To My Youth

To My Youth
BAB 57



Kediaman Hyunjie –Yogyakarta.


Tampak Keenan tengah bersiap-siap dengan memakai jaket tebalnya, kemudian meraih topi hitam yang berada diatas meja belajarnya.


Ia pun keluar dari kamarnya seraya menyeletingkan jaketnya.


                “kau mau main basket Keenan?” tanya ibunya yang sedang asyik menonton siaran televisi seraya menyemil keripik.


                “tidak, aku mau ke toserba.” Jawabnya sembari berjalan melewati ruang tengah.


                “mama titip sesuatu dong..!” katanya lengkap dengan senyuman penuh arti, yang membuat Keenan mengerutkan dahinya.


                “apa..?” tanya Keenan seraya membalikan tubuhnya untuk mendengar kelanjutan dari kalimat ibunya.


                “kau pergi saja nanti mama kirimkan gambarnya.” Sahutnya masih dengan raut wajah nakalnya seolah ada sesuatu yang terselubung dibalik senyum lebarnya.


Tak ingin berfikir yang tidak-tidak, Keenan pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena ibunya.


***


Toserba yang tidak jauh dari tempat tinggal Keenan.


Saat Keenan tengah memilih-milih beberapa cemilan, tiba-tiba saja ponsel dalam saku jaketnya bergetar membuat pencariannya terhenti sejenak, untuk merogoh ponselnya dalam jaket.


Dreeddd.. dreeddd..


                “AUGHH SHITT..!!” umpatnya sedikit kencang membuat para pengunjung lainnya terkejut dan memandanginya dengan tatapan aneh.


“wanita itu benar-benar..!” tambahnya kemudian pergi untuk mencari sesuatu yang diinginkan ibunya, tanpa memperdulikan hal sekitar yang masih tetap memperhatikannya sampai ia menghilang dari lorong tersebut.


Lama mencari barang yang diinginkan ibunya membuat ia mendengus kesal, dan akhirnya ia pun menyerah untuk menanyakannya pada salah satu karyawan toserba yang tengah memajang barang di rak kosmetik.


                “sory, barang ini ada dimana ya?” tanya Keenan sepelan mungkin sembari menunjukan sebuah gambar yang dikirim oleh ibunya beberapa menit yang lalu.


                “ooh mas nya cari pembalut merk ***?” pegawai tadi memastikan dengan nada suara yang sedikit nyaring hingga beberapa pengunjung wanita yang kebetulan berada dilorong yang sama tak dapat menahan tawa tipisnya.


                “maaf kita sudah gak jual mas, paling ada dari merk ***, ada kok yang ada sayap juga panjangnya sama 41cm, disebelah sana mas atau mau saya ambilkan?” sambung pegawai tersebut lengkap dengan senyum ramahnya.


Namun tentu saja hal itu malah membuatnya semakin malu, niat hati hanya ingin menanyakan tempatnya dimana malah diberikan penjelasan lebih lanjut dari sang pegawai.


Ditambah para pengunjung wanita pun semakin menggodanya dengan terus tertawa dan sesekali memandang ke arahnya.


Alhasil Keenan pun tak dapat mengendalikan kedua pipinya yang mulai memerah, sedangkan pegawai tadi masih terdiam menunggu keputusan darinya.


                “o.. oke.. ba.. iklah tolong ambilkan.” Pinta Keenan sedikit terbata-bata.


                “oke ditunggu sebentar ya mas, saya ambilkan pembalutnya.” Sahut sang pegawai dengan menekankan kata terakhir dalam kalimatnya, seolah memang tengah menggodanya.


____


                “ini mas pembalutnya yang ada sayap juga panjangnya 41cm.” tak sampai satu menit pegawai itu kembali dengan membawa pesanan Keenan.


                “bisakah kau berhenti mengulang-ulang kata itu..! aughh..!!” geram Keenan agak kesal sebab pegawai itu seperti sengaja tengah mengisengi dirinya, ia pun pergi meninggalkan pegawai tersebut yang tampak tengah menahan tawa jahilnya.


 ***


Kembali ke kediaman Reza di Jakarta.


