
Siang harinya, kembali ke Kirin school Jakarta.
Karena Anha harus mengumpulkan tugas semua siswa di kelasnya, Andheera lebih memilih untuk ke kafetaria lebih dulu sebab ia terlalu malas jika harus menemani temannya itu ke kantor guru.
Begitu ia selesai mengambil makanannya, ia pun berjalan menuju meja yang kosong, seperti biasanya ia selalu ingin menyendiri hingga ia memilih meja yang berada di pojokan dan memulai makan sendiri sampai Anha menyusulnya ke kafetaria.
Namun baru saja ia menelan suapan pertamanya, ia melihat samar-samar Anha tengah berlari menghampirinya dengan wajah yang di penuhi rasa takut.
“apa yang kau lakukan..?” tanya Andheera seraya mengernyitkan keningnya, sebab tak mengerti kenapa tiba-tiba Anha berlarian di kafetaria.
“huhh.. haahh..! (Anha mencoba mengatur pernafasannya sebelum bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi)
Ye.. Yerim..” lanjut Anha dengan nafas yang masih belum beraturan ia mencoba menyebutkan 1 nama.
Tak hanya Andheera yang keheranan melihat sikap tak biasa Anha, semua siswa yang tengah menikmati makan siangnya pun ternyata beberapa kali melirik ke meja Andheera, dan memperhatikan dengan seksama pemandangan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“yerim..?” ulang Andheera, ia masih belum mengerti apa yang ingin karibnya itu sampaikan.
“yerim.. masuk ke rumah sakit..!” jelasnya lagi, membuat Andheera membelalakan kedua matanya dan berhenti dengan makan sianganya.
“apa..?” seru Andheera seraya bangkit dari bangkunya.
Kemudian bergegas pergi dari kafetaria dengan membawa baki makanan yang masih tampak utuh karena Andheera baru memakannya sesuap, lalu menaruhnya ke tempat baki-baki kotor lainnya.
Andheera berjalan cepat keluar dari kafetaria disusul Anha yang berjalan tak jauh dari belakangnya.
“kau mau kemana Andheera..?
Bahkan jika kita ingin ke rumah sakit, satpam depan tidak akan memperbolehkannya.” kata Anha.
Andheera pun terdiam sejenak untuk mencoba berfikir atas pertanyaan temannya barusan.
“kau tunggu di parkiran, aku akan menyusul.” Perintah Andheera kemudian berbalik dan meninggalkan Anha.
“tapi..” belum sempat Anha menyelesaikan kalimatnya, Andheera pergi begitu saja tanpa berniat memberi penjelasan lebih lanjut.
Meski sebenarnya Anha kebingungan dengan rencana Andheera, namun untuk sekarang ini ia hanya akan mengikuti perintah Andheera, untuk menunggunya di parkiran sekolah.
Mereka pun berjalan berlawanan arah, Anha menuju parkiran sedangkan Andheera langkah kakinya tampak membawanya ke ruang UKS.
Beberapa menit kemudian, setelah menunggu cukup lama di parkiran akhirnya Andheera datang dengan membawa 2 ransel yang di genggamnya, sedangkan ransel miliknya ia kenakan di belakang punggungnya.
Semakin membuat Anha tak mengerti dan kebingungan apa yang sebenarnya Andheera lakukan hingga bisa mendapat ijin untuk keluar sekolah.
“kau dapat ijin Andheera, bagaimana denganku..?” tanya Anha seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“kau tak lihat aku membawa tas mu juga, itu artinya kau juga dapat ijin.” Sahut Andheera yang kemudian melempar kedua tas nya pada Anha dan terus berjalan masuk ke dalam parkiran mobil khusus para guru.
“hey.. apa yang kau lakukan disini..?” tanya Anha sembari terus berjalan mengikuti langkah Andheera dibelakang.
Beepp.. beeppp..!
Andheera memencet tombol di kunci mobilnya tanda ia sudah menemukan mobil yang ia maksud, tanpa berlama-lama lagi ia pun berjalan cepat menuju mobil tersebut dengan Anha yang masih mengekorinya dari belakang.
Begitu Andheera masuk ke dalam mobil tersebut Anha pun ikut masuk dan duduk di sebelah kursi pengemudi, ia pun menaruh tas miliknya dan Yerim di bangku belakang sebelum memakai sabuk pengamannya, sama seperti yang Andheera lakukan sebelum dirinya.
