yang sudah duduk dibangku seberangnya lebih dulu.


“tiba-tiba..? kenapa kau tanya begitu, memangnya apa yang aneh dengan Yerim..?” Anha malah balik bertanya seraya memulai suapan pertamanya.


“tidak..” pungkas Andheera.


“kau ini, yang jelas dong, ada apa sih..?” seru Anha karena penasaran apa sebenarnya yang ingin temannya itu sampaikan sembari mengunyah makan siangnya.


“aku hanya melihat dia seperti sedang diganggu oleh murid kelas lain..” paparnya yang kemudian memulai makan siangnya.


“ahh.. itu tak mungkin, kau tak lihat tenaganya seperti apa, lagipula jika itu benar terjadi, seharusnya Vivian tau dan memberitahuku karena tahun lalu mereka sekelas.” Sanggah Anha yang sangat yakin jika temannya Yerim itu baik-baik saja.


Andheera tak ingin terus melanjutkan pembahasannya dan mencoba berfikir positif seperti apa yang dikatakan Anha barusan, namun..


Lagi-lagi kedua mata Andheera mendapati sosok Yerim dari balik dinding kaca kafetaria yang langsung mengarah lurus ke bagian belakang sekolah.


“bukankah itu Yerim..” ucap Andheera yang masih terus memandangi Yerim dari kejauhan.


Mendengar nama temannya disebut, Anha pun ikut menoleh ke arah yang ditunjukan oleh Andheera.


“iya benar, tapi ngapain dia sendirian disana, ehh..!” sontak Anha terkejut ketika tiba-tiba seorang siswa mendorong Yerim hingga jatuh tersungkur tak berdaya.


Begitupun dengan Andheera yang langsung berdiri dan menghentakan kedua alat makannya, membuatnya kini menjadi pusat perhatian di kafetaria.


Tak ingin situasi menjadi lebih buruk lagi, mereka berdua pun langsung berlari menuju tempat Yerim berada, meninggalkan makan siangnya yang hanya sempat di makan beberapa suap saja.


Tak perduli banyak mata tertuju pada mereka berdua ketika mereka berlari melewati beberapa temannya yang berseliweran di koridor, meraka hanya berfikir untuk terus memacu kecepatan kakinya agar bisa lebih cepat sampai di tempat tujuan.


Selagi kedua temannya berlarian, Yerim yang masih terduduk di aspal mencoba sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat perlakuan kasar dari 3 orang yang membuly dirinya.


“kenapa kau sangat membenciku, bukankah aku sudah katakan beberapa kali, bukan aku yang menyebarkan rumor itu.” Ucapnya lirih seraya mencoba menatap salah satu dari ketiganya yang berdiri tepat dihadapannya.


“hey..! bagaimana aku bisa mempercayaimu jika kau saja pernah mencuri ikat rambut favoriteku, bahkan kau selalu memakan makanan yang ku bawa tanpa seijinku.”


“ough shitt..!


Kau benar-benar menjijikan, memangnya kau siapa hingga aku mau berteman denganmu, aku hanya ingin menjadikan mu pesuruh yang berada dibawahku, bukan berdiri disampingku, mengerti..!” pekiknya seraya menoyor kepala Yerima yang sudah tampak lemas tak berdaya.


“HEY..! apa yang kalian lakukan..!” teriak Anha seraya masih mengatur pernafasannya.


Begitupun Andheera yang berdiri disampingnya, tak bisa melepaskan pandangannya pada wajah Yerim yang tampak sedikit lebam, membuatnya hampir tak dapat mengendalikan emosi yang bergejolak dalam dirinya.


Sedangkan Yerim, meski dengan kondisinya yang mengkhawatirkan namun ia masih bisa tersenyum tipis sebagai tanda sapaan darinya untuk Andheera.


“pergilah, aku tak memiliki urusan dengan kalian, jadi jangan mencoba mengu..” belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, tanpa diduga ia mendapat serangan kilat dari kaki jenjang Andheera yang hampir menebas batang hidung miliknya.


Membuatnya sangat shock hingga dirinya hampir kehilangan keseimbangan dalam berdiri, kemudian ia pun berpegangan pada kedua temannya yang berdiri tak jauh dibelakangnya.