Tokk.. tokk.. suara ketukan pintu terdengar nyaring dari luar, membuat Reza yang tengah menikmati waktu istirahatnya di atas sofa buru-buru terbangun untuk menyambut siapapun yang datang.


                “masuk..!” seru Reza dari dalam.


                “ayah..” panggil Andheera yang berjalan mendekati ayahnya.


                “putri bungsu ayah ternyata, apa ada yang kau butuhkan Andheera?” tanya Reza.


                “aku ingin pinjam buku, ayah.” Sahut Andheera seraya berjalan menuju rak buku yang berada disamping meja kerja ayahnya.


                “aahh begitu, tumben, biasanya kau paling malas membaca buku.” ujarnya lagi sembari memperhatikan putri bungsunya yang tengah mencari buku yang diinginkannya.


                “winter bear..” gumamnya saat ia mendapati sebuah buku dengan judul yang tidak asing baginya, ia pun langsung meraih buku itu dengan tatapan lirih seolah ia tengah teringat suatu kenangan yang tak pernah bisa ia lupakan.


                “kau mau membaca novel fiksi Winter bear? Ayah rasa itu tidak akan sesuai dengan seleramu.” Tutur ayahnya seraya bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Andheera yang masih ingin membaca beberapa bagian dalam buku Winter bear.


                “bagaimana akhir dari pertemanan Bear dan Ellsa.. ayah?” tanya Andheera seraya memandangi wajah ayahnya dengan tatapan sendu.


                “hah..? apa kau pernah membacanya?” tanya ayahnya.


                “tidak, aku hanya tahu dari temanku, dia adalah penggemar novel Winter bear.” Sahutnya kemudian kembali terfokus pada novel yang tengah dipegangnya.


                “begitu, emm.. yang ayah ingat Ending dari novel itu adalah open Ending, mereka berdua sama-sama tersesat dalam sebuah labirin besar, setelah itu tak ada yang tahu mereka akan kembali bertemu atau sama-sama memiliki jalan pulang yang berbeda.” Jelasnya.


                “lalu bagaimana akhir dari yang ayah inginkan untuk Bear dan Ellsa..?”


                “amm.. ayah fikir semua orang pasti menginginkan akhir yang bahagia, tapi Andheera.. tidak semua bisa berjalan sesuai keinginan, begitu juga kehidupan yang tak selalu benar-benar berakhir dengan kebahagiaan.” Ujar ayahnya seraya mengusap kepala putrinya lengkap dengan tatapan hangat seorang ayah.


                “iyaa aku mengerti, aku akan pinjam buku ini ayah.” Sahutnya kemudian berniat untuk pergi setelah mendapat apa yang diinginkannya.


                “Andheera..” panggil ayahnya saat putrinya hendak membuka pintu kamarnya, ia pun berbalik tanpa bersuara.


                “ayah sangat menyayangimu.” Lanjut ayahnya yang dibalas oleh senyuman tipis Andheera kemudian berlalu pergi.


Begitu Andheera keluar dari kamar ayahnya, ponsel dalam sakunya bergetar, tanpa menunggu lagi ia langsung merogoh ponsel dalam saku celananya.


                “kak Brian..” gumamnya sebelum akhirnya mengangakat telfonnya.


                “Hallo..” sapa Andheera.


                “ada apa..?” tanya Andheera setelah saling menyapa.


                “sekarang..?!”


                “iyaa baiklah.” Pungkasnya seraya menutup telfonnya lalu menaruh kembali ponsel dalam saku celananya.  


***


-Yogyakarta.


Diperjalanan pulang Keenan, ia masih terlihat murung akibat kejadian memalukan yang menimpanya beberapa menit yang lalu.


                “seharunya dia bisa membeli hal seperti ini sendiri, kenapa malah menyuruhku..!! SIAL..!! kalau begini aku takan bisa kembali ke toserba itu, aku sudah benar-benar malu untuk kembali kesana huhh..!!” gerutunya di sepanjang perjalanannya kembali.


Seperti dugaannya seseorang yang ia kenal turun dari mobil tersebut, kemudian menghampiri Keenan yang masih berdiri ditempatnya.