“tunggu.. tapi apa kau punya sim Andheera..?” tanya Anha saat Andheera hendak menyalakan mobilnya.
“tidak..” jawabnya tanpa ragu kemudian langsung menancapkan gas, bersamaan dengan refleksnya Anha mencengkram erat pegangan yang berada di atas pintu mobil.
“HEY..!! kau sudah gila, bagaimana jika kita ditilang..!!” teriak Anha yang menggila karena ketakutan akan cara mengemudi Andheera yang ugal-ugalan.
Berhasil keluar dari halaman sekolah kini Andheera dihadapkan oleh keramaian lalu lintas di jalan raya, hingga ia menghentikan mobilnya sejenak untuk mengumpulkan keberanian yang ada dalam dirinya.
“kau yakin bisa menyetir, tidak.. maksudku kapan terakhir kali kau mengendarai mobil..?” tanya Anha yang masih panik, dan berharap ada jawaban yang bisa menenangkan dirinya.
“aku belum pernah mengendarai mobil..” sahutnya santai, lalu kembali menancapkan gas nya, seperti orang yang tengah balapan dalam sirkuit, Andheera terus menancapkan gas nya dan melewati semua mobil yang ada di hadapannya.
“YAAAAA..!!!” teriak Anha yang semakin menjadi-jadi, sebab jawaban Andheera benar-benar membuatnya tak habis fikir juga dipenuhi rasa takut yang luar biasa.
Anha pun memutuskan untuk mencoba merogoh ponsel dalam saku blazernya dengan satu tangannya, sebab tangan yang satunya masih mencengkram erat pegangan mobil.
“ibu.. kakak.. aku minta maaf untuk semua hal buruk yang pernah aku lakukan, aku juga minta maaf karena belum bisa membalas kebaikan ibu dan kakak yang selama ini sudah merawatku..“
“apa yang kau lakukan..?” potong Andheera seraya melirik sesaat ke arah temannya itu.
“aku sedang merekam pesan terakhirku, kalau-kalau aku akan mati sebentar lagi.” Ucapnya pasrah.
-----
Begitu kedua nya sampai di halaman rumah sakit, mobil yang dilajukan oleh Andheera langsung melesat ke belakang rumah sakit untuk mencari tempat parkir yang pas bagi mobilnya. Tanpa berlam-lama lagi mereka berdua pun turun dan berlarian ke dalam rumah sakit menuju meja informasi.
Namun sekilas Anha seperti melihat sosok yang tak asing baginya yang juga tengah berlarian di loby rumah sakit mengikuti arah brankar melaju, hingga membuat langkahnya terhenti sejenak di tengah loby dan kerumunan orang-orang yang tengah berseliweran di hadapannya.
Lain hal nya dengan Andheera yang terus berlari hingga akhirnya sampai ke meja informasi untuk menanyakan keberadaan temannya tersebut, dengan sedikit terbata-bata karena masih mencoba mengatur pernafasannya.
“huuuh.. haah.. ruang.. an Son Yerim dimana..?” Tanya Andheera.
“sebentar saya cek dahulu ya..” ucap salah satu staf yang ada di meja informasi dengan nada ramah juga senyum tipisnya.
“Nona Son yerim yang baru masuk ruangan ICU beberapa jam yang lalu..”
“ICU..?!” pekik Andheera saking terkejutnya mendengar ruangan yang di tempati karibnya itu.
“iya, tapi sekarang sudah dipindahkan ke ruang inap kok, di ruang Dandellion 1 dilantai 3.” Lanjutnya dengan diakhiri senyum ramahnya.
“ok.. e..” begitu Andheera melirik ke sebelahnya, ia mendapati Anha yang telah hilang dan tak tahu kemana.
Tak ingin ambil pusing, Andheera lebih memilih untuk segera menemui Yerim dan memastikan keadaannya saat ini, daripada harus mencari Anha yang tiba-tiba menghilang bak di telan bumi.
Begitu banyak pasang mata yang memandanginya saat ia berjalan menuju lift, mungkin karena ia masih mengenakan seragam sekolahnya hingga ia menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit Haneul Jakarta.
Namun gadis cantik bertubuh ramping itu tak perduli sama sekali dengan sekitarnya, yang menjadi fokusnya saat ini hanyalah keadaan Yerim. Ia terus berharap jika karibnya itu tidak terluka terlalu parah.
***
Di lain tempat, namun masih di rumah sakit yang sama.