“HEY..!! APA KAU SUDAH GILA..!! bagaimana jika sepatu kotormu itu mengenai wajahku, SIAL..!!” umpatnya seraya kembali berdiri dengan kokoh lengkap dengan kedua matanya yang membualat untuk menaku nakuti kedua gadis yang tiba-tiba muncul.


Tak hanya ketiga gadis pembuly itu yang terkejut akan serangan kaki Andheera yang mematikan, namun Anha pun ikut terkejut dibuatnya, bagaimana bisa dia melakukan tendangan seperti itu’ fikirnya.


Namun tak ingin terlalu memikirkannya, Anha kembali terfokus pada Yerim yang masih terduduk di bawah, kemudian mencoba berjalan mendekatinya untuk membantunya berdiri.


“kau baik-baik aja Yerim..” tanya Anha yang khawatir pada karibnya itu.


Selagi Andheera masih beradu tatap dengan sang ketua geng, Anha mencoba menepuk nepuk seragam Yerim yang tampak lusuh akibat terjatuh oleh dorongan dari sang pembuly.


“ough jadi kalian berdua ingin menjadi pahlawan untuk gadis miskin itu..!


Hahaha..! ku peringatkan ya, kalian jangan sampai tertipu oleh muka so polosnya, karena dia itu adalah seorang pencuri juga seorang pengkhianat..!” seru salah satu gadis yang berada di antara kedua temannya itu, sedangkan 2 lainnya hanya ikut tersenyum mengejek seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


Menyadari situasinya akan semakin memburuk, Anha pun semakin khawatir kalau kalau ketiga gadis bar-bar tersebut tiba-tiba lepas kendali lalu menyerang dirinya dan kedua temannya. Ditambah taka da satupun dari mereka yang bisa melawan atau jago berkelahi.


Kemungkinan terburuknya bisa saja dirinya dan kedua temannya babak belur dihajar oleh ketiga gadis pembuly tersebut,


Dan sebelum hal buruk itu benar-benar terjadi, kedua lengan gesit Anha pun menarik kencang lengan Andheera juga Yerim, memaksa mereka berdua untuk berlari bersamanya menjauh dari ketiga gadis pembuly tersebut.


Tak ingin berakhir begitu saja, melihat Anha, Yerim dan Andheera kabur seperti seorang pengecut, ketiga gadis pembuly itu pun langsung berlari menyusul mereka.


“Hey..! jangan lari..!” seru nya seraya terus menambah kecepatan langkah kakinya.


Meski terasa lelah namun Yerim tetap memaksakan untuk ikut berlari dan menyamakan langkah nya dengan kedua temannya, sedangkan Andheera hanya menuruti kemana pun Anha membawanya.


Sampai di depan sebuah gedung tua yang tak terpakai di belakang sekolah, Anha pun memutuskan untuk mengajak kedua temannya itu bersembunyi di dalam dibalik bangku-bangku yang tak terpakai.


Setidaknya sampai ketiga pembuly tersebut sudah tak lagi mengejarnya, mereka berjongkok membentuk setengah lingkaran.


“kenapa kau berlari seperti seorang pengecut, Anha..?” gumam Andheera yang tak terima dengan keputusan sepihak temannya itu.


“kau lupa, kau kan seorang trainne mana boleh kau terlibat masalah disekolah, lagipula memangnya kau bisa melawan jika mereka semua memukulimu..!” kata Anha seraya menaikan nada suaranya akibat perkataan Andheera barusan.


“maaf ya, gara-gara aku kalian jadi ikut terlibat, seharusnya kalian membiarkan aku aja ga perlu repot-repot melibatkan diri dalam masalahku.” Timbrung Yerim seraya menunjukan wajah penuh rasa penyesalan.


“ini bukan salahmu Yerim, kau korban, dan kita harus melaporkannya pada pak Alde, sudah 2 kali terjadi pembulyan di sekolah ini..!!” ujar Anha.


“2 kali..?” gumam Andheera.


“iya..  pertama kau dibuly oleh geng Nuran’s kan sampai kau babak belur dan gak sekolah, untung aja ada Vivian yang menyelamatkanmu, kau beruntung memiliki teman seperti Vivian, dia bahkan berkelahi untuk menyelamatkanmu sampai mukanya biru-biru.” Paparnya.