                “mau ku antar pulang?” tanya gadis itu lengkap dengan senyum manis yang terukir diwajahnya.


                “tak perlu, hanya perlu beberapa langkah lagi menuju tempat tinggalku.” Katanya dengan nada ketus.


                “kalau begitu, bisa kita bicara?” tambah gadis yang kini berada dihadapannya yang tak lain adalah Eunjiso.


                “kurasa, aku sudah memperjelasnya, tak perlu dibahas lagi bukan..!” Tegas Keenan yang tak ingin membuat kesalahpahaman ini terus berlanjut.


                “oke maafkan aku Keenan, ku fikir selama ini kau bersikap baik padaku, kau memperlakukanku berbeda dengan yang lain itu karena kau juga memiliki perasaan yang sama padaku." paparnya.


"Aku tak tahu, kau bahkan tak pernah menganggapku sebagai wanita, aku salah, maafkan aku, tapi...”


                “kau ingin tahu kenapa aku menjaga dan memperlakukanmu berbeda dari yang lain?” potong Keenan.


                “kau ingat saat dulu kelulusan SMP..? Saat kelasmu mengadakan pesta perpisahan diaula sekolah, kau hampir menjatuhkan dirimu sendiri dari atap. Melihatmu yang seperti itu mengingatkanku pada diriku dimasa lalu, yang lemah tak berdaya dan selalu menjadi korban bully teman-teman disekolah.” Keenan mulai menjelaskan situasinya.


                “aku hanya tak ingin ada orang yang memiliki nasib buruk sepertiku dulu, terlebih karena aku juga tak ingin ada siswa yang bunuh diri, akibat ketidakadilan yang diciptakan oleh sekelompok orang yang berkuasa disekolah."


"Maka dari itu aku terus menemanimu, menjagamu dan membantumu menjadi seperti ini, agar kau bisa lebih percaya diri dan nanti saat aku tak lagi disisimu, kau bisa menjaga dirimu sendiri.”


Kebenaran yang kini telah terungkap bagai sebuah pisau yang menusuk tepat dalam hatinya, bersamaan dengan air mata yang mengalir deras menambah suasana dramatis kala itu.


Kedua kakinya terasa semakin lemah untuk sekedar menopang beban tubuhnya, hingga akhirnya Jiso memutuskan untuk pergi begitu saja menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya saat ini.


                “kau tak bisa mengendarai mobilmu saat ini.” ujar Keenan seraya menahan lengan gadis malang tersebut.


                “kenapa? Kau takut aku akan melakukan hal buruk seperti dulu lagi..?!” katanya dengan nada lirih seraya menatap wajah Keenan yang tampak jelas sangat khawatir padanya.


Keenan tak merespon perkataan Jiso, ia tetap diam sembari masih menahan lengan Jiso. Namun Jiso malah menepis kasar tangan Keenan dan kembali berjalan menuju mobilnya.


Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada temannya itu, Keenan menyusul langkah Jiso lalu ikut masuk ke dalam mobil berbarengan dengan Eunjiso.


                “kau tau.. selama kita berteman kau tak pernah memanggil namaku, sesulit itukah untuk mengatakannya..? Kau hanya memanggil nama yang bahkan tak berada disisimu.” Ucap Jiso sembari menyeka air matanya dan memandang lurus ke dapan.


                “aku tau kau sangat terluka..”


                “kalau kau tau, seharusnya kau sudah memberitahuku dari awal agar aku tak salah paham dengan sikapmu..! kau.. kau hanya membuatku terlihat menyedihkan dengan terus berfikir jika kau menyukaiku. Kau adalah lelaki terburuk yang pernah ku temui Keenan hikss.. ” akhirnya tangis Jiso pun pecah seiring dengan rasa sakit yang sudah menjalar ke dalam tubuhnya.


Cuaca yang sedari tadi baik-baik saja, hanya dalam beberapa menit berubah menjadi kelam, perlahan rintik hujan mulai turun membuat suara isak tangis Jiso sedikit teredam.


Tapi tidak dengan hatinya yang terus berteriak kesakitan.