Alih-alih menyusul Andheera, ia malah merubah langkahnya dan menghampiri sosok yang dikenalinya tersebut, ia terus berjalan dibelakangnya dengan harap-harap cemas, dan juga begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam fikirannya.
Anha tak dapat melihat sosok yang terbaring di brankar sebab ada seorang perawat yang mendorong brankar dibagian belakang hingga menutupi pandangannya.
Akhirnya brankar itu menemukan tempat tujuannya yaitu UGD, sesampainya di UGD para medis pun bersiap untuk melakukan protocol CPR pada seeorang yang baru saja dipindahkan dari brankar ke ranjang UGD.
“kakak..” panggil Anha lemah saat kedua matanya baru bisa melihat dengan jelas seseorang yang terbaring di ranjang tersebut, yang tak lain adalah ibu tirinya.
Sang kakak pun menoleh ke arahnya lengkap dengan raut wajah terkejutnya, mendapati sang adik tengah berdiri dibelakangnya masih dengan seragam sekolah yang ia kenakan.
“ada apa dengan ibu kak..?” suara Anha semakin parau karena masih mencoba menahan tangis pilunya.
Luna pun menjawabnya dengan bahasa isyarat, jika di artikan bunyinya akan seperti ini “ibu.. ibu kena serangan jantung dek..” kemudian langsung menghambur ke pelukan sang adik bersamaan dengan tangisnya yang semakin tak tertahankan.
Tatapan Anha kosong perasaannya benar-benar bercampur aduk, ia tak mengerti harus bagaimana untuk menghadapi yang tengah terjadi di hadapannya kini.
“lalu.. kenapa kakak pakai baju seperti ini..?
Apa selama ini kakak sudah berbohong tentang pekerjaan kakak, padaku juga pada ibu..?” tebak Anha dengan nada datar juga pandangan lurus mengarah pada ibunya yang masih terbaring lemah dihadapannya.
Perlahan Luna melepas pelukannya dan menundukan pandangannya, sadar akan kesalahannya selama ini yang telah membohongi ibu dan adiknya, telah memberikan luka goresan yang sangat dalam untuk Anha juga yang membuat ibunya terkena serangan jantung.
Iyaa, ternyata sang ibu telah memergoki Luna tengah bekerja sebagai badut yang menyebar-nyebarkan kertas brosur di depan kedai yang baru saja di buka. Dan hal itu pun yang menyebabkan ibunya terkena serangan jantung.
Setelah beberapa menit berjuang untuk menyelamatkan seorang pasiennya, sang dokter pun akhirnya bisa menghirup nafas lega sebab detak jantung pasiennya kembali normal.
Begitu pun dengan kedua gadis yang berdiri di depan ranjang ibunya tersebut, ikut merasakan udara segar yang merasuk ke dalam tubuhnya dan melupakan sejenak tentang perdebatan yang baru saja terjadi.
Sebab Anha lebih memilih menghampiri ibunya dan berdiri disamping lengkap dengan tatapan penuh kesedihan, lengannya pun mencoba meraih lengan ibunya kemudian menggenggamnya erat.
Karena tak dapat berbicara, Luna hanya bisa memeluk adiknya tersebut dari belakang seraya menatap wajah ibunya yang masih belum sadarkan diri.
***
Sementara itu di lain tempat.
Terlihat Andheera tengah berjalan menyusuri lorong kecil rumah sakit seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari ruangan yang di tempati karibnya tersebut.
Namun sebelum langkahnya sampai ke tempat tujuannya, kedua mata tajamnya mendapati sosok yang tak asing baginya dari balik jendela kecil pintu ruangan, Ray Keenandhra yang tengah asyik memainkan ponselnya dengan diselingi tawa bahagianya ia terus menatap layar ponsel miliknya.
“dia sakit..?” tanyanya dalam hati sembari terus memperhatikan lelaki tersebut.
Sampai..
“permisi..” ucap seseorang dari belakang hingga membuat Andheera pun berbalik padanya.
“amm.. kau temannya Keenan..? mau menjenguk Keenan..?” tambahnya lagi diiringi dengan senyum ramahnya.
“tidak..” sahut Andheera datar dan tak berniat untuk membalas senyum yang wanita tersebut berikan.
“lalu kenapa kau melihat ke dalam dengan tatapan seperti itu..?” tanya Hyunjie seraya menurunkan senyumnya sebab ia merasa gadis yang berada dihadapannya kini sedikit menyebalkan.