“apa..?” respon Andheera karena merasa ada yang janggal dari apa yang diceritakan temannya tersebut.


“tapi setelah itu Nuran udah ngga menggagumu lagi kan Andheera..?” timbrung Yerim.


“khawatirkan saja dirimu sendiri..! untuk apa punya tenaga seperti hulk tapi menghadapi 3 curut seperti itu aja kau tak bisa.” Celetuk Andheera seraya memalingkan wajahnya dari Yerim.


“Yaa..!!” satu geplakan pun mendarat tepat di kepala belakang Andheera, membuat tubuh Andheera hampir jatuh tersungkur ke hadapan Yerim.


“APA SIH..!!” seru Andheera setengah berteriak hingga suaranya terdengar keluar ruangan.


Ceklek.. suara pintu ruangan terbuka, Anha juga Yerim kembali bersiaga kalau kalau yang datang ternyata ketiga gadis bar-bar tersebut telah mengetahui persembunyiannya.


“sial, ini semua gara-gara kau Andheera..” bisik Anha sepelan mungkin namun masih terdengar jelas di telanga Andheera.


“Yerim, lepaskan ikatanmu..” pinta Andheera dengan kedua sorot matanya yang tajam mengarah ke arah 3 gadis bar-bar tersbut,


Iya Andheera bisa melihat dengan jelas siapa yang datang dari celah bangku yang berada dihadapannya.


“kau yakin mereka ada disini..?” tanya salah satu temannya, seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


“iya Denise, bukannya ada yang bilang ruangan ini sudah lama tak terpakai, bagaimana jika ada..” timpal yang lainnya penuh dengan rasa takut yang menyelimutinya kala itu.


“Diamlah..!! kalian ini penakut banget sih, setan itu kerjanya malem, siang bolong gini mah ya mereka juga tidur kali.” Celotehnya masih dengan pandangan yang menyelidik ke setiap sudut, mencoba mencari suara yang baru saja ia dengar beberapa menit yang lalu.


Cctttaaak..!!


Suara batu yang menghantam kening Denise membuat ketiganya terkejut dan saling menatap satu sama lain, terlebih lagi Denise yang tak hanya terkejut juga merasakan sakit yang luar biasa di keningnya, hingga tetesan darah segar pun mengalir membuat jalanan lurus dipipinya yang putih juga mulus.


“da.. darah..” ucap Denise terbata-beta, setelah memastikan dengan telapak tangannya, jika yang basah dikeningnya itu adalah darah miliknya, kedua matanya semakin membulat.


Tak menunggu lama lagi keduanya pun langsung ngacir, seraya menarik paksa Denise untuk keluar dari ruangan berhantu tersebut, sebab Denise masih tampak sangat terguncang dengan kejadian yang baru saja ia alami, dan ada kemungkinan juga jika otaknya sedikit terganggu hehehe.


“Hey..!! bagaimana jika dia gagar otak Andheera..” seru Anha seraya bangkit dari jongkoknya, disusul dengan Andheera dan Yerim yang ikut berdiri karena mengetahui ketiga gadis bar-bar tersebut telah pergi.


“tenanglah, dia hanya butuh plester tidak seperti akan dibalut oleh kain kasa kan.” Sahut Andheera dengan santainya, kemudian keluar dari persembunyiannya dan pergi lebih dulu meninggalkan kedua temannya.


“Yerim..” gumam Anha yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja Andheera katakan.


“hmm..” respon Yerim yang juga ikut memandangi bagian belakang Andheera yang berjalan menjauhinya.


“kau lebih kuat darinya, bisa kau lenyapkan aja gadis itu.” Pinta Anha lengkap dengan sorot mata tajam nya yang bisa menembus tubuh Andheera.


“tidak bisa..” sahut Yerim.


“kenapa..?” tanya nya seraya menoleh ke arah Yerim.


“karena dia temanku.” Jawabnya lagi sembari menunjukan deretan giginya yang rapih, kemudian pergi berlari kecil untuk menyusul Andheera.


Tak dapat berkata-kata lagi, Anha pun akhirnya ikut menyusul kedua temannya yang telah lebih dulu keluar meninggalkannya sendirian.


***