Tak ada yang bisa Keenan lakukan ataupun katakan lagi, mulutnya seolah terkunci rapat mendengar suara isakan pilu dari gadis yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi.


Rasa bersalah juga kelegaan dalam hatinya bercampur menjadi satu membuatnya berfikir kembali, akankah yang dilakukannya saat ini adalah suatu hal yang benar atau malah sebaliknya.


***


Di taman bermain dekat komples Andheera.


Andheera dan Brian tengah berayun sembari menjilati es krim yang di belikan oleh Brian dalam perjalanannya menemui Andheera.


                “kenapa kau ingin bertemu malam-malam begini..?” tanya Andheera yang mengawali pembicaraan kala itu, sebab Brian tak banyak bicara sejak ia datang.


                “kau percaya padaku kan..?”


                “tiba-tiba, kenapa..?” sahut Andheera seraya melirik sesaat ke arah Brian.


                “aku hanya..”


                “apa sesuatu terjadi padamu..?” tanya Andheera sedikit khawatir.


                “tidak.. apa kau bisa menghiburku?” ujarnya seraya menundukan kepalanya dan sesekali menendang batu kerikil yang tersebar di dekat kakinya.


                “kenapa..?” tanya Andheera dengan nada datar juga masih menjilati es krimnya.


                “karena aku sedang sedih sekarang.” Ujarnya masih menundukan kepalanya.


                “kenapa..?”


                “YAAA.. !!” bentak Brian kesal karena sedari tadi Andheera hanya membalasnya dengan satu kata ‘kenapa.


                “HAHAHA..!! oke-oke baiklah, tapi aku tak bisa menghiburmu karena aku bukan pelawak.” Katanya lengkap dengan raut wajah yang menyebalkan.


                “huuhh.. kau benar-benar tak bisa diandalkan..!” gerutu Brian.


                “ciihh.. lagipula siapa dirimu sampai aku harus menghiburmu.” Balas Andheera.


                “astaga.. bagaiamana aku bisa menyukai gadis seperti dirimu.”


                “HAHAHAHA..!! cepat habiskan es krim kak Brian, aku akan mengajakmu berkeliling dengan sepedaku.” Seru nya lalu melahap sisa es krimnya dan bangkit dari ayunan untuk berjalan menuju sepedanya.


Tak ingin membuat Andheera menunggu lebih lama, Brian pun melahap semua sisa es krimnya seperti yang telah dilakukan Andheera, kemudian menyusul langkah Andheera.


                “kau akan memboncengku..?” tanya Brian seraya mengernyitkan dahinya. “kau yakin kuat?” tambahnya lagi saat Andheera sudah menduduki kursi depan dan bersiap untuk mengayuh sepedanya.


                “mau taruhan lagi..? jika aku bisa membawamu selama satu jam tanpa henti kau harus mengabulkan keinginanku.” Ujarnya seraya menunjukan senyum penuh arti.


                “enggak.. enggak, terakhir kali aku meremehkanmu aku sendiri yang kena batunya.” Katanya yang kemudian duduk di bangku penumpang.


                “hehehe..!!” Andheera tertawa renyah sebelum akhirnya mulai mengayuh sepedanya.


Malam semakin larut baik di kota Yogya ataupun di Jakarta, bedanya jika di Yogya tengah diguyur hujan yang semakin deras, sedangkan di Jakarta cuacanya sangat mendukung untuk bermain-main di malam hari.


Ditemani ribuan bintang juga bulan yang penuh, suasana malam itu benar-benar bercahaya, sama halnya dengan situasi yang terjadi antara Brian dan Andheera yang tampak masih asyik bermain-main diluar, dengan diselingi candaan juga tawa bahagia mereka, untuk sesaat mereka terlihat seperti tak memiliki beban apapun dipundaknya.


Berbeda dengan Keenan dan Eunjiso yang tengah mengalami situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Memang benar, tak akan pernah ada pertemanan antara lelaki dan wanita, karena pada akhirnya jika tidak berujung bersama, maka pertemanan itu akan hancur oleh sebuah ego sesaat.


***


Eunjiso