“memangnya tidak boleh..? aku kan punya mata.” Sahutnya masih dengan ekspresi wajah yang sama.
“hahaa.. kurasa kau kasar sekali untuk ukuran seorang remaja..” celetuk Hyunjie seraya menyunggingkan senyum smirknya dan memandangi Andheera dari bawah sampai ujung kepalanya.
Andheera tak tertarik untuk menanggapi perkataan wanita tersebut, dengan santainya ia berbalik dan hendak meninggalkan Hyunjie tanpa sepatah kata pun.
“tunggu.. kurasa aku mengenal seragam itu, kau dari SMA Kirin school kan..?!” lanjut Hyunjie yang masih ingin berbicara pada gadis kasar tersebut.
Namun Andheera tak menghiraukannya, ia lebih memilih mempercepat langkah kakinya dan kembali ke tujuan awal, yaitu mencari ruangan karibnya yang tengah terluka.
“huuh.. !! sepertinya sekolah yang bagus pun tak menjamin untuk muridnya mendapatkan etitude yang baik, gadis itu benar-benar menyebalkan.” Gerutunya saat Andheera telah jauh dari pandangannya.
Ceklek..
Saat Hyunjie sudah mendorong handle pintu ruangan putranya, seketika ia pun teringat akan aroma parfume yang dipakai oleh gadis kasar tersebut. Membuatnya mengingat kembali cuplikan-cuplikan dimasa lalu, ketika Hyunjie tengah berpas-pasan dengan seseorang yang memakai aroma parfume yang sama seperti barusan ia hirup.
Ia pun kembali menoleh ke arah lorong yang sudah gadis tersebut lewati, seraya memikirkan kemungkinan jika gadis itulah yang selama ini selalu berpas-pasan dengannya di apartemannya.
Namun lamunannya pun seketika buyar kala putranya Keenan yan memperhatikan ibunya memanggilnya.
“maa..” panggil Keenan seraya meletakan ponselnya di pangkuannya.
“ah.. iyaa..” Hyunjie pun berhenti memikirkan gadis kasar tersebut kemudian berjalan masuk ke dalam menghampiri putranya.
“ada apa..?” tanya Keenan lagi masih penasaran kenapa ibunya bukannya masuk malah terdiam di ambang pintu.
“ahh tadi itu.. ada gadis kasar yang diam-diam memperhatikanmu dari balik jendela pintu.” Jelasnya.
“gadis kasar..?” Keenan malah semakin bingung.
“iyaa, mama kira dia temanmu, dan mama menanyakan apa dia mau menjengukmu, eh dia cuma bilang tidak..” ceritanya seraya membenarkan posisi kursi kemudian duduk di samping ranjang Keenan.
“kelihatannya dia sekolah di SMA Kirin seragamnya sama seperti yang dikenakan putri teman mama..” paparnya seraya melipat kedua tangan di atas dadanya.
“Kirin school Jakarta..?” ucap Keenan ingin memastikan.
“iyaa, Han..” belum sempat ibunya menyelesaikan kalimatnya, Keenan berniat untuk turun dari ranjangnya dan juga tak lupa membawa tiang penyangga untuk cairan infusnya.
Hyunjie tampak keheranan dengan sikap putranya tersebut, hingga ia pun bangkita dari tempat duduknya.
“kau mau kemana Keenan..?” tanya ibunya heran.
“dimana gadis itu sekarang maa..?” tanya Keenan sebelum memutuskan untuk pergi dari ruangannya ia ingin memastikan keberadaan gadis tersebut.
“sudah pergi, tadi sih mama lihat dia ke ruang Dandellion 1, kau mengenalnya..?” ucap ibunya yang mencoba mengikuti arah Langkah kaki putranya.
“apa mama melihat nama yang tertera di name tag nya..?” tanya Keenan seraya berjalan bersama ibunya menyusuri lorong yang sebelumnya sudah di lalui oleh gadis tersebut.
“An.. and.. dheera gitu..” mendengar nama yang disebutkan mamanya membuat langkah kaki Keenan terhenti, seiring dengan kedua matanya yang kini mulai berkaca-kaca.
Mungkinkah ini saatnya..
Setelah pencarian ku di SMA Kirin school selalu menemui kegagalan, akhirnya aku bisa menemukanmu juga Andheera’ Keenan membatin kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mencari sosok gadis yang selalu ia rindukan selama ini.
***